
" TIDAKK... QUIIINNN AWAAASSSSSS...."
CKIIIIITTTT....
BRAAAAAKKKK
...****************...
dunia quin seakan runtuh melihat narendra yang terpental di depan mata nya. Darah nampak mengalir deras dari kepala narendra. Quin sempat terpaku melihat kondisi narendra. Ia mendekat. Dengan gamang ia meraih kepala narendra dan mendudukkannya di pangkuan nya. Air mata nya mulai menetes deras. Tidak dia hiraukan teriakan kevin yang hendak menyadarkannya dari kepanikan. Dir nya seperti terjebak dalam ingatan masa lalu.
" tidak, mas, bangun mas. Jangan tinggalkan quin."
" mas bangun mas, jangan bercanda " teriak quin histeris.
Bayangan saat ayah dan bunda nya yang meninggal di tempat saat kecelakaan dulu seakan melintas seperti roll film yang aktif. Tak lama kemudian quin pingsan.
Kevin yang tadi nya ingin menyerahkan kunci mobil narendra keluar dengan ibu. tapi pemandangan yang mengerikan menyapa mereka berdua. Mereka melihat tubuh Narendra terhantam mobil setelah narendra mendorong tubuh quin.
Kevin langsung berlari kencang dan menahan mobil penabrak it di bantu dengan beberapa orag yang lewat yang kebetulan ada di sana. Dia menatap marah kepada sara sang pelaku yang nampak ketakutan karena ia salah tabrak. Tapi kevin memilih untuk mengurusi quin yang nampak terpukul dan shock dengan keadaan narendra. Setelah ia menghubungi pengawal untuk mengamankan sara dan mobil sebagai barang bukti, ia segera menghampiri ibu yang juga kaget. Tapi ibu juga langsung menguasai diri nya dan menghampiri quin yang histeris.
kevin nampak tengah mencoba memanggil - manggil quin yang memangku narendra, tapi gadis malang itu tetap bergeming dengan tangisan dan akhirnya pingsan.
Ambulan yang di panggil tak lama datang dan langsung membawa narendra dan quin ke rumah sakit. Kevin menemani narendra sambil menghubungi sadewa dan nakula. Sedangkan ibu menemani quin di ambulan satu nya lagi.
π¨π¨π¨
__ADS_1
Quin nampak menunggui ranjang pasien yang berisi tubuh narendra yang terbujur penuh perban sana sini. Setelah ia sadar tadi pagi, ia langsung meminta narendra untuk di pindahkan ruangan VVIP. kekasih yang telah mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan nya. menariknya dari sergapan badan mobil yang mengarah pada nya. Mendorongnya menuju pinggiran bahu jalan dan malah membiarkan tubuhnya yang menjadi tumbal. Quin melihat detik detik saat tubuh narendra tersambar mobil yang di kendarai sara. Ya, sara. Wanita gila itu yang merencanakan semua.
setelah sadar dari pingsan nya dan mendapati diri nya tengah terbaring di ranjang rumah sakit, quin sempat histeris lagi. dia memberontak ingin melepaskan infus yang menancap di tangan nya. shock yang ia alami ditambah dengan sedikit trauma hebat yang kembali muncul membuat tekanan darah nya menurun dan membutuhkan cairan infus.
FLASHBACK ON
quin membuka mata, lamat - lamat mata nya mulai menangkap pemandangan di sekitar nya. dia terlihat kebingungan ketika melihat ibu narendra berada di sofa tengah terlelap. dia mulai meraba tangan nya yang sudah terpasang jarum infus. dia mulai mengingat apa yang terjadi dengan nya. dan akhirnya ia mengingat nya. benar, ia tadi sedang bersama narendra akan kembali ke kantor setelah makan siang bersama calon mertua nya. lalu ada mobil yang hendak menabraknya tapi narendra malah mendorongnya sehingga narendra yang tertabrak sedangkan dia hanya tergores sedikit saat jatuh terdorong narendra.
" nggak, ini pasti mimpi.. mas ren nggak apa - apa. nggak . ini nggak mungkin . mas ren nggak akan ninggalin aku kayak ayah dan bunda hu hu hu hiks MAS REN,, HU HU HU MAS .. " Quin mulai meracau dan akhirnya berteriak histeris.
ibu yang tengah terlelap akhirnya kaget dan terbangun. mendapati calon menantu nya histeris dia panik dan segera menghampiri quin. dia peluk tubuh ringkih quin yang nampak bergetar gemetaran. dia lalu memencet tombol untuk memanggil dokter di atas ranjang quin.
" sayang, tenang lah nak, jangan seperti ini sayang " ucap ibu mencoba menenangkan quin.
" hu hu hu, ibu, mas ren bu, mas ren di mana bu?" yltanya quin semakin histeris. dokter dan perawat nampak sudah datang dan segera memeriksa quin. melihat quin yang histeris dan sangat terpukul, dokter memutuskan untuk memberikan suntikan obat penenang.
" tapi,.. "
" aku janji aku akan tenang dok, " janji quin. ibu mengangguk ke arah dokter. dokter pun mengurungkan niatnya dan menyimpan lagi suntikan di saku sneli nya.
" baiklah, tetap jaga emosi mu nona muda, " pesan dokter. Dokter dan suster akhirnya pamit keluar dari ruangan.
" bu, bagaimana keadaan mas ren ?" tanya quin dengan mata yang sembab. Ibu terdiam, ia bingung mau mengatakan apa. Pasalnya anak semata wayangnya saat ini msih belum sadarkan diri.
Narendra mengalami gegar otak ringan akibat benturan yang lumayan di kepala nya. tangan nya juga retak karena tertimpa tubuhnya. Sedangkan kaki nya hanya lecet - lecet sedikit.
__ADS_1
" bu, " desak quin. Ibu meloloskan nafasnya kasar dan akhirnya memutuskan untuk membawa quin ke ruangan narendra.
FLASHBACK OFF
" mas kapan bangun nya ?" tanya quin lirih. Nampak hanya ada quin yang menunggu di samping narendra. ibu di suruhnya pulang karena tidak tega. Sedangkan kevin sedang mengusut tuntas kasus yang menyeret saudara nya itu.
Sadewa dan nakula sudah dikabari berikut paman arjuna dan bibi Ratih nya,mereka akan segera menjenguk karena masih dalam perjalanan dari luar kota.
" ma kenapa harus dorong quin ? Harusnya quin yang terbaring di sini, "
" mas bangun dong, kata nya mau nikahin quin, "
Quin terlihat mengajak narendra bicara. Narendra di nyatakan koma setelah tidak sadar saat obat biusnya habis tadi. Dan kini quin tengah merangsangnya sesuai apa yang di katakan dokter untuk mengajaknya bicara.
" padahal mas belum melamar quin dengan romantis, " celotehnya lagi. Tangan narendra sedikit bergerak. Quin terkejut dan melanjutkan rangsangannya lagi.
" kalo mas nggak mau bangun, biar quin di nikahin orang lan aja, gini - gini quin banyak yang naksir loh , " ancam quin. Memang super nona muda yang satu ini, tadi mewek - mewek histeris,sekarang malah mengancam pasien yang tengah terkapar.
Narendra perlahan membuka matanya, dia mengerjab pelan menyesuaikan penglihatannya yang sedikit buram. Di tengok kan kepalanya ke arah gadis kecilnya yang menundukkan kepala nya di lengannya.
" mas bener nggak mau bangun, ya udah quin cari yang ..."
" ssssttt, berani kamu cari pengganti mas, mas patahkan leher orang itu " narendra memotong ucapan absurd sang kekasih. Quin kaget dan seketika mendongak. Di lihatnya mata narendra yang terbuka sempurna. Perahan air mata nya turun menetes.
" hei, kok nangis, nggak seneng mas bangun ?" tanya narendra. Tangannya yang masih lemah digerakkan untuk menghapus air mata di pipi sang gadis.
__ADS_1
" hu hu hu, hiks. Mas, hu hu, akhirnya mas bangun. Hiks. " tangis quin pecah seketika. Narendra hanya bisa tersenyum. Ia paham akan ketakutan quin. Ditinggalkan sang ayah dan bunda di depan mata nya. Di tambah ia melihat lagi narendra yang terpental di depan mata nya juga.
" cup cup cup, jangan nangis sayang, maafin mas " hibur Narendra. Quin yang masih sesenggukan memencet tombol untuk memanggil dokter agar memeriksa narendra.