
Aura Chandra pun berkobar meledak ledak karena amarahnya dan langsung menyerang Raka.
Kubunuh kau bocaah.....
Gerakan Chandra sangat cepat, Raka melompat jauh kebelakang menjaga jarak. Namun secepat kilat Chandra sudah melesat di depannya dan mengirimkan sebuah tinju menyasar kepala Raka.
Raka menjatuhkan diri lalu berguling kesamping, kekuatan Chandra tidak main main bahkan tinjunya mengakibatkan hembusan angin yang lumayan kuat.
"Jangan lari seperti pengecut bocah...hadapi aku..."
Chandra menghentak kan kakinya dan kembali melesat dengan sebuah tendangan disertai angin yang kencang.
Raka mengaliri chakra tenggorokannya dengan sebagian energinya, lalu mengalirkan nya ke tangan kanan nya. Seketika kepalan tangannya mengeluarkan aura putih menyilaukan menghantam tendangan mematikan dari Chandra.
Dhuaaarrrr......
Terdengar suara seperti ledakan saat 2 energi besar itu bertumbukan, daun daun pohon kopi di sekitar mereka berterbangan lepas dari dahan nya. Banyak pula pohon pohon yang tercabut dari akarnya membuat tempat itu menjadi seperti lapangan kecil yang dikelilingi pohon kopi.
Anak buah Chandra yang berada di arena pertempuran pun terlempar beberapa meter menabrak pohon pohon kopi disana.
"Apakah itu jurus tinju matahari..?"
Tanya Sekar kepada Gagak yang masih mengawasi Raka dari kejauhan.
"Anda sangat teliti Ratu, namun Raka baru menguasai ilmu dasarnya saja..."
Jawab Gagak Rimang lirih. Dia sangat khawatir dengan perbedaan kekuatan lawan, Chandra jelas beberapa tingkat diatas Raka.
Namun perintah Guntur sangat jelas, Gagak Rimang hanya boleh membantu saat keadaan benar benar darurat.
Raka maupun Chandra sama sama terlempar kebelakang akibat dari tumbukan energi mereka, nafas Raka tampak terengah engah karena baru saja mengeluarkan separuh energinya. Berbeda dengan Chandra, dia tampak biasa saja meskipun merasakan kakinya bergetar hebat.
"Hanya begini kemampuanmu bocah...Ayo keluarkan keris pusakamu..."
Bentak Chandra dengan jumawa, sedetik kemudian ia kembali menyerang Raka yang masih mencoba memulihkan energinya.
Tidak ada pilihan lain, raka hanya bisa menangkis dan menghindari setiap serangan dari Chandra.
Indra yang sudah memulihkan sebagian besar tenaganya melesat masuk kedalam arena pertempuran ingin segera menyelesaikan misi mereka.
Mendapat serangan dari Chandra saja Raka sudah sangat kewalahan, sekarang ditambah lagi serangan dari Indra yang juga cukup berbahaya.
Raka benar benar kepayahan, beberapa serangan berhasil mengenai Raka.
Gagak Rimang yang melihat situasi sudah sangat membahayakan Raka, memohon ijin kepada Sekar untuk membantu Raka. Namun Sekar hanya menggeleng sambil menunjuk ke arah Intan.
Benar saja, melihat Raka dikeroyok oleh dua orang amarah Intan kembali meledak. Rambut nya kembali berkibar kibar berubah warna emas, lalu terbang melesat menerjang dua kakak beradik itu.
Kalian cuma pengecut.....
Hardik Intan lantang dengan sorot mata penuh amarah.
Chandra yang melihat serangan Intan menyambutnya dengan tinju yang teraliri dengan sebagian besar energinya.
__ADS_1
Booommmm....
Kembali terdengar suara ledakan saat energi mereka berbenturan. Chandra terlempar menabrak adiknya lalu berhenti setelah menabrak mobil yang masih terparkir disitu.
Tampak darah keluar dari sudut bibir dan hidung Chandra, namun ia segera bangkit lagi menyiapkan serangan balik kepada Intan.
Intan menyentuh kepala Raka, dan seketika itu dia merasa energinya seperti terisi pulih seperti semula.
"Kini kita seimbang, dua lawan dua, mari kita selesaikan..."
Ucap Raka yang kini berselimut aura putih keemasan.
"Apakah anda yang memberikan kekuatan kepada gadis itu Ratu.."
Tanya Gagak yang takjub dengan perubahan Intan.
"Iya, aku hanya ingin meringankan tugas yang diemban cucu buyut kangmas Suryo..."
Jawab Sekar yang selalu tersenyum menenangkan.
Kini keadaan berbalik, Raka dan Intan yang menyerang membabi buta 2 kakak beradik itu. Indra yang kesaktiannya hanya setingkat Raka, kini tampak memprihatinkan dengan banyak luka lebam terkena serangan dari Raka.
Melihat situasi sudah tidak menguntungkan, Chandra mengambil sesuatu dari dalam mobil yang sudah penyok parah itu.
Sebuah benda panjang yang dililit dengan kain hitam. Dengan cepat Chandra melepas lilitan itu dan tampaklah sebuah pedang dengan aura yang sangat menindas siapapun yang berada disekitarnya.
"Sekarang kalian akan benar benar kubuat mampus....!! "
Chandra berteriak lantang lalu menyabetkan pedangnya kearah Raka dan Intan yang berdiri agak jauh darinya.
Pohon pohon kopi terpotong meninggalkan bekas gosong pada potongan nya, bahkan hanya terkena sabetan energinya saja.
Raka dan Intan yang masih terselubungi aura hanya sedikit terdorong kebelakang meskipun merasakan aura kutukan pedang itu sangat menindas mereka.
Cukuuupppp.....hentikan.....!!!!
Tiba tiba seorang laki laki berumur sekitar 60 tahunan menghentikan Chandra dan adiknya.
"A..ayah...."
Ucap Chandra terbata bata melihat ayahnya tiba tiba sudah berada disitu.
Pun demikian Indra, dia langsung membungkuk hormat melihat kedatangan ayahnya.
"Anak muda, maafkan ketidak sopanan kedua anak ku ini. Ini kartu namaku, kalau kalian butuh apapun jangan sungkan hubungi saya. Kami mohon pamit..."
Ayah dari Chandra dan Indra meletak kan selembar kartu nama di atas kap mobil yang sudah penyok parah itu.
"Tinggalkan saja mobilnya, kita pulang sekarang...."
Beberapa anak buah pria itu dengan segera membawa teman temannya yang pingsan maupun yang babak belur, lalu iring iringan mobil mobil mewah yang semuanya berwarna hitam itupun pergi.
Raka maupun Intan sudah kembali normal, mereka hanya saling pandang heran dengan kejadian baru saja.
__ADS_1
"Kau kini lebih aneh dariku Ntan...."
Ucap Raka lalu mengambil kartu nama yang di tinggalkan pria itu.
"Aku kenapa bisa jadi begini Kaa...."
Intan tampak bengong tidak percaya dia bisa seganas itu.
"Kamu dulu bilang pengen berguru dan punya kesaktian kan, lha ini sudah terwujud kamu malah bingung..."
Raka kembali bisa cengengesan.
"Ditaaaa.....ayo Kaaa...."
Intan baru sadar akan Dita dan Pak Min yang dari tadi pingsan di sebelah mobil.
Mereka berdua berlari menuju mobil yang terparkir agak jauh dari tempat pertarungan tadi, terlihat Dita sudah sadar namun wajahnya tampak sangat ketakutan.
"Kamu Intan kan....dan kamu Raka...."
Dita ternyata sudah sadar saat Raka dan Intan bertarung mengeluarkan aura mereka, dan itu membuat Dita sangat ngeri. Dita hanyalah gadis rumahan yang manja, dia sama sekali tidak pernah berpikir bisa terlibat dalam situasi yang sangat mengerikan baginya.
"Aku Intan yang kau kenal Dit, dan ini beneran Raka. Kami memang beda dengan yang lain, nanti aku critain semua. Sekarang kita sadarkan Pak Min, lalu pulang, jangan takut..."
Intan memeluk Dita yang masih tampak ketakutan, sedangkan Raka malah cengengesan tak jelas melihat Dita.
Sementara itu di sebuah mobil yang dikawal oleh beberapa mobil lainnya...
"Maafkan saya ayah, kenapa anda menghentikan saya, sedikit lagi keris pusaka itu bisa kuambil.."
Tanya Chandra sopan kepada ayahnya.
"Ada 2 kekuatan dahsyat yang memperhatikan kalian dari kejauhan, bahkan cukup salah satu dari mereka saja bisa membunuhku dengan sangat mudah...."
Chandra maupun Indra kaget mendengar penjelasan dari ayahnya.
"Aku memang tidak bisa memastikan mereka berada di pihak 2 bocah itu, atau hanya kebetulan lewat dan menonton pertarungan kalian. Aku tak mau ambil resiko..."
Lanjut Pria itu lalu semuanya hanya diam menyesali kegagalan mereka.
Beruntung Pak Min tidak melihat pertempuran yang terjadi, setelah sadar dari pingsan nya dan kondisinya sudah pulih, Pak Min pun segera melajukan mobilnya.
Di dalam mobil Dita hanya diam masih terbayang bayang betapa mengerikannya kedua teman nya tersebut.
"Itu tadi mobilnya bisa rusak parah begitu kenapa dek, trus pada kemana orang orang yang mukuli saya tadi..."
Tanya Pak Min yang penasaran melihat keadaan yang begitu berantakan.
"Oohhh....tadi Intan teriak teriak minta tolong, lalu datang warga menolong kita, mereka digebuki sama warga terus kabur..."
Jawab Raka berbohong sambil sedikit cengengesan. Dan Pak Min pun hanya manggut manggut antara percaya dan tidak mendengar jawaban dari Raka.
Intan pun hanya tersenyum kecil mendengar kebohongan Raka masih sambil memeluk Dita yang belum pulih dari shock.
__ADS_1
Raka merogoh saku membaca kartu nama yang diambil nya tadi.
Surya Kartawiharja....