RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 21


__ADS_3

Hari hari berjalan normal seperti biasanya. Tanpa terasa tibalah hari kamis wage, yang artinya nanti malam adalah malam jumat kliwon.


Di dalam sebuah kamar, tampak seorang dengan pakaian serba hitam, dengan udeng melilit dikepalanya. Dukun santet tersebut menggelar berbagai macam sesajen di depan nya, ada bermacam macam bunga, tungku untuk membakar kemenyan, dan beberapa keris di jejer rapi disitu.


"kali ini dia tidak mungkin selamat..!!"


Gumam Mbah Wongso penuh percaya diri. Tampaknya dia benar benar akan mengerahkan segala kemampuannya, baginya reputasi adalah segalanya.


Matahari sudah terbenam sepenuhnya di ufuk barat, dan Dukun gempal tersebut memulai ritualnya. Mulutnya komat kamit seiring asap kemenyan yang mengepul dari tungku kecil menebar aroma menyengat indra penciuman.


Seekor ayam cemani di sembelih menggunakan salah satu kerisnya, kemudian darahnya ditampung ke dalam mangkuk tembaga yang sudah disiapkan.


Angin berhembus dingin seperti berputar putar di dalam kamar tersebut, makhluk makhluk tak kasat mata sekutu si dukun berdatangan memenuhi kamar. Mereka berebut memakan sesajen, darah ayam cemani dan ada pula yang mengoyak koyak bangkai ayam cemani tersebut.


Tanpa dukun tersebut sadari, dari sebuah pohon yang agak jauh dari rumah itu, Gagak Rimang mengawasi dengan mata yang dipenuhi amarah. Seandainya gurunya mengijinkan, sudah di porak porandakan seisi rumah tersebut.


Tentu saja Gagak Rimang bisa dengan mudah menemukan rumah si dukun. Dia menelusuri jejak gaib yang ditinggalkan 2 banaspati tempo hari, dan asalnya dari rumah ini.


"mohon maaf guru, bolehkan saya membinasakan mereka disini saja, iblis iblis rendahan ini tidak layak untuk anda, biar saya saja"


Ucap Gagak memohon lewat telepati nya.


"Tidak muridku, kamu segeralah kemari, kami punya rencana lain"


Jawab Guntur dengan penolakan.


Gagak rimang pun kemudian hilang begitu saja, sekejap kemudian dia sudah bertengger di atas rumah mbah Dharmo.


"Bawalah cucuku kemari, biar dia tau seperti apa takdir yang akan dijalaninya kelak"


Perintah Suryo dengan lirih. Seolah olah dia tidak rela keturunannya harus mendapatkan takdir serupa dengan dirinya.


Gagak Rimang dengan segera menjemput Raka yang sedang bermeditasi di tempat latihan nya.


Saat hampir tengah malam, mereka ber empat sudah berada di atas genteng rumah mbah Dharmo. Sedangkan penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya.


Sementara itu disebuah rumah yang cukup besar, seorang wanita mondar mandir di ruangan tengah. Dia menanti dengan gelisah kabar keberhasilan si dukun santet.


"kali ini bocah itu pasti mati...!! Tinggal selangkah lagi"


Gumam wanita itu dengan senyuman jahat nya.


"cucuku, lihat lah, iblis iblis itu sedang menuju kemari, mereka ingin mencelakai sahabatmu"


Ucap Suryo kepada Raka sambil menunjuk ke arah atas, disana tampak puluhan iblis suruhan dukun santet terbang mendekat ke rumah Intan.


"Apakah aku juga harus bertarung dengan mereka kek"

__ADS_1


Tanya Raka yang dengan polos. Tentu saja Suryo menggeleng sebagai jawaban. Dia sama sekali belum siap menghadapi makhluk makhluk itu.


"kamu cukup perhatikan saja bagaimana gurumu membinasakan iblis iblis rendahan itu, kita cukup menonton dari sini"


Raka pun mengangguk, dia tampak begitu antusias sebentar lagi akan melihat pertarungan seru antara Gagak Rimang dan puluhan iblis tersebut.


Saat mereka sudah sangat dekat, Gagak Rimang yang sudah dalam wujud manusia langsung melesat menyambut mereka, seluruh tubuhnya tampak mengeluarkan aura berwarna perak menyilaukan.


Puluhan makhluk beraneka wujud menyeramkan di bantai oleh Gagak Rimang tanpa ampun, baginya ini adalah tugas yang teramat mudah.


Setiap pukulan maupun tendangan Gagak Rimang selalu mengenai sasaran, jerit dan erangan kematian para iblis rendahan bersahut sahutan, kemudian mereka seperti meledak menjadi kepulan asap hitam, mereka tewas dengan sangat mudah.


Raka tampak melongo melihat gurunya membantai para makhluk itu dengan gerakan yang sulit ditangkap oleh mata biasa.


Tinggal satu lagi sesosok makhluk yang dari auranya tampak paling kuat, buto ijo itu tampak sangat marah karena teman temannya dibinasakan dengan mudah oleh Gagak Rimang.


Buto ijo itupun menyerang Gagak dengan seluruh kekuatannya, tangan buto ijo yang diselimuti aura hitam pekat menyasar kepala Gagak, ukuran buto ijo yang lumayan besar begitu pula ukuran kepalan tangan nya, sebesar kepala Gagak Rimang.


Kraaakk...!!!


Nyaring terdengar suara seperti tulang yang remuk.


Gagak Rimang menyambut pukulan buto ijo dengan tinjunya. Begitu beradu, tulang tulang tangan buto ijo tersebut remuk sampai ke lengan.


Erangan buto ijo membahana, namun dia belum menyerah, dengan sisa sisa kekuatannya dia memilih jalan terakhir.


Binasalah kaliaann....!!!


Tubuh buto ijo tersebut menggembung dengan aura hitam yang berkobar kobar, Gagak Rimang pun menambah energinya, mengeluarkan aura perak yang tampak berkobar kobar menyelimuti seluruh tubuh legamnya bak tabir pelindung.


Booommm.....!!!


Buto ijo meledak disertai teriakan kematiannya, energi ledakan nya lumayan dahsyat, Gagak Rimang yang berselimut aura nya sampai terdorong beberapa meter kebelakang.


Lain halnya dengan Suryo, Guntur dan Raka yang dari tadi menonton dari atas genteng. Suryo hanya mengibaskan tangan nya saat energi ledakan tadi nyaris sampai di tempat mereka. Energi ledakan tersebut hanya seperti angin sepoi sepoi bagi Suryo Buwono.


Rumah mbah Dharmo pun sama sekali tidak terdampak oleh ledakan tadi, tabir gaib yang dipasang Suryo dan Guntur benar benar sangat kuat.


"nanti suatu saat kamu akan menghadapi hal hal seperti ini nak, namun ingatlah, pada saat itu tiba, kami sudah tidak lagi membantumu, kamu harus melakukan nya sendiri, aku percaya padamu!"


Suryo memberi wejangan kepada Raka, kejadian malam ini belum seberapa, kelak dia pasti menemui kejadian yang lebih rumit.


Dhuaaarrr.....!!!


Sebuah energi yang besar membuat ruangan ritual dukun santet itu seperti meledak. Semua sesajen disitu berhampuran terserak kemana mana, pintu kamar kecil itu bahkan hancur terlepas dari engselnya.


"Uhhuuukkkk....aku kalah....!!"

__ADS_1


Dukun gempal itu terlempar menghantam dinding kamar, dari mulut nya keluar berteguk teguk darah kental, bisa dipastikan saat ini dia mengalami luka dalam yang sangat parah.


Keris dengan dominasi warna hitam yang dari tadi dipegangnya, di cabut dari warangka nya. Ujung keris yang masih berlumuran darah ayam cemani tersebut diarahkan tepat di dada kirinya.


arrgghhh....!!!


Hanya erangan pelan yang keluar dari mulutnya saat kedua tangannya menekan ujung keris itu menusuk tepat ke jantungnya. Dukun santet itu memilih untuk bunuh diri, sesuai omong besarnya selama ini, jika sekali saja dia gagal, maka dia akan bunuh diri.


Wanita setengah baya itu masih saja mondar mandir di rumahnya, perasaan nya mulai tidak enak.


"apakah sudah berhasil...,tapi perasaanku sungguh tak enak"


Gumam wanita itu penuh kegelisahan, sebentar sebentar dia memengok ke arah jam dinding, dia sudah sangat tidak sabar untuk segera pergi kerumah dukun yang di sewa nya.


"Ndoro mau saya buatkan minum atau apa..."


Pembantu rumah tangga yang dari tadi melihat majikan nya mondar mandir, menawarkan minuman.


Wanita itu hanya melambaikan tangan sebagai jawaban, dan pembatunya pun mengangguk sopan dan undur diri ke kamar nya di belakang.


Pagi pun tiba.


"kakek nenek semalam dengar suara petasan ga, berisik banget, aku jadi ga bisa tidur"


Ucap Intan sesudah mereka selesai sholat subuh.


"Iya nenek juga dengar, lebaran masih jauh udah pada main petasan aja"


Jawab mbah Marni yang mengira suara semalam adalah suara petasan.


Intan lalu keluar rumah untuk menyapu halaman, dia mencium bau gosong disekitar rumahnya, bau makhluk makhluk yang semalam di binasakan oleh Gagak Rimang. Namun Intan menyangka bahwa bau itu berasal dari petasan.


Sementara itu wanita yang gelisah semalaman tidak bisa tidur, pagi pagi sekali dia meninggalkan rumah, dia menghentikan sebuah taksi kemudian melaju ke arah utara.


Sampailah dia di depan sebuah rumah tua yang seperti tidak terurus, namun sudah banyak sekali warga berkerumun disitu, bahkan ada beberapa petugas dari kepolisian setempat.


"Maaf Pak, itu ada apa yaa..."


Tanya wanita itu kepada salah seorang warga.


"ooh itu buk, mbah Wongso ditemukan tewas dikamarnya, sepertinya bunuh diri"


Jawab pria itu kemudian dia pergi begitu saja.


Uangkuu......


Wanita itu seperti lepas semua persendiannya mendengar ucapan pria tadi. Dia jatuh terduduk tanpa bisa berkata kata lagi.

__ADS_1


__ADS_2