
Latihan olah tenaga dalam pun dimulai, Raka yang sebelum sudah pernah dibuka sumbatan sumbatan di setiap titik chakra nya oleh kakek buyut nya jadi lebih mudah untuk mengolah tenaga dalam.
Pun sama halnya dengan Gagak Rimang, dia juga jauh lebih mudah melatih Raka.
"Ingatlah nak, semua ilmu kanuragan yang akan kamu kuasai nantinya pergunakanlah hanya untuk kebaikan. Semakin besar kekuatanmu, maka semakin besar pula tanggung jawab mu.."
Ucap Gagak Rimang menutup latihan. Raka pun mengangguk mengiyakan semua pesab gurunya.
"Paman guru, bolehkan suatu saat nanti Intan juga belajar padamu"
Tanya Raka pada gurunya. Namun Gagak Rimang hanya menjawab dengan senyuman ambigu.
"Kita pulang sekarang...."
Gagak Rimang meraih tangan Raka kemudian dalam sekejab mereka sudah kembali ke alam manusia.
...****************...
Sementara itu disebuah rumah di kompleks perumahan elite...
"Waaahh....mobil baru ya jeng...bagus banget, aku bahkan tidak mendengar suara mobilmu dari dalam.. "
Rita membukakan pintu menyambut teman nya, kemudian dia mendekati mobil baru yang dibawa teman nya dengan kagum.
"Iya jeng, mobil yang lama aku tukar tambah dengan yang ini, biar kita lebih nyaman kalau mau jalan jalan..."
Jawab wanita itu dengan senyuman sumringah. Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah Rita.
"Mbookkk...tolong buatkan minum seperti biasa..."
Teriak Rita kepada pembantu rumah tangganya. Dengan segera 2 gelas besar jus lemon tersaji di meja kaca.
"Eh jeng...sekarang kan kamu sudah kaya raya, apa masih perlu kamu rebut rumah itu, uangmu sekarang lebih dari cukup kalau cuma beli rumah mewah..."
Rita membuka obrolan.
"Memaaang sih jeng... Aku bisa saja beli rumah mewah sekarang, tapi tetap saja, rumah yang sekarang aku tinggali, dan rumah Subagyo itu harus jadi milik ku juga, aku sudah terlanjur sakit hati sama Subagyo..."
Jawab wanita itu lalu meminum jus lemon di depan nya.
"Meskipun dia dan istrinya juga sudah kubuat mati kecelakaan, tapi hatiku sudah terlanjur sakit, mungkin satu satu nya cara mengobatinya adalah merampas semua harta mereka yang tersisa..."
Lanjut wanita itu dengan nada emosi. Rita pun hanya mengangguk ngangguk.
"Eh jeng...sudah lama kita tidak main brondong, yuk mumpung kamu banyak uang kita senang senang..."
Ucap Rita yang kembali ke sifat iblisnya.
__ADS_1
"Kita sepemikiran jeng, niatku datang kesini tadi ya memang mau ngajak senang senang, hehehe...."
Jawab wanita itu dengan nada genit.
Tak lama kemudian Rita menelpon seseorang.
"Halo mas...tolong carikan 2 brondong, kamu sudah paham kan yang seperti apa yang aku mau. Nanti langsung saja ke hotel biasanya"
Rita pun menutup telpon nya, kemudian mereka berdua meluncur ke hotel langganan mereka.
Tak butuh waktu lama, merekapun sudah sampai di lobby sebuah hotel yang cukup mewah di kota itu. Resepsionis nya pun sudah sangat hafal dengan kedua wanita yang baru saja datang itu.
"Kamar biasanya kan nyonya...ini kunci kamarnya, selamat bersenang senang..."
Ucap resepsionis yang sudah sangat faham dengan kelakuan mereka berdua.
"Oh iya mbak, kali ini tamu nya 2 orang yaa, nanti tolong suruh langsung ke kamar saya, ini buat beli jajan..."
Ucap wanita itu sambil memberi tips 2 lembar uang pecahan 50 ribuan kepada resepsionis itu.
Sesampainya di dalam kamar, kedua wanita mesum itu langsung melepas baju luar mereka seakan tak sabar menunggu kedatangan tamu mereka.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. Dengan tergesa Rita membukakan pintu, seketika darahnya bergejolak melihat 2 orang pemuda bertubuh atletis di depan nya.
Setelah sedikit berbasa basi, 2 wanita itupun langsung pada acara inti. Cukup lama mereka ber empat bermain main di kamar, setelah hasrat 2 wanita itu terpuaskan, mereka pun pulang ke rumah.
...****************...
Susanto memarkir motornya di depan sebuah warung kecil di seberang jalan, dia memesan segelas kopi lalu hanya duduk menatap ke arah gerbang sekolah.
Setelah habis berbatang batang rokok, akhirnya tampak gerbang dibuka lebar seiring bunyi lonceng di dalam sekolahan.
Susanto menajamkan penglihatan memindai satu persatu siswi yang keluar dari gerbang. Selang beberapa saat, matanya menangkap seorang gadis yang berdiri di luar gerbang seperti sedang menunggu seseorang.
"Intan....syukurlah kamu baik baik saja sampai sekarang...maafkan paman nak...hanya dengan cara ini aku bisa menjagamu..."
Gumam Susanto lirih setelah melihat Intan di seberang jalan.
Tanpa disadari sudut mata Susanto mengeluarkan air mata yang buru buru di usapnya. Ingin sekali rasanya dia berlari menyeberang jalan, lalu memeluk keponakan nya itu.
"Mas, mbak...anak mu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, semoga kalian tenang disana...."
Gumam nya lagi. Sejenak dirinya seperti terbawa ke dalam kenangan masa lalu bersama almarhum kakak nya.
Tanpa disadari Susanto, Raka tanpa sengaja melihatnya, Susanto pun buru buru memalingkan wajahnya setelah dia sadar sedang diperhatikan Raka.
"Kamu lagi liatin apa sih Kaa.... Ditungguin dari tadi malah liatin warung mulu...."
__ADS_1
Ucap Intan dengan nada kesal.
"Ah itu...aku sepertinya pernah melihat orang yang di warung itu, tapi aku lupa...ah sudahlah, yuuk pulang jalan kaki saja..."
Balas Raka, kemudian mereka pun mengambil jalan pintas yang biasa mereka lalui.
"Aku semalam sudah menyampaikan keinginanmu kepada guruku.."
"Terus....apa jawaban beliau"
Sela Intan tak sabar.
"Beliau cuma tersenyum, ga ngerti apa maksudnya, trus aku disuruh pulang"
Jawab Raka datar.
"Masak cuma gitu sih, ga dijawab apapun.."
Sahut Intan dengan nada kecewa. Raka pun hanya mengangkat kedua bahunya.
Susanto yang sudah tenang melihat keponakannya baik baik saja, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kotanya.
"Dengan jarak sejauh ini, aku tidak mungkin sering kesini, semoga Tuhan senantiasa melindungimu nak..."
Batin Susanto. Lalu dia segera menaiki motornya.
Baru 5 menit berjalan kaki, Raka tiba tiba berhenti karena ingat sesuatu..
"Eh Ntan....aku lupa...aku harus nyusul ibu buat beres beres, kamu pulang naik angkot aja, aku mau ke warung ibuku"
Ucap Raka sambil menarik tangan Intan untuk berbalik arah.
"Dasar anak tidak berbakti...mosok ibunya dilupain..."
Jawab Intan meledek. Raka pun hanya cengengesan tertawa garing.
"Yuuk, sekali kali aku pengen juga bantuin ibumu, gapapa kaan... "
Tawar Intan sambil berjalan begitu saja mendahului Raka. Dan diapun hanya garuk garuk kepala tanpa bisa mencegah kemauan Intan.
Jarak dari sekolah sampai ke warung ibunya Raka tidak terlalu jauh, namun mereka memilih naik angkot agar lebih cepat sampai. Mereka khawatir kalau terlambat bantu beres beres di warung.
"Lhoo nduukk.... Kok ikut kesini, nanti dicari simbahmu lho.."
Ucap ibu Raka yang tampak terkejut dengan kehadiran Intan.
"Engga kok bu...simbah tadi bilang mau pergi kondangan, dari pada saya dirumah sendiri saya ikut Raka bantu beres beres..."
__ADS_1
Balas Intan dengan agak malu malu.
Setelah selesai, mereka bertiga pun pulang menaiki angkot, tak banyak perbincangan disana. Intan pun hanya diam menunduk sungkan.