
" aneh deh, kayak orang ngidam, " gumam ibu yang masih bisa di dengar semua.
" hah ? Hamil ? Mas ren hamil ?" pertanyaan kaget dan polos quin mengagetkan semua. Sejenak semua terdiam lalu tertawa.
" ha ha ha aduh, perutku mas, adikmu bener - bener super, " aisyah tidak mampu menahan ketawanya. Ia nampak berpegangan kepada sadewa yang juga mengulum bibirnya
" yang hamil kamu dek, rendra yang ngidam, " sambung aisyah setelah ia berhasil menormalkan wajahnya.
" hah ? Tapi quin nggak muntah atau pun mual, " kata quin polos. Rupa nya kejeniusan quin sedang mandeg.
" ya kan nggak semua wanita hamil mual muntah dek, suami juga bisa yang mual atau muntah atau malah ngidam, sayang nya kakak lagi nggak bawa peralatan medis, gimana kalau kalian periksa saja ?" usul aisyah. Memang sedari tadi, aisyah sempat memperhatikan bentuk tubuh quin yang sedikit lebih berisi. Dan di tambah dengan kelakuan aneh rendra dia jadi semakin yakin dengan dugaan nya. Gadis calon dokter kandungan ini optimis jika dik ipar nya sedang berbadan dua !.
" eh, kalau di ingat - ingat lagi, bukankah lo sering mual - mual akhir - akhir ini ren ?" kevin kemudian berseru saat teringat momen narendra yang mual dan muntah jika berada di kantor. dan itu hanya terjadi saat jam 8 sampai jam 9 pagi saja.
" iya benar kata kakak ipar mu, rendra, ajak periksa istri mu, " kata ibu sumringah.
' Aku akan menjadi seorang nenek 'batin yulia bersorak.
" apa harus sekarang ? " tanya quin. Narendra yang masih kaget dengan dugaan dari aisyah masih menatap quin intens.
" ish, kamu ngapain ngliat aku kayak gitu deh mas, " ucap quin merasa risih dengan tatapan rendra. Narendra tersenyum lebar dan memeluk quin erat.
" semoga dugaan mereka semua benar ya yank, " bisik rendra. Terdengar penuh harapan dari suara narendra. Quin membalas pelukan rendra.
" aamiin, semoga ya mas, " balas quin tersenyum. Ia juga berharap segera mengandung anak dari pria yang di cintai nya ini.
" yeeeee malah pelukan di sini, sana kalian periksa, " kevin mengganggu moment peluk memeluk quin dan narendra.
" cih dasar pengganggu, " sungut quin dengan bibir manyun.
" tapi pesta nya bu,? " tanya narendra lagi. Ia merasa tidak enak hati untuk meninggalkan acara kedua kakak ipar nya ini.
__ADS_1
" nggak apa - apa ren, tolong periksakan quin dan semoga kami mendapat kabar bahagia, " kata arjuna menghilangkan keraguan dan kebimbangan narendra.
" iya nggak apa - apa, kami paham. Yang penting kalian sudah absen muka," canda nakula.
" pergi lah, pastikan kedan quin dan bawa kabar gembira untuk kami, " sadewa pun mengeluarkan suara. Begitu juga dengan ratih yang mengangguk dan tersenyum teduh. Narendra mengangguk paham dan menoleh ke arah quin yang tengah berdebat dengan kevin.
" sudah sudah, ayo kita ke rumah sakit sayang. Kevin sudah ku bilang jangan ganggu quin " narendra menengahi pertikaian bayi antara quin dan kevin. Quin menjulurkan lidah ke arah kevin.
" bu, bibi, rendra bawa quin ke rumah sakit dulu ya, kakak ipar, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian " narendra pamit.
" kak ais, kak zizah. Jangan lupa pakai hadiahku malam ini, " kata quin sambil mengerling genit ke arah aisyah dan azizah. Kedua nya hanya geleng - geleng sambil merona karena mereka sudah menebak apa yang di berikan oleh quin.
Narendra dan quin akhirnya meninggalkan hotel dan menuju rumah sakit. RS PELITA HARAPAN menjadi pilihan narendra untuk memeriksakan quin. Karena ia memiliki saham di rumah sakit ini. Dan ia juga tahu kakak ipar nya akan praktek di sini. Jadi nanti nya ia dan quin bisa mudah konsul kepada dokter yang sudah mereka kenal.
Narendra segera mendaftarkan quin di poli kandungan, sore itu pasien yang mendaftar tidak begitu banyak. Terdapat 3 pasien yang ditemani oleh pasangannya masing - masing.
Quin dan narendra bisa melihat ada dua dari pasien itu ibu - ibu yang sudah membuncit perutnya. Mungkin sudah 7/8 bulan. Melihat itu, narendra mengusap perut quin . Quin menoleh.
" semoga ya mas, " jawab quin.
Pasangan muda mudi yang memiliki kadar tampan dan cantik yang berlebih itu menjadi pusat perhatian pasien dan para staff rumah sakit di poli kandungan. Banyak yang memuji mereka sebagai pasangan yang serasi. Terlihat jika sang suami nampak memperhatikan istri nya dengan penuh cinta.
" mbak nya baru mau periksa ?" tanya ibu yang di samping quin dan rendra. Quin menoleh dan tersenyum.
" iya bu ," jawab quin.
" wah, seneng nya bisa di temani suami, kalian pengantin muda ?" tanya ibu nya lagi. Quin mengangguk dan tersenyum. Sedangkan narendra kembali ke stelan awalnya jika di hadapan orang lain, datar.
" ibu sudah berapa bulan? Quin bertanya. Ia melihat perut ibu nya sudah menonjol.
" ini masih jalan 5 bulan mbak, ayah nya lagi tugas di luar kota, " jawab si ibu dengan sedikit curhat. Mereka akhirnya berbincang hingga akhirnya giliran si ibu tiba. satu lagi setelah ibu ini hiliran quin.
__ADS_1
tak berapa lama, si ibu pun keluar dan tersenyum ke arah quin. lalu ia pamit. sedangkan quin dan narendra masuk karena sudah giliran quin.
" selamat sore nyonya aldebaran, ada yang bisa saya bantu ?" senyum ramah seorang dokter berusia sekitar 45tahunan dengan name tag Ayunda Amelia SP.OG menyapa narendra dan quin saat mereka sudah duduk di hadapan sang dokter.
" quin saja bu dokter, jangan terlalu formal " kata quin tersenyum manis. aww bahkan bu dokter pun terkesima dengan senyuman quin.
" ha ha ha, baik baik, nah, jadi quin. apa keluhannya ?" tanya dokter ayu.
" saya ingin memeriksakan istri saya dok, apa benar ada rendra junior di sini, " rendra yang sudah tidak sabar segera menyambar menjawab sebelum quin sempat membuka mulutnya. quin manyun karena malu.
" dasar, mas kulkas, sabar kenapa, malu tahu " gerutu quin setengah berbisik tapi masih di dengar oleh dokter ayu. sang dokter terkekeh pelan melihat kemesraan pasangan muda ini. ah, jadi kangen paksu di rumah π.
" ha ha ha, jadi calon ayah sudah tidak sabar ya, oke sebentar . ehm sudah di cek testpack ? kapan terakhir siklus menstruasi nya ? " tanya bu dokter.
" belum di cek dok, terakhir kapan deh mas ? kan mas yang hapal π€" polos quin menjawab. bu dokter kembali tergelak dan giliran narendra yang malu.
" ehm, kayaknya bulan lalu deh yank, terakhirnya pas pertengahan bulan deh, " setelah mengingat - ingat celah di mana mereka tidak melakukan aktifitas rutin malam narendra akhirnya mengingat.
" baik, mari kita tes terlebih dahulu, " kata dokter ayu sambil menyerahkan sebuah merk testpack dan langsung di terima oleh quin. quin bukan yang polos polos amat jika dengan alat ini. ia masuk ke bilik kamar mandi yang ada di ruangan. selang lima menit ia keluar dengan alat yang sudah ia pakai. mata nya nampak berkaca - kaca. ia segera menghambur ke pelukan narendra.
narendra cemas mengira jika hasil tak sesuai harapan mereka pun menepuk - nepuk pelan punggung quin.
" nggak apa - apa, kita masih bisa berusaha " ujar narendra menghibur quin.
sedangkan dokter ayu kembali mengulum bibir karena ia sempat melirik hasil dari alat tes.
quin mengangkat kepala nya, mata nya mendelik tajam menatap quin.
" ih mas, liat dulu makanya, " sewot quin sambil meletakkan alat tes di tangan narendra ( sudah di cuci dulu loh ya sama quin ).
narendra yang bingung akhirnya melihat alat tes kehamilan itu. mata nya membulat sempurna melihat hasil yang tertera di sana. dua garis, benar dua garis merah !!.
__ADS_1
" yank ini beneran ? ini bukan mimpi kan, aku akan jadi ayah ?" .