Quinsha (Nona Muda Tersembunyi)

Quinsha (Nona Muda Tersembunyi)
bab 46


__ADS_3

" jadi, kapan ibu menemui paman dan bibi mu untuk melamarmu, quin ?"


...****************...


UHUK UHUK


Kevin tersedak onde - onde nya, sedangkan quin tersedak saliva nya sendiri. Narendra hanya santai dan tenang seolah ia tahu pasti pertanyaan ini akan di lontarkan oleh sang ibu. Ayo lah, Narendra sudah hafal watak sang ibu. Apalagi akhir - akhir ini ia sering di telepon hanya untuk menyuruh nya menikah. Apalagi saat ini ia pulang membawa calon yang nampaknya sudah sangat di sukai oleh sang ibu.


quin memerah mendengar pertanyaan ibu Narendra. Ia menunduk malu karena bingung menjawab apa. Ia tak menyangka akan secepat ini di terima oleh ibu narendra. Bayangan mertua yang akan menolaknya memang sudah menghilang sejak pertama kali melihat sosok ibu narendra. Tapi ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan ini.


" nanti dulu bu, quin harus menyelesaikan beberapa maslah. Setelah itu kita datangi paman dan bibi nya " jawab narendra menengahi.


" ada masalah apa memang ? Kenapa tidak minggu ini saja ?" tanya ibu yang sudah tak sabar menjadikan quin menantu nya. Kembali quin melotot kaget dengan ucapan ibu narendra ini.


"ada lah pokok nya bu, sabar dulu ya bu. Paman arjuna dan bibi ratih juga sudah ingin bertemu ibu , " kata narendra penuh arti. Quin menoleh cepat menatap narendra. Tatapannya seolah berkata ' kapan kamu berbincang dengan paman dan bibi ? '.


Narendra hanya tersenyum teduh menjawab quin. Kevin hanya menjadi pendengar setia kali ini.


" oke baiklah, ibu mengalah. tapi tahun ini kalian menikah !" putus sang nyonya aldebaran. narendra tersenyum puas saat melihat wajah pias kekasihnya, quin. quin hanya bisa tersenyum getir dengan paksaan yang menyenangkan dari ibu narendra.


" lalu, bagaimana denganmu kev ? kapan membawakan ibu calon menantu ?" tanya ibu tiba - tiba.


UHUK UHUK UHUK


mendapat serangan fajar dari ibu nya, kevin langsung tersedak lagi. dengan rakus ia meminum minuman yang tersedia di meja. sejenak setelah lega, ia mendelik gemas pada sang ibu yang malah menertawakannya.


" kevin masih kecil bu, " elak nya. benar kata narendra, ibu nya ini jika sudah berkumpul pasti menyebalkan, selalu menagih menantu seperti menagih hutang saja !!.


" kecil apa nya ? kamu sudah 25 tahun, sudah cocok untuk menimang bayi !" sarkas ibu mengejek. kevin bengong. sedangkan narendra dan quin diam - diam mengulum bibirnya.


dalam pandangan narendra yang sedang bertatapan dengan kevin mengatakan ' rasakan, inilah yang kurasakan setiap ibu meneleponku'.

__ADS_1


Kevin kicep. Bingung ingin menjawab apa. Dia pun sama seperti narendra, sangat susah untuk di dekati wanita. Baginya, ia ingin berbakti pada ibu narendra yang telah merawatnya sejak kematian ke dua orang tua nya dulu.


...****************...


hari sudah semakin larut. ternyata sudah satu setengah jam quin bercengkrama dengan ibu narendra. dan ia memutuskan untuk pulang. narendra juga sadar waktu telah membawa pergi anak gadis orang dan berniat akan mengembalikannya. quin segera berpamitan dan menjanjikan akan sering berkunjung mengunjungi ibh narendra yang berubah menjadi ibu yang seakan - akan di tinggal anak nya untuk perang. wajar saja, ibu narendra memang mengharapakan memiliki anak perempuan lagi setelah memiliki narendra. namun karena mengalami kecelakaan, ia harus merelakan kantung rahim nya di angkat. jadi saat narendra membawa pulang calon menantu, ia sangat bahagia.


" bu, quin pulang dulu ya " pamit quin sambil mencium pipi kana dan kirim wanita paruh baya yang sedang memandangnya sendu itu.


" kenapa pulang, bagaimana kalau kamu tidur sini saja ? Nanti ibu telepon ratih " bujuk ibu. entah sudah ke berapa kali usaha nya menahan quin agar tetap di rumah besar ini.


" bu, nggak enak sama tetangga nanti nya. Biar quin pulang dulu. Besok - besok bisa main ke sini lagi " kini narendra yang angkat bicara melihat ketidakberdayaan quin menghadapi rengekan manja ibu nya.


Ibu pun luluh dan melepaskan pelukannya. Ia mencium pipi quin sekali lagi.


" lain kali qun main lagi bu, atau jika nanti ibu mau di temani ke mall, ibu bisa hubungi quin, " kata quin. Diri nya juga nyaman dengan kasih sayang di berikan oleh ibu narendra.


" benar ya, janji sama ibu " dengan berat hati, ibu melepas kepulangan quin. Qun dan narendra segera masuk mobil dan melaju pulang,


" jadi ?" tanya quin meminta penjelasan.


" kita harus segera menyelesaikannya quin, " kata sadewa serius.


" benar, mereka mulai berani mencuri uang pusat. Kemarin mereka sudah banyak menggasak dana untuk pembuatan restoran untuk cabang di negara S." jelas nakula.


Quin nampak berdiam dan berpikir. ia memejamkan mata nya untuk mengatur strategi. Benar, dia harus segera menyelesaikannya sebelum keuangan pusat di rongrong semakin dalam. Beruntung saat ini ia sudah mengamankan akun rekening tempat pencucian uang itu.


" oke, kita akan bongkar semua satu bulan lagi, kakak bilang sama mas romi persiapkan semua bukti nya . Kita akan bahas saat rapat bulanan bulan Februari ini, " kata quin tegas.


" lalu bagaimana dengan pasangan gila itu ?" tanya nakula, nampaknya nakula yang paling semangat dalam pembalasan dendam quin ini.


" nanti juga akan ada waktu nya, tenang saja kak. Lagian jika bukan quin yang balas, allah nggak tidur " jawab quin bijak. Nakula melongo mendengar jawaban quin. Sedangkan sadewa terlihat puas dengan sikap dewasa yang di tunjukkan oleh quin.

__ADS_1


" sejak kapan adik kakak begitu dewasa ?" tanya nakula melingkarkan tangannya di pundak quin.


" huuuu. Baru sadar ya kalau quin dewasa " protes quin.


" oh iya dek, kamu dari mana ?" tanya sadewa yang sedari tadi diam. Quin terdiam. Dia lupa dengan pertanyaan ini yan pasti akan muncul.


"ehm ehm, dari rumah mas ren. Ketemu ibu nya " jawab quin malu - malu.nakula sampai tergelak melihat wajah merona adiknya ini .


" jadi ? Narendra sudah memperkenalkan dirimu ke ibu nya ?" tanya sadewa nampak mengintrogasi quin.


" iya kak, maaf quin nggak ngomong ke kakak dan paman sama bibi, tadi nya mau ngomong. Tapi quin lupa sampai akhir nya sakit kemarin " kata quin sambil memilin - milin jari - jari nya. Sadewa geleng - geleng kepala melihat kelakuan quin. Sedangkan nakula semakin terbahak. Quin memang belum tahu jika narendra sudah di sidang oleh paman dan bibi nya kemarin.


" ha ha ha aduh mas, ora kuat aku, deleng rai ne quin, abang banget " kata nakula sambil memegang perutnya yang kram karena kebanyakan ketawa.


( aduh mas, nggak kuat aku. Lihat wajah quin. merah banget ).


Sadewa tersenyum geli juga melihat wajah quin yang nampak takut. Quin hanya melongo melihat nakula yang semakin tertawa itu.


" dek, ayah sama bunda sudah tahu tentang mu dan narendra. bahkan kemarin sudah sempat di sidang oleh mereka, " jelas sadewa yang sudah tidak tega melihat ekspresi quin. Quin mendongak menatap sadewa, sadewa mengangguk meyakinkan quin.


" jadi mas ren sudah bicara sama paman dan bibi ?" tanya quin cengo. Sadewa dan nakula mengangguk serempak.


" bahkan narendra sudah melamar mua kepada ayah dan bunda " sambung nakula yang sudah mulai menguasai diri ny. Dia tersenyum ke arah quin.


" harus kakak akui, jika narendra adalah pria yang pantas mendapatkan mu. Dia tulus kepada mu terlepas dari siapa identitasmu. Bahkan dia juga menyukai tampilan itik buruk rupa mu kan ?" kata nakula bijak. Rupa nya mode kakak perhatian sedang ia aktifkan.


" benar kata kula, kakak sudah melihat rekam jejaknya selama di london juga. Tidak ada celah wanita yang pernah bisa mendekati nya. Kevin juga bisa bersaksi tentang itu " tambah sadewa.


Quin semakin merasa yakin untuk menempuh jenjang yang lebih serius dengan narendra setelah mendengar restu dari kedua kakak kembar nya ini. Apalagi saat paman da bibi nya juga memberi nya lampu hijau.


" sudaaah malam, ayo kamu segera tidur. Besok kita harus segera bersiap untuk bertempur " ingat sadewa. Quin dan nakula menurut dan segera menuju ke kamar masing - masing.

__ADS_1


__ADS_2