RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 46


__ADS_3

Liburan telah usai, merekapun kembali masuk sekolah.


“Sekarang sekolah ada satpam nya segala…keren eh sekolahan kita…”


Ucap intan kepada Raka setelah sampai di depan gerbang sekolah.


“Tapi ada yang aneh Ntan, aku merasakan aura yang lumayan kuat dari satpam itu…”


Balas Raka sambil melihat ke arah satpam baru yang sedang berjaga di depan gerbang.


“Ya mungkin saja pihak sekolahan sengaja merekrut satpam yang ahli bela diri Kaa…”


Jawab Intan enteng. Raka hanya manggut manggut mendengar jawaban Intan yang cukup masuk akal.


Saat Raka dan Intan masuk lewat persis di depan satpam itu, pria muda tersebut tampak tersenyum ramah.


“Benarkah anak ini yang dimaksud oleh Nyonya Widyowati…aku sama sekali tidak merasakan aura mereka…”


Batin Satpam yang ber-nametag Joko Sutrisno. Entah itu nama asli atau nama samaran.


Tentu saja Joko tidak akan bisa merasakan aura yang dimiliki oleh Raka lebih lebih aura mengerikan Intan, setelah kejadian tempo hari, Gagak Rimang menutup aura Raka.


Sedangkan aura Intan hanya dapat dirasakan saat dia benar benar sedang murka, bahkan Chandra yang begitu sakti saja tidak mampu mendeteksi aura Intan saat dia belum murka.


Tentu saja tidak semua pengikut keluarga Kartawiharja setia, ada beberapa orang yang sengaja di taruh disitu sebagai mata mata. Ada pula yang hanya berniat menjual informasi demi uang semata.


Maka tak butuh waktu lama, para utusan dari musuh musuh maupun saingan klan Kartawiharja berdatangan dengan berbagai penyamaran.


Ada yang tiba tiba berjualan di depan sekolahan, ada pula yang berjualan bakso keliling dengan gerobak masuk sampai gang.


Tentu saja kebanyakan dari mereka mengutus orang orang pilihan yang bahkan mampu menyembunyikan auranya.


Namun sampai sekarang, mereka tidak ada pergerakan. Mereka hanya ditugaskan untuk mengawasi dan lalu melaporkan kepada atasan. Mereka pun sama sekali tidak mau mengambil resiko.

__ADS_1


Sementara itu, tanpa sepengetahuan ayah dan kakaknya Indra mendatangi sekolahan Raka dengan menggunakan motor sport yang baru saja dia beli. Dia mengenakan helm full face berkaca hitam, dan menyembunyikan aura nya agar tidak dicurigai siapapun.


Namun bukan Raka tujuan Indra, dia hanya ingin menemui Intan. Indra terpesona dengan gadis manis itu, bahkan saat Intan murka menampakkan keganasannya, justru menjadikan Indra semakin jatuh hati pada Intan.


...****************...


Gagak Rimang atas saran dari Sekar, mulai melatih Raka dengan porsi lebih. Kekuatan kekuatan besar mulai mengincarnya.


"Mulai sekarang latihan kita akan lebih keras, aku melihat mu kemarin sangat kewalahan menghadapi pria dengan pedang itu..."


Ucap Gagak mengawali latihan.


"Maaf mengecewakan anda guru..."


Jawab Raka dengan menunduk.


Lalu Gagak Rimang pun menggembleng Raka lebih keras. Kini tugas Gagak Rimang menjadi lebih berat. Selain melatih Raka, dia juga harus mengawasi mata mata yang entah utusan dari klan mana.


Gagak Rimang juga hanya makhluk yang butuh hiburan. Suatu malam dia melihat seorang tukang bakso yang sangat mencurigakan di sekitar rumah Raka.


"Sedang mencari seseorang..?"


Tanya Gagak yang tiba tiba berada dibelakang tukang bakso itu.


Tukang bakso tersebut sudah sangat terlatih, dia sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Meskipun dalam hatinya sangat ngeri ketika dia membalikan badannya, ia melihat seorang pria berkulit gelap dengan postur tubuh nyaris sempurna.


Sorot mata Gagak Rimang dalam wujud manusia sangat mengintimidasi.


"Iya mas...dari tadi nyari pembeli tidak ada mas... Masnya mau beli bakso..?"


Balas tukang bakso itu sambil berusaha keras menutupi kegugupannya.


Slaaappp.....

__ADS_1


Gagak Rimang hanya tersenyum sinis lalu hanya sekedipan mata, dengan ilmu teleportasinya Gagak Rimang membawa tukang bakso beserta gerobaknya ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni di tengah samudra.


"Kamu sudah berbohong, maka ini hukuman mu..."


Ucap Gagak Rimang dengan tertawa kecil.


Mungkin dengan kejahilan nya seperti ini bisa menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Dimana ini....kenapa ada suara ombak..."


Tukang bakso itu sangat bingung mendapati dirinya tiba tiba berada di sebuah tempat berpasir, dan suara ombak memghantam bebatuan karang.


"Nanti saat pagi tiba kamu juga akan tahu..."


Sahut Gagak Rimang dengan tawa mengejek.


Tukang bakso tersebut mengambil senter lalu melihat sekelilingnya, setelah dia menyadari bahwa dirinya beserta gerobak baksonya dipindah oleh pria misterius itu ke pinggiran pantai, tukang bakso itupun langsung bersujud memohon ampun kepada Gagak Rimang untuk dikembalikan ke tempat semula.


"Aku bisa saja membawamu beserta gerobakmu ke dalam kawah gunung berapi, tapi aku masih cukup berbaik hati dengan membawamu kesini..."


Gagak Rimang tampaknya ingin mengerjai tukang bakso tersebut.


"Maafkan saya Tuan...saya hanya menjalankan perintah majikan saya..."


Ucap pria itu masih dalam posisi duduk bersimpuh dengan muka memelas. Dia sangat faham bahwa mustahil bisa mengalahkan pria berkulit gelap itu, maka pilihan satu satunya hanya mengharap ampunan dari Gagak Rimang.


"Dengarkan aku baik baik...jika saja aku mau menentang perintah guruku, aku bisa saja menghabisi seluruh anggota klan mu dalam satu malam, mungkin suatu saat nanti..."


Kini ucapan Gagak Rimang benar benar menipiskan harapan mata mata tersebut.


"Saat kau berhasil keluar dari pulau ini, sampaikan semua kata kataku pada majikanmu, selamat menikmati keindahan pantai ini...."


Lalu Gagak Rimang menghilang begitu saja meninggalkan tukang bakso yang berteriak teriak frustasi sambil memukul mukul pasir di depannya.

__ADS_1


"Perasaan tadi ada yang jualan bakso di depan, kemana dia, cepet amat perginya...."


Gumam Raka celingukan sambil membawa sebuah mangkok ditangannya.


__ADS_2