
"Kamu kenapa jeng, kok murung terus kuperhatikan dari tadi..."
Tanya Rita kepada kawannya di sebuah meja di sudut cafe.
"Brondong yang kutumbalkan tempo hari hanya menghasilkan sedikit banget uang jeng, ga ada perhiasan pula.."
Jawab Yulia sambil mengaduk aduk pelan kopi di cangkirnya.
"Terus bulan purnama sebelumnya, aku menumbalkan seorang nenek nenek pemulung, juga cuma dapet sedikit jeng. Kayaknya jin pesugihan itu sukanya sama tumbal gadis..."
Lanjut Yulia lalu menyruput sedikit kopinya.
"Kamu pernah bilang mau menumbalkan cucu tirimu, ambil dia saja Jeng..."
Balas Rita yang seketika merubah wajah murung Yulia menjadi berbinar binar.
"Kamu bener banget jeng, terima kasih ya jeng..."
Rita benar benar seorang teman berhati iblis, dan Yulia yang begitu gila harta pun sangat mudah terbujuk teman iblisnya itu.
Sesampainya di rumah, Yulia menyusun rencana agar bisa mengajak Intan kerumahnya.
...****************...
Sementara itu di rumah almarhum Subagyo.
"Mas, itu ibu tirimu jadi buah bibir orang orang, aku capek banget menjawab pertanyaan orang orang yang kepo sama dia..."
Rini mengadu kepada Susanto soal Yulia, ibu tiri Subagyo dan Susanto.
"Memangnya kenapa dia, sampe sampe jadi pergunjingan orang orang..."
Susanto yang terlalu sibuk bekerja, dan bawaan karakternya yang cuek cenderung tidak peduli dengan urusan orang lain malah tidak tahu kalau ibu tirinya saat ini menjadi buah bibir di kampung.
"Ya mas juga tahu kan, dia sering gonta ganti mobil setiap bulan, terus perhiasan yang dia pake mungkin ada kalau 5kg, siapa yang ga curiga coba..."
Balas Rini meng hiperbola.
"Banyak pula warga yang pernah melihat penampakan genderuwo di rumah itu, mereka curiga ibu tirimu itu melakukan pesugihan..."
Lanjut Rini masih dengan nada kesal.
"Beruntung Intan sudah tidak tinggal disini, bisa bisa dijadikan tumbal wanita iblis itu..."
Sahut Susanto dengan nada geram.
"Kalau ga salah tahun ini Intan sudah berumur 17 tahun, artinya tinggal setahun lagi, dan wanita iblis itu akan terusir dari rumah ayah ku..."
Ucap Susanto dengan mata menerawang entah kemana.
"Bagaimana kalau wanita itu mengirim orang untuk mencelakai Intan mas, disana dia cuma sama simbahnya yang sudah tua.."
Rini tak mengetahui kalau sebelumnya Intan sudah beberapa kali hampir celaka karena ulah Yulia.
"Semoga wanita iblis itu tidak mendatanginya kesana..."
Susanto pun sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Intan. Dahulu dia sengaja menitipkan Intan kepada kakek nenek dari ibunya agar aman dari Yulia.
Saat Intan genap berumur 18 tahun nanti, maka semua harta almarhum ayahnya akan dilimpahkan kepadanya.
Selama ini Susanto berusaha melindungi Intan dengan cara unik nya, meskipun itu membuat hatinya begitu sakit.
"Mungkin mulai sekarang aku akan mengurangi jam kerjaku, agar bisa mengawasi wanita iblis itu. Saat ini Intan pasti menganggapku paman yang jahat, aku khawatir jika suatu hari nanti Intan terkena bujuk rayunya..."
Ucap Susanto agak bergetar menahan kerinduannya dengan Intan.
__ADS_1
...****************...
"Kaaa...besok minggu anterin ziarah lagi yaa.."
Ucap Intan saat mereka pulang sekolah.
"Tapi gausah ajak Dita yaa, nanti kita diserang lagi malah kasihan Dita..."
Jawab Raka cengengesan.
"Trus mau naek bis atau motoran aja.."
Tanya Intan.
"Motoran aja, biar lebih menghemat waktu.."
Jawab Raka singkat, dan diiyakan oleh Intan.
Hari minggu pun tiba, Raka sudah bersiap siap untuk kerumah Intan lalu mengantarnya ziarah ke makan kedua orang tuanya.
Tolooong.... Leee....tolong bapak mu.....
Tiba tiba ibu Raka berteriak teriak dari depan kamar mandi. Raka dan kedua kakak nya pun langsung berlari menghampiri.
Terlihat Pak Rusman sudah jatuh terlentang di kamar mandi dengan kepala penuh darah tak sadarkan diri.
Bu Rusman tampak begitu panik melihat keadaan suaminya, dengan sigap kakak Raka yang pertama segera meminjam mobil tetangganya.
Hanya ada mobil pick up, terpaksa Pak Rusman dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil bak terbuka.
Tampak para tetangga terdekat berkerumun di depan rumah Raka ingin membantu sebisanya, setelah Pak Rusman dinaikan ke bak, mobil itu pun segera melaju ke rumah sakit.
Intan yang masih dikamar berias seadanya, tak mengetahui kejadian itu meskipun mobil yang membawa Pak Rusman melewati depan rumahnya.
"Apa jangan jangan Raka masih molor yaa...atau mungkin dia lupa..."
Setelah menunggu beberapa saat, Raka tak kunjung datang juga menjemputnya. Dia pun berinisiatif untuk ke rumah Raka, barangkali Raka kelupaan atau apa.
Sesampainya di depan rumah, masih tampak beberapa orang disitu.
"Permisi...ada apa yaa Bu...kok rame rame disini..."
Tanya Intan kepada salah satu ibu ibu disitu.
"Ooh...itu tadi Pak Rusman jatuh di kamar mandi dek, sekarang mereka di rumah sakit..."
Jawab ibu ibu itu lalu masuk ke rumah Raka dan merapikan ruang tamu yang sedikit berantakan karena kejadian tadi. Intan pun lalu pamit kepada orang orang yang masih ada disitu.
"Aku berangkat sendiri saja deh, nanti sepulang dari sana baru ke rumah sakit..."
Ucap Intan dalam hati.
Rasa kerinduan Intan kepada kedua orang tuanya, membuatnya nekad untuk berangkat sendiri.
Setelah kurang lebih 3 jam naik bis dan berganti angkot, sampailah Intan di pintu masuk makam. Dia pun segera masuk menuju ke pusara kedua orang tuanya yang berdampingan.
"Makam nya bersih sekali, siapa yang ziarah kesini sebelumnya..."
Gumam Intan melihat makam kedua orang tuanya tampak bersih dari rumput, dan masih ada bunga yang belum kering diatasnya.
"Bukankah itu Intan....kebetulan sekali...nanti malam adalah malam purnama...."
Ucap Yulia saat melihat Intan di samping makam orang tuanya. Yulia pun menghentikan mobilnya di depan makam.
Lalu Yulia mengucek ucek matanya sampai merah dan berair, dia akan memainkan sebuah drama pada Intan.
__ADS_1
Begitu Intan selesai berdoa, dia keluar dari makam. Yulia langsung turun dari mobil dan berlari memeluk Intan. Dia pun kaget tiba tiba dipeluk seorang wanita sambil menangis.
"Intan cucuku....kamu kemana saja nak... Bertahun tahun nenek mencarimu..Bahkan paman mu tak pernah mau memberitahukan keberadaanmu...."
Yulia benar benar pandai berakting di depan Intan.
"Anda...nenek...Yulia...."
Ucap Intan sambil mengingat ingat.
"Iya betul nak...ayo kerumah dulu...nanti aku ceritakan semuanya..."
Kembali Yulia berkata dengan pura pura menangis. Intan yang polos pun percaya saja dengan perkataan nenek tiriny tersebut.
Intan masuk ke mobil lalu Yulia melajukan mobil mewahnya ke rumah kakek Intan.
"Lihat ini nak...aku selalu menangis kalau melihat foto kecilmu...aku selalu berdoa agar bisa bertemu denganmu lagi..."
Ucap Yulia berdrama sambil memperlihatkan album foto kepada Intan.
Intan tampaknya termakan dengan jebakan Yulia, dia menangis sambil memeluk Yulia.
"Kamu nanti nginep disini saja ya nak...nenek kangen banget sama kamu..."
Ucap Yulia sambil mengelus elus rambut Intan.
"Saya ga bisa nek, saya belum ijin sama simbah, dan nanti sore saya mau menjenguk ayah teman saya. Mungkin lain waktu saya akan mengunap disini nek..."
Jawab Intan manja. Dia sama sekali tidak curiga dengan kebaikan Yulia.
"Yasudah gapapa...yang penting nenek sudah ketemu sama kamu, nenek sudah seneng banget....nenek ambilkan minum dulu yaa.."
Balas Yulia dengan senyuman palsunya.
Yulia bergegas ke kamar mengambil sebuah botol berisi obat tidur, lalu dia ke dapur membuatkan Intan minum dan memasuk kan hampir separuh dari isi botol tersebut.
Yulia menyodorkan minuman yang sudah dicampur dengan obat tidur itu, lalu Intan meminum nya hampir setengah gelas, karena memang hawa disitu lebih panas dan membuatnya cepat haus.
"Nek....aku ngantuk banget, boleh numpang istirahat sebe..."
Belum selesai kalimat dari Intan, dia sudah tertidur di sofa empuk Yulia. Tampaknya dosis yang diberikan Yulia terlalu banyak, Intan kini benar benar hilang kesadarannya.
"Tinggal menunggu malam tiba....dan aku akan lebih mudah merebut rumah ini..."
Ucap Yulia dengan senyum iblisnya.
Lalu dia membawa Intan ke dalam kamar ritual, lalu diikat masing masing kaki dan tangan nya di ranjang kayu beralas sprei hitam. Mulut Intan pun disumpal menggunakan kain, sebagai antisipasi jika nanti Intan sadar sebelum malam tiba.
Kini Yulia hanya tinggal menunggu hari berubah ke malam, dan melakukan ritual pesugihannya.
Sementara itu Raka masih panik mondar mandir di depan UGD karena ayahnya sekarang dalam masa kritis.
Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Yulia, dan saat yang dinanti pun tiba.
Yulia membawa perlengkapan ritual ke dalam kamar ritual, dan Intan masih tampak tertidur begitu pulas efek dari dosis tinggi obat tidur yang dia minum siang tadi.
Angin dingin berhembus memenuhi kamar itu, asap kehitaman tipis berputar putar lalu perlahan mewujud sesosok mirip genderuwo.
Yulia sudah hafal dengan situsi seperti itu, dia pun buru buru keluar kamar dan menutupnya dari luar.
Gubraaakkkk.....Ggrrrrrr.....
Pintu kamar tiba tiba terbuka terbanting dengan keras disertai suara erangan makhluk pesugihan itu.
Genderuwo itu terpental saat mencoba menyentuh Intan, gelang pemberian Guntur seperti menyala di dalam kamar gelap itu.
__ADS_1
Grreeerrrr.....Lepass....gelang itu......