
Lia merenungkan diri di dalam kamarnya sambil mengemas baju-baju yang akan di bawa besok untuk camping. Pikiran Lia masih tertuju pada Kai, entah apa Kai juga begitu. Itu hanya sebuah tanda tanya untuk Lia karena melihat sikap Kai yang cuek padanya tadi.
"Li ...." Steve mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Lia.
"Ya, sebentar." Lia membukakan pintunya.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Steve.
"Belum, aku masih mengemas perlengkapan dan baju-baju yang akan dibawa besok." jawab Lia.
"Boleh aku masuk?"
"Tentu saja." Lia mengizinkan Steve masuk kedalam kamarnya.
Lia kembali merapikan baju-bajunya. Steve hanya diam duduk disofa kamar Lia. Keheningan mulai menyelimuti kamar Lia. Kemudian Steve memecahkan keheningan itu dengan sebuah peetanyaan pada Lia.
"Apa kamu masih mencintai Kai?" Pertanyaan Steve yang langsung menuju ke hati Lia.
Lia menoleh ke arah Steve, lalu dia mendekati Steve yang duduk disofa kamarnya. Lia duduk di seberang Steve, kemudian Lia menjwab dengan detail pertanyaan Steve itu.
"Ya, aku mencintainya. Dan akan selalu mencintai dia. Aku tidak peduli mau dia seperti apa, karena aku tau sebenarnya dia juga sangat menyayangiku. Dan satu lagi, bagiku tidak ada tempat untuk orang lain dihatiku." Lia memberi jawaban yang membuat Steve terdiam kaku tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Lia lalu menghela napas setelah menjawab pertanyaan Steve. Lia merasa lega bisa mengeluarkan apa.yang ada didalam hatinya pada Steve. Kemudian Lia meminta maaf karena nada bicaranya pada Steve sangatlah kasar.
Steve tersenyum karena Lia masih mau minta maaf padahal fia tidak bersalah. Steve lah yang salah, karena telah menanyakan hal yang sudah pasti dia sendiri tau jawabannya. Senyuman diwajah Steve seakan terpaksa karena tidak ingin mengecewakan orang yabg dia sayangi.
"Baiklah, karena sudah larut malam. Kamu
istirahat dulu. Besok kita harus berangkat pagi, bukan?" Steve berkata pada Lia.
Lia hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Steve kembali ke kamarnya sendiri, dan menutup pintu kamar Lia.
Lia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang kesayangannya itu. "Hari yang melelahkan." Kemudian Lia mulai memejamkan matanya.
Baru saja Lia mulai tertidur, dia meraskan ada yang menyentuhnya. Tapi Lia tidak bisa membuka matanya. Tangan yang begitu lembut, aroma tubuh yang sangat dia kenal.
'Apa itu kamu Kai?' batin Lia.
Lia merasakan kecupan di keningnya, Setelah itu belaian dan aroma khas tubuh Kai menghilang. Lia membuka matanya, seperti orang yang kaget. Lia sangat tau kalau itu pasti adalah Kai yang datang secara diam-diam.
__ADS_1
***
Pagi hari Kai bangun dan langsung menuju meja makan setelah selesai mandi. Angel dan Velly menyusul Kai ke meja makan.
"Jadi kalian akan camping selama satu minggu?" Mama Kai memulai pembicaraan di sela sarapan.
"Iya ma," jawab Kai.
"Kai kamu harus jaga Velly dan Angel dengan baik, ingat itu." Papa Kai mengingatkan Kai lagi kalau dia adlah laki-laki di antara dua wanita.
Kai menghela napas yang panjang dan mulai menjawab kata-kata papanya. "Iya aku tau," ucap Kai.
Velly dan Angel hanya tersenyum melihat raut wajah Kai yang cemberut. Kai menyadari kalau mereka memperhatikan dirinya sedari tadi. Dengan jahilnya Kai melempar roti pada Angel, dan mereka mulai peperangan di meja makan.
Papa dan Mama Kai menyaksikan tingkah anak-anak mereka yang sudah dewasa tapi masih seperti anak kecil.
Selesai sarapan, Kai, Angel dan Velly berangkat ke sekolah terlebih dulu. Hari ini mereka diantar oleh sopir. Karena mereka akan naik bus sekolah nantinya.
Setelah sampai di gerbang sekolah mereka turun dari mobil, dan pada saat itu juga Lia dan Steve sampai di gerbang sekolah.
Mau tidak mau mereka akhirnya masuk bersama-sama. Velly meminta Kai untuk memegang tangannya. Sekarang Velly sidah tidak menggunakan kursi roda lagi, dia menggunakan tongkat untuk berjalan.
Lia sangat kesal melihat Kai memegang tangan Velly. Meskipun dia tau kalau Kai hanya membantu Velly. Tapi api cemburu sudah membakar hati Lia. Akhirnya dia langsung pergi dengan cepat tanpa bicara sepatah katapun.
"Astaga, beruang. Lu jalan cepet bener," ucap Steve sambil bercanda pada Lia.
"Dasar lu siput, kagak ada tenaganya apa." balas Lia sambil terus berjalan menuju bus yang sudah ada di halaman sekolahnya.
Steve tertawa mendengar ucapan Lia. Meskipun dia kesal dengan Kai tapi dia masih punya selera humor. Lia dan Steve masuk ke dalam bus diikuti murid-murid lainnya.
Bu Winda memberikan pengumuman tentang pasangan duduk. "Anak- anak, kaliaj bisa dengar ibu?" tanya Bu Winda di dalam bus.
"Bisa bu ...." Jawab mereka serempak.
"Oke ibu akan memberitaukan pasangan duduk kalian." Bu winda memberitaukan semua pasangan duduk mereka.
Tinggal Steve, Arnes, Lia, Kai, Velly, dan Angal yang belum di beritaukan karena Bu Winda belum melihatnya. "Apa Kai sudah datang?" tanya Bu Winda.
Kai yang baru muncul di depan pintu bus langsung menjawab pertanyaan Bu Winda. "Saya bu," kata Kai sambil membantu Velly naik ke dalam bus.
__ADS_1
"Oke, Kai kamu duduk bersama Lia, Velly kamu dengan Steve, dan Angel dengan Arnes," kata Bu Winda.
"Bu, apa tidal bisa diganti pasangannya?" tanya Arnes yang keberatan jila harus duduk 1 tempat dengan cewek rese seperti Angel.
"Tidak, jadi silahkan kalian duduk dengan pasangan masing-masing agar kita bisa cepat berangkat," ucap Bu Winda.
Akhirnya mereka duduk seperti apa yang Ibu Winda beritaukan. Arnes dab Angel saling melotot satu sama lain, mereka memang tidak pernah bisa akur.
Steve membantu Velly duduk di sampingnya. Steve masih perhatian pada Velly meskipun sekarang dia hanyalah teman. Sedangkan Kai dan Lia masih diam tanpa kata, mereka canggung dan masih bertahan dengan pemikiran dan ego mereka masing-masing.
Bus pun mulai melaju, murid-murid yang lain sangat senang. Mereka bernyanyi dan bersenda gurau dengan teman satu sama lain.
"Vel, apa kakimu masih sangat sakit?" Steve memulai percakapan dengan Velly.
"Tidak kok, udah mendingan. Makanya aku sudah tidak pakai kursi roda lagi," jawab Velly sambil tersenyum.
"Maafkan aku ya, aku pernah menyakiti hatimu," kata Steve merasa bersalah.
"Udahlah Steve, semuanya sudah berlalu. Lagian kamu sekarangkan ada Lia," kata Velly.
Steve tertawa mendengar kata-kata Velly. "Vel, Lia itu cuma teman." Jelas Steve. Velly tau kalau mereka hanya teman, tapi Velly sengaja memancing Steve agar mengakui perasaannya pada Lia.
.
.
.
.
.
MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...
**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...
DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...
NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...
__ADS_1
TERIMA KASIH ...
IG : Blue Flower