
Mengandung sedikit unsur 18+, yang belum cukup umur harap skip. 🙏
...****************...
Setelah hampir seharian melaksanakan ijab sampai resepsi yang di gelar hingga malam, quin dan rendra akhirnya bisa berbaring di ranjang hotel. Keduanya nampak kelelahan dan tidak ada waktu untuk merasa canggung satu sama lain.
"yank, nggak mau mandi dulu ? Pasti gerah kan ?" tanya rendra sesaat ia terbangun dan melihat sang istri nampak kelelahan. Tangannya menyapu wajah sang istri. Quin perlahan membuka mata nya yang sayu.
" quin capek mas, kaki quin pegel banget. Nggak nyangka tamu nya bakal sebanyak itu. Padahal quin hanya mengundang kolega dan beberapa rekan almarhum ayah dan bunda dulu, " keluh quin dengan manja. Rendra terkekeh mendengar keluhan istri nya itu. ISTRI? Ah ia sedikit merona mengingat kini ia telah terikat status pernikahan dengan sang pujaan hati nya.
" maafkan ibu ya yank, kayaknya sebagian tamu nya adalah teman - teman ayah dan ibu. Maklum pernikahan anak pertama nya. Aku yakin nanti saat pernikahan kevin dan ria akan sama rame nya dengan ini, apalagi kevin kan terkenal di beberapa pebisnis muda daripada aku, " jelas narendra lembut. Ia sembari mengangkat kaki quin an menaruhnya di paha nya. Lalu ia mulai memijit pelan kaki sang istri.
" hah ? Om kev sama kak ria ? Kak ria sekertaris kak dewa ?" tanya quin berteriak. Narendra hanya tersenyum.
" apa kamu nggak sadar tiap - tiap aku berkunjung ke kantor dan dia menghilang ?" tanya narendra. Quin nampak berpikir dan mengingat memang benar, beberapa momen saat sang suami berkunjung ke kantor nya selalu saja kevin menghilang setelah ia setor muka ke quin. Quin sekarang tahu alasannya.
" kak dewa dan kak kula tahu ?" tanya quin. Narendra mengangguk. Sedangkan quin langsung cemberut.
" kenapa nggak ada yang ngasih tahu quin sih, " quin manyun. Narendra terkekeh. Ia masih memijit kaki sang istri yang nampaknya tidak sadar dengan perbuatannya.
" eh, ini mas ngapain ? Sejak kapan kaki qun nangkring di sini ?" quin akhirnya sadar kakinya sedang di pijit oleh narendra. Narendra nampak merah menahan sesuatu. ( naik )
__ADS_1
" mas, mas kenapa ? Muka mas merah banget, mas sakit ?" tanya quin polos. Ia dengan tanpa sadar mengusap rahang dan menempelkan tangannya dj dahi serta leher narendra sang suami yang malah tambah menyiksa narendra.
" yang, bolehkah ? Mas nggak kuat nahan lagi, " ucapan seduktif narendra membuat quin menegang. Tangan narendra yang semula memijat kaki perlahan mulai naik ke atas paha quin dan mengusapnya.
Quin nampak memerah wajahnya. Bukan ia tak paham maksud narendra. Sebenarnya sedari tadi saat ia dan narendra memasuki kamar berdua ia sudah deg degan nggak karuan. Beruntung karena merasa capek sedikit mengalihkan deguban jantungnya. Tapi apa lah daya, sekarang malah narendra meminta ijinnya.
" apa kita nggak mandi dulu mas ? Mas pasti juga gerah kan, " kata quin malu - malu. Ia berusaha menutupi kegugupannya.
" mas sudah di ambang batas yank, mandi nya nanti saja, " kata narendra. Suara nya sudah berat dan parau. Tanda ia begitu menahan gairah nya. Quin akhirnya mengangguk pasrah. Ia paham dengan apa yang narendra rasakan. Sebuah rekor yang bisa narendra pecahkan karena selama pacaran ia tidak pernah menyentuh quin melebihi pelukan dan genggaman tangan dan cium kening. Narendra berprinsip ia akan melakukan sepuasnya saat nanti nya sudah sah.
Melihat persetujuan dari sang istri. Narendra mulai menjelajah di alam liar. Kecupan kecupan, gigitan demi gigitan hingga semua benang sudah terlepas dari kedua nya. Setelah merapalkan doa di ubun - ubun sang istri, narendra kembali berbisik,
" agak sakit sebentar, gigit mas, atau cakar mas, apa pun untuk melampiaskan rasa sakit itu. Aku cinta kamu, quinsha aldebaran, " bisik narendra di telinga quinsha. Quinsha hanya menggigit bibirnya sesaat sebelum narendra kembali menyerbu bibir cherry seraya melaksanakan perjuangannya di bawah sana ?.
Sinar matahari mulai menampakkan kekuasaan nya. Sinar yang mulai menerobos mengusik dua anak adam yang kembali tertidur setelah melaksanakan kewajiban shubuhnya. Kini narendra bangun terlebih dahulu. Ia melirik jam yang terdapat di nakas hotel. Sudah jam 08.00 rupa nya. Ia melihat quin yang masih nampak nyenyak tertidur di sampingnya. Ber alaskan sebelah lengannya sebagai bantalan.
Narendra tersenyum riang saat mengingat kejadian semalam. Ia begitu bersyukur mendapat sang istri. Yang nota bene tinggal di luar negeri bertahun - tahun dan masih mampu menjaga mahkota nya. Begitu ia berterima kasih kepada mendiang merta nya serta paman dan bibi quin yang menyuruh mantan gadis itu untuk menutupi kecantikannya sehingga ia tidak di goda oleh lelaki hidung belang. Nampak nya nanti ia akan memberlakukan peraturan yang sama kepada anak perempuannya, heh anak ? Baru juga nyoblos semalem ren, udeh mikir anak saja !!.
Narendra terkekeh sendiri dengan pemikirannya tentang anak. Ia kembali menatap wajah ayu sang istri. Ia mulai menelusuri wajah istri nya dengan menyapukan jari telunjuk nya di seluruh lekukan wajah quin. Dan quin terganggu dengan itu.
" eugh, mas, jm berapa sekarang ?" terdengar lenguhan quin. Suara serak khas orang baru bangun tidur. Narendra tersenyum melihat quin yang terusik dengan keisengannya.
__ADS_1
" maafkan mas, kamu jadi terbangun " bukan menjawab pertanyaan quin, narendra malah meminta maaf. Quin menggeleng dan menyusupkan wajahnya di dada narendra.
" badan quin sakit semua mas, berasa maraton 100kilo " keluh quin. Narendra tertawa tanpa suara. Tangannya nampak mengusap punggung quin.
" maafkan mas, maklum, kan sudah bertapa 27 tahun. Jadi kebablasan " jawab narendra frontal. Quin mendongak menatap narendra. Ia menatap intens narendra.
" ini beneran suami quin kan ? Kok aneh gini ? " tanya quin sambil menepuk nepuk pipi narendra pelan. Narendra menggigit jari quin gemas.
" mas kok jadi mesum gini ?" tanya quin lagi.
" bru berani sekarang mesum nya, kan udah sah ini " jawab narendra menaik turunkan alisnya. Quin speechless mendengar jawaban suami nya.
" nggak usah heran gitu ah, selama ini kan mas memang menahan nya yank. Karena mas nggak mau merusak kamu, walau hanya untuk mencium pipi mu. Mas ingin melampiaskannya saat sudah sah nanti, begitu pikiran mas " jelas narendra. Quin terharu dengan prinsip narendra yang memperlakukannya layaknya seorang ratu. Narendra yang sangat menjaga nya, narendra yang menyayangi nya.
" terima kasih, mas " ucap quin.
" mas yang terima kasih. Terima kasih sudah menjaga nya dan memberikan nya kepada mas, " ucap narendra tulus. Quin merona dan malu mendengar ucapan narendra.
" oh iya, kamu pasti lapar, ayo kita turun dan sarapan. Atau kamu mau sarapan d sini saja ? Masih sakit kan ?" tanya narendra
" ehm, quin mau makan di sini saja , " jawab quin malu - malu. Bagaimana tidak malu ? Narendra dengan santaii nya menunjuk area bawahnya meskipun sudah berbalut dengan ce**na dalam dan celana piyama. Dan anrendra malah menyeringai mesum ke arahnya.
__ADS_1
" mau lagi ? Biar terbiasa dan nggak sakit lagi " ucap nakal narendra. Quin melotot horor mendengar ucapan narendra.
' gusti, suami quin kenapa berubah menjadi mesum gini ' pekik quin dalam hati.