
Tak terasa kini Raka dan Intan sudah masuk SMA, mereka berada di sekolahan yang sama namun kali ini beda kelas. Merekapun tetap berangkat dan pulang bersama, meskipun tak jarang salah satu dari mereka menunggu jam kepulangan yang kadang tidak sama.
"Kaa, aku mau ikut ekstrakulikuler bela diri, kamu ikut juga yah, biar aku ada temen nya"
Ucap intan di sela perjalanan pulang dari sekolah. Raka tampak mengetuk ngetuk kening dengan jarinya.
"Nanti kalau kamu kena pukul kira kira nangis ga yaa"
Balasan Raka justru membuat Intan tertawa.
"Ya jangan sampai kena pukul lah, nanti aku minta sabungnya sama kamu aja, jadi kamu yang aku pukulin"
Raka hanya garuk garuk kepala mendengar jawaban Intan. Di sekolah tersebut, ekstra kulikuler adalah sebuah kewajiban bagi siswa, mereka dipersilahkan memilih sesuai keinginan mereka.
Setelah masuk SMA, Intan menampak kan perubahan yang cukup banyak, tentu saja dari bentuk tubuhnya. Pun dari wajahnya, kini tampak lebih cantik seiring pertumbuhan nya. Hal tersebut menjadikan Intan banyak didekati oleh kakak kelas, hal yang sangat wajar di sekolah manapun, siswi baru selalu dilirik oleh para senior mereka.
Singkat cerita, mereka berdua pun memilih mengikuti ekskul bela diri, latihan perdana pun dimulai. Hanya latihan dasar, yaitu peregangan otot, dan berlari mengelilingi lapangan di dalam sekolah.
Minggu selanjutnya baru mereka dilatih dasar dasar ilmu bela diri, Raka tampak paling menonjol diantara semua siswa, maklum saja, sudah tahunan dia dilatih oleh Gagak Rimang.
Berbanding terbalik dengan Intan, dia tampak sangat kikuk dalam setiap gerakan nya. Intan terlalu gemulai untuk belajar bela diri, mungkin dia lebih cocok ikut ekskul menari.
Raka sebenarnya berusaha untuk menyembunyikan kemampuan bela diri nya, namun terkadang dia mengeluarkan kemampuannya tanpa sadar.
Tak hanya saat memakai seragam sekolah, saat mengenakan Dobok (baju taekwondo) pun Intan begitu menarik perhatian. Heri, salah satu siswa kelas 3 bersabuk biru itu tak pernah lepas memperhatikan Intan yang sedang berlatih.
Seusai latihan, saat Raka pamit ke toilet, Heri pun mencoba mendekati Intan.
"Ntan, kamu sama Raka pacaran yah, kulihat kalian deket banget, berangkat dan pulang pun selalu bersama"
Selidik Heri. Dia pun menawarkan untuk mengantar Intan pulang.
"Kebetulan rumah kami dekat mas, dan sejak dari SD kami selalu satu sekolahan, jadi ya gt, kami memang deket"
Jawab Intan sambil memijit mijit betisnya yang terasa linu.
"Ayo Ntan kita pulang"
Tiba tiba Raka sudah datang dan mengajaknya pulang. Tampak Heri tidak suka dengan kedatangan Raka, saat mereka berpamitan pun, Heri tampak mengabaikan Raka.
__ADS_1
Mereka pun pulang dengan masih mengenakan dobok nya, menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi anak anak seusia mereka bisa memakai seragam yang tampak sangat keren tersebut.
"Tadi mas Heri nanya nanya, dikiranya kita pacaran"
Intan membuka percakapan diantara mereka.
"Trus kamu jawab apa"
Balas Raka penasaran. Dia pun merasakan ketidak sukaan Heri padanya.
"Ya aku jawab apa adanya lah, kita kan memang deket sejak masih SD"
Jawab Intan dengan masih menyisakan sifat judesnya.
"Kayaknya dia suka sama kamu Ntan, dari awal kita latihan, dia selalu ngliatin kamu"
Raka mulai menduga duga sambil sedikit cengengesan.
"Ya biarin aja dia mau suka ke aku"
Kali ini jawaban Intan membuat hati Raka sedikit panas, dia hanya garuk garuk kepalanya sambil tersenyum kecut.
Ucap Suryo sambil tertawa pelan kepada Guntur yang kebetulan sedang memantau Raka.
"Firasatku, hubungan mereka akan penuh drama kedepannya"
Guntur pun menjawab disertai tawa kecilnya.
"Tadinya aku berniat untuk mulai mengajarkan kepada dia sedikit ilmu kesaktian, tapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat"
Lanjut Suryo dan diangguki oleh Guntur.
"Apakah Anda tidak berniat memberikan juga sedikit kelebihan kepada gadis itu? Kurasa akan sedikit meringankan tugas cucu mu"
Guntur mencoba menyampaikan pendapatnya, namun dibalas gelengan kepala oleh Suryo.
"Tidak untuk sekarang, tapi mungkin aku berubah pikiran suatu saat nanti"
Jawab Suryo penuh keraguan. Guntur pun sangat paham dengan apa yang dimaksud Suryo.
__ADS_1
Seminggu berlalu dengan cepat, kembali Raka dan Intan berlatih taekwondo. Setelah beberapa saat, pelatih tidak juga datang, lalu datang pihak sekolah mengatakan bahwa pelatih ijin tidak bisa datang hari ini. Lalu pihak sekolahan pun berinisiatif agar para senior yang melatih para adik juniornya.
Heri tampak bersemangat sekaligus pongah diberi tanggung jawab melatih adik adik kelasnya, dan tentu saja bisa menjadi ajang cari perhatiannya Intan.
"Hari ini saya akan memberi contoh bagaimana menyerang dan bagaimana bertahan, Raka..! Silahkan maju"
Tanpa diduga Heri melampaui wewenangnya, seharusnya dia hanya diperbolehkan melatih fisik saja. Namun rasa ketidak sukaan nya kepada Raka membuat dia lalai.
Raka pun maju menuruti permintaan Heri, pun sama halnya dengan Heri, Raka juga tidak menutup nutupi ketidak sukaannya kepada Heri.
"Adik adik perhatikan ya, bagaimana menyerang dan bagaimana bertahan. Raka, bersiaplah!"
Heri menganggap ini adalah kesempatan yang tepat untuk menjatuhkan mental Raka, dengan begitu, dia akan leluasa mendekati Intan.
Heri mulai melayangkan tendangan kearah kepala Raka, meskipun dia belum menggunakan banyak tenaga, dia terlalu meremehkan Raka.
Raka pun dengan mudah menghindar maupun menangkis setiap serangan Heri, namun Raka belum sedikitpun melakukan serangan balik. Intan tampak memperhatikan dengan cemas dari pinggir lapangan.
"Tadi baru pemanasan, sekarang saatnya Kyorugi (sabung) bersiaplah!"
Kini Heri benar benar terbawa emosi, dia bermaksud menghajar Raka dengan dalih sabung.
Heri kembali melayangkan tendangan tendangan berbahayanya, dan kepala Raka yang selalu menjadi sasarannya. Raka hanya menangkis sejauh ini, hingga akhirnya Doni tampak mencoba memukul wajah Raka dengan sepenuh tenaga.
Dheesss....!!
Kaki Raka secepat kilat menendang dagu Heri, sejenak kesadaran nya seperti hilang begitu saja, dia terjatuh dengan mata terpejam.
Para senior lain nya pun melongo melihat Heri yang dikenal sangat jago, tumbang hanya dengan sekali serangan.
"Latihan hari ini cukup sampai disini, kalian boleh pulang.!"
Kata salah satu senior lainnya mencoba menyelamatkan harga diri Heri.
Syukurlah hanya sebuah tendangan kecil...
Gumam Gagak Rimang dari kejauhan. Dari tadi dia sangat khawatir kalau kalau Raka terbawa perasaan dan menghajar habis habisan seniornya.
Gagak Rimang tahu betul Heri sama sekali bukan tandingan Raka.
__ADS_1