
' siapa itu ?'
' iya, tampan sekali '
' itu bukannyaa CEO Aldebaran Group?'
'wah, untuk apa dia kesini '
' mau bertemu siapa ya?'
Riuh rendah terdengar di telinga narendra begitu ia menginjakkan sepaatu nya di lobby perusahaan quin. Dia mengeram kesal dan segera menuju ke arah nimas dan tiara. Hanya dua orang itu yang tidak terpengaruh dengan kedatangan sang tuan muda aldebaran ini.
" tuan muda, ingin bertemu quin ?" tebak nimas yang sudah hapal. Narendra tersenyum tipis dan mengangguk.
" silahkan langsung saja naik tuan muda, nona muda sudah berpesan jika anda sampai untuk langsung naik, silahkan menggunakan lift khusus pimpinan yang berada di sebelah kanan,tuan." kata tiara. Ya, quin udah berpesan kepada nimas dan tiara jika narendra akan datang untuk menemu nya.
' terima kasih, " kata narendra singkat sebelum melenggang menuju lift khusus pimpinan perusahaan sesuai pesan quin.
sara kebetulan sedang berjalan menuju lift karyawan. Dia melihat narendra yang berjalan menuju lift juga. Dia berniat mengejar nya agar bisa mendekati nya. Tapi nampak nya ia kalah cepat.
' sial, kenapa cepat sekali jalannya. Lalu kenapa ia masuk ke lift khusus pimpinan ? Sebenarnya apa hubungannya dengan pimpinan perusahaan ?' gerutu sara. ia pun melanjutkan langkahnya menuju lift karyawan dan menuju lantai dimana divisi nya berada.
TING
Lift narendra sudah sampai di lantai tempat quin berada. Ia sengaja tidak menghubungi quin dahulu dan ingin memberi kejutan untuk sang kekasih. Narendra melihat nakula yang baru saja keluar dari ruangan quin, dan ia mendekati nya.
" hei, anda disini, tuan muda ?" sapa nakula ketika ia menyadari kedatangan narendra.
" hm, quin ada di dalam ?" jawab narendra. Nakula menggeleng kepala geli mendengar jawaban singkat dari narendra. Tapi ia memaklumi nya.
" ya, dia sedang memeriksa beberapa berkas, kurasa tidak akan lama lagi untuknya selesai. Kau bisa masuk," jelas Nakula.
" hm, terima kasih " jawab Narendra dan segera menuju ruangan quin.
Narendra langsung membuka pintu begitu di beritahu nakula jika quin berada di dalam tanpa mengetuk nya. Nampak olehnya sang kekasih sedang berkutat dengan tumpukan berkas yang sama tinggi nya dengan miliknya di kantornya. Narendra tersenyum dan nampak menikmati wajah serius quin saat sedang menatap dan memeriksa pekerjaannya. Tanpa sadar sedang di awasi oleh seseorang. Sungguh sangat ceroboh karena ia tidak menyadari kedatangan orang asing.
__ADS_1
' untung aku yang masuk ke ruangan mu, gadis nakal ' bati narendra.
EHEM
tak tahan dengan ketidakpekaan sang kekasih, narendra berdeham untuk menyadarkan quin tentang keberadaannya. Quin terjengit kaget saat melihatnya. Ia segera menutup map berisi berkas - berkas yang di periksa nya. Dia tersenyum dan bangkit untuk menyambut kedatangan sang kekasih nya.
" kenapa tiba - tiba sudah sampai di sini saja ? mas ren sejak kapan ada di sini ? Kenapa tidak memberitahu saat tadi sampai ?" runtutan pertanyaan di muntahkan begtu saja oleh quin tanpa jeda. Narendra terkekeh. Dia mencubit gemas hidung mancung quin.
" nanya nya bisa satu - satu ? Aku sejak tadi di sini, saat nakula baru keluar dari sini. Dia bilang aku bisa langsung masuk saja. Lalu, aku ingin memberikanmu kejutan dengan tidak memberitahu mu " jawab narendra lancar. Quin manyun.
" berarti sudah lama sekali mas di sini, maaf ya karena tidak sadar jika mas sudah sampai. Pekerjaan ku banyak sekali gara gara kemarin absen" keluh quin manja. Mereka duduk di sofa yang tersedia di ruangan quin.
" tidak apa - apa sayang, aku mengerti " kata narendra pengertian.
" mas sudah lapar ? Yuk kita makan sekarang, kemana kita akan pergi ?" tanya quin bersiap dengan Sling bag nya.
" bisa kah kita makan di sini saja ?" tanya narendra pelan.
" hei ? Kenapa ? " tanya qun heran.
" karyawan perempuan sungguh menakutkan " adu narendra. Quin mengernyit sebentar sebelum akhirnya dia sadar sesuatu.
" apa sekarang aku harus kesal jika memiliki mas yang sangat tampan ?" goda quin.
" kau smakin pintar menggombal. Sayang." kata narendra datar. Quin semakin terbahak.
" ha ha ha maf maaf mas, hi hi hi " kata quin pada akhirnya.
" tapi mas, aku pengen makan sop iga sapi di restoran seberang kantor " kata quin dengan mengeluarkan jurs andalannya. Puppy eyes. Narendra tak tahan dengan godaan mata quin segera meraup wajah quin.
" hah, baiklah - baiklah, jangan seperti itu " pasrah narendra. Quin terlonjak kecil.
" ayo kita berangkat " teriak quin semangat. Narendra geleng- geleng kepala dengan tingkah quin. Ia segera menggandeng tangan quin. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan quin. dan berpapasan dengan nakula.
" kak, ayo makan siang bareng kami " ajak quin.
__ADS_1
" nggak dulu dek, kakak ada janji dengan mbak mu. Ia minta di jemput" jawab nakula sambil melihat ke arah jam tangan nya. Nampaknya sedang di kejar waktu.
" hemmm, oke deh. Jangan ngebut - ngebut. Salam buat mbak zizah" kata quin.
" ya, dan ingat, kamu di larang minus ES. Tuan muda, tolong pastikan anak nakal ini untuk tidak minum es atau apapun yang dingin. " teringat nakula. Quin manyun sedangkan narendra mengangguk dan tersenyum dengan peringatan dari nakula untuk kekasihnya. Nakula segera beranjak. Nampak nya tidak sabar untuk makan siang dengan calon istrinya.
" semua untuk kesehatanmu sayang, " kata narendra saat quin masih manyun.
" iya iya, ig " kata quin. Narendra mempererat genggaman tangannya. Quin menoleh dan Narendra hanya tersenyum teduh. Quin luluh dan menormalkan bibirnya yang sedang mode soang !.
Mereka segera memasuki lift dengan mengobrol. Tak sampai lima menit mereka berdua sampai lobby dan kembali menjadi pusat perhatian karyawan quin. tapi mereka tidak menghiraukan tatapan para karyawan.
Dia antara nya ada sara dan bagas yang sedang berjalan beriringan. Nampaknya mereka juga ingin makan siang. Sara melihat jika tuan muda aldebaran incarannya sedang bergandengan tangan dengan pemimpin perusahaannya, sang quin.
' sial, kenapa sainganku terlalu berat. Haah ' batin sara.
Sedangkan bagas, tatapan nyaa menuju ke arah quin yang terlihat blink blink kacing kacing di mata nya. Mata nya tak berkedip meskipun ia melihat quin yang berjalan dengan tuan muda aldebaran. Sara yang kesal karena incarannya ternyata sudah punya gandengan, tambah merasa kesal saa melihat bagas yang menatap intens ke arah quin.
" hei, kemana arah pandanganmu saat bersama tunangan mu ! " kata sara sarkas. Bagas gelagapan karena kedapatan menatap quin. Ia segera menormalkan wajahnya dan merayu sara.
" kenapa sayang, aku sedang melihat tuan muda aldebaran . bukankah dia yang bekerjasama dengan kita untuk memasok bahan baku untuk kafe dan restoran ?" tanya bagas mencoba mengalihkan pembicaraan.
' sial menganggu saja si sara . Untung masih berguna ' batin bagas.
" h, iya, dia pemasok bahan utama di kafe " kata sara. Ia sama sekali tidak curiga kepada bagas dan mempercayai nya.
Meeka akhirnya melanjutkan perjalannya untuk makan di kantin kantor.
Quin dan narendra bukan tidak menyadari tatapan bagas dan sara tadi. Tapi mereka pura - pura tidak melihat. Narendra menoleh menatap quin.
" kenapa mas ? " tanya quin saat sadar narendra menatapnya.
" hm. Kamu tidak apa -- apa ?" tanya narendra. Quin tahu arah pertanyaan narendra ini.
" mas, quin baik - baik saja, mas tenang saja " jawab quin dengan tersenyum manis. narendra mengusap sayang rambut quin yang di ikat ponytail.
__ADS_1
" kamu harus bercerita jika ada maslah, apa pun itu, sekecil apapun. Hm ?" kata narendra.
" ia mas, terima kasih " senyum quin lagi.