Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_27.


__ADS_3

"Kai, kenapa si Velly?" tanya Angel.


"Itu, Rana tidak sengaja menumpahkan air ke Velly karena tersandung batu," jawab Kai.


'hahaha, yang benar saja. Rana kan emang sengaja mau bikin Velly basah kuyup.' batin Angel sambil tersenyum diam-diam.


Selesai berganti pakaian, Velly keluar dari tendanya. Sangat sulit untuk Velly beradaptasi dengan tongkatnya itu. Tapi Velly terpaksa karena memang harus menggunakannya untuk membantu dia berjalan.


"Vel, sudah selesai?" tanya Kai sambil menghampiri Velly yang kesusahan dengan tongkatnya.


"Sudah Kai, aku agak ribet aja nih sama tongkat." cetus Velly sambil cemberut.


"Ya udau sini aky bantu." Kai membantu Velly untuk duduk di dekatnya bersama Angel.


Velly, Angel dan Kai membahas masalah kerja kelompok nanti malam. Entah apa tugas yang akan diberikan oleh Bu Winda dan Pak Rasya untuk mereka nanti malam.


Kai kemudian berkata pada Velly kalau dia harus jaga diri baik-baik saat menyelesaikan tugas dari guru mereka nanti. Velly menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Angel merasa geli melihat mereka seperti pasangan.


"Kalian ini seperti pasangan aja, sok romantis," kata Angel sedikit meledek.


"Kalau kita pasangan emang kenapa Ngel?" Kai menjawab sambil merangkul Velly.


Angel dibuat terkejut oleh jawaban Kai. Angel masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh kakak sepupunya itu. Velly menatap Kai yang sedang merangkulnya. Tangan Kai sudah terletak di bahu Velly.


Lia melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Emosi Lia sudah tidak tertahankan lagi. Lia menghampiri mereka bertiga.


"Li, Jangan!" Rani mengehentikan Lia dengan menarik tangannya.


"Kenapa? mereka sudah keterlaluan Ran, aku harus memberi pelajaran pada Kai." Lia masih berbicara dengan nada kesal.


"Kita masih bisa pakai cara halus Lia," ucap Rani.


"Mkasudnya?" Lia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


Rani kemudian mulai berbisik pada Lia. Lia mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya sekarang. Senyum diwajah Lia kembali lagi. Rana ikut tertawa mendengar rencana yang di rencanakan oleh Rani.


***


Bu Winda memanggil semua murid untuk berkumpul di lapangan. Setelah murid-murid berkumpul, Pak Rasya memberitaukan tugas yang harus mereka kerjakan.


"Baiklah, tugas yang harus kalian kerjakan, kalian harus mengumpulkan tiga bendera berwarna putih. Dan kalian harus kembali sebelum tengah malam," ucap Pak Rasya.


Kata-kata Pak Rasya kembuat semua murid penasaran, kenapa mereka harus kembali sebelum tengah malam. Rani memberanikan diri untuk bertanya pada gurunya itu karena penasaran.

__ADS_1


"Pak, kenapa dengan tengah malam?" tanya Rani.


Pak Rasya dan Bu Winda saling tatap setelah mendengar pertanyaan Rani. Mereka seperti kebingungan untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Rani.


"Pak, bisa kita tau alasan kenapa kita harus kembali sebelum tengah malam?" tanya Lia.


Mau tidak mau Bu Winda harus menjawab pertanyaan Lia dan Rani. Sebelum menjawab, Bu Winda memberikan kode mata pada Pak Rasya tanda bertanya apakah boleh dia menjawab pertanyaan muridnya. Pak Rasya menganggukan kepalanya tanda dia menyetujui jika Bu Winda harus bercerita.


"Sebenarnya tidak ada apa-apa, kami hanya takut kalau kalia tidak akan bisa kembali kesini kalau lewat tengah malam." jawab Bu Winda.


"Maksudnya tidak kembali?" tanya Rana yang semakin bingung dengan jawaban gurunya.


"Maksudnya kesasar anak-anak. Kan ini sudah malam," kata Pak Rasya.


Murid-murid lainnya mengerti, guru mereka hanya takut akan terjadi apa-apa pada mereka jika mereka tidak bisa kembali.


Mereka pun mulau berpencar dengan dibekali tiga senter. Perkelompok memegang senter satu persatu. Silvi yang sedari tadi menempel pada Kai membuat Kai tidak bisa bergerak bebas.


"Silvi, bisa nggak kamu jalan sendiri." Bentak Kai yang merasa risih.


"Maaf Kai, aku takut," jawab Silvi sambil melepaskan pegangan tangannya.


"Ya elah, bilang aja mau modus." Lia menyindir Silvi.


Kai mengejar Lia, Silvi pun ikut berlari dibelakng Kai. "Kai, tunggu!" teriak Silvi memanggil Kai. "Buruan, Lia sudah nggak kelihatan nih." Kai merasa cemas saat kekasihnya itu sudah tidak nampak didepan matanya.


"Kai, Lia hilang?" Silvi tidak melihat Lia dimanapun.


"Kamu ikutin aku terus jangan sampai terpisah." Kai mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi disekitar hutan itu.


Kai belum menemukan atau merasakan apa pun yang aneh di hutan yang dia telusuri. Silvi kemudian menemukan satu bendera yang tergantung di pohon.


"Kai, lihat ini benderanya." Silvi memanggil Kai karena dia tidak bisa mengambil bendera itu.


Kaienghampiri Silvi dan mengambil bendera itu. "Kamu pegang baik-baik." Kai memberikan bendera itu pada Silvi. "Baiklah, aku akan mengikatnya ditanganku." Silvi mengikat bendera itu dipergelangan tangannya.


***


Disisi lain, Steve, Velly dan Chika terus mencari bendera itu, tapi tetap saja mereka maih belum menemukan satu benderapun. Steve melihat Velly yang mulai kelelahan karena tongkatnya.


"Vel, mau aku bantu?" Steve menawarkan bantuan pada Velly.


"Tidak usah, aku masih sanggup kok." jawab Velly.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Chika berteriak memanggil Steve dan Velly. Mereka langsung berlari ke arah Chika karena khawatir Chika kenapa-napa.


"Chika ada apa?" kata Steve.


"Ini, aku dapat benderanya Steve


Tapi aku tidak sampai untuk mengambilnya, terlalu tinggi." Chika menunjuk ke arah bendera yang ada di atas ranting.


"Astaga, aku kira kamu kenapa-napa Chika. Bikin panik aja." Steve sedikit kesal karena terkejut.


"Hahaha, maaf Steve." Chika tertawa melohat wajah Steve yang panik.


Velly pun ikut tertawa. Setelah mengambil bendera itu, Steve menyimpannya di tas Chika. Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencari bendera selanjutnya.


***


Arnes, Angel dan Nayla sudah mendapatkan satu bendera juga. Tapi Rana, Rani dan Joe sudah mengumpulkan tiga bendera sekaligus. Rana, Rani dan Joe bergegas kembali ke tempat mereka berkumpul tadi untuk menyerahlan bendera itu pada Bu Winda dan Pak Rasya.


Arnes, Angel dan Nayla lasih terus mencari bendera selanjutnya. Angel mulai kelelahan, dia meminta Arnes dan Nayla untuk beristirahat terlebih dulu.


"Kita istirahat dulu yuk, aku capek banget," kata Angel.


"Baiklah, aku juga butuh energi tambahan untuk menghadapi dua cewek bawel kayak kalian." Arnes mulai memggerutu.


.


.


.


.


.


MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...


DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...


NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...


TERIMA KASIH ...

__ADS_1


IG : Blue Flower


__ADS_2