RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 48


__ADS_3

Purnomo salah sangka, dia mengira salah satu anak buahnya hilang oleh anggota klan Kartawiharja.


Beberapa anggota pilihan pun langsung meluncur ke lokasi, mereka akan mempelajari kebiasaan Raka selama beberapa hari ke depan.


Malam ini latihan rutin Raka dengan Gagak Rimang kembali kedatangan kakek buyutnya, Suryo Buwono dan Guntur Jalamangkara.


"Kurasa sudah saatnya aku menurunkan jurus Tinju matahari ku kepadamu. Yang sudah diajarkan oleh Gagak Rimang adalah pondasinya saja, sekarang bersiaplah..."


Ucap Suryo Buwono kepada Raka.


Suryo mengalirkan sebagian energinya ke tubuh Raka, agar semua titik chakra nya bisa terbuka. Energi dari keris pusaka yang sudah menyatu di tubuh Raka sangat mempermudah Suryo.


Raka menyimak dengan seksama setiap detail teknik maupun gerakan yang dicontohkan oleh kakek buyutnya.


"Ingat...ini bukan soal besar tidak nya energi yang kamu keluarkan, tapi keseimbangan energimu di setiap titik chakra mu..."


Suryo Buwono memperingatkan Raka saat dirinya mempraktek kan apa yang sudah dicontohkan oleh nya.


Karena sudah pernah diajarkan teknik dasar sebelumnya, Raka lebih cepat menguasai jurus yang diturunkan oleh Suryo.


Setelah semua tahapan dilalui, di kepalan tangan Raka perlahan muncul cahaya berwarna keemasan yang menyilaukan. Jika sebelumnya berwarna putih, maka setelah ada keris pusaka ditubuhnya cahaya itu berwarna keemasan.


Perlahan cahaya di kepalan tangan nya semakin membesar, dan tampak tubuh Raka bergetar menahan aliran energi yang cukup dahsyat itu.


"Cukuuppp....tarik energimu....!!"


Teriak Suryo. Dan seketika itu Raka menarik energi dari tangan nya.


"Apakah ada teknik yang salah kek.."


Tanya Raka sambil mengatur kembali nafasnya yang agak ter engah engah.


"Kamu terlalu banyak mengalirkan energi di tanganmu, sehingga membuat titik lain di tubuhmu sangat rentan. Ulangi lagi dari awal.."


Tampaknya Suryo menginginkan cucu buyutnya untuk segera menguasai tinju matahari. Diapun tahu bahwa saat ini banyak bahaya yang mengincarnya.


Setelah sekian kali percobaan, akhirnya Raka berhasil mengontrol keseimbangan energinya. Meskipun pukulan tinju mataharinya belum mampu untuk sekedar menghancurkan sebuah batu.


"Tampaknya kamu juga butuh senjata, aku pinjamkan tombak bermata tiga kepadamu..."


Guntur Jalamangkara mengangkat tangan kanannya dengan posisi terbuka, lalu terlihat kilatan cahaya memanjang berwarna biru gelap di tangan Guntur, dan tiba tiba cahaya itu berubah menjadi menjadi sebuah tombak berwarna biru pekat dengan ujung berbentuk trisula.


Sroookkk.....


Guntur menancapkan mata tombak itu ke sebuah batu besar dihadapan mereka.


"Menggunakan tombak ini butuh energi yang sangat besar, berlatihlah lebih keras untuk meningkatkan energimu. Aku tinggalkan tombak ini disini, semoga kau dapat segera mencabutnya..."


Lanjut Guntur. Lalu dia dan Suryo Buwono pamit dan menghilang begitu saja dari pandangan.

__ADS_1


Kini semua tugas diserahkan kepada Gagak Rimang, dia akan sangat sibuk kedepannya.


"Ber meditasi lah, energi yang diberi oleh Tuan Suryo, serta energi dari keris pusaka di tubuhmu seharusnya membuatmu lebih mudah untuk meningkatkan kekuatanmu.."


Perintah Gagak Rimang dengan nada tegas.


Raka pun lalu bermeditasi sesuai perintah gurunya, tampak aura tipis menyelimuti seluruh tubuhnya.


...****************...


Sementara itu para utusan dari klan Sastrowardoyo sudah mengatur cara agar dapat menculik Raka.


Dengan dana operasional yang melimpah, mereka membeli sebuah angkot. Mereka akan menyamar sebagai sopir dan penumpang.


Sementara anggota lain nya membuat angkot langganan Raka tidak bisa beroprasi selama beberapa hari. Tibalah hari eksekusi.


"Ayo deek...angkot langgananmu ga berangkat, lagi di bengkel..."


Ucap sopir angkot gadungan itu dengan ramah.


Raka dan Intan pun percaya begitu saja, pun jam sudah mepet. Mereka harus segera sampai di sekolahan.


Didalam angkot ada 2 wanita muda yang berpura pura sebagai penumpang.


Setelah Raka dan Intan menaiki angkot tersebut, 2 wanita tadi langsung menembakkan obat bius dosis tinggi. Bahkan cukup satu dosis tembakan saja mampu menidurkan seekor gajah.


Intan yang hanya gadis biasa langsung tertidur pulas, sedangkan Raka sempat memberikan sedikit perlawanan namun rasa kantuk yang begitu hebat tak mampu dilawannya, akhirnya dia tertidur juga.


Salah satu anak buah Widyowati yang mengetahui kalau Raka dan Intan dibawa sebuah angkot, langsung mengirimkan pesan berantai kepada Widyowati dan semua anggotanya yang berada di sekitar lokasi tersebut.


Mereka pun bergerak sangat cepat langsung mengejar angkot ke arah solo. Sedangkan Widyowati langsung menghubungi salah seorang polisi dengan jabatan yang lumayan tinggi.


"Siaall...!! Mereka meninggalkan angkot nya disini...!!"


Gerutu salah satu anak buah Widyowati yang berhasil mengejar, namun hanya menemukan angkot kosong di pinggir jalan.


Gagak Rimang yang merasakan aura Raka menjauh dari area sekolah langsung curiga dan melesat mencari keberadaannya. Melihat situasi di sekitar mobil yang membawa Raka lumayan ramai dan begitu mencurigakan karena terdapat puluhan orang dengan aura lumayan kuat, Gagak Rimang memilih untuk sekedar mengawasinya dan menunggu saat yang tepat untuk menyelamatkan Raka.


"Ada apa inii...kenapa banyak polisi di depan..."


Gerutu sopir yang membawa Raka dan Intan. Tampak beberapa mobil berhenti di depan nya, dan belasan polisi lalu lintas tampak begitu sibuk mengatur jalur sebaliknya.


"Kita putar arah..cepat...!!"


Perintah pria yang duduk di kursi belakang.


Belum juga si sopir menginjak pedal gas nya, dari belakang sudah ada mobil yang menempel. Kini mobil mereka sudah tidak bisa kemana mana.


"Selamat pagi Pak, mohon maaf jalur kami alihkan. Di depan ada kecelakaan beruntun, dan harus menunggu kedatangan alat berat.."

__ADS_1


Ucap seorang dengan seragam polisi lalu lintas.


Tentu saja polisi itu bohong, dia mendapat instruksi dari atasannya untuk mengalihkan jalur karena dicurigai ada upaya tindak penculikan.


Anak buah Sartro Wardoyo itupun hanya bisa menggerutu sambil memukul mukul stir mobilnya dengan frustasi.


Deretan belasan mobil itu dialihkan ke sebuah jalan alternatif yang sempit, dan mobil penculik Raka tepat berada di tengah.


Sesampainya di titik lokasi yang ditentukan oleh ketua tim Kartawiharja, mobil paling depan berhenti. Mobil anak buah Sastrowardoyo pun terkunci di tengah tengah.


"Kita dijebak, jadikan kedua anak ini sebagai sandra...!!"


Ucap ketua tim penculikan dengan geram karena baru menyadari bahwa mereka sedang dijebak oleh musuh.


Dengan segera semua anak buah Widyowati turun dari mobil mereka sambil mengeluarkan aura masing masing.


Salah seorang lagi naik di atas kap mobil sambil berteriak memgintimidasi.


"Serahkan kedua anak itu, maka akan kami biarkan kalian pulang dengan selamat...!!"


Bukan jawaban yang didapat, namun sebuah peluru tajam meluncur menembus kaca mobil lalu menyasar pria itu.


Dooorrr......Tiinng.....


Peluru dari senapan laras panjang itu tepat mengenai dahi pria di atas kap mobil itu, namun peluru itu seperti menghantam baja super keras dan terpantul begitu saja.


"Biarkan kami pergi atau kubunuh mereka berdua...!!"


2 orang pria dan wanita keluar dari mobil sambil menodongkan pistol di kepala Raka dan Intan. Hanya ini satu satunya peluang mereka untuk lolos.


"Kau kira setelah kau bunuh bocah itu, Pimpinanmu akan membiarkanmu hidup, penculik amatiran seperti kalian tak akan bisa mengelabuhi aku..."


Sahut pria di atas kap mobil itu sambil tertawa mengejek.


Tampaknya gertakan mereka sama sekali tidak berhasil. Dan perkataan pria itu sangatlah benar, misi mereka adalah membawa kedua anak itu dalam keadaan hidup.


"Sial...tidak ada cara lain, kita harus bertarung dan mengalahkan mereka..."


Ucap salah satu wanita penculik lalu mencabut sebuah katana dengan aura yang cukup kuat. Wanita satunya pun meletakkan kembali Intan ke dalam mobil dan melakukan hal yang sama dengan rekan nya.


Kedua wanita ini terkenal dengan julukan pedang iblis kembar.


Anak buah Widyowati yang mengetahui reputasi kedua wanita itupun langsung siaga dengan mengeluarkan senjata senjata mereka dengan aura yang berbeda beda.


Hemmm.....sungguh menarik....kedua bocah itu jadi rebutan....


Gumam Gagak Rimang dari sebuah pohon tak jauh dari situ, dirinya sama sekali tidak menyangka situasinya akan seperti ini.


Diawali dengan sebuah teriakan salah satu wanita dengan katana, maka pecahlah pertempuran.

__ADS_1


Bunuuh merekaaa....!!


__ADS_2