
Hari pertama kegiatan berkemah berjalan biasa biasa saja. Meskipun agak melelahkan, namun para siswa tampak gembira.
"Kaa...soal yang kemarin kemarin aku minta maaf yaa, tolong jangan diambil hati.."
Kembali Heri menunjukkan sikap yang sangat bersahabat kepada Raka. Dia hampir selalu ada di dekat Raka selama kegiatan.
Raka tak menaruh rasa curiga sedikit pun atas semua kebaikan Heri, Raka hanya tak ingin punya musuh.
Saat siswa lain nya sudah tidur, Heri yang diberi tanggung jawab atas keamanan mereka, mengajak Raka untuk sekedar berpatroli mengelilingi area perkemahan.
Mulut Heri tak pernah berhenti mengajak ngobrol Raka, Raka pun lebih banyak cuma mengangguk angguk, karena sifat dasarnya memang pendiam.
Beda halnya dengan Gagak Rimang yang selalu mengawasi dari pucuk pohon pinus, dia merasa ada sesuatu yang janggal dari gestur dan cara bicara Heri. Heri seperti sedang bersandiwara.
Malam pun berlalu dengan sangat cepat, para kakak pembina meniup peluit mereka nyaring bersahut sahutan menusuk telinga.
Para siswa pun bergegas bangun dan keluar dari tenda masing masing saat matahari pun belum ada tanda tanda akan terbit.
Kegiatan di hari kedua pun berjalan lancar seperti hari sebelumnya, pun sama halnya dengan Heri, dia tampak semakin akrab dengan Raka.
"Itu Mas Heri sekarang baik banget sama Kaa..."
Ucap Intan kepada Raka saat makan siang bersama.
"Kulihat dia juga sudah ga godain kamu lagi Ntan.."
Balas Raka dengan gestur jahil.
"Ya bagus lah, hidup kita jd lebih tenang tanpa musuh.."
Intan pun lalu kembali ke tenda nya.
Setelah semua kegiatan usai, acara perkemahan akan di tutup dengan menyalakan api unggun.
Tampak ada pemerintahan setempat diundang untuk memberi sambutan menjelang acara penutupan.
"Her.....Ini obat nya, cepat masukin.."
Ucap Bambang berbisik sambil menyerahkan botol kecil seukiran telunjuk orang dewasa.
Heri dengan cekatan membuka penutup botol kecil tersebut lalu menuangkan semua isinya ke dalam termos minuman yang dibawanya.
"Lama amat sambutan, ini minum dulu Kaa.."
__ADS_1
Heri menyodorkan gelas plastik lalu diisi minuman dari termos tersebut, Raka pun menerima tawaran dari Heri tanpa rasa curiga, pun di hari sebelumnya dia juga beberapa kali minum dari termos itu.
Saat gelas itu hampir menyentuh bibir Raka...
Jangan kau minum...ada sesuatu di dalam minuman itu....
Gagak Rimang mencoba memperingatkan Raka lewat telepatinya. Raka pun langsung mengerti, dia pura pura bersin lalu melepaskan gelas dari pegangannya.
"Maaf mas, minuman nya tumpah.."
Ucap Raka sambil pura pura hendak bersin lagi. Heri pun dibuat jengkel dengan kejadian tersebut, terlihat raut wajah yang semula bersahabat berubah drastis.
"Mbaang.... Rencana B"
Heri memanggil Bambang, dan dia langsung mengerti. Bambang mendekati Raka dan Heri, Raka kini diapit Heri dan Bambang di kedua sisinya.
"Ikut kami sebentar..."
Ucap Heri sambil menarik lengan Raka, pun sama halnya yang dilakukan oleh Bambang. Raka hanya menurut saja saat dirinya dibawa ke balik pohon pinus yang sangat minim penerangan.
"Ini cepat minumlah, sebagai tanda persahabatan kita.."
Heri hendak menuangkan lagi isi termos itu, namun tiba tiba...
Gagak Rimang yang tiba tiba berubah ke wujud manusia, menotok Heri dan Bambang. Mereka berduapun seolah olah menjadi patung tanpa bergerak sedikitpun.
Tentu saja tidak akan ada yang melihat Gagak Rimang, kulit legam nya seakan menyatu dengan malam.
"Entah apa yang di dalam minuman ini, coba kita cari tahu..."
Ucap Gagak kepada Raka, lalu merogoh saku celana Bambang.
"Obat pancahar...Hmmm...mereka berdua sepertinya ingin mempermalukanmu nak, mari kita buat keseruan.."
Gagak Rimang mengembalikan lagi botol kecil tersebut ke saku Bambang, kemudian dia mendongakkan kepala mereka berdua.
"Aku atau guru yang tuang minuman ini.."
Ucap Raka yang tampak menyetujui ke isengan gurunya. Gagak Rimang pun tampak tersenyum mengejek kepada Heri dan Bambang, kemudian perlahan lahan dia memasukkan minuman tersebut kemulut mereka berdua sampai tetes terakhir.
"Biar kubuat lebih seru nak, kamu pura pura lah minum sampai mereka kubangun kan"
Entah apa yang dilakukan Gagak kepada dua orang itu, dan Raka pun menempelkan gelas di bibirnya sambil agak mendongak kan kepala.
__ADS_1
Gagak Rimang menempelkan telapak tangan nya ke muka Heri dan Bambang, beberapa detik kemudian, tangan nya seperti melakukan gerakan mengusap ke bawah, bersamaan dengan itu Gagak Rimang seperti hilang begitu saja.
"Sudah habis mas...terima kasih"
Ucap Raka saat melihat mereka berdua membuka mata dan kembali dapat menggerak kan tubuhnya.
"Bagusss....ayo kita kembali ke depan api unggun..."
Heri pun tersenyum puas, dia mengira bahwa Raka benar benar sudah meminum nya sampai habis. Justru Raka malah tampak bingung.
"Kenapa mereka seperti ga ingat apa apa yaah....pasti ulah guru nih..."
Batin Raka sambil garuk garuk kepalanya.
Heri dan Bambang pun dengan percaya diri menuju ke depan api unggun untuk memberikan sambutan sebagai kakak pembina.
Baru beberapa patah kata, tiba tiba expresi mereka berdua berubah, mereka memegangi perut nya yang tiba tiba terasa sangat mules.
Sekuat tenaga mereka mencoba menahan, namun....
Prrreeetttthhhh....brrroottthhh.....
Terdengar suara aneh dari dalam celana bagian belakang mereka berdua, sedetik kemudian disertai aroma khas septic tank.
Semua siswa bahkan guru guru pembina pun spontan menertawakan mereka berdua, suara riuh para siswa bersahutan tanpa jeda.
Heri dan Bambang spontan meraba bagian belakang celananya, dan tentu saja basah dan berbau sangat menusuk hidung.
Sejenak, Heri dan Bambang hanya mematung tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Setelah otak mereka sedikit berproses, sambil menahan malu yang teramat sangat keduanya berlari begitu saja menuju kamar mandi umum yang agak jauh dari situ.
"Woiiii...kamu kenapa Kaaa....ga biasanya kamu tertawa bahagia kayak gini..."
Intan menghampiri lalu menepuk pundak Raka, dia heran baru kali ini melihat Raka tertawa terpingkal pingkal.
"Besok aku critain..."
Balas Raka masih menyisakan tawa di bibirnya.
"Bener yaaa...ga perlu ijin dari gurumu kan..."
Tanya Intan lagi. Raka langsung berhenti tertawa lantas menutup mulutnya dengan tangan nya. Seketika itu pula Intan berkacak pinggang dengan memasang muka lumba lumba.
Duuh...keceplosan lagi....
__ADS_1