
Diawali dengan sebuah teriakan salah satu wanita dengan katana, maka pecahlah pertempuran.
Bunuuh merekaaa....!!
Pertempuran yang sangat tidak seimbang pun tak terelakkan, Anak buah Sastro Wardoyo yang hanya berjumlah 6 orang melawan kepungan anggota klan Kartawiharja yang jumlah nya 3 kali lipat dari mereka.
Kedua wanita itu benar benar sesuai julukan nya, dengan pedang beraura sangat kuat mereka berdua berhasil keluar dari kepungan dengan meninggalkan beberapa anak buah Widyowati dalam keadaan terluka.
Mereka ber enam mati matian melawan belasan musuh yang kekuatan nya pun tidak bisa dianggap remeh.
Pria yang tadi berdiri diatas kap mobil bergerak cepat, dia memindahkan Raka dan Intan ke dalam mobilnya, lalu bersama 2 anggota lainnya mereka melaju kembali ke arah Sekolahan Raka dan meninggalkan kawan kawannya yang sedang bertarung.
Sama halnya dengan Gagak Rimang, dia juga tidak peduli dengan pertarungan mereka. Gagak Rimang kembali terbang melesat mengikuti mobil yang membawa kedua anak itu.
Sementara pertarungan semakin sengit, mereka bergeser mencari lahan yang lebih lapang untuk bertarung.
Suara benturan senjata dari kedua belah pihak nyaring bersahut, tenaga merekapun sudah banyak terkuras.
Anak buah Sastro Wardoyo semakin terdesak, bagaimanapun mereka kalah jumlah. Memaksa melawan pun percuma, pada akhirnya mereka memilih untuk kabur.
Salah satu anggota mengambil 2 bom asap beracun lalu di lemparkan kearah anak buah Widyowati, asap hitam mengepul menutup pandangan disertai aroma yang sangat menyengat membuat mereka mundur. Kedua wanita bersama kawan kawan nya pun bisa meloloskan diri dan melesat kabur entah kemana.
"Biarkan mereka pergi, kita kembali..."
Ucap salah seorang pria sambil menyarungkan kembali golok nya.
Anak buah Widyowati pun memilih untuk membiarkan mereka pergi, karena misi utama menyelamatkan Raka dan Intan sudah berhasil.
Kedua anak ini sudah berhasil kami bawa, apa yang harus kami lakukan..
Ucap pria itu menelpon Widyowati sambil menyalurkan tenaga dalam kepada keduanya agar efek obat bius bisa segera hilang.
Bawa mereka ke rumah sakit, tinggalkan saja mereka di sana, biar orangku yang urus..
Balas Widyowati lalu menutup telpon nya.
Sesuai perintah, mobil hitam itu melaju ke arah rumah sakit. Di depan pintu UGD sudah ada anak buah Widyowati lain nya yang akan mengambil alih.
Beberapa jam berlalu, Raka mulai membuka matanya. Sedangkan Intan masih seperti tertidur sangat pulas.
"Dimana saya....anda siapa..."
Ucap Raka mengedarkan pandangan, di samping ranjangnya ada 2 orang berbadan tegap berpakaian serba hitam.
"Kami dari kepolisian. Sekarang kamu ada di rumah sakit, tadi kamu dan temanmu diculik oleh sindikat perdagangan manusia, beruntung satpam di sekolahmu melihat kalian dibawa mobil yang mencurigakan dan langsung melaporkan ke kami.."
Jawab pria itu berbohong. Dan tampak nya Raka percaya saja dengan omongan 2 pria itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan teman saya Pak..."
Tanya Raka yang mengkhawatirkan keadaan Intan.
"Dia baik baik saja, tinggal menunggu dia sadar lalu kami antarkan kalian pulang.."
Jawab Pria itu dengan tanpa menoleh ke arah Raka.
Kurang lebih satu jam kemudian Intan pun sadar, lalu kedua pria itu mengantar Raka dan Intan kerumah.
Laporan pun dengan segera sampai ke Surya Kartawiharja.
"Apakah tidak ada yang menolong anak itu saat diculik....lalu siapa orang dengan kekuatan mengerikan kemarin, kenapa dia tidak menolong anak itu...."
Surya bermonolog sambil mondar mandir di depan kedua anaknya.
"Saat kami bertarung tempo hari pun orang itu juga tidak menolongnya, mungkin memang hanya kebetulan saja Ayah.."
Sahut Chandra.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan...jangan pernah coba coba..."
Bentak Surya kepada anak sulungnya.
Tentu saja dia khawatir jika Chandra yang ambisius itu akan mencoba lagi mengambil keris pusaka di tubuh Raka.
...****************...
"Dasar tidak becus kalian...menculik anak anak saja kalian gagal...!!"
Purnomo memaki maki keenam anak buahnya yang pulang dalam keadaan berantakan dengan beberapa luka luka di tubuh mereka.
"Maafkan kami Tuan, anggota klan Kartawiharja ternyata mengetahui aksi kami, beruntung kami bisa lolos dengan selamat..."
Jawab ketua tim penculikan dengan menunduk kan wajahnya.
"Setelah kejadian ini, pastinya akan memperuncing perselisihan ku dengan Surya, tarik semua anggota kita disana..."
Ucap Purnomo lalu pergi begitu saja.
...****************...
Malam harinya di tempat latihan.
"Apakah benar aku tadi diculik mafia seperti kata polisi tadi..."
Tanya Raka kepada gurunya saat latihan rutinnya.
__ADS_1
"Mereka bukan polisi, kamu jadi rebutan para mafia bawah tanah karena mengincar keris pusaka di tubuhmu..."
Jawab Gagak Rimang datar. Dia pun belum tahu persis siapa saja yang mengincar keris pusaka itu.
"Kini kekuatanmu sudah jauh meningkat, coba kau cabut tombak itu..."
Perintah Gagak kepada Raka.
Raka pun mendekati tombak mata tiga yang tertancap di batu. Tampak tubuhnya terselimuti oleh aura yang lebih tebal dari sebelumnya. Dialirkannya energi di kedua tangannya, lalu dengan sekuat tenaga dia berusaha mecabut tombak itu.
Bruuugghhh...
Tombak berhasil tercabut dari batu, namun Raka tak punya sisa tenaga sekedar untuk mengangkatnya, dia pun jatuh tak sanggup menahan berat tombak milik Guntur.
Gagak Rimang yang melihat Raka kepayahan mengangkat tombak sampai terjatuh, malah tertawa kecil sambil geleng geleng kepala.
"Kenapa tombak ini sangat berat Guru, mungkin ratusan kilo beratnya..."
Tanya Raka dengan nafas ngos ngosan.
"Tentu saja tombak ini sangat berat, tombak ini berisi energi luar biasa yang tersegel di dalam nya. Kamu sudah menunjukkan banyak perkembangan bisa mencabut tombak ini..."
Ucap Gagak sambil mengangkat tombak itu dengan tangan kanannya lalu menancapkannya kembali ke batu besar di depan mereka.
...****************...
"Nduuuk....simbah sudah tua. Jika suatu hari nanti simbah dipanggil Yang Kuasa, aku kepengen dimakamkan disamping pusara ibumu..."
Ucap Mbah Dharmo kepada Intan dengan nada bergetar.
"Jangan ngomongin itu terus tho mbah..."
Balas intan sambil menahan tangis.
"Ya siap tidak siap kamu harus siap nduuk...ibarat simbahmu ini tinggal nunggu hari saja..."
Lanjut Mbah Dharmo sambil mengelus rambut Intan.
Intan sama sekali tak mampu menjawab kata kata simbahnya, dia hanya diam dengan beberapa bulir air mata menetes.
"Nanti...kalau kedua simbahmu sudah berpulang, tolong jaga rumah ini ya nduuk. Di sini lah ibumu dulu dilahirkan, cantik mirip kamu...."
Ucapan Mbah Dharmo semakin menambah kesedihan Intan yang semakin banyak meneteskan air matanya.
"Kenapa ada orang jahat yang membuat ayah dan ibu meninggal mbah...."
Ucap Intan lirih dengan nada kebencian.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, pupil mata Intan berubah warna menjadi emas.