Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_14.


__ADS_3

Steve sangat geram, dia berniat mengejar Kai saat itu, tapi Lia menghadangnya. Kai memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam kelas.


Lia dan Steve juga masuk ke dalam kelas. Lia terlihat seperti orang bodoh saat itu dengan seragamnya yang kotor. Steve melepaskan jaket yang dia kenakan dan memakaikannya pada Lia agar menutupi seragamnya kotor.


Kai melirik sekilas ke arah mereka, dan mendekati mereka di tempat duduk Lia. Steve menatap ke arah Kai, matanya seakan bertanya kenapa Kai sangat berubah sekarang, dia bukan lagi Kai yang di kenalnya.


"Ehem, bolehkah aku bertanya tuan dan nyonya. Berhubung aku tidak ingat di mana tempat dudukku, maukah kalian memberitahuku," ucap Kai seakan mengejek mereka.


"Kai, tempat duduk kamu itu di sebelah Lia. Tapi kalau kamu mau duduk di sebelahku juga tidak apa-apa," kata Silvia.


"Terima kasih nona yang manis, aku juga tidak peduli mau duduk di mana, asalkan aku bisa belajar dengan tenang." Kai menuju bangku yang kosong di sebelah Silvia.


Lia hanya bisa terdiam melihat sikap orang yang dia sayangi sangatlah berbeda, bahkan 100% berbeda dari Kai yang dulu dia kenal. Kai dulu selalu ada untuk menghapus air mata Lia, tapi sekarang, jangankan menghapus air matanya, Kai malah membuat Lia menangis.


Setelah jam istirahat, Kai melihat Arnes yang menuju ke arahnya. Kai yang dengan santai hanya memantaunya saat dia berjalan mendekati Kai.


"Oh, sang pahlawan sudah kembali rupanya. Yakin sudah sembuh?" Arnes duduk di meja Kai.


"Hmm, aku sudah sembuh atau belum itu bukan urusanmu." Kai beranjak dari tempat duduknya.


Steve keluar untuk mencari udara, karena baginya kelas serasa pengap setelah Kai kembali. Sikap Kai yang angkuh dan sombong membuat Steve tidak bisa menahan emosinya.


Lia yang masih duduk di bangkunya hanya bisa melihat saja perdebatan Kai dan Arnes. Setelah itu Arnes mendekati Lia yang sedang beberes buku-bukan ke dalam tas.


"Hai Lia, kenapa kamu memakai jalet Steve? apa Kai sudah tidak berarti lagi bagimu?" ucap Arnes.


Lia hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Arnes. Lia segera keluar saat buku-bukunya sudah masuk semua ke dalam tas. Tapi Arnes menahannya, Arnes memegang tangan Lia saat Lia akan pergi keluar.


Kai masih memantau Arnes dan Lia saat itu, Kai tidak bertindak apa-apa. Lia yang sangat kesal meminta Arnes melepaskan genggaman tangannya, tapi Arnes tidak mau.


Melihat sikap Arnes yang kasar pada Lia, Kai langsung melempar pena yang ada ditangannya ke arah Arnes. Arnes melepaskan tangan Lia saat pena yang di lempar Kai secara diam-diam mengenai tangannya.


"Apa masalahmu Kai? bukankah kamu sudah tidak menginginkannya lagi." Arnes membentak Kai dengan kesal.


"Menginginkannya kamu bilang? kapan aku menginginkan gadis itu, aku bahkan tidak tau dan tidak ingat siapa dia," kata Kai sambil mengambil penanya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu menghalangiku untuk mendapatkannya?" tanya Arnes.


"Tidak ada yang menghalangimu, itu penaku terlepas jauh dari tanganku," seru Kai seakan mengejek Arnes.


Arnes mulai geram pada Kai yang bersikap seperti itu, saat Arnes ingin menyerang Kai, Kai malah menahan serangannya. Lia masih di bangkunya melihat Arnes yang ingin memukul Kai.


"Dengarkan aku, meskipun dia bukan siapa-siapa bagiku, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mendekati dan menyakitinya. Cukup aku saja yang melakukan itu padanya." bisik Kai pada Arnes sambil memuntir tangan Arnes.


Arnes terkejut dengan ucapan Kai, Arnes tidak menyangka Kai benar-benar tidak mengenali Lia. Dia langsung berpikir untuk mendekati Kai dan mengajak Kai bekerja sama.


Tapi karena jam istirahat selesai, akhirnya Arnes mengurungkan niatnya untuk sementara waktu sampai pelajaran selesai.


Lia masih berpikir kenapa Kai mau menolongnya, apa mungkin di dalam hati Kai yang sebenarnya masih ada perasaan pada Lia meskipun hanya sedikit.


Bel tanda pelajaran telah usai, Silvia menggoda Kai agar mau pulang bersamanya. Silvia melingkarkan tangannya pada leher Kai dan duduk di pangkuan Kai.


"Kai, mau kah kamu pulang bersamaku?" tanya Silvia.


Kai tersenyum pada Silvia dan menyetujui permintaan Silvia untuk pulang bersama. Silvia sangat senang, mereka pun berjalan keluar bersama-sama.


Steve menyadari tatapan Lia yang sangat kesal melihat Kai mau jalan bersama dengan Silvia. Pikiran Lia sudah sangat kacau di hari pertama Kai masuk sekolah.


"Baiklah Steve." Lia beranjak dari tempat duduknya.


Saat Lia berjalan di parkiran menunggu Steve mengambil mobilnya, kaki Lia tersandung batu. Lia hampir terjatuh tapi Kai dengan gesit menangkap tubuh Lia.


Lia sangat terkejut karena Kai menolongnya. Tapi kejadian itu mengingatkan Kai pada saat dia menolong Lia di saat seperti ini juga. Kai melepaskan Lia dan Lia heranmelihat Kai seperti kesakitan.


"Kai, kamu kenapa?" tanya Lia dengan lembut.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Kai sambil menahan sakit di kepalanya.


Silvia mendekati Kai dan Lia, dia manarik Kai agar segera ke mobil dan menjauhi Lia. Kai pun pergi bersama Silvia tanpa menoleh pada Lia sedikitpun.


'Apa ini Kai, kalau memang kamu tidak peduli padaku kamu tidak akan menolongku terus menerus.' batin Lia.

__ADS_1


Klakson mobil Steve membuyarkan lamunan Lia yang masih melihat ke arah Silvia dan Kai. Lia langsung masuk ke dalam mobilnya, dan Steve mengemudi mobil sambil melihat Lia yang masih melamun.


"Lia, kamu sedang memikirkan apa?" tanya Steve.


"Emm, tidak ada. Aku hanya heran dengan sikap Kai, dia sudah menolongku 2 kali hari ini. Kalau memang dia tidak peduli padaku mana mungkin dia melakukan itu kan Steve," ucap Lia.


"Iya benar katamu, tapi kita tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Kai saat ini," jawab Steve.


Lia mengiyakan ucapan Steve karena memang benar Kai yang sekarang penuh dengan teka-teki. Tidak bisa di tebak apa yanh dia mau dan dia inginkan.


Sesampainya di rumah, Lia langsung masuk ke dalam kamarnya. Kakek Yee menghampiri Steve yang duduk di sofa sambil membuka sepatunya.


"Steve, aku merasa Lia sangat muram. Ada apa?" tanya Kakek Yee sambil duduk di dekat Steve.


"Ini semua karena Kai kek, aku tau dia akan berubah sikap, tapi aku tidak menyangka sikapnya sekarang membuat Lia sakit hati," kata Steve.


"Kamu tidak akan tau kenapa Kai seperti itu, tapi suatu saat kamu akan mengerti," ucap Kakek Yee.


.


.


.


.


.


MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...


DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...


NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...

__ADS_1


TERIMA KASIH ...


IG: Blue Flower


__ADS_2