
Maafkan aku nak....kejadian tadi terjadi begitu cepat....
Gagak Rimang mengelap darah yang keluar dari pelipis Raka, kemudian dia membuat ramuan entah dari apa, di tumbuknya sampai halus dan di balurkan ke luka.
Lalu Gagak mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Raka, agar dia dapat segera pulih dari luka lukanya. Setelah beberapa saat, Raka sadar dari pingsan nya.
"Paman guru....dimana Intan...bagaimana keadaannya..."
Raka memegangi pelipisnya, dia masih merasa pusing akibat benturan yang dialaminya.
"Dia di situ, dia baik baik saja, hanya pingsan, kamu melindunginya dengan baik"
Jawab Gagak sambil masih mengalirkan tenaga dalam kepada Raka. Sementara Intan dibiarkan saja dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Sekarang bermeditasilah, atur nafasmu dan seimbangkan aliran energimu, kamu akan pulih jauh lebih cepat"
Raka pun langsung melakukan perintah gurunya, dia sudah pernah berlatih ini sebelumnya.
"Di...dimana aku..."
Intan tersadar dari pingsan nya. Saat membuka matanya, intan di suguhi pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Apakah ini surga...sungguh indah sekali tempat ini, apakah aku sudah mati..."
Intan menepuk nepuk pipinya pelan, dia masih belum berada dalam kesadaran penuh. Ditambah pemandangan yang begitu Indah membuatnya berfikir bahwa dia sudah mati dan saat ini dia berada di surga.
"Kamu belum mati nak, selamat datang di tempatku"
Spontan Intan menoleh ke sumber suara, di lihatnya seorang pria kekar berkulit gelap dengan sorot mata yang begitu tegas. Intan pun kaget dan beringsut mundur.
"Si..apa.. An...da...."
Tanya Intan terbata bata. Intan masih berusaha keras mengembalikan kesadarannya.
"Bukan kah tadi aku mengalami kecelakaan, lantas kenapa aku bisa ada disini..."
Intan tampak semakin bingung, Ia hanya menatap Gagak Rimang menunggu jawaban dari mulutnya.
"Rakaaa.....dimana dia...apakah dia baik baik saja.."
Intan teringat pada sahabatnya, pandangan nya belum beralih dari Gagak Rimang.
__ADS_1
"Dia baik baik saja, lihatlah di bawah pohon itu, dia sedang memulih kan luka lukanya..."
Gagak Rimang menunjuk sebuah pohon tak jauh dari sana. Intan pun langsung berlari menghampiri Raka, dia begitu kuatir dengannya. Dan Gagak Rimang pun menyusul mereka.
"Rakaaa...!! Banguunn....kamu tidak apa apa kan...!"
Intan mengguncang guncang pundak Raka yang hanya diam dengan mata terpejam, Intan sama sekali tidak mengetahui bahwa Raka sedang meditasi, dia mengira hal buruk terjadi padanya. Mau tidak mau Raka pun mengakhiri meditasinya.
"Aku ga papa Tan, kamu gimana? Masih sakit kah"
Intan langsung memeluk Raka tanpa menjawab, gadis cengeng itu kembali menangis mengetahui Raka baik baik saja.
Raka yang sama sekali tidak menduga kejadian itu, malah hanya cengar cengir mukanya merah karena malu ditertawakan oleh gurunya.
"Ntan, perkenalkan beliau adalah guru ku, kita sekarang berada di tempatnya. Beliau yang menyelamatkan kita setelah kecelakaan tadi"
Intan baru sadar kalau ada orang lain disitu, dia pun buru buru melepaskan pelukan nya, Intan menunduk dengan muka memerah menahan malu.
"Terima kasih banyak paman...maaf merepotkan..."
Intan membungkuk hormat dengan masih menahan rasa malu. Gagak Rimang pun hanya mengangguk dengan senyuman masih tersungging di bibirnya.
"Kalau kalian sudah merasa lebih baik, aku akan antarkan kalian ke sekolah. Hhmm.. Mungkin lebih baik kubawa kalian ke belakang sekolah, di tempat kecelakaan tadi masih banyak orang"
"Intan, tolong simpan rahasia ini, aku percaya padamu. Sekarang pejamkan mata kalian, bersiaplah"
Gagak Rimang merangkul kedua anak itu di masing masing sisi nya, hanya satu tarikan nafas Raka dan Intan sudah berada di kebun belakang sekolah, namun tidak dengan Gagak, dia kembali ke alam nya untuk menghadap sang Guru, Guntur Jalamangkara.
"Kaa, kita sudah terlambat kayaknya, tadi disana kita lumayan lama"
Ucap Intan sambil berjalan tergesa menuju gerbang sekolah, Raka hanya tersenyum.
"Coba kamu lihat jam tangan mu"
Perintah Raka menghentikan langkah Intan.
"Haaaahh....!! Jam tangan ku mati apa yaa, dari tadi jam segini, tapi gerak kok jarum nya"
Intan memukul mukul jam tangan mungilnya dengan telapak tangan nya, Raka malah tertawa melihat Intan kebingungan.
Tentu saja jam tangan nya tidaklah mati, sama seperti saat Raka meninggalkan rumah untuk latihan, waktu seolah olah berhenti.
__ADS_1
"Jam tanganmu tidak mati kok, kita memang cukup lama disana tadi, tapi tidak disini, nanti kalau guruku mengijinkan, aku akan ceritakan, yuukk kita masuk..."
Raka menarik tangan Intan yang masih bingung dengan semua hal yang berhubungan dengan Raka, Intan menatap Raka dengan muka penuh tanda tanya.
"Kamu manusia kan Kaaa...bukan alien kan..."
Ucap Intan meyakinkan pikiran liarnya. Ada perasaan ngeri dihati Intan, semua terasa tidak masuk akal.
"Haaahahahaa....percayalah nanti suatu saat kamu akan lebih bingung dari ini.."
Raka tertawa lepas mendengar pertanyaan Intan, sangat jarang dia bisa tertawa seperti itu, senyum pun biasanya sangat pelit.
Mereka berdua pun masuk ke kelas masing masing seperti biasanya. Beda nya, Intan tampak tidak fokus mengikuti pelajaran. Dia begitu tidak sabar menunggu jam pulang sekolah, ratusan pertanyaan sudah siap di otak intan untuk menginterogasi Raka nanti.
Sementara itu di TKP kecelakaan, tampak ambulans dengan para tenaga medis nya. Banyak pula polisi sedang melakukan olah TKP. Sopir angkot tampak di interogasi oleh seorang polisi, sedangkan ibu ibu penumpang langsung dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.
Beberapa polisi tampak memeriksa mayat Toni, mereka mencari kartu identitas namun tidak menemukan apapun. Namun salah satu polisi berbaju preman menemukan tas kecil berisi dompet, segepok uang pecahan 50 ribuan, dan sebuah telepon genggam.
"Nama nya Toni ndan, tinggal di semarang. Beberapa panggilan terakhir di ponselnya hanya satu nama, kemungkinan ini keluarga atau orang terdekatnya"
Ucap seorang penyidik kepada komandannya sambil membuka buka riwayat panggilan di telepon genggam milik Toni. Kemudian polisi tadi mencoba menghubungi nomor tersebut.
Disebuah rumah berlantai dua, seorang wanita tampak begitu gelisah menunggu kabar dari Toni. Telepon genggam ditangan nya tak kunjung mendapat kabar dari Toni.
Tak lama berselang telpon di tangan nya pun bergetar sembari mengeluarkan nada dering yang begitu nyaring, muncul nama Toni di layar, buru buru wanita itu mengangkat panggilan tersebut.
"Woiii Toon.. Lama amat ngabarin nya, gimana? Kamu berhasil kan?"
Tanpa basa basi wanita itu langsung marah marah di telepon.
"Selamat siang Bu, apakah Ibu keluarga dari saudara Toni? Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa saudara Toni mengalami kecelakan tadi pagi. Jenazah almarhum sudah kami bawa ke rumah sakit, dan mobil yang dia bawa kami amankan di satlantas..."
Belum selesai polisi itu berbicara, wanita itu menekan tombol merah mengakhiri panggilan.
Lutut nya serasa lemas tak bertulang, dia jatuh terduduk di samping sofa nya. Kepalanya terasa begitu sakit, dia sungguh tidak mempercayai usahanya selalu gagal, padahal uang yang sudah dia keluarkan tidaklah sedikit.
Aaaarrrggghhh.... Praaaaang.....!!!!
Wanita itu sangat frustasi, dia berteriak teriak histeris sambil melemparkan telepon genggam nya ke arah lemari kaca.
Bel tanda jam pelajaran usai pun berbunyi, para siswa berhamburan keluar dari kelas dengan riuh canda tawa.
__ADS_1
"Kaaa..kita pulang jalan kaki saja, ada yang karus kamu jelaskan..!!"