Rahasia Sang Pemburu Darah

Rahasia Sang Pemburu Darah
Chap_23.


__ADS_3

Jam pelajaranpun di mulai. Velly duduk bersama Kai, Silvi akhirnya duduk bersama Angel. Mereka berdua sama-sama tidak saling menyukai, mereka tidak akur di bidang pelajaran ataupun di dalam kelas.


Bu Winda memberi pengumuman kalau lusa akan ada kegiatan diluar sekolah selama satu minggu dan semua murid di anjurkan untuk mengikuti kegiatan camping tersebut.


"Bu, apa ini termasuk BUPER?" Angel melontarkan pertanyaan pada Bu Winda.


"Ya benar, kita akan melakukan perkemahan di sebuah pedesaan yang terpencil." Bu Winda menjelaskan apa saja yang harus di persiapkan sebelum camping.


Setelah selesai menjelaskan kepada semua muridnya, Bu Winda langsung mengakhiri pertemuan dikelasnya.


"Kai, apa kamu ikut?" Silvi mendekati Kai.


"Lihat entar aja," ucap Kai cuek.


Velly yang duduk disebelah Kai hanya melirik Silvi yang ganjen pada Kai. Kai yang ingin lergi keluar ditahan oleh Velly karena dia juga ingin ikut bersama Kai.


"Kai, aku ikut ya," ucap Velly lembut.


"Ya boleh lah, kan kamu jadi tanggung jawabku sekarang," kata Kai sambil mendorong kursi roda Velly.


Lia yang melihat mereka hanya bisa terdiam karena dia sudah mengizinkan sang kekasih untuk melaksanakan tanggung jawab dia pada Velly sementara waktu.


Kai melihat kearah Lia seakan meminta izin kembali pada Lia saat mau keluar kelas. Lia menganggukan kepalanya pada Kai. Steve yang duduk disebelah Lia kemudian bertanya pada Lia tentang hubungannya dengan Kai.


"Li, apa sekarang Kai sudah ingat tentang kamu? sepertinya kalian sangat dekat sekarang," tanya Steve.


"Emmm, itu ... aku sama dia biasa aja kok Steve, perasaan kamu aja kali." jawab Lia sambil membereskan buku-bukanya yang ada di meja.


Steve belum puas dengan jawaban Lia, tapi Steve memilih untuk mencari tau sendiri hubungan Lia dan Kai. Karena Steve tau kalau Lia tidak akan mau jujur padanya.


Angel yang sedang berdiam diri malah berniat menghampiri Kai dan Velly yang sedang duduk di halaman belakang sekolah.


"Kai ...." Teriak Angel menghampiri Kai dan Velly.


"Angel, sini gabung sama kita." Velly mengajak Angel duduk bersama dirinya dan juga Kai.


Angel dengan senang hati duduk bersama mereka sambil berbincang dan tertawa bersama. Lia hanya bisa memperhatikan dari jendela kelas saja kelakuan kekasihnya bersama dua wanita.


Sakit, tapi Lia memilih untuk tidak mencari masalah dengan kekasihnya itu. Lia mencoba untuk percaya pada Kai meskipun sejujurnya dia tidak rela kalau Kai harus bersama-sama dengan Velly.

__ADS_1


Velly mencoba berdiri saat itu, dan dia masih belum bisa. Akhirnya Velly hampir jatuh. "Aw," ucap Velly. Kai yang berada disamping Velly dengan reflek langsung menahan tubuh sahabatnya itu agar tidak jatuh.


"Kamu nggak apa-apa kan Vel?" tanya Kai sambil memegang pinggang Velly.


"Nggak, makasih Kai," ucap Velly sambil tersenyum.


Lia yang sedang memantau Kai dari jendela merasa sangat kesal dengan kelakuan Velly yang sok cari perhatian. "Udah tau nggak bisa jalan, masih sok-soak an mau jalan." Gumam Lia sambil melirik ke jendela.


Lia tidak sadar kalau sedari tadi Arnes dan Steve sedang mengamati dirinya yang kesal. Arnes mendekati Lia, tapi Steve menghadangnya.


"Ada apa?" tanya Arnes.


"Mau ngapain kamu deketin Lia." Steve berdiri didepan Arnes.


Silvi dan dua temannya yang baru masuk kedalam kelas disuguhi adegan pertengkaran antara Arnes dan Steve. Tidak tunggu lama, Silvi langsung menghampiri mereka dan menyindir Lia.


"Wah, senangnya ya menjadi rebutan oleh ketua tim basket dan ketua kelas." Silvi melontarkan sindiran pada Lia yang tidak mengerti apa maksud dari perkataan Silvi.


"Ada apa ya? maaf, aku tidak merasa seperti itu." Lia menjawab sindiran Silvi dengan tegas.


"Nggak tau apa pura-pura tidak tau. Eh Lia, jangan mentang-mentang kamu jadi primadona di kelas ini kamu bisa seenaknya saja ya!" Bentak Silvi.


Arnes menahan tangan Lia dengan lembut. Lia menoleh pada Arnes. Arnes tersenyum melihat Lia yang sudah tidak membencinya lagi. Dia kemudian berniat untuk kembali mendekati Lia selagi ada Velly bersama Kai.


"Li, aku ikut bersamamu." Arnes kemudian melepaskan tangan Lia dan berjalan bersamanya.


Steve tidak menyangka Lia mengizinkan Arnes berjalan menemani dirinya. Steve hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napasnya karena menahan amarah pada Arnes. Tapi Steve tidak bisa berbuat apa-apa karena Lia menginginkan Arnes disampingnya.


Kai tidak sengaja bertabrakan dengan Lia saat mau masuk kelas. Kai terkejut tangan Lia digandeng oleh Arnes saat itu. Mata Kai melotot pada genggaman tangan mereka yang ada didepan matanya.


"Li, ...." belum sempat Kai melanjutkan ucapannya, Lia sudah pergi bersama Arnes.


Kai sangat kesal melihat tingkah Lia yang mengacuhkan dirinya. Saat Kai ingin mengejar mereka, Angel kembali menahan Kai agar tidak menuruti isi hatinya.


"Kai, sudah waktunya pulang." Angel mengajak Kai berkemas untuk pulang.


"Baiklah," ucap Kai.


Velly hanya tersenyum melihat Kai emosi. "Kai, kenapa kamu? kok kelihatannya sangat marah." Velly sedikit menggoda Kai dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa kok. Sudahlah lupakan," kata Kai dengan nada kesal.


Steve menghampiri Kai yang sedang mengambil tasnya. "Kai, ...." ucaoan Steve dipotong oleh Kai yang sudah mengetahui maksud perkataan Steve.


"Bukan urusanku! dia adalah tanggung jawabmu Steve." Kai lalu pergi bersama Angel dan Velly.


Steve terkejut mendengar ucapan Kai. Steve tidak mengira bahwa adik angkatnya itu tega berkata kalau dia tidak peduli pada Lia. "Seperti itukah perasaanmu padanya Kai! apa kamu sudah tidak peduli padanya lagi?" Teriak Steve.


"Anggap saja seperti itu," jawab Kai melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran mobil.


Setelah menggendong Velly masuk ke dalam mobil, Kai melihat Lia dan Arnes saling tertawa satu sama lain di dekat parkiran. Kai ingin sekali mendatangi mereka, tapi Kai masih ada urusan yang tidak bisa ia tunda.


Dengan kesal Kai mengemudikan mobilnya didepan Lia dan Arnes. Lia yang melihat mobil Kai melewatinya tanpa memandang kearahnya. Lia mulai kesal pada Kai. Lia berpikir kalau Kai sudah tidak mau tau lagi tentang apa yang dia lakukan.


"Li, kamu masih memikirkan Kai?" tanya Arnes.


"Tidak! untuk apa aku memikirkan orang yang sama sekali tidak mempedulikan aku." Jawab Lia sambil menatap mobil Kai yang sudah menjauh.


.


.


.


.


.


MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...


DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...


NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...


TERIMA KASIH ...


IG : Blue Flower

__ADS_1


__ADS_2