RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 39


__ADS_3

"Kemarin ada yang mencoba memembus pagar gaib yang kupasang di rumah gadis itu, tampaknya ada yang berniat mencelakainya lagi.."


Ucap Guntur Jalamangkara kepada Gagak Rimang.


"Lantas apa yang harus saya lakukan guru, saya bisa saja melacak dari mana datangnya gangguan itu"


Balas Gagak sambil mendongak melihat wajah gurunya yang tinggi badannya lebih dari 2 meter itu.


"Tidak perlu, itu bukan gangguan yang serius, bahkan dia tak sanggup menggores pagar gaib buatanku. Berikan saja gelang ini kepadanya, ini cukup bisa melindunginya.."


Guntur menyerahkan sebuah gelang dari untaian kayu berwarna hitam legam mirip untaian tasbih, namun kayu kayu kecil itu tidak berbentuk sepenuhnya bulat seperti ada banyak sudut entah berapa.


"Baik guru, besok aku akan serahkan gelang ini kepada Raka.."


Gagak Rimang menerima gelang itu lalu menyimpan nya.


Tidak banyak percakapan antara guru dan murid tersebut, Guntur pun lalu berpamitan pergi entah kemana.


Gagak Rimang pun segera menjemput Raka untuk kembali melatih olah tenaga dalam nya.


"Kamu ingat pagar gaib yang pernah dipasang oleh kakek buyutmu dan guruku di rumah Intan kan...kemarin ada yang mencoba menembusnya. Artinya ada seseorang yang berniat buruk pada sahabatmu itu.."


Ucap Gagak setelah latihan usai.


"Iya saya ingat guru, lalu apa yang harus lakukan..."


Tanya Raka dengan raut wajah khawatir.


"Pakaikanlah gelang ini padanya, ini pemberian dari guruku. Gelang ini akan melindunginya.."


Gagak pun menyerahkan gelang untaian kayu tersebut kepada Raka. Lalu mereka pun kembali ke alam manusia.


...****************...


Keesokan harinya...


"Ntaan....pinjam tangan kananmu"


Pinta Raka kepada Intan saat mereka hendak berangkat ke sekolah.


"Apaan sih Kaa, mau kamu buat apa emang tangan ku.."


Balas Intan dengan sorot mata penasaran.


"Bawel amat, ini pakailah, jangan dilepas.."


Raka meraih tangan Intan lalu mengikatkan gelang kayu itu di pergelangan tangan nya.


"Eehh...apa maksudnya, ini hadiah gitu...dalam rangka apaa..."


Tanya Intan penasaran. Namun matanya tak lepas memandangi untaian kayu hitam legam tersebut saat di pasangkan oleh Raka, tampaknya Intan menyukai gelang pemberian Raka tersebut.


"Iyaa, ini hadiah untuk persahabatan kita.."


Jawab Raka kalem.


Raka hanya mengiyakan pertanyaan Intan, dia malas menjawab pertanyaan pertanyaan tanpa jeda darinya jika Raka mengatakan yang sebenarnya.


"Bagus gelangnya, aku suka... Kamu beli dimana gelang ini.."

__ADS_1


Tanya Intan lagi sambil terus mengamati gelang di tangannya.


"Bukan beli...dikasih sama guru ku.."


"Loooh, kamu dikasih gurumu, terus malah kamu kasih ke aku, gimana sih..."


Intan mulai tampak bibit bibit cerewetnya.


"Maksudnyaaa... guruku ngasih gelang itu ke kamu, tapi dititipin lewat aku, lumba lumba ga paham paham isshh...."


Jawab Raka dengan nada mengesalkan.


"Bilang dong dari tadiii..."


Balas intan dengan sedikit jutek.


"Eh udah datang tuh angkotnya, yuuk..."


Setelah angkot langganan mereka datang, kedua sahabat itupun naik bersama pelajar lain nya.


Sesampainya di kelas...


"Eh Ntan, gelang baru yah, cakep banget..beli dimana Ntan..."


Dita meraih tangan Intan dan mengamati gelang itu.


"Bukan beli, dikasih sama Raka..."


Jawab Intan setengah berbisik.


"Cieee...ini tanda kalau kalian jadian yaah..."


Sebenarnya tak hanya Dita saja yang mengira kalau Raka dan Intan berpacaran, banyak siswa bahkan guru guru pun mengira demikian.


Bisa dimaklumi, setiap hari mereka berangkat dan pulang selalu bersama.


"Yaelaahh...capek ngasih tau ke kamu...kami itu sahabatan aja...lagian aku belum berpikir untuk pacaran, belum juga genap 17 tahun.."


Jawab intan sambil mengacak rambut Dita karena gemas.


"Tapi kamu sayang kan sama dia...ngaku aja deeeh...."


Dita bertambah jahil melihat raut muka Intan yang mulai sedikit memerah.


"Ssstt...Bu guru udah datang, jangan berisik"


Intan diselamatkan dari kejahilan Dita oleh Guru Matematika.


Sementara itu Heri yang masih dalam perjalan pulang dari Jawa Timur, mulut nya terlihat seperti komat kamit saat mengendarai motornya.


Heri terus menghafal mantra mantra yang diberikan oleh dukun pelet itu. Tidak lucu jika nanti waktu eksekusi dia bawa naskah berisi text mantra.


Heri pun sampai di rumahnya saat hari sudah sore. Dia langsung merebahkan tubuhnya dikasur meredakan rasa capeknya. Matanya memandangi langit langit kamar dan mulutnya masih tetap terlihat komat kamit menghafal mantra mantra pemikat.


Saking konsentrasinya menghafal, bahkan dia tidak sadar langit mulai meredup pertanda senja telah datang dan sebentar lagi akan berganti malam.


Angin dingin kembali berhembus masuk melalui jendela kamar yang masih terbuka. Asap tipis kehitaman kembali masuk tanpa sepengetahuan Heri.


Baguuss....semakin jahat hati dan pikiranmu, maka semakin mudah aku merasukimu...aku sangat menyukai energi jahatmu...

__ADS_1


Guman Iblis tanpa wujud.


Lalu asap tipis kehitaman itupun keluar lagi melalui jendela dengan segala rencana iblisnya.


Esok hari pun tiba, hari yang sangat dinanti nanti oleh Heri. Dia sudah hafal kebiasaan intan, hampir setiap jam istirahat Intan selalu ke kantin sekolah bersama Dita. Heri berencana meng eksekusi disana.


Lonceng pertanda jam istirahat pun telah dibunyikan, murid murid berhamburan keluar dari kelas masing masing. Kelas Heri yang lebih dekat jaraknya dengan kantin memudahkan rencananya untuk mencegat Intan disana.


Tampak Intan berjalan beriringan bersama Dita dengan canda tawa menuju ke kantin sesuai kebiasaan mereka.


Heri pun mulai merapalkan mantra dengan penuh konsentrasi, mantra yang dibaca tidak terlalu panjang, hanya saja harus diulang sebanyak 7 kali. Ditangan kanan nya menggenggam rajah pemberian dari dukun pelet.


Saat jarak mereka semakin dekat, Intan merasakan pergelangan tangan kanan nya menjadi hangat, tapi Intan tidak terlalu mempedulikannya. Dia lebih fokus kepada Heri yang tampak aneh tidak seperti biasanya.


Setelah mantra selesai dibaca sebanyak 7 kali, dia meniupkan ke rajah di genggamannya, lalu dengan penuh percaya diri Heri melempar kain putih berisi rajah itu ke tubuh Intan.


Ekspresi wajah Intan langsung berubah drastis begitu terkena lemparan rajah yang sudah dimantrai oleh Heri tersebut.


"Kamu apa apan mas...!!! Ga sopan amat sama cewek, maksud kamu apaaa....dasar mesum kamu...!!


Intan tampak begitu murka karena Heri melempar sesuatu tepat mengenai dada nya, lalu memaki maki Heri dengan suara lantang, bahkan semua mata tertuju kepadanya.


Heri hanya diam membisu seolah tidak percaya kalau ilmu peletnya sama sekali tidak mempan terhadap Intan.


"Mm..maaf....aku tidak sengaja..."


Heri kembali menanggung malu untuk kedua kalinya. Dia meninggalkan begitu saja Intan yang masih melotot dengan penuh amarah.


Raka pun tampak mengamati dari kejauhan saat Intan ngamuk ngamuk di depan kantin. Namun pandangan Raka hanya tertuju pada gelang di tangan kanan Intan.


Gelang itu tampak mengeluarkan aura tipis yang tak kan mampu tertangkap oleh mata biasa. Raka pun penasaran dengan sesuatu yang dilempar oleh Heri.


"Udaaah...jangan marah marah...malu tuh dilihatin banyak orang..."


Ucap Raka yang tiba tiba datang sambil mengambil kain putih yang dilipat menjadi bentuk segi tiga.


"Gimana ga ngamuk, dia mesum kok..."


Jawab intan memancungkan bibirnya seperti lumba lumba.


"Yuukk...kita kembali ke kelas saja..."


Dita merangkul Intan dan membawanya masuk ke kelas.


Raka pun memilih untuk ke toilet, dia sangat penasaran dengan benda itu. Raka membuka lipatan kain itu, dan dilihat nya tulisan rajah yang membentuk suatu gambar. Raka sama sekali belum faham dengan hal hal seperti ini.


Guru...benda apakah ini...


Raka bertanya kepada gurunya melalui telepati.


Gagak Rimang tidak saja bisa mendengar pertanyaan Raka melalui telepatinya, pun dia juga bisa melihat apa yang sedang dilihat oleh Raka.


Hahahaha....itu rajah ilmu pelet rendahan, pantas saja pagar gaib dirumah Intan sama sekali tak tergores...


Jawab Gagak sambil tertawa mengejek. Dan Raka pun tampak tersenyum puas karena Heri gagal untuk kesekian kalinya.


Heri memilih untuk tidak kembali ke kelas, dia melompati pagar belakang sekolah dan langsung pulang dengan penuh kekecewaan dan kemarahan.


Sesampainya di kamarnya, dia meluapkan amarahnya menghantam kaca lemari nya.

__ADS_1


PRAAAANNNNGGG......


__ADS_2