Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_35.


__ADS_3

"Hei kalian! mau berdebat sampai kapan?" Arnes yang sudah bosan menyaksikan perdebatan itu langsung melontarkan pertanyaan.


Sementara Kai dan Vino masih saling tatap. Kebencian yang mendalam antara mereka berdua sulit untuk dihilangkan. Tiba-tiba Ada suara perempuan yang berteriak meminta tolong dari sungai.


"Lia!" Arnes kaget melihat Lia yang hampir terbawa arus sungai.


Kai mendengar nama Lia dan langsung berlari menuju sungai tanpa berpikir panjang. Arnes segera menyusul Kai, sedangkan Vino hanya diam melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Tolong ... To ... Tolong Aku." Lia berteriak meminta tolong.


Rana dan Rani kebingungan hendak meminta tolong pada siapa. Mereka juga takut masuk ke dalam sungai karena arusnya begitu deras. Akhirnya mereka berteriak agar mendapat pertolongan oleh orang yang mendengarnya.


"Tolong! Tolong!" teriak Rani.


Kai yang berlari langsung loncat ke dalam sungai untuk menolong Lia. Lia masih bertahan dengan memegang batu yang ada di tengah-tengah sungai itu. Tapi tenaganya sudah tidak sanggup untuk memegang batu itu lagi.


Perlahan tangan Lia mulai terlepas dari batu besar itu. Saat tangan Lia sudah melepaskan batu besar itu Lia hampir terbawa arus. Tapi Kai tidak tinggal diam, dia langsung memegang tangan Lia dan menarik Lia di dalam pelukannya.


"Lia, sadarlah." Kai memeluk Lia di tengah Arus yang deras.


Tidak sanggup lagi Kai bertahan melawan arus sungai yang deras. Dia langsung melepaskan tangab dari batu itu dan membiarkan air sungai yang deras itu membawa mereka berdua. TapI Kai tidak melepaskan sedikitpun peukannya pada wanita yang dikasihinya itu.


"Kai!" teriak Lia.


Hampir terlepas, Tapi Kai berusaha agar tetap menggenggam tangan Lia meskipun pelukannya sudah terlepas. "Bertahanlah!" teriak Kai. Derasnya arus itu membuat Kai harus bersuara keras agar Lia bisa mendengarnya.


Setelah sampai di sungai yang tenang. Kai menyuruh Lia untuk berenang ke tepi sungai bersamanya. Mereka berdua akhirnya berenang ke tepi sungai.


Sesampainya di tepi sungai mereka menenangkan diri terlebih dahulu. Arus sungai tadi telah menghabiskan energi Kai dan Lia untuk bernafas. Mereka merasa lega bisa selamat dari Arus itu dan berada di tepi sungai sekarang.


"Kai ... kenapa kamu mau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkanku?" tanya Lia.


Kai melihat tubuh Lia yang sudah menggigil. Dia melepaskan jaket yang ia kenakan untuk sedikit menghangatkan tubuh gadis itu. Meskipun jaket itu basah tapi cukup untuk sedikit menghilangkan rasa dingin untuk Lia.


"Kamu belum menjawabku." Lia masih terus bertanya.


"Aku tidak bis menjawabnya, anggap saja karena aku kebetulan ada di tempat itu makanya aku berusaha menyelamatkanmu." Jawab Kai sambil menatap ke arah sungai yang tenang.


'Apa yang kamu inginkan Kai, setiap waktu kamu berubah sikap padaku.' batin Lia.

__ADS_1


"Sepertinya kita terjebak di hutan ini. Akan sulit untuk kita menemukan jalan keluar," ucap Kai.


"Lalu, kita harus bagaimana?" tanya Lia.


"Apa kamu masih kuat untuk berjalan? kita harus menelusuri hutan ini sebelum gelap," kata Kai sambil menatap wajah cantik itu.


Lia menganggukan kepalanya. Mereka berdua kemudian berjalan menelusuri hutan yang sangat sunyi itu. Tidak ada satu penghunipun di sana, hanya ada pepohonan dan ranting-ranting kayu yang patah.


"Sepertinya hutan ini sudah lama tidak terawat," ucap Kai.


"Ya, sepertinya begitu. Tempat ini sangat sepi tidak ada satu orang-pun yang terlihat." Balas Lia.


Di tengah perjalanan, kaki Lia tertusuk ranting kecil yang membuatnya berhenti berjalan. "Aw ...." Lia langsung duduk dan mencoba melihat apa yang ada di balik kakinya.


"Lia, kenapa?" tanya Kai yang berbalik dan menghampiri Lia.


"Sepertinya kaki-ku tertusuk ranting Kai." Lia meringis menahan sakit di kakinya.


"Coba aku lihat," kata Kai.


Kai melihat ranting kecil menusuk kaki gadis itu. "Biar aku ambil, tahanlah sedikit." Kai mengambil ranting itu. "Aw, aduh ... sakit Kai." Lia mencengkeram tangan Kai menahan sakit.


Setelah menyadarinya, Lia langsung melepaskan genggaman tangannya itu. "Maaf," kata Lia yang merasa malu. "Tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan," kata Kai sambil membalut kaki Lia dengan robekan bajunya.


"Iya," jawab Lia sambil mencoba berdiri.


"Apa kamu masih bisa berjalan?" tanya Kai.


"Aku akan mencobanya," ucap Lia.


Baru sejangkah Lia melangkahkan kakinya, dia merasakan nyeri dan tidak bisa berjalan karena tusukan ranting itu cukup dalam. Sehingga membuat darah Lia masih mengalir.


"Sepertinya kamu sudah tidaknbisa berjalan. Biarkan aku membantumu," ucap Kai.


"Tidak, tidak. Aku bisa sendiri." Lia menolak bantuan dari laki-laki yang ada dihadapannya itu.


Kai tidak mau mendengarkan bantahan Lia. Dia langsung menggendongnya. Lia merasa tidak enak dia masih menolak untuk di gendong oleh Kai. "Kai turunkan aku!" bentak Lia.


Kai tidak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia masih tetap menggendong Lia dan melanjutkan perjalanan. "Lebih baik kamu diam atau aku buang kamu di sini," kata Kai dengan tatapan yang sangat menakutkan.

__ADS_1


Lia diam dan melingkarkan tangan di leher Kai. Dia merasa tidak enak, bukan karena dia tidak suka. Tapi dia tidak mau terkenang masa-masa dimana dia selalu bermanja-manja pada laki-laki yang sedang menggendonya saat ini.


Sudah setengah perjalanan dan hari sudah mulai gelap. Tapi masih belum juga Kai menemukan jalan keluar dari hutan itu. Tapi Kai melihat ada sebuah gubuk di ujung hutan, dia berjalan mendekati gubuk itu, ia berharap jika akan ada orang disana.


"Kai apa kamu yakin kita akan kesana?" tanya Lia yang masih ragu.


"Yah, apa salahnya kita mencoba. Kalau ada orang di gubuk itu kita bisa minta tolong untuk keluar dari sini," kata Kai.


Lia hanya menurut saja karena posisinya tidak bisa berjalan saat ini. Hati Lia merasa ragu, dia takut jika bukan manusia di dalam gubuk itu melainkan sosok yang jahat. Tapi Lia juga yakin jika Kai bisa mengatasi semuanya.


Sesampainya di gubuk itu, Kai menurunkan Lia dan menyuruhnya duduk di bangku depan gubuk. "Kamu tunggu disini, aku akan mengetuk pintunya dulu." Kai melangkah ke depan pintu gubuk itu.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


"Permisi, apa ada orang di dalam?" Kai mengetuk pintu dan masih belum ada jawaban dari dalam gubuk kecil itu.


.


.


.


.


.


MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...


DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...


NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...


TERIMA KASIH ...

__ADS_1


IG : Blue Flower


__ADS_2