
"Kaa, kok perasaanku ga enak yaa"
Ucap Intan saat berangkat ke sekolah bersama Raka.
"Aku tahu, karena aku juga merasakan nya, akan ada sesuatu..."
Jawaban Raka membuat Intan menatapnya dengan penuh keheranan.
"Sesuatau apaan, kamu jangan sok tau deh Kaa, kamu malah nakut nakutin aku tau ga sih..!"
Raka tidak menjawab pertanyaan Intan, dia pun belum tahu bahaya apa yang sedang mengancam Intan.
Seorang pria muda dengan mengendarai Jeep, tampak memasuki sebuah penginapan. Toni tampak frustasi, dia menjatuhkan badan nya ke atas kasur.
"Bagaimana cara bunuh gadis itu, dia tidak pernah keluar malam, apa mending kutabrak angkot yang dinaiki saja yaa, persetan mau berapa orang yang mati...."
Gumam Toni yang sudah mulai frustasi karena tidak segera mendapat kesempatan membunuh Intan.
Merasa sudah mendapat kan cara, Toni pun bangkit dari kasur lantas bergegas menuju ke mobil nya. Toni mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah, dia menyusuri jalan yang biasa dilewati Intan.
Toni menepikan mobilnya di sebuah tikungan, jalan tersebut selain menikung juga munurun. Tepat di akhir turunan adalah jembatan yang dibawahnya ada sungai kering yang tidak terlalu besar, hanya ada sedikit air sehingga batu batu besar tampak seperti di tata disitu.
"Lokasi yang sempurna...!!!"
Batin Toni yang tampak bersemangat. Dia pun kembali ke penginapan, dan akan melakukan eksekusi keesokan harinya.
Hari pun berganti malam, Raka kembali menjalani latihan nya dengan Gagak Rimang. Menu latihan kali ini masih sama, berlatih menggunakan senjata. Raka sudah tampak lebih lihai menggunakan berbagai macam senjata.
"Jangan khawatir, bukan kah selama ini aku juga menjaga dan mengawasi kalian, latihan cukup, kita pulang"
Kembali Gagak bisa membaca kegelisahan pikiran Raka. Meskipun Raka sangat yakin dengan kesaktian gurunya, namun tetap saja hatinya sangat resah.
Toni yang sedang mematangkan rencananya, tiba tiba dikagetkan dengan nada dering telepon genggamnya. Setelah melihat nama penelpon nya, dia segera menerima panggilan tersebut.
"Ton, susah amat kamu dihubungi, udah seminggu lebih tidak ada kabar kamu..!"
Suara seorang wanita begitu lantang, Toni pun agak menjauhkan telepon genggam dari telinganya.
"Maaf Mbak, disini sinyal masih susah, ini pun saya harus ke rooftop untuk dapat sinyal"
Toni menjawab panggilan itu dengan sedikit gugup. Tugas yang diberikannya tidak juga dilakukan.
"Gimana, udah kamu habisin anak itu belum.!"
__ADS_1
Kembali si wanita di ujung telepon tersebut bertanya dengan nada marah.
"Anak itu terlalu lempeng mbak, dia tidak pernah keluar malam, besok pagi rencananya aku mau tabrak angkot yang dinaikinya, semoga rencanaku berhasil"
Toni mencoba meyakinkan wanita itu.
"Oke, besok setelah eksekusi langsung kabari aku"
Wanita tersebut langsung menutup telpon nya, paling tidak dia sudah tenang mengetahui Toni tidak kabur membawa uangnya tanpa melaksanakan tugasnya.
Akhirnya, pagi pun tiba. Toni sudah mempersiapkan semuanya, plat nomor mobilnya dia lepas sebagai antisipasi. Dia memakai kaca mata hitam dan masker berwarna hitam pula.
Setelah subuh, Toni check out dari penginapan dan langsung melajukan mobil nya menuju tempat dimana Intan dan Raka biasa menaiki angkutan kota.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Intan dan Raka tampak keluar dari sebuah gang, terlihat mereka menunggu angkutan disitu bersama anak sekolah lain nya.
Tak butuh waktu lama, muncul sebuah angkot penuh dengan stiker di kaca belakangnya. Itu benar benar membantu Toni untuk menandai angkot tersebut.
Toni pun langsung tancap gas menuju titik eksekusi, dia menunggu angkot yang dinaiki Intan melintas dari arah yang berlawanan. Tentu saja butuh waktu agak lama, karena angkutan pelajar pasti sering berhenti mengangkut penumpang.
Toni menyalakan sebatang rokok sambil matanya tak pernah lepas dari jalan menikung tersebut, tangan nya tampak sedikit gemetar, dia sangat gugup sebentar lagi dia akan melakukan pembunuhan berencana.
Angkot penuh stiker itu tampak di tikungan melaju dengan kecepatan sedang beriringan dengan angkot lain nya. Meskipun jalanan ramai, Toni tidak perduli lagi, dia berniat menabrak angkot itu dari atas dan harapan nya angkot itu akan terlempar masuk ke sungai berbatu tersebut.
Toni menarik nafasnya dalam dalam untuk menghilangkan kegugupan nya, dan langsung menginjak pedal gas.
Baru berjalan sekian detik, dari arah belakang melaju sebuah mobil box menghajar spion mobil Toni. Reflek Toni membanting stirnya ke kiri, Toni memukul mukul kemudinya dengan geram.
"Mobil box sialaan...!!!"
Toni marah marah lalu memutar mobilnya, dia mencoba mengejar angkot penuh stiker tersebut. Jalanan yang agak ramai menyulitkan Toni untuk menyusul angkot tadi.
Angkot penuh stiker bernomor jalur 9 itu sudah berhenti beberapa kali menurunkan anak anak pelajar di sekolahan mereka masing masing, kini di dalam angkot hanya tinggal Raka, Intan dan seorang ibu ibu yang mau pergi ke pasar.
Mata Toni melebar saat melihat angkot yang sudah ditandainya semakin dekat, kali ini bukan kegugupan yang menyelimuti perasaan Toni, justru kemarahan atas kejadian sebelumnya membuat Toni tanpa ragu melakukan aksinya.
Kembali angkot akan melewati sebuah tikungan, Raka dan Intan yang sedari tadi lebih banyak diam tiba tiba dikagetkan dengan sebuah benturan yang sangat keras dari arah belakang.
BRAAAAKKK....!!!!!
Sebuah mobil jeep menabrak bagian belakang angkot dengan kecepatan yang sangat tinggi, angkot itupun terlempar dan terguling ke dalam kebun dengan banyak semak semak.
**Aaaaaa**.... !!!!
__ADS_1
Intan menjerit saat benturan terjadi, beruntung Raka dengan refleknya mendekap kepala Intan dan melindungi dengan tubuhnya.
Kepala Raka beberapa kali terbentur badan angkot saat terguling guling, pelipisnya robek dengan banyak darah di mukanya. Raka pun pingsan dengan banyak luka memar di seluruh tubuhnya.
Pun demikian pula Intan, beruntung Raka melindungi kepala Intan dengan tubuhnya. Meskipun kepala nya aman, namun tubuh Intan yang terbentur pintu angkot membuatnya tak sadarkan diri menahan rasa sakit.
Sementara ibu ibu yang duduk di kursi belakang tampak lebih parah, banyak darah membasahi bajunya, ibu ibu tersebut tak sadarkan diri dengan tangan tertekuk kebelakang, tangan nya patah.
Hanya sopir angkot yang masih sadar, dia hanya mengalami luka ringan, beruntung dia mengenakan sabuk pengaman.
Woooiiii...berhenti....!!!!
Orang orang yang menyaksikan kejadian itu mengejar Toni yang hendak melarikan diri. Toni terlalu ceroboh melakukan aksinya di keramaian.
"Mobil sialan, kenapa tidak mau hidup..!!"
Beberapa kali di starter mobil Toni tak juga mau hidup, akhirnya dia memutuskan turun dan berusaha melarikan diri, namun nahas...
Bruuukkkk.....
Toni yang sedang sangat panik lari menyeberang jalan tanpa melihat ada mobil melaju ke arahnya. Toni terlempar beberapa meter ke tengah jalanan yang lumayan ramai di jam tersebut.
Kreeeekkk.....
Dari arah berlawanan ada sebuah truk, meskipun sudah sekuat tenaga menginjak pedal rem, roda depan truk tersebut masih sempat melindas tubuh Toni.
Dari suara nya jelas tulang Toni remuk, sangat mustahil dia masih bisa bertahan hidup.
Saat suasana menjadi sangat kacau di situ, Gagak Rimang bergerak cepat memanfaatkan kesempatan. Dia menukik ke dalam angkot lewat kaca yang pecah dan langsung berubah wujud manusia, di dekapnya Raka dan Intan dengan kedua tangannya, kemudian mereka bertiga hilang begitu saja.
Dengan kesaktiannya Gagak Rimang melakukan teleportasi membawa kedua anak itu ke alam lain.
Sopir angkot yang terjepit di kursi kemudi terlalu sibuk berusaha keluar dari angkot tersebut, hingga sama sekali tak menyadari dua penumpangnya hilang.
"Tolong penumpang saya pak, tampaknya lukanya parah..!"
Teriak si sopir setelah berhasil keluar. Warga pun langsung menuju angkot yang terbalik tersebut, mereka hanya menemukan seorang ibu ibu yang pingsan.
"Cuma ini kan pak penumpangnya, saya sudah telepon ambulan, sebentar lagi sampai"
Tanya seorang penolong sambil mengedarkan pandangan mencari jika ada penumpang lain.
"Tadi ada dua anak sekolah juga di dalam angkot pak, jangan jangan mereka terlempar keluar..!"
__ADS_1
Sopir angkot pun meminta orang orang disitu untuk mencarinya, namun dalam radius beberapa meter mereka sama sekali tidak menemukan tanda tanda dua pelajar disitu.
Maafkan aku nak....kejadian tadi terjadi begitu cepat....