
"Kai ... harusnya dia nggak pergi dalam.keadaan kayak gitu. Arnes, bantu aku mencari dia."
Angel meminta Arnes untuk membantunya untuk mencari Kai yang menghilang. Kekhawatirannya pada kakak sepupunya itu membuat Arnes tidak kuasa jika harus menolak permintaan gadis yang ada dala pelukannya saat ini. Mau tidak mau, Arnes menyetujui permintaan Angel.
"Hei, tenanglah. Aku ada disini, bukan? aku akan membantumu."
Arnes mengangkat dagu Angel dan menatap kedua mata Angel yang masih berderaian air payau itu. Tak kuasa Arnes untuk terlalu lama menatap mata gadis itu, hati Arnes berkata lain jika terus menatapnya. Ia lalu beranjak pergi untuk segera mencari Kai.
"Ya sudah aku pergi ya. Steve, jaga Angel."
Arnes lalu melangkahkan kaki menjauh dari Angel. Steve melihat ada yang berbeda dari tatapan Arnes pada angel adik sepupunya itu. Steve curiga jikalau Arnes memiliki rasa pada Angel.
'Apakah pikiranku benar? apa Arnes mempunyai rasa pada Angel.' batin Steve.
Disatu sisi Arnes berjalan mengitari hutan mencari keberadaan Kai. suda beberapa menit Arnes berjalan, tapi belum menemukan tanda-tanda keberadaan Kai. Akhirnya Arnes memutuskan untuk terus melanjutkan kemana langkah kakinya beranjak pergi.
tidak jauh dari tempat Arnes berdiri, ia melihat seorang seperti Kai sedang berjalan dengan lemasnya. Arnes begitu yakin jika itu adalah orang yang ia cari. Lalu Arnes mulai mendekati orang itu tanpa ragu.
"Kai! hei tunggu!" teriak Arnes.
Benar saja itu Kai, dia langsung menoleh saat Arnes memanggilnya. Begitu terkejutnya Arnes menatap kedua mata merah vampir itu. Tapi ia mencoba untuk menghibur Kai agar tidak larut dalam kesedihan akibat kehilangan Lia.
"Eh ****, ngapain lu jalan malam-malam kayak orang nggak ada guna hahaha." Arnes menertawai Kai.
Niat Arnes hanya berguaru untuk menghibur Kai. Tapi nihil, Arnes gagal membuat Kai tersenyum atau pun marah padanya. Kai sekarang bagaikan batu karang yang sudah siap untuk di hanyutkan oleh ombak.
"Kai, aku tau kamu sedih. Tapi, kalau kamu kayak gini. Lia pasti akan lebih sedih melihat kamu jadi seperti ini," ucap Arnes.
"Hmm, bagaimana dia bisa melihat sedangkan dia sudah tiada." Kai mengangkat sebelah bibirnya dan menjawab pertanyaan Arnes.
"Dia yang telah tiada, bukan berarti dia tidak bisa melihat kita. Kai, aku yakin Lia tidak suka melihat kamu jadi vampir yang putus asa kayak gini," kata Arnes.
Kai menoleh ke arah Arnes yang berdiri disebelahnya. "Tau apa kamu? bukannya kamu juga suka sama dia? kenapa kamu begitu peduli padaku?! apa kamu tidak merasakan betapa sedih dan kehilangannya aku. Aku hanya butuh dia, aku tau aku salah sudah menyia-nyiakan cinta dia padaku. Tapi kenapa nggak ada kesempatan lagi untukku, agar aku bisa menjaga dia sekali lagi!" Teriak Kai sambil menangis.
Baru kali ini Arnes menyaksikan seorang yang angkuh, tegar, dan pemberani bisa menjatuhkan air mata karena seorang gadis. Seakan tidak percaya jikalau Kai bisa se-depresi ini. Tapi bukan ini yang ingin Arnes lihat, ia hanya ingin Kai kembali seperti dulu agar dia bisa mengajaknya bekerja sama untuk menghancurkan Klan Hybrida.
"Kai, ayo jangan kayak gini. Bangkit Kai, balaskan kematian Lia! apa kamu tidak mau membalas mereka yang sudah menghabisi Lia?!"
__ADS_1
Arnes mencoba membuat Kai bangkit dari keterpurukannya itu. Tapi Kai masih belum bisa bangkit, dia masih seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Kahilangan seorang yang ia cintai membuatnya begitu sangat terpukul.
"Tidak mudah untuk bangkit, Lia ... dia segalanya bagiku. Sekarang ... dia sudah tiada."
Rona kesedihan sangat terpancar di balik bola mata merah sang vampir. Kesedihan yang begitu mendalam. Sehingga, untuk bangkit pun dia tidak sanggup.
"Kai ...."
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang," ucap Kai.
"Aku akan mengantarmu, Angel sangat mengkhawatirkan kamu Kai." Arnes mengajak Kai untuk kembali ke perkemahan.
"Aku nggak mau kembali kesana," kata Kai.
"Kenapa?" tanya Arnes.
"Aku akan pulang saja. Kamu kembalilah, aku tidak apa-apa." Kai melanjutkan perjalanannya.
Arnes berusaha menghibungi Angel, dia ingin memneritahukan kalau dia akan mengantar Kai pulang kerumahnya.
"Ya, gimana Arnes udah ketemu sama Kai?"
"Udah, dia lagi sama aku sekarang. Aku akan mengantarnya pulang kerumahnya saja, dia tidak mau kembalin ke tenda."
"Ah, baiklah."
Arnes langsung menutup teleponnya dan mengejar Kai yang sudah berjalan agak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah berjalan disamping Kai, Arnes mencoba mendekatkan diri padanya. Ia ingin Kai kembali normal agar bisa menghancurkan kelompok Vino.
"Emm, Kai. Kamu depresi tapi nggak hilang ingatan, bukan?" tanya Arnes.
"Kamu gila? ya kali aku hilang ingatan." jawab Kai.
"Habisnya kamu kayak orang stres gitu, kai aja amnesia haha." ejek Arnes.
Senyum Kai sedikit mulai muncul dari bibirnya. Kai melihat tingkah Arnes yang sangat kocak sambil berjalan diaampingnya. Entah kenapa, Kai tidak ada pikiran negatif tiba-tiba Arnes mendekati dirinya.
"Ada apa? kenapa kamu mengikutiku?" tanya Kai.
__ADS_1
"Aku? aku mengikutimu? mana ada." sangkal Arnes.
"Kalau nggak, kenapa masih jalan sama aku," kata Kai.
"Aku hanya menjalankan amanah dari Angel,"ucap Arnes.
"Amanah? sejak kapan kamu dekat dengan adik sepupuku?" tanya Kai.
"Sejak ... sejak ...."
"Sejaka kalian tersesat di hutan berduaan?" ucapan Arnes dipotong oleh Kai.
Saat kata sindiran itu terucap dari mulut Kai. Arnes sangat merasa bersalah atas kejadian waktu itu. Ingin rasanya Arnes jujur dan mengungkapkan semuanya pada Kai, tapi ia masih ragu jikalau Kai akan marah dan menyerangnya.
"Kenapa diam?"
Suara Kai membuyarkan lamunan Arnes. Ia sangat terkejut saat Kai kembali bertanya padanya. 'Apa aku jujur saja pada Kai apa yang telah di perbuat oleh Vinoalam itu pada Angel.' batin Arnes.
"Kai ... malam itu ...."
"Tidak usah kamu katakan jika berat."
"Nggak, bukan begitu."
"Sudahlah, aku sudah tau tanpa kamu beritahu."
Betapa terkejutnya Arnes saat Kai bilang mengetahui semuanya malam itu. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Arnes penasaran.
"Aku ada waktu kejadian itu, aku diam dan mengamati kalian dari jauh."jawab Kai.
"Tapi kai, kenapa kamu tidak mencegah Vino melakukan itu pada Angel?" tanya Arnes.
"Karena itu tidak berpengaruh pada Angel. Dia udah aku tolak dari jauh, tapu aku katakan pada Angel untuk melakukan sandiwara itu di depan kamu. Aku cuma mau tau kamu aka jujur atau tidak," kata Kai.
"Maaf."
Arnes merasa sangat bersalah dan mulai menundukkan kepalanya sambil berjalan disamping Kai. Kai menoleh ke samping dan memperhatikan Arnes. Kai tau Arnes tidak berniat jahat pada Angel, semua hanya tekanan dari Vino saja.
__ADS_1