RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 26


__ADS_3

Jadwal latihan dengan Gagak Rimang pun tiba, kali ini Raka diajarkan menggunakan senjata.


"Kita akan belajar menggunakan tongkat sebagai senjata, fokuskan pikiran mu, bayangkan kamu mengaliri tongkat ini dengan energi mu"


Raka mengikuti instruksi gurunya, dia masih memejamkan matanya sambil berusaha mengaliri tongkat itu dengan energi.


"Bayangkan saja kalau tongkat itu adalah kepanjangan tanganmu, buka matamu..!!"


Taaakkk...!!!!


Tiba tiba Gagak Rimang memukul kepala Raka, beruntung reflek nya sudah bagus, dia menangkis dengan tongkat nya.


Gagak Rimang terus saja memukuli Raka, sebentar bagian kaki, sebentar lagi bagian tubuh, lalu berpindah ke kepala, begitu seterusnya.


Beberapa pukulan berhasil mendarat di tubuh Raka, dan itu cukup membuatnya meringis kesakitan.


Gagak Rimang sama sekali tidak bermaksud menyiksa Raka, itu adalah metode yang dia pakai untuk mengajar Raka.


"Sekarang giliran mu menyerang, dan perhatikan bagaimana aku bertahan dari pukulan mu..!"


Perintah Gagak Rimang lantang. Raka pun menyerang memukuli gurunya tak beraturan, pokoknya asal pukul saja.


Tentu dengan sangat mudah gurunya bisa menangkis setiap pukulan Raka, Gagak Rimang menangkis sambil tersenyum seakan akan mengejek Raka.


"Sekarang padukan dengan jurus jurus bela diri yang sudah aku ajarkan padamu, setiap pukulan dan tendangan mu, panjangkan dengan tongkat itu"


Perintah Gagak. Raka pun mulai mengerti yang dimaksud oleh gurunya, kali ini pukulan tongkatnya jauh lebih mengarah dan bertenaga.


Klaakkk....!!!!


Raka memukulkan tongkatnya dari samping menyasar kepala gurunga, Gagak menangkis pukulan Raka dengan tongkatnya, dan tongkat Raka langsung patah begitu saja.


"Kamu tidak mengalirkan energi ke tongkatmu dengan baik, maka senjatamu akan sangat rapuh"


Dhaaakkk....


Gagak memukul sebuah batu dengan ujung tongkatnya, dan batu seukuran kepala itu pun pecah menjadi beberapa bagian.


"Jika dialiri energi dengan baik, maka sabatang kayu pun bisa sangat mematikan, tapi ingat, energi yang kau alirkan harus benar benar terukur"


Metode pelatihan kepada Raka sudah jauh beda, dia sudah cukup besar sekarang. Gagak Rimang bahkan tak segan memukul dan menendang Raka saat latihan, dia sudah tidak bisa lagi bermanja manja.


"Gimana sih Her, masak sama anak baru aja kamu kalah"

__ADS_1


Ucap Bambang kepada Heri yang masih menyisakan ngilu di dagunya.


"Kemarin aku kurang fokus aja Mbang, pas aku liatin Intan, tiba tiba bocah itu nendang"


Jawab Heri dengan berbagai alasan. Lalu dia menempel nempel kan gelas yang ber isi es teh tersebut ke dagunya.


"Apa perlu kita hajar aja anak itu"


Dengan setengah berbisik, Bambang melancarkan provokasi kepada Heri.


"Ga perlu lah Mbang, aku bisa atasi sendiri, nanti aku cari waktu yang pas, bakal kubuat geser rahang nya"


Balas Heri sangat jumawa. Dia mengincar orang yang salah.


Tanpa sengaja, Dita mendengar pembicaraan Heri dan Bambang, kantin sekolah yang tidak begitu luas membuat suara mereka terdengar oleh beberapa siswa. Sesampainya di kelas, Dita pun menceritakannya kepada Intan.


"Dit, kamu ga salah denger kan yaa"


Tanya Intan sambil mendekatkan mukanya ke muka Dita.


"Mana mungkin aku salah, aku duduk tepat dibelakang mereka. Kamu bilangin ke Raka deh, mending suruh dia nemui mas Heri lalu minta maaf, dari pada nanti Raka kenapa kenapa"


Dita, teman sebangku Intan memberikan saran yang masuk akal, Intan pun mengangguk menyetujui pendapat Dita.


Intan yang belum tahu siapa sebenarnya Raka pun tampak cemas, meskipun dia sudah pernah beberapa kali melihat Raka berkelahi, namun kali ini berbeda. Heri dan geng nya terkenal jago bela diri, Raka bisa babak belur dibuatnya.


Sepulang sekolah, Intan kelihatan celingukan kesana kemari mencari keberadaan Raka. Beberapa saat menunggu sampai hanya tinggal beberapa siswa saja disana, Raka belum tampak juga, Intan semakin khawatir.


"Dia ga mungkin pulang duluan, jangan jangan dia ketemu Mas Heri tadi"


Batin Intan semakin cemas. Dia mondar mandir di depan gerbang sambil menunduk kan wajahnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ntaan....maaf kamu lama nunggunya, tadi guru matematika ngasih tugas ga kira kira"


Tiba tiba Raka muncul setengah berlari menuju gerbang keluar. Intan pun bisa bernafas lega.


"Eh, kamu kenapa cemberut, ngambek yah"


Tanya Raka heran, tidak biasanya Intan memasang muka seperti itu.


"Bukan ngambek...aku cuma khawatir. Tadi Dita ga sengaja dengar obrolan mas Heri sama geng nya, dia ngincar kamu!"


Ujar intan dengan sedikit panik. Raka pun langsung paham, Heri pasti tidak terima, dia pasti akan balas dendam.

__ADS_1


"Mending gini deh Kaa, besok kamu temui mas Heri, kamu minta maaf, biar aku yang antarin kamu nemui dia"


Intan sepertinya cukup khawatir, dia menggurui Raka masih dengan muka cemberutnya. Raka malah cengengesan sambil garuk garuk kepala.


"Iya deehh, dari pada makin ribet urusan, besok pagi kita temui dia"


Balas Raka enteng.


"Yawis, jangan cemberut terus, kayak lumba lumba bibirmu dilihat dari samping"


Goda Raka yang geli melihat Intan dari tadi memonyong monyongkan bibirnya. Intan pun melotot kesal, justru Raka malah tertawa melihat tingkah Intan.


Keesokan harinya, Raka dan Intan sepakat berangkat kesekolah lebih awal untuk menemui Heri. Mereka menunggu kedatangan nya. Tak berselang lama, tampak Heri dan Bambang turun dari sebuah angkot tepat di depan gerbang sekolah.


"Mas Heri, bisa minta waktunya sebentar"


Intan langsung mendekat dan meminta Heri untuk ngobrol sebentar. Heri menampak kan senyumnya yang mengembang begitu melihat Intan menghampirinya.


"Begini mas, itu Raka pengen bicara sesuatu sama Mas Heri"


Ucap intan lagi, senyuman Heri langsung hilang seketika begitu Intan menunjuk jari nya ke arah Raka. Heri pun langsung menghampiri Raka, Bambang mengekor dibelakangnya. Sedangkan Intan tampak ketar ketir melihat perubahan raut muka Heri.


"Mau bilang apa! Mau nantang lagi..!!"


Bentak Heri kepada Raka yang dari tadi hanya diam dan menunduk.


"Tidak mas, maafkan saya, kemarin saya tidak sengaja menendang mas Heri, saya hanya reflek"


Balas Raka dengan sopan, dia tidak ingin menambah kemarahan Heri.


Mendengar perkataan Raka, Heri tiba tiba mengangkat sudut bibirnya, sambil mengetuk ngetuk kan jari telunjuk di pelipisnya, senyum jahatnya seakan mengisyaratkan ada niat jahat pula disana.


"Aku akan maafkan kamu, dan kita anggap saja kejadian kemarin tidak pernah ada. Tapi dengan satu syarat..."


Heri sepertinya sengaja memainkan emosi Raka. Intan yang sedari tadi menyimak di sebelah Raka pun dibuat naik turun emosinya.


"Apa itu syaratnya mas, tp kalau mas Heri meminta syarat harta benda, saya benar benar tidak punya.."


Balas Raka yang tampak masih bisa mengendalikan emosinya.


Heri pun menggeleng masih dengan senyuman licik nya, dia tidak ingin minta harta benda, keluarganya sudah sangat berkecukupan.


"Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi deket deket sama Intan, berangkat dan pulang sekolah pun, kamu tidak boleh bareng Intan...!!"

__ADS_1


__ADS_2