
"Santai aja, semua itu bukan salah kamu kok. Kamu hanya kaki tangan dari Vino," ucap Kai.
"Apa kamu tidak marah padaku?" tanya Arnes sembari menatap Kai di sampingnya.
Kai tersenyum melihat Arnes. "Tidak. Justru aku salut, karena kamu nekat menemui dan menemani aku sekarang. Apa kamu tidak takut?" Kai mendekatkan wajahnya lada Arnes.
"Ta ... takut kenapa?" jawab Arnes sambil terbata-bata.
Melihat keringat di kening laki-laki yang sedang di tatapnya, Kai menjadi tertawa. Dia tidak menyangka jika gurauannya membuat Arnes benar-benar ketakutan. Sampai ia tidak menyadari jika dirinya sekarang sedang tertawa melepas beban yang sedari tadi ia pendam.
"Hahaha, lu beneran takut sama gue?" ejek Kai.
"Bangke, lu ngerjain gue?" jawab Arnes kesal.
Tapi sebenarnya Arnes juga senang karena dia bisa membuat Kai tertawa lepas saat ini. Ia berharap Kai akan terus kembali tertawa seperti saat ini. Bukan karena dia tidak sedih, tapi hanya agar dia tidak terlalu frustasi.
"Yah, tertawa saja terus. Di kira gue bahan lawakan apa," kata Arnes menggerutu.
"Nggak, bukan begitu. Kalau aku beneran mau nyakitin kamu apa kamu nggak akan takut? bisa saja kan aku membunuh kamu sekarang, toh lagi sepi ini," ucap Kai.
"Lu mau bunuh gue?" tanya Arnes.
Kai hanya mengangkat kedua tangan dan bahunya secara bersamaan. Melihat kelakuan Kai, Arnes hanya bisa menepuk keningnya sendiri agar dia bisa memahami apa yang sedang di pikirkan oleh laki-laki di sampingnya itu.
Setelah berjalan dengan cepatnya mereka berdua sampai juga di depan rumah kedua orang tua Kai. Tanpa mengetuk pintu, Kai masuk ke dalam rumahnya bersama Arnes. Beruntung rumah sedang tidak dalam kondisi terkunci, jadi mereka bisa masuk dengan mudahnya.
"Kai, lu masuk rumah sendiri kayak maling kagak ketuk pintu dulu gitu."
"Nggak usah, mereka juga tahu kebiasaanku kayak gini. Makanya pintu nggak dikunci," kata Kai.
"Enak bener jadi lu ye, rumah gede bener."
Arnes berjalan mengikuti Kai sambil memutarkan badannya melihat isi rumah kai yang sangat mewah. Sungguh, ia kagum dengan segala apa yang ada di dalam rumah Kai. Barang-barang yang antik, lukisan juga antik.
Kai tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arnes. Ia trmerus berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar yang sudah hampir satu minggu ia tinggalkan. Sampai di depan kamarnya, Kai di kejutkan oleh suara wanita yang memanggilnya dari kejauhan.
"Kai."
__ADS_1
Yah, suara ibunda Kai tercintalah yang sedang memanggilnya. Kai menoleh ke arah wanita paruh baya itu. Arnes menatap pada ibu Kai.
"Kai, siapa?" tanya Arnes.
"Nyokap gue," jawab Kai.
"Cakep bener ya, masih muda ternyata nyokap lu Kai," ucap Arnes sambil tertawa.
Mama Kai mendekati Kai dengan sangat cemas. Ia langsung menyentuh pipi putra kesayangannya itu. Kai hanya terdiam menatap mata indah yang mengeluarkan air payau itu.
"Kai, Kai kamu sudah pulang." Mama Kaieluk Kai dengan segala kekhawatiran yang ada.
"Mama kenapa menangis," tanya Kai.
"Mama udah tau tentang Lia ... kamu nggak apa-apa kan?" tanya Mama Kai.
Kai tersenyum dan memegang kedua pipi mamanua sambil menghapus air mata mamanya itu. "I'm fine, ok." Kai berusaha tegar di depan mamanya.
Arnes sangat mengerti betapa menderotanya batin Kai, baru ia sadari jika selama ini ia salah karena ingin menghancurkan hubungan suci antara Lia dan Kai. Tapi penyesalannya telah terlambat, sekarang Lia telah tiada.
"Yes, i'm sure." jawab Kai sambil tersenyum.
"Baiklah, mama akan pergi tidur. Selamat malam," ucap Mama Kai.
"Malam tante," jawab Arnes.
Mama Kai kembali kedalam kamarnya. Kai membuka pintu kamarnya dan masuk bersama Arnes. Diam, tiada kata-kata yang terucap dari bibir Kai saat ini. Ia kembali mengingat kenangan bersama Lia di dalam kamar yang ia masuki saat ini.
"Kai ...." ucapan Arnes terhenti saat Kai mengacungkan tangan kanannya ke atas.
Arnes mengerti jika saat ini Kai tidak ingin bicara, maka dari itu Arnes menghentikan pertanyaannya pada Kai. Sebenarnya banyak yang ingin ia ketahui dari laki-laki yang sedang termenung di atas ranjang itu. Tapi apa daya jika ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk kembali menghiburnya.
"Arnes, tidurlah. Aku juga akan beristirahat," ucap Kai.
"Yah, baiklah. Aku juga udah capek banget hadeh ... jalan jauh bener yak," kata Arnes sembari merebahkan tibuhnya di atas tempat tidur Kai.
Mereka berdua pun beristirahat, lelah memang saat mereka menempuh perjalanan lumayan jauh dari rumah Kai.
__ADS_1
Tetapi, Kai masih tak kunjung memejamkan kedua matanya. Air payau itu asih berderai di pipi Kai. Sulit sungguh bagi Kai melepaskan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.Tapi dia bisa apa, hanya bisa meratapi nasibnya saja saat ini.
'Lia, seandainya saja saat ini kamuasih bersamaku. Aku akan berjanji untuk tidak melepaskan dan meninggalkanmu lagi.' batin Kai.
Deraian air mata itu sudah tak kuasa lagi ia tahan. Hanya tangisan yang bisa membuat dirinya tenang saat ini. Sedikit demi sedikit, Kai mulai memejamkan matanya.
"Kai, lu udah molor?" tanya Arnes.
"Iya. Kamu kenapa nggak tidur," kata Kai.
"Haha, gue kagak bisa molor Kai," ucap Arnes.
"Kamu kan vampir mana bisa tidur ****."ejek Kai.
"Asem lu," kata Arnes.
Sudah 1 jam mereka asik berbincang-bincang. Arnes hanya ingin menghilangkan kesedihan Kai, dia ingin Kai melupakan Lia. Bukan karena dia tidak mau Kai mengingat gadis yang pernah jadi tambatan hatinya juga. Tapi, jika Kai terus larut dalam kesedihan, maka Vino akan semakin merajalela menguasai dunia.
*****
Keesokan harinya, Kai dan Arnes sarapan di meja makan bersama Papa dan Mama Kai. Kai yang selalu penuh keceriaan di pagi hari, kini hanya merenung tanpa satu senyumanpun dari bibirnya. Mama Kai sangat sedih melihat putranya yang dulu selalu tertawa dan tersenyum mengisi pagi hari yang begitu sunyi. Kini hanya bisa menatap dia yang hanya merenung tanpa berkata sepatah katapun.
"Oh iya Kai, kenapa Velly dan Angel tidak ikut pulang?" tanya Papa Kai.
Kai yang tadinya hanya menunduk, langsung mengangkat kepalanya mendengar nama Velly. "Bukankah seharusnya papa tau kenapa Velly tidak pulang?" Kai mengangkat sebelah bibirnya seakan membetikan cibiran pada Papanya itu.
"Apa maksudmu Kai?" tanya Papa Kai.
"Jika papa dan mama tau tentang kepergian Lia, harusnya kalian juga tau siapa yang menghabisinya!" bentak Kai.
"Tante, om, Velly yang telah melakukan semua itu," ucap Arnes menyambung perdebatan antara anak dan orang tua.
"Apa? bagamana mungkin?" jawab Papa Kai.
"Yah, bagaimana mungkin. Harusnya aku yang bertanya seperti itu! bagaimana mungkin kalian merahasiakan semua ini padaku," kata Kai.
Perdebatan di meja makan membuat Kai kehilangan nafsunya untuk menyantap makanan di meja makan itu. Akhirnya Kai memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dalam kamarnya.
__ADS_1