
Bel tanda jam pelajaran usai pun berbunyi, para siswa berhamburan keluar dari kelas dengan riuh canda tawa.
"Kaaa..kita pulang jalan kaki saja, ada yang karus kamu jelaskan.."
Intan kembali pada mode judesnya. Raka pun hanya tersenyum masam.
"Duuh, gimana yaa Ntan, aku sih ga keberatan cerita ke kamu, tapi harus dengan izin guruku"
Raka tampak serba salah, Intan pun semakin dibuat cemberut.
"Baiklah, tolong segera minta ijin kepada gurumu. Aku serasa berteman dengan alien tau ga sih"
Protes Intan masih dengan segala kejudesan nya.
...****************...
Sementara itu Gagak Rimang sedang menghadap Guntur gurunya.
"Maafkan hamba guru, saya terpaksa membawa mereka ke alam kita. Saya terlalu khawatir dengan keselamatan mereka"
Ucap gagak Rimang menunduk kan kepala.
"Mungkin memang sudah waktunya gadis itu mengetahui segala hal tentang Raka, aku akan bicara kepada Tuan Suryo"
Guntur menghela nafas panjang. Dia pun memaklumi apa yang dilakukan muridnya. Cepat atau lambat, Intan akan tahu juga.
...****************...
"Sebentar lagi Intan akan berusia 18 tahun, artinya aku sudah tidak punya banyak waktu lagi....aku harus cari cara menyingkirkan gadis itu.."
Wanita itu mulai tampak mereda frustasinya, tampak dia sedang berpikir keras memikirkan sesuatu. Dia benar benar tidak perduli lagi dengan nasib Toni.
"Aku harus menemui Rita sekarang.."
Wanita itu turun dari lantai 2 rumahnya lalu menuju garasi, dia tampak tergesa gesa menengendarai mobilnya. Jalanan yang tidak begitu ramai memudahkan dia untuk lebih cepat sampai ke rumah Rita.
Mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, Rita yang sedang menonton televisi langsung bangkit menuju pintu depan. Dia sudah sangat hafal dengan suara mobil tersebut.
"Jeng, tumben kesini tidak ngabari dulu, ayo masuk.."
Wanita yang selalu berpakaian seksi tersebut mempersilahkan sahabatnya masuk, kemudian mengambilkan sebotol anggur dari dalam kulkas.
"Biasanya telpon dulu jeng kalau mau kesini"
Rita membuka percakapan sambil menuangkan minuman ber alkohol itu ke dua gelas kecil di hadapan nya.
"Aanu jeng...HP ku rusak, tadi pagi kulempar, stress berat aku jeng..."
__ADS_1
Wanita itu lalu mengambil gelas kecil di depannya dan langsung menghabiskannya dalam sekali tenggak.
"Ada masalah apa memangnya, kok HP pakai dibanting banting, kamu ribut sama Susanto lagi apa gimana jeng"
Tanya Rita sambil mendekatkan duduknya.
"Aku gagal lagi jeng. Tadi pagi aku di telpon polisi, dia mengabarkan kalau Toni tewas kecelakaan, dan gadis itu pasti selamat. Kalau gadis itu mati, pasti kabar lelayu nya akan sampai disini kan"
Rita melongo mendengar cerita teman nya.
"Terus gimana nasib mayat Toni jeng"
"Biarin aja jeng, salah dia sendiri terlalu ceroboh. Pusing banget aku, uangku habis tanpa hasil, bentar lagi jadi gembel aku..."
Wanita itu benar benar tampak habis harapan, dia mengambil sebungkus rokok dalam tas kecilnya, menyalakannya dan menghembuskan asapnya dengan kasar.
"Coba deh jeng, kita cari duda kaya lagi, lalu nanti diracun pelan pelan, kayak yang sebelumnya"
Rita sama iblis nya dengan wanita itu, dia pun melakukan hal yang sama demi harta.
"Sekarang susah jeng, mereka lebih memilih daun muda buat dijadikan simpanan..."
Kembali wanita itu menghisap dalam dalam rokoknya, pikirannya benar benar kacau.
"Kalau kamu mau, masih ada solusinya sih jeng, kita nyari pesugihan, tapi biasanya minta tumbal"
Wanita itu kembali terbuai saran Rita, raut muka yang sebelumnya tanpa harapan kini kembali berbinar disertai segala pikiran iblis nya.
"Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya ya jeng, aku kan bisa tumbalkan si gadis itu..!!"
Senyuman jahat terbingkai jelas di wajahnya dan Rita pun tampak tersenyum puas karena menganggap dirinya selalu bisa memberi solusi.
"Nanti aku tanyakan lokasinya ke temanku jeng, dia sudah cukup lama melakukan pesugihan, aku antar kamu kesana kalau kamu sudah siap"
Wanita itupun mengangguk setuju, kemudian tak lama berselang dia pamit pulang. Dalam perjalanan pulangnya, rencana rencana jahat mulai tersusun dalam benak nya.
Sesampainya di rumah...
"Mbok yeeemm....kemari sebentar..!"
Pembantu rumah tangga yang sudah lumayan sepuh itu pun tergopoh gopoh mendengar panggilan majikan nya.
"Njiih ndoro...ada yang bisa saya bantu..."
Ucap Mbok Yem sambil membungkuk hormat.
"Hari ini terakhir mbok Yem bekerja disini, ini sedikit uang untuk ongkos pulang kampung, terima kasih sudah membantu saya selama ini, kalau mau pulang langsung pulang saja, saya mau istirahat"
__ADS_1
Wanita itu meletak kan sebuah amplop di atas meja lalu berlalu begitu saja ke kamar.
Mbok Yem hanya diam membisu matanya berkaca kaca. Dia sudah bekerja di situ sangat lama, bahkan sebelum wanita itu hadir di rumah ini dan mengacaukan semuanya.
Kenangan masa lalu di rumah itu tiba tiba melintas di pikiran mbok Yem, dahulu dia diperlakukan selayaknya keluarga.
Namun sangat bertolak belakang dengan majikan nya yang sekarang, bahkan mbok Yem diusir tanpa alasan.
"Maaf kan saya Tuan....maafkan saya non Intan, saya tidak bisa menjaga rumah ini lagi...."
Air mata meluncur dari kedua mata keriput mbok Yem. Dia pun segera mengemasi barang barang nya dan segera keluar dari rumah penuh kenangan tersebut.
Sementara majikan nya hanya melihat kepergian mbok Yem dari kaca kamar dengan senyuman jahatnya.
Mbok Yem berjalan tergesa dengan air mata masih sesekali menetes dari ujung matanya. Hari sudah menjelang sore, dia tidak mungkin meneruskan perjalanan pulang ke kampung nya.
Mbok Yem tampak menuju sebuah rumah, dia menoleh kebelakang memastikan mantan majikan nya tidak membuntutinya.
"Mbok Yem...mau kemana kok bawa tas besar segala"
Pria 30 tahunan itu keheranan melihat mbok Yem datang dengan muka yang masih tampak sehabis menangis. Kemudian pria itu mempersilahkan masuk.
"Saya di usir dari rumah nyonya...maaf kan saya Den, saya sudah tidak bisa menjaga rumah itu lagi..."
Kembali Mbok Yem menangis sesenggukan.
"Tampaknya wanita jahat itu sedang merencanakan ingin mencelakai non Intan lagi Den...maaf kan saya yang tidak bisa berbuat apapun"
Lanjut mbok Yem dengan nada yang penuh penyesalan. Pria itupun mengepalkan tangan nya menahan emosi mendengar penuturan mbok Yem.
"Malam ini mbok Yem menginap disini saja, besok pagi pagi saya antar pulang ke terminal. Maafkan saya, selama ini saya sudah banyak merepotkan mbok Yem, mulai sekarang biar saya yang urus wanita jahat itu"
Kemudian pria itu memanggil istrinya yang didapur untuk menemani dan menenangkan mbok Yem.
"Wanita iblis itu sungguh diluar batas, semoga Intan disana jauh lebih aman. Tak sabar rasanya aku menunggumu berusia 18 tahun"
Gumam pria tersebut.
Esok hari pun tiba, saat hari masih gelap mbok Yem diantar ke terminal dengan mengendarai motor.
"Sekali lagi saya mewakili keluarga besar saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada mbok Yem, maaf jika harus berakhir seperti ini, jaga kesehatan Mbok"
Ucap pria itu sedikit membungkukan badan nya. Tak urung membuat mbok Yem kembali menangis, dan memeluk pria yang pernah diasuhnya sejak masih bayi.
"Dulu almarhum bapak saya mengamanahkan ini untuk siberikan kepada mbok Yem, semoga bermanfaat. Nanti kalau semuanya sudah selesai, saya dan Intan akan mengunjungi simbok"
Pria itu menyerahkan sebuah kotak kayu kecil berisi beberapa perhiasan emas. Mbok Yem pun menerima kotak tersebut, dan tak lama berselang, datang bis yang ditunggu. Mbok Yem pulang dengan menyisakan kesedihan di hatinya.
__ADS_1
Intan...bertahanlah...