
Kandungan quin kini sudah memasuki bulan ke 9. Ia sudah di wanti - wanti dokter ayu untuk menyiapkan persalinan. Karena kebanyakan kehamilan kembar memiliki resiko hamil prematur. Tapi alhamdulillah quin bisa melewati usia kandungan normal pada umumnya. Aisyah dan azizah juga sudah melewati semester pertama periode kehamilan mereka.
Quin dan narendra sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin kedua calon bayi nya. Ereka ingin menjadikan nya kejutan nanti. Toh, mau lelaki ataupun perepuan mereka akan menerima nya dengn rasa syukur.
Barang - barang perlengkapan si dedek juga hanya di dominasi dengan warna netral yag bisa masuk untuk jenis kelamin perempuan dan laki - laki.
( gambar hanya pemanis. Sumber : google (classyclutter.net) )
Kini quin sedang menyiapkan beberapa perlengkapan bayi newborn karena ia di prediksi akan melahirkan dua minggu lagi. Quin memang sudah off kegiatan kantor sejak usia kandungannya menginjak 7 bulan.
Quin dan narendra memutuskan untuk tinggal di rumah mereka sendiri meskipun dua calon oma memaksa mereka untuk tinggal dengan salah satu dari mereka. Tapi dengan dalih ingin mandiri, narendra dan quin memutuskan untuk tinggal di kediaman yang narendra bangun untuk istri tercinta nya.
Saat ini quin memilih dan memilah beberapa perlengkapan calon bayi - bayi nya sendiri. Karena quin menolak untuk memiliki pembantu. Narendra sendiri tengah sibuk dengan urusan kanor karena kevin masih cuti karena menikah. Iya, akhirnya kevin menikah dengan ria tepat dua minggu yang lalu. Kevin memilih menikah sebelum quin melahirkan karena nanti nya jika quin melahirkan, narendra akan meminta cuti panjang untuk bisa menemani quin menjaga bayi kembarnya.
Awalnya narendra kekeh ingin menemani quin dan membantu quin untuk menyiapkan tas berisi persiapan baju dan yang lainnya, tetapi quin mendesak agar Narendra tetap masuk ke kantor. Narendra pun akhirnya mengalah tetapi meninggalkan petuah yang mewanti -wanti agar quin mengabari nya jika ia kenapa - napa.
Terkadang quin gemas sendiri dengan sikap narendra yang terlalu over itu, tapi ia juga memaklumi nya karena ini adalah kehamilan pertama quin. Ia merasa di sayang oleh suami apalagi oleh yulia. Terkadang jika narendra tidak bisa menemani nya kontrol atau mengikuti senam hamil, maka yulia yang akan turun tangan. mengingat sang bibi juga di sibukkan oleh kedua kakak ipar nya yang berubah menjadi manja saat mengandung.
" aahhh, ssssttt, " saat sedang tengah memasukkan barang - barang pilihan nya,tiba - tiba perutnya terasa melilit. Muncul rasa mules hilang timbul. Ia mengingat ap yang di katakan dokter ayu jika kemungkinan itu semua adalah tanda - tanda kontraksi. Tapi quin hanya menghiraukannya, karena beberapa hari yang lalu ia juga merasakannya. Tetapi saat di cek ke rumah sakit ternya hanya kontraksi palsu.
Quin mencoba menarik nafas nya dan menghembuskannya perlahan, sedikit berpengaruh. Tetapi tak lama rasa mules itu tiba lagi. Quin berusaha untuk tetap tenang. Ia mulai meraih handphone yang selalu narendra minta untuk selalu di bawa nya kemana - mana.
Sambil menahan rasa sakit, ia mencoba menelpon suami nya. Di tengah rasa mules yang hilang timbul itu ia membagi konsentrasi nya untuk menghubungi sang suami
" assalamualaikum, sayang ?"
__ADS_1
" mass, aahh ssssstttt, astag.. Ssstt .. Firullh "
" sayang, sayang kamu kenapa ?"
Terdengar suara narendra yang mulai panik. Ia bahkan tidak menghiraukan anggota rapatnya.
" maassst, ssstt, astag... Ahhh firullaah, sa.. Kiit .. Mas,, "
" kamu tenang ya sayang, mas akan segera pulang, ingat jangan kemana - mana, "
" iy.. Aaa .. Sstt. Mas, "
Telepon terputus. Quin mencoba untuk tetap berdiam di tempat nya sekarang. Saat ini ia berada di kamar nya di lantai bawah. Karena semenjak usia kandungannya 6 bulan, narendra memutuskan untuk pindah kamar di lantai dasar.
' bunda, sakit banget , hu hu hu, ssttt ya allah ' batn quin. Air mata nya terjun bebas saat ia sedang menahan rasa sakit itu
CEKLEK BRAK
Terdengar pintu yang di dorong kasar dari depan. Muncul sosok sang ibu mertua dengan tergesa - gesa, rupa nya sang suami tadi sempat menelpon ibu nya. Dan beruntung sang ibu tengah menuju rumah quin dan narendra.
" ya allah sayan, gimana, gimana ?" tanya yulia yang kelewat panik. Bagaimana tidak, perkiraan masih dua minggu lagi untuk quin melahirkan. Dan saat ia di jalan menuju rumah narendra, anaknya malah menelpon dan memberitahukan kondisi quin yang tengah kesakitan di rumah sendiri. Terbersit rasa geram kepada keduanya karena ngeyel nggak mau tinggal dengannya.
" sakit bu, " ringis quin terisak. yulia langsung memeluk menantu kesayangannya ini.
" bentar ya sayang, sabar. Kita ke rumah sakit segera, "
" pak yono, tolong bantuin angkat quin ke mobil, " teriak ibu kepada supir nya yang tadi mengantar ke kediaman sang anak. Terlihat pak yono yang datang tergesa - gesa. Segera ia bopong menantu majikannya itu di ikuti oleh ibu yang membawa tas berisi perlengkapan yang telah di siapkan oleh quin tadi.
__ADS_1
yulia dan quin kini berada di mobil menuju rusah sakit. tak lupa yulia mengabari narendra agar langsung menuju rumah sakit tempat dokter ayu praktek. Ia pun segera menelpon dokter ayu untuk melakukan tindakan begitu quin nanti sampai.
Dan benar saja, saat sampai di depan rumah sakit, sudah menunggu narendra yang datang lebih dahulu dann dokter ayu yang sudah stand by dengan kursi roda.
Narendra langsung menggendong quin ala bridal style saat yulia sudah membuka kan pintu mobil. Sesaat narendra menatap wajah sayu quin. Terlihat sang istri tengah tersenyum walaupun kecil di tengah - tengah menahan sakit nya.
" semua akan baik - bik saja sayang, mas sudah ada di sini. " hibur narendra saat bersiap mendudukkan quin di kursi roda. Quin hanya mengangguk sambil meringis pelan.
Dokter ayu segera menginstruksi kan untuk membawa quin ke dalam ruang prakteknya untuk melihat sudah pembukaan berapa.
Kembali narendra dengan telaten mengangkat tubuh quin ke bed periksaan.
" tahan bentar ya quin, " ucap dokter ayu saat akan mengecek bukaan pada quin. Quin mengangguk. setengah meringis ia menahan rasa aneh saat sang dokter mengecek pembukaan di va**na nya
" wah hebat, sudah pembukaan 8, sudah bisa di bawa ke ruang bersalin, kta tunggu sisa pembukaannya di sana, ' jelas dokter ayu sumringah.
Narendra masih setia dengan membopong quin bahkan hingga ke ruang bersalin. Di sana quin di instruksi kan untuk duduk di bola gymball agar mempercepat pembukaan nya.
" mas, sakit, " rintih quin sesekali. Narendra mengigit bibirnya melihat sang istri yang tengah kesakitan. kesakitan karena akan menghadirkan buah hati mereka.
" sabar ya sayang, " tak kuasa air mata nya pun jatuh juga. Hati nya terasa teriris melihat quin yang meringis kesakitan. Jika ia bisa, ingin sekali ia menggantikan rasa sakit yang mendera istrinya.
Tak selang 1 jam berlalu, dokter ayu kembali masuk ke ruang bersalin. terlihat quin yang masih kepayahan menahan rsa sakitnya.
" heem, ayo coba berdiri dan berbaring lagi. Biar saya periksa. Mudah - mudahan sudah lengkap pembukaannya, " ajak dokter ayu. Quin dan narendra mengangguk. Narendra membantu quin untuk naik ke ranjang.
SPLASSSHH ..
__ADS_1