Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_39.


__ADS_3

"Apa maksudnya Kai? kenapa dengan Velly?" tanya Angel.


"Dia ... dia yang telah membunuh Lia! dia telah melenyapkan Lia-ku." seru Kai.


Angel tercengang mendengar pernyataan Kai. Karena yang ada dipenglihatan Angel bukanlah Velly yang membakar Lia,melainkan Lilith. "Nggak mungkin Kai." Angel masih menyangkal ucapan Kai.


"Terserah kamu percaya apa nggak, tapi kenyataannya memang benar Velly yang membunuh Lia." Kai sudah tidak mau lagi bertele-tele untuk menjelaskan pada Angel apa yang terjadi.


Kai memilih untuk pulang lebih awal dari perkemahan itu. Tidak sengaja Arnes mendengar semua yang di bicarakan oleh mereka didalam tenda itu. Ia langsung terkejut saat mendengar jika Lia sudah tiada.


"Tidak mungkin, ini pasti salah. Lia ... dia, dia pasti masih hidup," ucap Arnes.


Kai keluar tenda tanpa melihat ada Arnes di sebelah tendanya. Dia sudah tidak menghiraukan apa-apa, putus asa yang ia rasakan saat ini telah menguasai pikiran dan hatinya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya ia pun tidak tidak tahu.


'Kai, dia seperti sangat frustasi. Nggak mungkin kalau ini hanya bercanda saja, melihat kondisi Kai yang seperti seseorang yang kehilangan akal seperti itu.' batin Arnes.


Arnes lalu bergegas pergi mencari Velly. Di dalam gelapnya hutan Arnes menemukan Velly yang telah berubah wujud menjadi Lilith sedang berdiri memperhatikan langkah kaki Arnes yang mulai mendekatinya.


"Arnes." Velly tersenyum menyambut kedatangan Arnes.


"Siapa kamu? kenapa tahu tentang aku." Arnes tidak mengenali wanita yang saat ini sedang dia cari.


"Velly, Lilith ... Siapa pun aku, kita satu tujuan." Lilith menggoda Arnes dalam kebingungannya.


Melihat senyumannya, dan cara bicaranya, Arnes langsung mengerti jika dia adalah Velly. Arnes langsung menanyakan apa yang telah ia perbuat pada Lia. Sejak awal Velly, Arnes dan Vino adalah kelompok untuk menghabisi Lia. Tapi karena perasaan Arnes yang muncul tiba-tiba saat berhadapan dengan Lia, dia tidak sanggup melakukan itu pada wanita pujaannya.


"Apa yang kamu lakukan pada Lia? dan kenapa kamu berwujud seperti ini?"


Rasa penasaran Arnes langsung ia lontarkan tanpa berbasa-basi lagi pada wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Jawab!" Arnes membentak Velly yang telah berwujud Lilith saat ini.


"Arnes. Bukankah niat kita dari awal menghabisi Lia! lalu kenapa kamu emosi begini setelah dia tiada?" jawab Velly.


"Bukan begini caranya Vell, harusnya kamu memberitahuku terlebih dulu!" bentak Arnes pada Velly.

__ADS_1


"Apa yang di lakukan Velly sudah benar."


Tiba-tiba suara seseorang datang dari balik pohon yang rindang dan besar. Arnes cukup memgenal suara itu. Suara yang selalu menginginkan kematian Lia.


"Aku puas dengan kerjamu Vell. Good job," ucap Vino sambil tersenyum.


'Sialan! jadi mereka berdua merahasiakan ini dariku? Biadab!' batin Arnes kesal.


Arnes mengepalkan tangannya karena ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia hanya menyesali kepergian Lia tanpa dia ketahui. Kini Arnes menyimpan dendam terhadap Velly dan Vino.


"Jadi, bagaimana jika kita merayakan kepergian dia Vin?" tanya Velly.


"Dengan senang hati." Vino membalas dengan rangkulan pada Velly.


"Tunggu!" kata Arnes.


Langkah kaki Velly dan Vino terhenti seketika mendengar ucapan dari Vino. "Ada apa?" tanya Vino sambil melepaskan tangannya dari pinggang Velly.


Velly dan Vino terkejut dan saling pandang setelah mendengar pengakuan Arnes tentang Kai. Velly berpikir jika ia tidak akan lagi bisa kembali ke perkemahan itu jika Kai sudah mengatakan semuanya pada Steve dan Angel. Kebingungan dan keresahan mulai menjanggal di hatinya.


"Vin ...." ucapan Velly terhenti saat Vino mengangkat tangannya yang bertanda dia harus diam.


"Jadi kemu mendengar semua percakapan mereka?" tanya Vino.


"Ya, aku mendengar semua yang Kai katakan pada Steve dan Angel. Tapi mereka berdua tidak percaya jika Velly yang melakukannya larena di penglihatan Angel bukan Velly melainkan Lilith." jawab Arnes.


Vino berpikir kenapa Kai bisa mengetahui kalau Lilith adalah Velly jika Velly tidak memberitahunya. Tatapannya mulai mengarah pada wanita yang berdiri di sampingnya itu. Ia langsung melontarka pertanyaan pada Velly.


"Apa aku harus bertanya? atau kamu sendiri yang bicara?" Vino tidak ingin melakukan tindakan kasar pada wanita yang telah menghabisi Lia itu.


Velly menunduk, ia sadar karena kecerobohannya Kai jadi mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. "Aku akan bicara." Velly ragu mengatakannya pada Vino, tapi ia harus jujur. Jika tidak Vino pasti akan murka padanya.


"Katakan," ucap Vino.

__ADS_1


"Iya, aku tidak sengaja membuka jati diriku pada Kai. Tapi itu semua karena aku kesal dia tidak mau memilihku, dan masih mempertahankan gadis yang nyawanya sudah di ujung tanduk!" jawab Velly sambil membela dirinya.


Plak ...


Tamparan keras Mendarat di pipi kiri Velly dengan cepat. Vino kesal dengan kecerobohan gadis yang sedang bersamanya saat ini. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena semuanya sudah terjadi.


"Vino!" bentak Velly.


"Diam! kamu sangat ceroboh, harusnya kamu lebih berhati-hati," kata Vino.


Arnes merasa senang karena mereka mulai berbeda pendapat. Ini yang diinginkan oleh dirinya. Ia ingin membuat Velly dan Vino saling berbeda pendapat, ia ingin balas dendam atas kematian Lia.


'Ini baru permulaan.' batin Arnes


"Jadi apa yang harus kita lakukan Vin? kita tidak akan bisa membiarkan Velly ke perkemahan itu lagi karena mereka sudah tahu siapa dia." tanya Arnes.


"Akan ku pikirkan itu nanti. Sekarang kita harus pergi dulu dari tempat ini," ucap Vino.


"Kalian pergilah, aku akan tetap disini agar mereka tidak mencurigaiku juga," kata Arnes.


Vino menganggukkan kepala dan mengajak Velly pergi dari tempat itu. Arnes merasa senang tahap awal pembalasannya sudah berhasil. Tidak akan berhenti sampai disini saja, Arnes belum merasa puas jika dia tudak melihat Vino dan Velly saling bunuh satu sama lain.


Akhirnya Arnes kembali keperkemahan dan menghampiri Angel dan Steve yang kebingungan karena Kai menghilang. "Kalian sedang apa?" tanya Arnes yang pura-pura tidak mengetahui apa pun.


"Arnes, aku mencari Kai. Dia ... dia tadi ...." ucapan Angel terhenti saat Steve memotong pembicaraannya.


"Dia tadi pergi dan belum kembali," kata Steve.


"Apa dia ada bilang mau pergi kemana?" tanya Arnes.


Angel menggelengkan kepalanya dan menunduk. Ia merasa bersalah karena tidak mau mempercayai ucapan Kai dan membuatnya pergi tanpa sepatah katapun. Air mata itu mulai membasahi pipi Angel.


"Ngel, jangan menangis. Aku yakin Kai akan kembali," kata Arnes mencoba menenangkan Angel yang sedang bersedih sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2