Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_38.


__ADS_3

Kai melihat dengan mata yang terpampang lebar. Dia menyaksikan apa yang akan trjadi pada diri Lia. Wanita yang selalu menjafi tambatan hatinya itu harus berakhir tepat di depan matanya sendiri.


Velly membakar tubuh Lia dengan api yang sangat besar. Tubuh Lia sekarang sudah menjadi abu, bertebaran, beterbangan di hempas angin malam. Velly merasa sangat puas dengan apa yang dia lakukan, kini kekuatan dan keabadian Lilith semakin bertambah.


"Tidakkkkk!!!!!"


Kai tidak sanggup menyaksikan apa yang telah di perbuat oleh Velly pada wanita yang ia cintai itu. Tidak ada yang bisa ia perbuat, dia hanya bisa meratapi yang sudah terjadi. Tangisan Kai kini tidak bisa tertahankan lagi, dia terpuruk meringkuk di dekat abu Lia yang sudah terbang di bawa angin.


"Hahaha, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kamu sayang untuk selamamya Kai? sakit kan?"


Lilith yang sudah berubah menjadi wujud Velly, kini menghampiri Kai yang tengah bersujud dihadapan abu tubuh Lia. Iaengejek Kai dengan keterpurukan yang Kai rasakan saat ini. Velly lega karena Lia sudah tiada, dan kekuatan yang dimilikinya juga semakin bertambah.


"Biadab kamu Velly!!!"


Mata Kai kini berubah menjadi merah karena amarah yang kini telah keluar dari dirinya. Ia bangkit dan mendekati Velly yang sedang menertawakan dirinya yang telah kehilangan separuh jiwa dan raganya. Tangan Kai tidak tertahan lagi, ia kemudian mencekik Velly.


"Kai ... a, apa yang ka, kamu lakukan?!"


Suara Velly tertahan karena cekikan Kai yang sangat kuat di lehernya. Velly berusaha memberontak dengan sekuat tenaga menepis tangan Kai. Tapi tidak bisa, hampir saja Velly kehabisan napas karena cekikan dari Kai,tapi Gita menarik Kai dan mendorongnya hingga jatuh tepat di abu Lia.


"Brengsek kamu Velly! kamu telah membunuh Lia-ku!"


Teriak Kai pada Velly yang sedang menvoba bernapas kembali.


"Huh ... Gila kamu Kai, apa kamu mau membunuhku?!" Bentak Velly.


"Iya, aku ingin menghabisimu sekarang juga!" teriak Kai.


"Hmm ...."


Velly hanya mengangkat sebelah bibirnya seakan mengejek kekalahan Kai saat ini.


Cibiran yang terlontar dari Velly membuat Kai pasrah dan dia pergi meninggalkan mereka bertiga karena tidak ingin melakukan hal yang membuatnya menghabisi sahabatnya sendiri. Kai pergi tanpa berkata sepatah katapun. Ia hanya menoleh sebentar pada abu Lia yang bertebaran di tanah, lalu ia melangkahkan kakinya dengan sangat terpaksa.

__ADS_1


"Pergilah Kai, tapi hanya ragamu saja yang pergi. Untuk hatimu ... pasti terluka," kata Velly sambil mengelus leher yang tadi sempat di cekik oleh Kai.


*****


Kai kembali ke tenda denga wajah yang sangat tidak beraturan, kusut, kusam dan tanpa ada secercah cahaya di wajahnya saat ini. Ia hanya tahu jikalau dirinya sedang meratapi nasib akan kehilangan seorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang pernah singgah dihatinya, dan yang pernah ia cintai hingga saat ini.


"Kai! Kai kamu ...." Angel berteriak menghampiri kakak sepupunya itu dan memperhatikan wajah kusut Kai.


"Kai ... apa ada yang ingin kamu ceritakan?" tanya Angel.


Kai masih tida bisa berkata apa-apa. Ia hanya menangis memeluk tubuh Angel yang berada di dekatnya. Tangisan kehilangan Kai semakin menjadi saat ia ingat apa yang ia lihat di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Katakan ...." Angel masih menunggu kejadian sebenarnya dari mulut Kai.


"Lia ... Lia, dia ...." belum selesai Kai berucap, Steve datang dan memotong pembicaraan Kai.


"Kai, kenapa dengan Lia? dia baik-baik saja, bukan?" tanya Steve.


"Nggak! jawab dulu, Lia kenapa?" Steve masih memaksa Kai menjawab pertanyaannya tentang Lia.


Kai merebahkan tubuhnya di dalam tenda dan menempatkan kepalanya di atas bantal. Rasa letih yang ia rasakan saat ini, dia hanya ingin ketenangan untuk mengingat Lia. Sedikitpun Kai tidak ingin melupakan gadis yang sangat ia sayangi itu.


"Ka ...."


Saat Steve ingin memanggil Kai, Angel melarangnya dengan menggelengkan kepala pada Steve. Ia mengerti apa yang di maksud oleh adik sepupunya itu. Mereka berdua langsung pergi meninggalkan Kai sendiri di dalam tenda.


Setelah keluar tenda Angel mencoba berbicara pada Steve apa yang sempat ia lihat sebelum Kai datang. "Steve aku ingin bicara," kata Angel.


"Hmm." jawab Steve.


"Tentang Lia." Angel mencoba menepis rasa ragu yang ia dapati beberapa saat lalu sebelum Kai datang.


Dalam sekejap Steve langsung menoleh ke arah Angel. "Katakan!" Steve sangat penasaran dengan apa yang angel katakan padanya.

__ADS_1


"Aku merasa Lia sudah tiada," ucap Angel.


"Apa yang kamu katakan?!" bentak Steve.


"Yah, percaya atau tidak itu yang sempat aku lihat sebelum Kai datang." Jelas Angel.


Steve menentang apa yang Angel katakan. Ia tidak ingin mendengar bahwa apa yang di lihat oleh Angel bukan kenyataan. Tapi di satu sisi dia tidak bisa menepis apa yang kenyataan berikan padanya.


"Jadi, Lia ...."


Angel menjawab ucapan Steve dengan memganggukkan kepalanya. Tapi tetap saja Steve tidak percaya.


"Nggak ... nggak mungkin kan kalau Lia udah meninggal?! i ... ini hanya mimpi," ucap Steve.


"Kalau emang hanya mimpi, kenapa Kai seperti itu? kenapa Steve, Jawab?! kamu tahu kan kalau Lia adalah gadis satu-satunya yang bisa membuat Kai menggunakan perasaan. Kamu rahu itu. bukan?!" dengan kesal Angel mencoba meyakinkan Steve.


Tanpa pikir panjang Steve kembali masuk ke dalam tenda untuk menanyakan hal itu pada kai yang sedang berbaring di dalam tenda. "Kai, bangun!" Steve mengangkat kerah baju Kai.


Kai yang seperti orang bodoh hanya diam dengan perlakuan Steve padanya. Ia lalu bangun dan duduk kembali untuk mendengarkan apa yang ingin di katakan Steve padanya.


"Jawab aku! apa benar Lia sudah meninggal?" tanya Steve dengan wajah yang sangat serius.


Tak sanggup bibir Kai berucap kata itu, ia hanya bisa menganggukan kepala dengan sambil meneteskan air matanya. Air mata itu suda tidak bisa untuk di tahan jika masalah tentang Lia. Kai sangat terpukul karena dia tidak bisa menyelamatkan Lia.


"Kamu bercandakan Kai? katakan,kamu bercanda kan?!" kata Steve sambil memegang kerah baju Kai lagi.


"Ini salahku, aku yang sudah membuat dia meninggal. Ini salahku!" teriak Kai.


Angel masuk kedalam tenda saat mendengar Kai berteriak. "Hei, Kai ini bukan salahmu. Ini sudah takdirnya." Angel mencoba menenangkan Kai yang sedang frustasi saat itu.


"Nggak ... Angel ini salahku. Harusnya aku nggak mengorbankan dia hanya untuk mempertahankan perasaanku padanya, harusnya ini tidak terjadi! Velly ... aku nggak akan maafin dia!" teriak Kai sambil menangis.


Sedikit membuat Angel bingung saat Kai menyebutkan nama Velly. Karena ia tidak tau kalau Velly lah yang telah membakar Lia untuk di jadikan persembahan dan menguatkan kekuatannya.

__ADS_1


__ADS_2