
"Kamu kenapa lagi, mukamu kusut amat"
Raka mengawali perbincangan saat mereka berangkat ke sekolah.
"Semalam ga bisa tidur, berisik banget, ga tau siapa mainan petasan tengah malam"
Jawab intan kesal.
Raka pun hanya garuk garuk kepala nya yang sebenarnya tidak gatal sambil cengar cengir.
"andai saja kamu tahu semalam ada orang yang hendak mencelakaimu.."
Batin Raka dalam hati.
Tak banyak perbincangan antara mereka berdua, namun kini mereka tampak jauh lebih akur.
Sepulang sekolah Raka langsung menuju ke warung ibunya untuk bantu beres beres. Di tengah perjalanan dia bertemu lagi dengan 4 preman pasar yang pernah dihajarnya.
"Bang, itu bukan nya bocah yang dulu mukulin kita ya"
Tanya seorang preman kepada teman nya.
"Duh sial, malah ketemu mereka!"
Gumam Raka. Dia kawatir akan dikeroyok 4 preman itu. Dalam kondisi normal seperti itu, Raka hanyalah anak biasa, meskipun dia sudah berbulan bulan berlatih, namun kini ke empat preman tersebut tidak dalam kondisi mabuk seperti sebelumnya.
"Kita bawa dia kesana, kita beri pelajaran pada bocah ini!"
Perintah salah satu preman dengan banyak tatto di kedua lengan nya.
Raka pun di bawa ke sebuah kebun yang agak jauh dari pasar. Mereka tidak ingin reputasinya jatuh jika orang orang tau mereka mengeroyok seorang anak anak.
Raka tidak melawan saat dibawa, dua tangan nya dipegang dari kanan dan kiri oleh 2 preman tersebut. Raka sudah berlatih pengendalian emosi bersama Gagak, dia tampak tenang.
Dia pun berpikir, jika dia nurut, maka dia tidak akan diapa apakan oleh ke empat preman pasar tersebut.
Setelah sampai di sebuah kebun yang agak rimbun, salah seorang preman mulai menggeledah tas dan semua saku Raka, dia hanya menemukan beberapa keping uang logam pecahan 100 rupiah dan 50 rupiah.
"dasar bocah kere...!!!"
Hardik preman tersebut yang kecewa tidak mendapatkan apa apa.
Plaaakk....!!
__ADS_1
Preman bertatto menampar pipi Raka dengan cukup keras, di sudut bibirnya tampak sedikit cairan berwarna merah.
"Ayo pukuli kami lagi..!! Kenapa diam saja..!!!"
Bentak si kepala preman sambil matanya mendelik mencoba mengintimidasi Raka.
"Ampun oom, kemarin saya ga sengaja, saya kesurupan, saya ga sadar mukulin om..."
Raka mencoba bersandiwara agar dilepaskan.
Dia pun tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, dia takut nanti ibunya kena dampaknya. Namun justru dibalas dengan gelak tawa oleh ke empat preman tersebut.
"hahaha....!! Maka aku juga akan kesurupan lalu menghajarmu.!"
Sebuah tamparan kembali melayang di pipi raka, tangan kekar preman tersebut cukup mampu membuat Raka merasakan nyeri di pipinya.
"kita telanjangin aja bang, terus kita ikat di pohon.!"
Ide ide jahat mulai bermunculan dari para preman amatiran tersebut, Raka pun kini diselimuti kekawatiran. Seperti nya omongan mereka bukanlah gertakan semata.
Gagak Rimang yang sedari tadi melihat Raka di pukuli, sebenarnya sudah sangat gatal tangannya untuk mematahkan tangan para preman tersebut. Namun Gagak Rimang adalah seorang murid yang sangat patuh pada gurunya, dia dilarang membantu Raka kecuali keadaan benar benar sudah mendesak.
Raka sama sekali belum melakukan perlawanan apapun, sampai akhirnya...
Baju Raka ditarik hingga sobek, mereka benar benar ingin menelanjangi Raka.
Buuuuggghhh.....!!!!
Tiba tiba kaki raka yang dari tadi diam dan agak gemetaran, melayang menendang ******** preman yang menyobek bajunya. Preman itupun mengerang bergulung gulung menahan ngilu yang tak terhingga.
"kalian tau, orang tuaku bekerja siang malam hanya untuk sekedar membelikan baju seragam ini..!!!"
Amarah Raka sudah terpicu, sangat jelas terpancar kilatan amarah dikedua matanya.
Kaki Raka kembali menendang perut preman yang memegangi tangan nya, spontan tangan Raka pun dilepaskan.
Dengan satu tangan sudah bebas, dia menarik tangan salah satu preman yang masih memeganginya, di pelintirnya dengan sekuat tenanga hingga tubuh preman tersebut ikut jatuh tersungkur. Terdengar suara seperti tulang yang bergeser dari sendinya, preman itu meraung raung memegangi tangan nya yang sudah tidak selurus sebelumnya.
"Kalian ingin lihat aku kesurupan lagi!!, Akan aku tunjuk kan.!!!"
Raka berteriak lantang kemudian memukul dan menendang ke empat preman tersebut sampai mereka tumbang.
Mereka hanya preman amatiran yang tidak punya dasar ilmu bela diri, mereka hanya bermodal tampang sangar dan tatto ditubuhnya. Maka bukan hal yang sulit bagi Raka yang sudah berlatih selama ini, meskipun beberapa serangan balasan dari keempat preman tersebut ada yang mengenai tubuh Raka.
__ADS_1
"kalian sudah merobek bajuku, maka kalian harus ganti.!!"
Raka menarik tas kecil dari pinggang si preman, kemudian dia mengambil segenggam uang kertas dengan berbagai pecahan nominal, dan sisanya dilemparkan ke muka si preman. Raka pun pergi begitu saja, baju seragamnya yang sobek ia masuk kan ke dalam tas beruntung dia memakai dobelan kaos oblong.
Harga diri keempat preman tersebut jatuh untuk kedua kalinya oleh seorang bocah.
"tampaknya aku belum berhasil mengajarkanmu pengendalian emosi"
Gumam Gagak Rimang sambil menggeleng gelengkan kepalanya, namun ada senyum tersungging disana. Kali ini Gagak sudah tidak melaporkan nya lagi kepada gurunya Guntur Jalamangkara, Raka saat ini sepenuhnya tanggung jawab Gagak Rimang.
Sebelum ke warung ibunya, Raka mampir di sebuah toko perlengkapan sekolah, kemudian membeli sebuah seragam dengan uang rampasan tadi.
Tampak nya Raka terlalu banyak mengambil uang dari preman tersebut, setelah membeli baju seragam, uang rampasan tadi hanya berkurang separuhnya.
"besok kalau ketemu mereka lagi, akan kukembalikan sisa uangnya"
Gumam Raka dengan kepolosan nya.
Sesampainya di warung, ibunya sudah tidak ada, warung pun sudah ditutup. Mungkin ibunya mengira kalau Raka tidak akan datang membantu.
Melihat ibunya sudah tidak ada, dia pun memutuskan untuk pulang. Namun dia memilih jalan yang agak memutar, dia berniat mampir ke rumah Intan.
"bisa minta tolong ga, tolong pindahin badge sekolah ke seragam yang baru, aku ga bisa jahit"
Ucap Raka sesampainya di rumah intan. Dia mengeluarkan baju baru dan baju yang sudah robek tadi.
"pasti kamu habis berantem ya!"
Jawab intan setelah melihat seragam Raka yang robek.
"bukan berantem, aku dikeroyok empat orang"
Jawab Raka datar. Intan pun lalu masuk mengambil jarum dan benang, kemudian dengan terampil dia memindahkan badge ke seragam baru raka.
"kamu ga usah berantem lagi lah Ka, nanti takutnya guru guru pada tahu, trus kamu dikeluarin dari sekolah"
Wejang Intan sambil menyerahkan baju yang sudah selesai dijahitnya.
"kamu sendiri yang pernah bilang kan, katamu aku harus melawan, yakaan..."
Balas Raka sambil cengengesan. Intan pun hanya geleng geleng sambil menghembuskan nafasnya.
"terima kasih banyak ya Ntan, aku pulang dulu"
__ADS_1
Raka pun berpamitan pulang, dan dia harus bersiap siap mendapat omelan dari ibunya karena terlambat datang membantu beres beres warung.