
" kamu harus bercerita jika ada masalah, apa pun itu, sekecil apapun. Hm ?" kata narendra.
Mereka meneruskan jalan mereka menuju restoran sebrang kantor. Mereka sengaja berjalan kaki karena ingin menikmati waktu berdua. Kedua nya segera menuju meja yang tersedia. Bukan d ruangan vip seperti saat di kafe sang kakak, mereka memilih di meja biasa berbaur dengan konsumen lain nya.
Narendra segera memesan makanan untuk mereka berdua, sesuai keinginan quin tadi, sop iga sapi. Dan diri nya lebih memili so ayam kampung.
" ingat ! Nggak boleh es, " peringat narendra saat quin akan memesan ice lemon tea. Quin cemberut. Kenapa narendra begitu ingat dengan pantangan nya ini.
" minum nya teh hangat saja mas, " puts narendra. Dia menghela nafas kasar melihat bibir manyun quin.
" sayang, ingat kamu baru saja sembuh, nurut ya, " bujuk narendra. Quin sadar jika ia baru sembuh akhirnya dengan setengah ikhlas ia menuruti kata - kata Narendra. Ia mengangguk lemah. Narendra tergelak.
" mas janji kalau udah sembuh benar, kamu boleh minta apapun " janji narendra. Quin berbinar.
" benar ya, awas aja ingkar " kata quin. Narendra mengangguk.
" ehm mas, mas nggak sibuk ? Lalu om kev kemana ?" quin penasaran dengan kevin si buntut narendra yang tumben tidak mengekor di belakang narendra.
" sebenarnya, tdi aku kabur " aku narendra. Quin terbengong. Ia shock dengan kejujuran narendra.
" jadi om kev tidak tahu jika mas ren menemui ku ?" tanya quin lagi. Diri nya tak habis pikir dengan kelakuan narendra.
" tahu, tapi aku kabur duluan. Dia memberiku setumpuk berkas, tapi karena aku kangen kamu aku kabur " jawab narendra sambil tersenyum tipis. quin tersipu mendengar jawaban narendra.
Tanpa mereka sadari, senyuman tipis narendra membuat jeritan para pengunjung wanita kafe itu menggema.
' kyaa, dia tersenyum'
' tampan sekali '
' siapa dia '
' siapa yang di depan nya itu '
' apa mungkin dia kekasih nya ?'
" aku juga ingin memiliki kekasih seperti dia '
' mereka cocok, cantik dan tampan'
Bisikan bisikan yang terdengar di telinga narendra. Sedangkan quin hanya tertawa melihat wajah narendra yang kurang nyaman dengan situasi nya saat ini.
__ADS_1
" ho ho ho, seperti nya pacar ku ini sangat populer ya," kata quin menggoda Narendra.
" ck, selalu seperti ini. Makanya aku kurang suka jika makan di keramaian dan tidal di ruangan privat " cebik narendra. Quin semakin tergelak melihat gerutuan narendra yang terlihat imut di mata nya.
" mas mau nggak nanti sore pulang kerja temenin quin ?" kata quin setelah pelayan meletakkan pesanan mereka di meja. Mereka makan sembari mengobrol ringan.
" kemana ? " tanya narendra sambil menyuapkan satu sendok berisi so ayam kampung nya untuk quin. Quin menerima nya dengan senang hati.
" ke mall " jawab quin singkat.
" hah ? Ke mall ? Ke restoran biasa seperti ini saja sudah membuatku tak nyaman sayang " keluh narendra lesu. Quin tersenyum.
" mas tenang aja, quin punya cara agar kita nisa jalan - jalan dengan nyaman nanti nya " bujuk quin lagi. Narendra nampak menimbang - nimbang permintaan quin.
" ayolah mas, quin pengen jalan - jalan, pengen nonton bioskop, ya ya ya " rayu quin lagi.
" ya sudah iya, mas temani " putus narendra yang luluh dengan tatapan maut quin.
" yes" teriak quin girang. narendra tersenyum melihat kebahagian quin yang hanya karena akan pergi nonton saja.
Mereka meneruskan makan siang mereka. Setelah makan, narendra dan quin berjalan menuju kantor quin. Narendra hanya mengantar quin sampai di lobby saja karena dia harus segera kembali ke kantor sebelum kevin mengamuk setelah tadi bolak baik menelepon narendra. Dan quin memaklumi itu semua. bahkan ia sempat mengusili kevin.
π¨π¨π¨
" kamu yakin nggak pulang dulu dek ?" tanya nakula saat sudah bersiap pulang.
" iya kak, quin nanti di jemput mas narendra. Kami akan ke mall , mau nonton." jawab quin tersenyum.
" kamu yakin mau ke mall dengan penampilan seperti ini ? Kamu tahu kan narendra nanti nggak nyaman," kata nakula sangsi dengan keputusan quin.
" hi hi hi, tenang aja kak kula. Nanti quin mau ngajak mas ren ke butik sama salonnya mbak jo " kata quin penuh rencana. Nakula kaget karena nakula tahu salon yang di maksud oleh adiknya ni.
" jangan bilang kamu ingin.... "
" hi hi hi, iyap. Benar sekali " potong quin cepat sambil tertawa. nakula ikut tertawa. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana penampilan narendra nanti nya.
" ya udah kakak duluan pulang ya kalau gitu ?" pamit nakula. Quin mengangguk dan kembali duduk menunggu di sofa obby. Dia sengaja memainkan game untuk menghilangkan kebosanannya.
" nona muda, " sapa seseorang. Quin mendongakkan mata nya menatap siapa gerangan yang menyapa. Saat melihat siapa yang menyapa nya, ia mendengus pelan. Alisnya seketika menukik heran.
' ngapain orang ini, kali ini apa yang di inginkannya ?' batin quin. Quin akhirnya tersenyum ramah.
__ADS_1
" iya, oh tuan bagas." balas quin. Ya, orang yang menyapa quin adalah bagas. Dia sedang sendiri. melihat nona muda adipati sendiri, ia merasa memiliki kesempatan untuk mendekati nya.
" nona muda belum pulang ? Atau sedang menunggu jemputan ?" tanya bagas sok akrab.
" iya saya menunggu jemputan, tuan bagas." jawab quin lagi.
" panggil saja bagas, nona muda.. "
" jika anda berkenan, mari saya antarkan pulang " tawar bagas.
" oh iya, bagas. Apa nanti tidak ada yang marah jika anda mengantar saya ?" pancing quin. Ia ingin tahu jawaban apa yang akan di berikan oleh bagas .
" tenang saja nona muda. Saya single " canda bagas terkekeh.
' single your head ,' umpat quin dalam hati. Hati nya tertawa ternyata sara juga tidak di anggap setelah bagas melihat wanita yang dianggap lebih kaya. Benar - benar matre.
" oh ya ? Bagaimana mungkin laki - laki se tampan anda masih single " tanya quin sambil memiringkan kepala. Berlagak polos. Bagas tersenyum samar.
" ha ha ha , nona muda bisa saja. Oh iya, bagaimana ? Mau saya antar pulang ?" tanya bagas lagi.
" tidak perlu repot - repot bagas, mungkin sebentar lagi jemputan saya sudah sampai " quin mencoba menolak secara halus.
" tapi ini sudah sangat sore nona muda, tidak baik seorang perempuan cantik seperti anda berada di luaran," rayu bagas. Nampak nya ia sangat ingin mengantarkan pulang quin untuk mencari perhatian nya.
" ha ha ha, begitu kah. Sebent..."
TIN TIN TIN
Terdengar bunyi klakson. Kedua nya serempak menoleh melihat siapa yang datang. Quin hapal mobil siapa itu, dia tersenyum lebar.
" oh itu jemputan saya, saya duluan dulu, bagas. Mari " pamit quin. Dia setengah berlari menuju mobil. Narendra yang melihat nya, segera turun dan berlari kecil menuju quin. Dia membukakan pintu mobil untuk sang kekasihnya.
" jangan lari - lari, kebiasaan " narendra menyentil pelan dahi quin. Quin mengerucutkan bibir nya. Narendra kemudian segera mempersilahkan quin untuk duduk mani di dalam mobil. Usai menutup pintu, mata nya menatap ke arah bagas yang masih mengawasi kedua nya. Narendra tersenyum remeh.dan segera memasuki mobil lalu melaju meninggalkan halaman perusahaan adipati.
Bagas terlihat mengepalkan tangannya erat. Dia kesal karena kesempatan mendekati nona muda adipati harus gagal lagi.
" sial, padahal sedikit lagi wanita manja itu akan luluh " gumam bagas.
" loh sayang. Kata nya kamu ada urusan ? "
DEG
__ADS_1
.