
Di sebuah sudut cafe bergaya klasik...
"Jeng, dua hari lagi malam bulan purnama, kira kira aku nyari tumbal dimana yaa..."
Ucap seorang wanita kepada Rita sambil berbisik.
"Halaaah...gampang itu jeng, cari aja anak jalanan, banyak kok, pinter pinter kita aja jeng"
Sahut Rita sambil mengaduk gelas kopinya.
"Maksudnya gimana jeng, aku kurang paham.."
Wanita itu mendekatkan telinga ke arah mulut Rita.
"Ya kita pura pura baik aja, ajak masuk mobil, bilang aja mau dibeliin sembako atau apalah. Kita kasih minum tu orang, tapi campurin dulu obat penenang di botolnya, gampang kan..."
Jawab Rita masih dengan volume setengah berbisik, dan wanita itupun tampak sangat senang mendengar saran dari Rita.
Rita memang benar benar seorang teman berhati iblis dengan ide ide sadis nya yang tak pernah habis.
Setelah merasa cukup di cafe itu, mereka pun pulang.
...****************...
"Ayoo....mana janjimu..!! Katanya mau cerita, cepeeettt..."
Intan yang sudah beberapa saat menunggu Raka di depan gerbang sekolah langsung meraih tangan Raka dan menarik nya.
Raka pun memilih untuk menuruti kemauan Intan, dilihatnya sahabatnya itu sudah agak di tekuk tekuk mukanya.
"Bentaarr....jajan es dulu, aku haus banget.."
Jawab Raka lalu berhenti di sebuah warung. Dia memesan dua cup jus mangga, setelah selesai dibuatkan, mereka berduapun melanjutkan perbincangan.
Raka menoleh ke segala arah memastikan tidak ada seorangpun yang mendengar percakapan mereka kecuali Intan.
"Jadi kemarin itu mas Heri cuma pura pura baik sama aku, dia berencana memberiku obat pencahar di acara api unggun.."
Raka mulai bercerita.
"Pencahar itu apaan sih Kaa...Semacam racun gitu yaah.."
Sela Intan yang tampak sangat memperhatikan cerita Raka.
"Hahaha....bukan lumba lumbaaa...pencahar itu obat cuci perut, kalau orang lagi sembelit, minum itu, biar lancar..."
Jawab Raka meledek. Intan pun benar benar memajukan bibirnya bak lumba lumba.
"Kalau ga lagi sembelit, trus minum itu.. "
__ADS_1
Intan mencoba menganalisa sambil menyedot jus mangganya.
"Betulll....isi perutnya akan dikuras habis, keluar semua kayak mereka kemarin.."
Raka masih mencoba menggiring untuk mengalihkan pembicaraan, seperti yang dia biasa lakukan.
"Looohh....terus bagaimana cerita nya bukan kamu yang mules tapi mereka.."
Kali ini Intan tidak terpancing, Raka pun hanya tersenyum kecut dibuatnya.
"Aku ditolong guru ku lagi, hehehe...."
Jawab Raka kikuk.
"Jelaskan dengan detail, please...."
Intonasi dan gestur Intan, mau tidak mau membuat Raka tidak bisa berkelit lagi. Dia pun menceritakan semuanya dengan detail.
Tidak seperti sebelum sebelummya, kini Intan sudah tidak lagi heran dengan cerita aneh dari Raka, pun dia juga sudah mengalaminya sendiri.
"Sukuriin lah mereka berdua, jadi orang jahat amat..."
Sahut Intan sambil tertawa cekikikan.
Sementara itu Heri dan Bambang memilih untuk tidak masuk ke sekolah, mereka benar benar tidak punya muka untuk berangkat.
...****************...
Tanggal 15 kalender jawa pun tiba, artinya nanti malam adalah malam bulan purnama. Wanita setengah baya itu baru saja selesai menyiapkan kamar belakang yang dulunya ditempati mbok Yem.
Ada nampan berisi kembang setaman, lalu beberapa dupa lidi, dan sebuah bejana lumayan besar terbuat dari tembaga dengan penutup kain warna hitam diatasnya.
Wanita itu segera bergegas keluar mengendarai mobil menuju sekitaran alun alun, tak lupa dia membeli obat penenang dan dimasukan ke dalam botol air mineral.
Beberapa lama dia berkeliling, tidak juga menemukan anak jalanan, hanya gelandangan dan pengemis yang usianya sudah tua, dia ragu untuk membawa salah satunya.
"Kalau aku kasih tumbal orang yang sudah tua, apa mau... Mending muter lagi aja lah..."
Gumam wanita itu, lalu berputar mengambil jalur lain, dengan harapan bisa menemukan tumbal yang sesuai.
Sesampainya di sebuah lampu merah, wanita itu melihat seseorang dengan riasan yang cukup menor, tank top ketat dan rok mini dengan warna sepadan, mungkin umurnya belum ada 25 tahun. Seketika senyuman jahat terukir di bibirnya.
"Mbak, kamu melayani tante tante ga, kalau mbak mau ayo masuk, aku kasih bayaran lebih.."
Ucap wanita itu sambil menunjuk kan uang yang cukup banyak dari dalam kaca mobil.
Melihat uang yang sangat banyak, kupu kupu malam itu pun langsung mengiyakan dan bergegas masuk ke mobil sebelum lampu merah berubah menjadi hijau.
"Aku tinggal sendirian di rumah, kita kerumahku saja, biar aman..., nama kamu siapa.."
__ADS_1
Ucap wanita itu berbasa basi, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Saya ikut gimana tante saja...saya Weni"
Jawab cewek menor tadi sambil menghitung lembaran uang berwarna biru.
"Ah iyaa...ini silahkan diminum, maaf hanya air putih, nanti dirumah kalau mau minum yang mahal semua ada di kulkas..."
Wanita itu menyerahkan sebotol air mineral yang sudah disuntik kan obat penenang. Tanpa curiga pun si kupu kupu malam membuka dan meminumnya sampai setengah botol.
Pun sama halnya si wanita itu, dia juga meminum air mineral dari botol yang berbeda, dan itu sangat berhasil mengelabuhi Weni tanpa dicurigai.
Pandangan Weni tiba tiba kabur, dia merasakan kantuk yang sangat hebat. Dan hanya butuh beberapa menit obat penenang tersebut bekerja dengan sempurna, si kupu kupu malam tertidur sangat pulas bagai orang pingsan.
Setelah mengetahui calon korban nya tak sadarkan diri, wanita itu melajukan mobilnya lebih cepat, dia khawatir efek dari obat penenang tersebut hanya bertahan sebentar.
Setelah kurang dari setengah jam, sampailah wanita itu di depan rumah nya. Buru buru dia memasuk kan mobilnya lalu menutup pintu garasi rapat rapat.
"Aaahh.... Harusnya tadi aku ajak Rita, biar bisa bantu angkat cewek ini...."
Wanita itu tampak kesulitan mengeluarkan tubuh Weni dari mobilnya, meskipun tubuhnya lumayan ramping tapi tetap saja menyulitkan dia untuk mengangkatnya sendirian.
Akhirnya Wanita itu menyeret Weni sampai ke kamar, lalu diangkatnya dia ke atas kasur yang sudah diberi alas sprei berwarna hitam pekat.
Pakaian Weni ditanggal kan semua tak menyisakan sehelai benang pun, lalu dimasuk kan semua pakaian nya ke dalam kantong plastik.
Dupa pun dibakar menimbulkan aroma yang menyengat di seisi kamar persembahan tersebut.
"Terimalah tumbalku.."
Ucap wanita itu lalu keluar dari kamar dan menguncinya dari luar, kini dia tinggal menunggu apakah ritualnya akan berhasil atau tidak.
Tiba tiba angin dingin berhembus berputar putar di dalam kamar, perlahan muncul asap hitam yang kemudian berkumpul menjadi wujud sesosok makhluk mengerikan.
Gggrrrr......
Makhluk itu menyeringai kemudian seperti menerkam Weni yang masih belum pulih kesadarannya. Dijilati seluruh tubuh Weni oleh makhluk itu, tampak kini Weni bermandikan air liur yang sangat menjijikkan.
Setelah puas menjilati, makluk itu lantas menggagahi Weni dengan sangat brutal menimbulkan suara suara yang sangat berisik, darah mengalir lumayan banyak dari bagian intimnya meskipun saat itu Weni tak bisa merasakan apapun.
Kurang lebih 1 jam makhluk itu menyiksa bagian vital Weni, dan sebagai penutup, leher jenjang Weni digigit dengan taring panjangnya, lalu dihisap darah Weni sampai habis. Weni kini benar benar sudah tidak bernyawa.
Makhluk mengerikan itu pun kembali berubah menjadi asap hitam, dan lalu hilang memudar bersama angin dingin yang kembali berhembus di dalam kamar.
Setelah menunggu cukup lama, dan terdengar tidak ada lagi suara suara apapun, Wanita itupun membuka pintu kamar dan segera masuk.
Bukan Weni yang menjadi tujuan utama, tapi bejana tembaga bertutup selembar kain hitam itu segera ia buka dengan tergesa.
Akuuu....kayaaaa.....!!!!
__ADS_1