RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 27


__ADS_3

"Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi deket deket sama Intan, berangkat dan pulang sekolah pun, kamu tidak boleh bareng Intan...!!"


Raka hanya tersenyum kecil mendengar syarat yang diberikan oleh Heri. Sementara Intan hanya diam mematung, dia sama sekali tak percaya Heri mengatakan hal itu.


"Aku sudah pernah berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjaga dan melindungi Intan. Jadi, syaratmu tidak aku terima, maaf"


Raka menjawab dengan sangat percaya diri masih dengan senyum yang terkesan meremehkan Heri.


Tampak Heri mengepalkan kedua tangan nya, gigi nya gemeretak menahan amarah. Sungguh tak disangka sebelumnya Raka akan menolak mentah mentah syarat yang diberikannya.


Sedangkan Intan benar benar diposisi dilema sekarang, sejak pindah ke rumah kakek nenek nya hanya Raka lah sahabat satu satunya. Di sisi lain, dia pun begitu khawatir jika Heri dan geng nya benar benar akan menghajar Raka.


Bambang tampak membisik kan sesuatu ke telinga Heri, dan seketika itu senyum licik segera terbit lagi dari bibirnya.


"Baiklah, nanti sore kita duel di belakang sekolah, kalau aku kalah, maka semua urusan ini kita anggap selesai. Tapi jika kamu yang kalah, kamu harus menerima syarat tadi"


Heri melayangkan tantangan sambil mendekatkan muka nya, dia berusaha mengintimidasi Raka dengan tatapan matanya.


"Mas tolonglah, ini cuma salah paham, dia sudah minta maaf"


Rajuk Intan kepada Heri yang terus saja menatap mata Raka.


"Aku terima tantangan mu, sampai jumpa nanti sore..!!"


Balas Raka dengan senyuman meremehkan. Kemudian dia menarik tangan Intan masuk ke sekolahan.


Heri tampak murka karena sama sekali tidak berhasil mengintimidasi Raka. Bambang yang ikut terbawa amarah pun kembali mengompori Heri.


"Gemes juga aku sama anak itu, nanti kita hajar bareng bareng aja Her, lama ga pukulin orang"


Heri hanya mengangguk, lalu kedua jagoan ini masuk ke kelas mereka.


"Kaa, mereka itu jago bela diri, kamu jangan nekad deh..!"


Intan tampak begitu khawatir, namun Raka justru hanya cengar cengir mendengar omelan Intan.


"Tempo hari aku berhasil membuatnya pingsan, kamu ga usah khawatir. Oh iya, nanti kamu pulang duluan aja, aku nyusul belakangan"


Jawab Raka santai. Namun bukan membuat hati Intan tenang, justru sebaliknya, di benak nya malah berfikir macam macam.


"Tapi mereka itu terkenal suka main keroyokan kaa, sudahlah...kamu ngalah aja kali ini..!"


Intan masih saja berusaha membujuk Raka untuk mengalah, namun lagi lagi hanya dibalas dengan senyum oleh Raka.


"Pelajaran dikelasmu sebentar lagi dimulai, masuk gih"

__ADS_1


Raka lalu meninggalkan Intan dengan segala kecemasan nya. Dia pun masuk ke kelas nya.


Intan tampak sangat gelisah mengikuti pelajaran, begitu lonceng tanda istirahat berbunyi, dia segera menemui Raka lagi. Raka sudah menduga Intan bakal membujuknya lagi, dia sengaja berlama lama di dalam toilet agar tidak ditemukan oleh Intan.


"Kamu cari siapa sih Ntan, dari tadi kulihat kamu gelisah amat"


Tiba tiba Dita menepuk pundak Intan dari belakang.


"Raka, anak itu kemana yah"


Jawab Intan sambil terus mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Kemudian Intan pun menceritakan kejadian tadi pagi kepada Dita.


"Kok jadi runyam begini urusan nya Ntan, susah amat Raka dibilangin"


Dita pun malah ikut merasa cemas. Intan hanya diam tak tahu harus berbuat apa.


Akhirnya lonceng bel tanda pulang pun berdentang nyaring. Ratusan siswa berhamburan keluar dari sekolahan.


Intan berlari begitu saja meninggalkan Dita, dia ingin mencegah Raka untuk tidak meladeni tantangan Heri. Matanya memindai satu persatu siswa yang keluar dari gerbang, namun Raka maupun Heri sama sekali tak tertangkap indra penglihatannya.


Tentu saja Raka tidak melewati gerbang keluar, dia dengan kemampuan nya, memilih melompati tembok belakang sekolah yang lumayan tinggi. Lalu dengan tenang dia duduk bersila dibawah pohon menunggu kedatangan Heri.


Tak butuh waktu lama, Heri bersama Bambang dan 3 orang kawan lain nya pun tampak berjalan penuh percaya diri menuju tempat Raka duduk.


"Anak ini melakukan perjanjian denganmu, bukan denganku, biar aku kasih pelajaran dulu, kalau aku sudah puas, silahkan lanjutkan perjanjian kalian"


Ucap Bambang sambil melemaskan otot otot tangangnya. Ini memang bagian dari rencana mereka, Heri dan gengnya berniat menghajar Raka tanpa ampun.


"Maaf mas, urusan saya dengan mas Heri, jadi biar kami selesaikan sekarang tanpa gangguan"


Ucap Raka sambil bangkit dari duduknya. Tak sedikitpun ketakutan tampak dari muka Raka, ekspresinya benar benar datar.


"Rakaaaa...!! Cukuupp, kamu ngalah saja"


Tiba tiba Intan datang sambil terengah engah, mata nya pun sudah mulai berkaca kaca. Dia sungguh tak akan sanggup melihat Raka dikeroyok 5 orang.


"Bukankah sudah kubilang, kamu pulang duluan aja, ga lama aku pasti aku nyusul"


Ucapan Raka membuat Heri dan gengnya tertawa terbahak bahak, mereka berlima sangat yakin kalau Raka tidak akan bisa pulang dengan kaki tegak sore ini.


"Kalian kebanyakan drama..!"


Bambang yang sudah tidak sabar langsung menyerang Raka, tinjunya langsung mengarah ke muka. Raka melompat mundur menghindari serangan mendadak tersebut. Dan Intan hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apapun.


"Sudah kubilang aku ga ada urusan denganmu, jangan memaksaku!"

__ADS_1


Raka tersulut juga emosinya diserang tiba tiba oleh Bambang. Bambang yang melihat Raka emosi, justru tersenyum licik dan langsung melayangkan tendangannya.


Heri dan kawan kawan nya tampak antusias melihat Bambang terus menyerang Raka. Sejauh ini Raka hanya menghindar, kehadiran Intan disitu membuatnya ragu untuk mengeluarkan kemampuannya.


Buuuggghhh....!!!


Bambang yang asik menyerang melupakan pertahanannya, pukulan Raka telak mendarat di ulu hatinya. Bambang pun seketika merasakan susah bernafas, rasa nyeri yang tak terkira membuatnya jatuh berlutut.


Heri dan gengnya kaget bukan kepalang, semula mereka mengira Bambang akan dengan sangat mudah mengalahkan Raka, namun yang terjadi adalah sebaliknya.


Intan yang sedari tadi menutup matanya dengan kedua telapak tangan nya, namun mengintip dari sela sela jarinya spontan menurunkan tangan nya, dia tidak percaya dengan yang dilihatnya.


"Ayolah mas, ini urusan kita berdua, jangan libatkan orang lain"


Kembali ucapan Raka justru memancing amarah Heri, dia benar benar merasa sangat diremehkan.


"Baiklah, setelah ini tepatilah janjimu..!!"


Heri begitu yakin akan menang, dia menerjang Raka dengan tendanganannya, Heri benar benar mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Raka menahan tendangan Heri dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya, namun tendangan Heri cukup kuat, Raka terdorong ke belakang.


Melihat Raka terdorong, Heri segera melepaskan tendangan berputar, tumitnya mengarah akurat ke rahang. Raka sangat paham dengan kelemahan tendangan ini, dia pun melakukan hal yang sama, Raka melepas tendangan berputar, namun yang diincar adalah kaki Heri.


Buuggh....


Begitu kaki Heri tersapu oleh tendangan Raka, dia pun jatuh terpelanting. Heri merasakan punggung nya sangat ngilu saat mendarat di tanah.


Belum juga bangkit, Raka melompat dan mendaratkan lututnya di leher Heri. Tangan Raka terkepal siap meluncur ke muka Heri.


"Cukuuppp....!! Aku mengaku kalah"


Meskipun di awal Heri tampak begitu jumawa, namun dia bersikap ksatria dengan mengakui kekalahannya. Raka pun membatalkan pukulan nya.


Bambang dan ketiga temannya hanya diam membisu, mereka sama sekali tidak percaya dikalahkan hanya oleh seorang Raka.


Demikian pula Intan, dia berkali kali mengucek matanya yang dari tadi ber air, seolah yang dilihat nya hanyalah sebuah ilusi.


"Maafkan jika saya berbuat salah, saya sama sekali tidak ada niat bermusuhan dengan kalian semua, saya mohon pamit"


Raka membungkuk kan badan nya sebagai tanda hormat kepada seniornya, kemudian dia pamit pulang. Raka menggandeng tangan Intan kemudian setengah menariknya, Intan masih belum percaya dengan yang dia lihat barusan.


"Lain kali percaya deh sama aku, kalau aku bilang akan menyusulmu pulang, pasti aku akan menyusul"


Ucap Raka dengan senyuman kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2