Quinsha (Nona Muda Tersembunyi)

Quinsha (Nona Muda Tersembunyi)
bab 45


__ADS_3

" RO, RORO ?"


...****************...


' DEG '


jantung quin berdetak cepat saat ibu narendra mengucap nama sang bunda. Quin menatap sosok nyonya aldebaran dengan ekspresi sendu. Narendra yang mulai paham dengan keadaan ini segera menyenggol pelan lengan sang ibu .


" oh maaf, maaf. Ayo masuk dulu , " ibu narendra nampak mulai menguasai diri nya dan mempersilahkan tamu anak nya untuk masuk.


" maaf tante, ini ada sedikit oleh - oleh dari saya, " kata quin sambil menyerahkan dua paper bag berisi onde - onde dan putu ayu kepada ibu narendra.


" waah, apa ini ? Harus nya nggak usah repot - repot begini. Kamu mau datang kesini saja saya sudah seneng banget. Dan lagi jangan panggil tante, panggil saya ibu seperti rendra dan kevin " kata ibu narendra sambil menerima paper bag yang di bawa quin. Ia membuka nya karena mencium aroma yang familiar,


" wow, kamu tahu ibu suka onde- onde, hmmm wangi banget. Nampak nya baru matang ya ?" teriak ibu narendra antusias. Narendra sampai malu dengan kelakuan sang ibu yang tampak magic. Quin hanya tersenyum. Ia bahagia ibu narendra menyukai apa yang ia bawa.


" mas ren yang bilang jika ibu suka, dan kebetulan tadi di kafe kakak sedang menyediakan menu ini " jawab quin sopan. Ibu Narendra nampak memanggil si mbok untuk menghidangkan camilan ini dalam piring dan menyediakan minuman untuk sang tamu.


" jadi, kamu pacar anak ibu ini ? Kok mau ?" tanya ibu penasaran. Quin bengong dengan pertanyaan sang camer. Sedangkan narendra nampak speechless mendengar pertanyaan sang ibu kepada kekasih nya.


" ibu apaan sih nanya nya? Jelas quin mau lah, rendra ganteng gini juga " protes narendra tidak terima. Quin diam - diam mengulum bibir nya menahan tawa saat melihat sikap narendra yang nampak hangat saat bersama ibu nya.


" anak ibu kan dingin kayak es batu, datar bak triplek, kaku kayak kanebo kering kan ,kenapa kamu mau sama dia ? Kamu imut - imut begini,, uhhhh gemess " ibu narendra mengabaikan protesan anak nya dan malah mengunyel - unyel pipi quin gemas. Nampak nya keinginan untuk segera memiliki anak perempuan akan ia realisasi kan kepada quin. Narendra memutar bola mata jengah. Ia pamit untuk mengganti baju nya ke kamar.

__ADS_1


Ibu narendra menatap lamat wajah quin yang nampak familiar di mata nya. Mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu nya,


Seseorang yang dulu sering membantu nya dan sang suami. bukan seseorang,, lebih tepat nya pasangan. Ia menatap wajah quin sendu menyiratkan kerinduan kepda sang sahabat.


" kamu begitu mirip seseorang, nak " kata ibu Narendra. Nada yang sedih dan sarat kerinduan di tangkap oleh telinga quin.


" apa ibu kenal dengan bunda saya ? " tanya quin tanpa sadar saat ia mengingat tadi ibu nya narendra menyebut nama sang bunda. Ibu terjengit kaget.


" jadi, kamu benar anak roro dan prabu ?" tanya ibu sambil menggenggam tangan quin. Quin mengangguk. Senyum nya terpancar teduh. Ibu memeluk nya seakan memeluk diri sahabat yang sudah lama ia cari. Karena sudah lama sejak ia pindah mengikuti ang suami, kontak nya terputus. bahkan saat ia mendengar berita kematian pasangan sahabat nya ini ia tidak percaya. Hingga kemari saat sang suami juga meninggalkan diri nya, putra nya memutuskan untuk pulang ke tanah air. ia mencoba mencari sahabat nya tapi tidak juga bertemu. rumah yang dulu di tinggali keluarga kecil sahabatnya sudah pindah dan ia tidak tahu alamatnya.


" ibu benar kenal bunda saya ?" tanya quin lagi,ibu narendra mengangguk dan tersenyum ke arah quin.


" dulu ibu, bunda kamu dan ratih itu 1 sekolah dari smp sampai akhir kuliah, setelah kerja ibu menikah terlebih dahulu dan tidak lama setelah narendra lahir dan berusia tahun bunda mu menikah. Lalu satu setengah tahu usia pernikahannya lahir kamu. Tapi ibu ikut suami ke london karena perusahaan sedang ada masalah dan akhirnya menetap di sana hingga kemarin ini baru pulang, " cerita ibu sambil mengelus rambut quin. Quin nampak tenang mendengar cerita ibu narendra ini.


" bunda dan ayah membangun panti asuhan saat quin umur 10 tahun bu,kami memang pindah ke pusat kota. Sampai saat ini Alhamdulillah panti masih berdiri meskipun sudah lama tidak menerima anak lagi karena satu dua hal yang terjadi " jelas quin.


" paman arjuna dan bibi ratih yang meneruskan pengelolaan panti saat ayah dan bunda sudah tiada, " quin tersenyum getir setiap kali mengingat ayah dan bunda nya.


" sudah suda, jangan sedih lagi. Sekarang akan ada ibu dan narendra yang akan menjaga mu " rengkuh ibu narendra. Ibu memeluk quin erat.


" ibu tidak menyangka, gadis yang ingin di kenalkan Rendra pada ibu adalah kamu, anak dari sahabat ibu " kata ibu bersyukur dengan takdir yang berjalan. Quin pun dim - diam juga tersenyum penuh syukur mendapat calon mertua yang ternyata sahabat mendiang orang tua nya.


" loh, bocah songong, kamu disini ?" suara yang familiar menghentikan acara peluk teletubbies ala qun dan ibu.

__ADS_1


Kevin dan narendra berjalan turun dari lantai atas. Kevin yang baru keluar dari kamar berpas pasan dengan narendra yang selesai berganti baju rumahan.


Kevin duduk di sebelah kiri sang ibu a.k.a tante ya, sedangkan narendra memilih duduk di single sofa.


" songong, songong, kamu yang songong " delik ibu sambil mencubit kevin pelan.


" aduh bu, kevin sekarang di anak tiri kan nih, mentang - mentang punya anak gadis" kevin pura - pura merajuk. Quin dan narendra tersenyum melihat interaksi ke dua nya.


" waah ada onde - onde, pasti dari " JAWA BAHAGIA'S CAFE " nih " tebak kevin dengan tepat.


" kok kamu tahu kev, " tanya ibu.


" kevin sama rendra pernah beberapa kali meeting di sana bu, dan ini kafe punya saudara kembar nya bocah songong ini, bahkan rendra dan quin ketemu pertama kali nya d sana " jelas kevin sambil mencomot onde - onde dan menyantapnya.


" wah benarkah ? Pantas rasa nya tuh sama kayak yang di bawa temen ibu pas arisan, ternyata dari tempat yang sama " kata ibu manggut - manggut.


" heem, enak kan bu, di sana menu tradisional ala nusantara nya lengkap loh bu "promosi narendra.


" wah ? Iya kah ? Bisa buat acara - acara gitu ngga selain untuk meeting ?" tanya ibu antusias, nampak nya ia sudah merencanakan sesuatu untuk teman - teman arisannya.


" bisa bu, ulang tahun, arisan, atau buat keluarga juga bisa. Asal nanti pesan dulu 1 minggu sebelum acara. " jelas quin. Ibu anggut - manggut mengerti. Beliau nampak memperhatikan narendra yang santai memainkan anak - anak rambut quin. Quin pun nampak biasa seolah memang sudah terbiasa.


" jadi, kapan ibu menemui paman dan bibi mu untuk melamar mu, quin ?"

__ADS_1


__ADS_2