RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 24


__ADS_3

"maafkan aku mas...."


Gumam Susanto sambil menambah kecepatan motornya. Yang tidak diketahui oleh Intan dan Raka, tampak mata Susanto berkaca kaca setelah meninggalkan mereka berdua.


"Kaa, nanti kita mampir makan dulu yah, aku lapar banget"


Ucap Intan mengawali pembicaraan mereka di dalam bis.


"Iya Ntan, aku juga lapar, tadi belum sarapan, hehehe..."


Balas Raka sambil cengengesan. Dia mencoba menghibur Intan yang tampak begitu larut dengan kesedihan.


Sampailah mereka di terminal, kemudian mereka menuju sebuah warung makan yang tidak terlalu ramai di sebuah sudut terminal.


"Nanti kalau Kakek dan Nenek sudah tiada, aku mau balik ke rumah orang tuaku Ka, mereka memberi amanah untuk menjaga rumah itu"


Raka menghentikan suapan nasinya, kata kata Intan membuatnya merasa kehilangan, padahal itu baru rencana saja.


"Trus kamu nanti disana gimana, paman kamu aja seperti itu"


Balas Raka yang tiba tiba kehilangan selera makan nya.


"Semoga saat itu tiba, aku sudah punya keberanian"


Sahut Intan ambigu. Raka pun hanya diam dan berusaha menghabiskan makanan nya.


"Permisii...numpang ngamen..."


Gugusan hari-hari


Indah bersamamu Camelia


Bangkitkan kembali


Rinduku mengajakku kesana

__ADS_1


Inginku berlari


Mengejar seribu bayangmu Camelia


Tak peduli kau kuterjang


Biar pun harusku tembus padang ilalang....


Seorang pengamen paruh baya dengan gitar tua penuh lakban di tepian gitarnya, menyanyikan sebuah lagu Ebiet dengan suara cempreng berusaha memiripkan dengan aslinya.


"Tuuuh, kamu dinyanyiin, tau aja kalau nama tengahmu itu Camelia, hehehe...."


Goda Raka sambil menyerahkan sekeping uang logam kepada pengamen itu. Kali ini Raka berhasil membuat Intan tersenyum.


"Ibu, berapa totalnya"


Intan mengeluarkan amplop dari paman nya tadi untuk membayar makanan di warung itu.


Tampak seseorang begitu berbinar matanya melihat amplop yang dipegang Intan, pencopet itu segera beraksi begitu Intan dan Raka keluar dari warung.


Pencopet dengan pakaian yang rapi tersebut menabrak Intan dari belakang dan dengan sangat gesit tangan nya mengambil amplop yang ditaruh di saku jaket Intan. Lalu pencopet itu bergegas menuju toilet umum dekat pintu keluar terminal.


"Ntan, amplop mu masih ada"


Insting Raka bekerja dengan sangat baik, Intan merogoh sakunya dan tampak sangat panik, gadis cengeng itu kembali menangis sambil jongkok.


"Tunggu disini, jangan kemana mana!!"


Raka langsung berlari mengejar pencopet tadi. Sungguh pria itu tidak pernah menduga nasibnya akan segera mengenaskan.


Beberapa saat menunggu, akhirnya copet itu keluar dari salah satu pintu toilet dengan muka cerahnya, dia baru saja mendapat uang mudah dari seorang bocah.


Buugggghh....!!!


Sebuah tendangan dari Raka tiba tiba mendarat di perut si copet, erangan kesakitan terdengar tertahan dari mulutnya. Si copet terlempar masuk kembali kedalam toilet, punggungnya membentur tembok.

__ADS_1


"Kembalikan amplop nya, maka akan kubiarkan kamu pergi..!!"


Raka mengulurkan dan menengadahkan tangan nya, mata nya tampak menyorot bengis. Pencopet itu benar benar terintimidasi oleh tatapan Raka.


Dia benar benar tidak punya pilihan, kalau dia memilih melawan, bisa saja malah dihajar massa karena ada bukti bahwa dia memang mencopet seorang gadis.


Akhirnya si copet menyerahkan amplop beserta isinya, dan dia buru buru bangkit lalu berlari masih sambil memegangi perutnya.


Tampak pria penjaga toilet hanya melongo melihat kejadian yang berlangsung cepat itu. Raka pun kembali menemui intan.


"Ini amplopmu, jangan sampai hilang lagi, ayo segera pulang"


Intan yang menjadi pusat perhatian orang orang disitu, ditarik tangan nya oleh Raka dan kemudian mereka segera naik angkutan kota menuju rumah.


"Kamu apain pencopet tadi Ka"


Tanya Intan di kursi belakang sebuah angkot sambil menggenggam erat amplopnya, dia tak ingin uang itu hilang lagi.


"Ga aku apa apain kok, kuminta baik baik"


Jawab Raka sedikit cengengesan. Tapi Intan tau betul kalau Raka sedang berbohong.


"Kayak nya aku pengen belajar bela diri deh Ka, biar ga ngrepotin orang terus"


Raka menyipitkan kedua matanya, gadis cengeng begini mau latihan bela diri, batin Raka meragukan Intan.


Malam pun tiba, Raka kembali berlatih bersama gurunya. Berkat kerja keras Gagak Rimang selama ini, Raka yang sebelumnya berpostur kecil dan kurus, kini sudah nyaris sama dengan anak anak seusianya.


Setelah menyelesaikan latihannya malam ini, Raka berniat menanyakan soal keinginan Intan untuk belajar bela diri. Namun belum sempat dia bicara,


"Dia belum siap, selain melindungi keluargamu, tugasmu adalah melindungi sahabat mu itu"


Ucap Gagak Rimang yang bisa membaca pikiran nya. Raka pun hanya tersenyum garing.


"Jangan terlalu dipikirkan, aku pun selama ini juga mengawasi dia, sekarang waktunya pulang"

__ADS_1


Lanjut Gagak Rimang dengan senyumnya yang membuat Raka jauh lebih tenang.


__ADS_2