Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_7.


__ADS_3

Kai berlari menyusul Lia ke meja makan, Steve pun ikut mengejarnya. Di meja makan suasana menjadi sangat canggung karena pertanyaan dari Lia yang membuat mereka bingung.


Akhirnya kakek Yee mengatakan pada Lia yang sebenarnya bahwa kakeknya sudah tiada. Lia sangat syok mendengar perkataan kakek Yee.


"Tidak mungkin! kakek pasti bercanda kan?" ucap Lia.


"Tidak Lia, ini adalah kebenarannya." ucap Kai sambil menggenggam tangan Lia.


"Tidak Kai, kakek tidak mungkin meninggalkan aku seperti ini." ucap Lia sambil menangis.


Kai memeluk Lia, Lia menangis dipelukan Kai. Kai mencoba membuat Lia tenang terlebih duli sebelum membawa Lia kemakam kakek Lee.


Kai mengajak Lia masuk kedalam kamarnya agar bisa menceritakan semua yang terjadi saat Lia dirumah sakit. Tapi Kai tidak menceritakan siapa Arnes sebenarnya pada Lia.


"Lia, kamu harus terima kenyataan kalau kakek memang sudah tiada, aku juga mwrasa kehilangan, bukan cuma kamu." ucap Kai meyakinkan Lia.


"Kai, di dunia ini yang aku punya hanyalah kakek Lee, alu sekarang tidak punya siapa-siapa lagi." ucap Lia sambil menangis.


"Kamu salah Lia! kamu masih punya aku, aku akan selalu ada untukmu." ucap Kai.


Lia menatap kearah Kai setelah Kai mengatakan itu. Lia seakan tidak percaya kalau Kai akan berkata seperti itu padanya, Lia sedih, tapi dia juga bahagia mendengar kata-kata Kai.


"Sekarang, kamu berhenti menangis ya, aku akan membawamu ke makam kakek Lee." ucap Kai menghapus air mata di pipi Lia.


"Oke, Makasih Kai, kamu ada untuk menghiburku." ucap Lia tersenyum.


"Bukan cuma Kai Lia, aku pun ada untukmu kakek Yee juga." sambung Steve dari depan pintu kamar Lia.


Lia berbalik melihat kedepan pintu kamarnya karena terkejut saat Steve tiba-tiba berbicara. Lia kemudian tersenyum pada Steve.


"Terima kasih, tapi aku belum tau namamu." ucap Lia.


"Steve," Steve mengulurkan tangannya pada Lia sambil tersenyum.


"Lia," Lia pun menjabat tangan Steve.


"Oke, perkenalan sudah selesai, sekarang waktunya ke makam kakek Yee." ucap Kai.


"Baiklah, aku akan ganti baju dulu." ucap Lia sambil pergi ke kamar mandi.


Steve mendekati Kai dan melingkarkan tangannya di bahu Kai. Kai terdiam, lalu Steve memggoda Kai dengan kata-katanya itu.


"Hei adikku, bukan kah Lia sangat manis?" ucap Steve sambil tersenyum, tangannya masih melingkar diatasa bahu Kai.


"Apaan sih lu, bilang aja lu suka," ucap Kai dengan nada kesal.

__ADS_1


"Ye elah, lu cemburu sama gue?" ucap Steve.


"Aku, cemburu sama kamu? ya kali kayak nggak ada yang lain aja yang bisa dicemburui." ucap Kai sambil pergi meninggalkan Steve.


Steve mengejar Kai sambil terus mengoceh dan menggoda Kai agar adiknya itu merasa kesal padanya.


Kai tidak mempedulikan ucapan Steve, dia terus berjalan sampai ke sofa dan duduk dengan santainya.


Selang beberapa menit kemudian, Lia datang dan menghampiri Steve dan Kai yang sedang asik ngobrol di sofa.


"Ayo, aku sudah siap." ucap Lia sambil tersenyum.


"Wah, Lia kamu cantik juga ya pakai baju itu." ucap Steve.


"Udah, ayo berangkat nggak usah urusin ni orang kagak penting." ucap Kai sambil menggandeng tangan Lia.


Lia tertawa melihat tingkah Kai, tapu Lia senang karena Kai masih peduli padanya. Kai yang tidak sadar masih terus menggandeng tanga Lia, Steve hanya tersenyum mengikuti mereka di belakang.


Setelah sampai di makam kakek Yee, Lia langsung menaburi bunga ke makam kakeknya itu. Lia menangis, tapi tidal seperti tadi, dia sudah tenang karena Kai masih mendukungnya.


"Kai, jadi kakek di makamkan disini?" tanya Lia.


"Iya, biar kamj masih bosa dekat dengannya Lia, makanya aku makamkan kakek disini." ucap Kai.


Steve tersenyum melihat Lia sangar bahagia bersama Kai, Steve hanya bisa berharap kalau Lia tidak akan kecewa suatu saat nanti jika tau kebenaran tentang Kai yang sesungguhnya.


"Sudah mulai sore nih, ayo kita pulang." ucap Steve yang memecahkan keheningan.


Lia, Kai dan Steve kembali kerumah, ditengah perjalanan Steve merasakan hawa dari ras hybrida dirumah Lia.


Steve menghentikan langkahnya, dan menahan Lia dan Kai. Kai juga merasakan itu, tetapi dia tidak bisa sekuat Steve.


Steve khawatir karena kakek Yee masih didalam rumah itu, akhirnya Steve memutuskan untuk melihat ke dalam rumah itu lewat penerawangannya.


Kai melihat secercah hawa hitam mendekat pada kakek Yee, Kai ingin memberitau Steve, tapi Steve sedang melakukan penahanan hawa pada ras hybrida itu.


"Kai, kamu tau apa yang harus kamu lakukan?" ucap Steve.


"Baik." ucap Kai.


Kai menyuruh Lia untuk tetap berada didekat Steve, sedangkan Kai masuk kedalam rumah itu seperti angin yang berhembus kencang. menerobos ditengah-tengah pasukan hybrida itu.


Pasukan hybrida langsung berjatuhan, Arnes melihat Kai yang sengaja masuk secara paksa. Arnes tidak buang-buang waktu untuk mengejar Kai kedalam kamar kakek Yee.


"Kai," teriak Arnes.

__ADS_1


"Apalagi yang kamu inginkan? bukankah lebih baik jika identitasmu tidak terbongkar dihadapan Lia!" ucap Kai dengan tatapan tajam.


"Kadang-kadang ucapanmu ada benarnya juga, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Lia." ucap Arnes.


Kai menggenggam tangan Arnes dan melihat sekilas bayangan yang tidak terlalu jelas tentang pembunuhan.


Arnes langsung menarik tangannya kembali dari Kai, Arnes mulai kesal karena Kai membaca masalalunya.


"Kamu melewati batasan dengan paksa Kai." ucap Arnes dengan penuh amarah.


"Jadi benar dugaanku selama ini, kamu sudah lama mengincar Lia." ucap Kai sambil tersenyum sinis.


"Apa urusanmu!" ucap Arnes.


Kai tidak menanggapi pertanyaan Arnes, Kai hanya tersenyum melihat emosi Arnes semakin memuncak.


Kai mengingat perkataan Steve waktu dikolam, kalau sebenarnya kelemahan Arnes adalah emosinya sendiri, dan Kai berhasil memancing emosi Arnes.


Steve masuk melewati pasukan hybrida yang sudah tidak sadarkan diri. Steve mendekati Kia dan Arnes, sedangkan Lia disuruh masuk kedalam kamarnya oleh Steve.


Saat Emosi Arnes memuncak, Steve langsung menyerangnya dari belakang. Arnes pun tergeletak tidal sadarkan diri, kemudian Kai dan Steve menguncinya di ruang belakang dan mengikatnya dengan mantra dari Steve.


"Apa kamu yakin ini aman?" tanya Kai pada Steve.


"Yakin aja lah, nanti kamu juga bisa menggunakan mantra ini kalau sudah saatnya." ucap Steve.


.


.


.


.


.


MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...


DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...


NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...


TERIMA KASIH ...

__ADS_1


__ADS_2