RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 45


__ADS_3

Iring iringan mobil mewah keluarga Kartawiharja tampak memasuki sebuah villa mewah di lereng gunung ungaran. Disusul dengan iring iringan mobil lain nya dari keluarga inti Kartawiharja.


Chandra dan Indra tampak mengekor ayahnya menuju sebuah ruangan di lantai 2, beberapa pria berpakaian rapi serba hitam juga turut mengikuti mereka. Surya Kartawiharja mengadakan rapat mendadak.


"Maaf ayah, tapi kenapa tadi ayah memberikan kartu nama pada bocah itu.."


Indra yang lebih muda 5 tahun dari Chandra merasa heran dengan ayahnya, hampir tidak pernah dia melihat ayahnya memberikan kartu nama kepada orang lain.


"Aku dapat merasakan kekuatan keris pusaka yang menyatu dengan bocah itu sangatlah dahsyat, aku tidak ingin bocah itu sampai direkrut musuh atau saingan kita.."


Indra pun hanya menggut manggut mendengar jawaban dari ayahnya.


"Lalu bagaimana dengan misi kita sebelumnya, mengambil keris pusaka dari bocah itu"


Sahut Chandra yang tampaknya masih belum terima karena pertarungan nya dengan Raka dihentikan oleh ayahnya.


"Sudah kubilang, aku tidak mau ambil resiko. Sementara ini pastikan bocah itu aman dari musuh musuh kita, aku sangat yakin bukan hanya kita yang akan mengejar bocah itu.."


Jawab Surya lalu menyalakan cerutu nya.


"Lalu apa rencana Kangmas selanjutnya.."


Tanya Widyowati, adik satu satunya Surya.


"Cari tahu dimana dia tinggal, dimana dia sekolah. Tempatkan anak buahmu jadi satpam atau tukang kebun di sekolahan anak itu..."


Perintah Suryo pada adiknya.


Dengan segera Widyowati mengirim pesan kepada anak buahnya yang berada di Salatiga untuk mengikuti mobil Dita berbekal ciri ciri mobil dan nomor polisi yang diperoleh dari Indra.


Widyowati mempunyai jaringan orang orang pemerintahan di Jawa Tengah, maka sangat mudah baginya untuk menyusupkan salah satu anak buahnya.


"Lalu apa tugas anak buahku nanti Kangmas.."


"Pastikan dia aman dari musuh musuh kita.."


Jawab Surya singkat lalu membubarkan rapat tersebut.


...****************...


"Dit, maafkan aku yaah, gara gara nganterin aku ziarah, mobil kamu rusak.."


Ucap Intan setelah sampai di rumah Dita.


"Gapapa, jangan dipikirin, besok biar dibawa ke bengkel sama Pak Min.."


Jawab Dita masih dengan sikap canggung.


"Kami pulang dulu yaah, besok saja aku critain soal tadi.."


Lalu Intan dan Raka pun berpamitan pulang, mereka memilih untuk jalan kaki karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi dari kejauhan, anak buah Widyowati benar benar bergerak dengan cepat.


"Aku sama sekali tidak menyangka kamu bisa seganas itu Ntan, jadi ngeri aku deket deket ma kamu..."


Ucap Raka sambil cengengesan.


"Apa ini pemberian wanita di pantai itu yaa Kaa...."


Jawab Intan sambil garuk garuk kepala. Raka pun hanya mengangguk pelan.


"Duuh, aku lupa...aku melewatkan jadwal latihan, buruan yuuk jalan nya..."


Raka khawatir membuat gurunya menunggu, mereka pun mempercepat langkah kaki.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Raka mendapat sedikit omelan dari ibunya karena pulang malam dengan baju yang kotor penuh debu.


Raka pun hanya nyengir kemudian pamit ke belakang dengan alasan ingin merendam bajunya, lalu dia bergegas ke tempat Gagak biasa menjemput.


Benar saja, Gagak Rimang sudah berdiri menunggunya disitu.


"Maafkan aku guru, aku melewatkan jadwal latihan, tadi ada sedikit masalah..."


Ucap Raka sambil menunduk karena merasa bersalah.


"Bukankah kamu tadi sudah berlatih bersama Intan, hari ini kita tidak perlu latuhan.."


Jawab Gagak dengan ekspresi tegasnya.


"Jadi guru tahu soal yang tadi..."


Lanjut Raka.


"Iya...aku disana bersama Ratu Sekar menyaksikanmu bertarung melawan beberapa orang.."


Jawab Guntur yang kali ini tersungging senyum kecil dibibirnya.


"Ratu Sekar....adik kakek buyut ku seorang Ratu..?"


Kembali Raka bertanya keheranan.


"Dahulu beliau mewarisi tahta kerajaan KertaBhumi, dan menjadi Ratu disana.."


Jawab Gagak singkat.


"Lantas mengapa beliau memberikan keris pusaka kakek buyut ku padaku, dan memberikan kekuatan kepada Intan..."


Raka semakin penasaran.


Percakapan mereka pun terhenti saat terdengar ibu Raka memanggil manggilnya, dan Gagak pun kembali ke wujud burung.


...****************...


Sementara itu di sebuah Istana megah yang berada di lain dimensi...


"Apakah tidak terlalu dini kamu memberikan keris itu kepada cucu ku Sekar..."


Tanya Suryo kepada adiknya.


"Maafkan aku Kangmas, aku hanya melakukan sesuai ramalan Nini Sayuti. Raja Iblis yang kangmas kalahkan dahulu kala, ternyata belum musnah sepenuhnya. Dan kita sama sekali tidak tahu dimana dia sekarang, dan aku yakin dia pasti akan menuntut balas..."


Jawab Sekar dengan ekspresi cemas.


"Ini salahku, aku terlalu ceroboh. Dan mengapa kamu memberikan kekuatan kepada gadis itu.."


Kembali Suryo bertanya masih dengan raut wajah penyesalan.


"Aku hanya ingin meringankan beban cucu buyut mu Kangmas, semoga gadis itu bisa menggunakan nya dengan baik..."


Balas Sekar dengan senyumnya.


"Dari awal aku sangat yakin bahwa takdir mereka berdua bertaut, tak kusangka kamu ikut andil..."


Tak banyak lagi yang mereka bicarakan, Suryo Buwono pun lalu berpamitan.


...****************...


Keesokan harinya, Raka dan Intan kembali ke rumah Dita dengan mengendarai motor sesuai janji mereka.


Di teras Dita sudah menunggu kedatangan mereka sambil memberi makan ikan ikan koi di kolam.

__ADS_1


"Kalian lama amat ditungguin, jam segini baru datang...."


Ucap Dita saat Raka dan Intan memasuki halaman rumahnya.


"Yakan kami mesti nyuci baju dulu lah, beres beres dulu lah, baru bisa pergi, emangnya kamu..."


Jawab Intan dengan agak memajukan bibirnya.


Lalu Dita pun mengajak mereka masuk dan sudah siap dengan sederat pertanyaan kepada Intan dan Raka.


"Oke, kita mulai. Sejak kapan kalian jadi aneh kayak gini, tolong jawab dengan sejujur jujurnya..."


Dita tampak tidak sabar mendengar penjelasan dari mereka. Raka garuk garuk kepala sambil memikirkan mana yang boleh diceritakan dan mana yang tidak.


"Jadi begini Dit, sejak aku masih SMP, aku sudah dilatih secara privat oleh pamanku, baik itu latihan bela diri maupun olah tenaga dalam. Jadi yaa seperti yang kamu lihat kemarin, aku sudah menguasai sedikit ilmu tenaga dalam.."


Raka mencoba menjelaskan dengan sedikit berbohong sambil memberikan kode kepada Intan agar mengiyakan ceritanya.


"Iya bener Dit, aku sudah diceritaiin sama Raka dari dulu. Kamu masih ingat kan, bahkan dulu Raka bisa membat mas Heri pingsan.."


Sahut Intan membenarkan cerita Raka. Dita pun manggut manggut, karena penjelasan Raka masih masuk akal.


"Lantas kamu kok bisa menyeramkan begitu Ntan, rambutmu bisa berubah menjadi emas, dan ada cahaya diseluruh tubuhmu..."


Kali ini pertanyaan Dita sangat sulit untuk dijawab.


Intan meminta pendapat pada Raka dengan gestur mukanya, dan Raka pun mengangguk tanda mempersilahkan.


"Aku akan cerita, tapi tolong cukup kamu saja yang tahu ya Dit.."


Dita pun mengangguk, lalu menatap Intan menunggu penjelasan.


"Sebelum kejadian kemarin, aku sama sekali tidak punya ilmu tenaga dalam atau apapun. Pas aku sama Raka ke pantai tempo hari, kami bertemu sosok makhluk astral seorang wanita yang sangat cantik dan anggun, beliau mengundang kami ke istana nya, lalu beliau memberikan kekuatan padaku"


Dita menyimak cerita Intan dengan serius.


"Aku awalnya juga tidak tahu kekuatan apa yang diberikan padaku, dan kemarin itu aku pun tidak tahu kenapa kekuatanku tiba tiba muncul..."


Lanjut Intan.


"Pertama kali kekuatanmu muncul karena apa Ntan..."


Kini Raka ikut bertanya pada Intan, karena diapun juga nasih penasaran.


"Awalnya aku marah melihat Pak Min dan Dita dipukul sama orang orang itu, lalu salah satu ingin bertindak mesum padaku, aku murka dong, tiba tiba aku ngrasa kekuatanku bertambah pesat.."


Intan menceritakan sambil mengingat ingat detai kejadian.


"Trus yang kedua..."


Tanya Raka lagi.


"Aku ngelihat kamu dikeroyok, dan kamu sudah sangat kepayahan, tiba tiba keluar lagi kekuatanku..."


Jawab Intan agak tertahan.


"Cieeeee....ga trima Raka dikeroyok trus ngamuk....hihihi...."


Sahut Dita dengan kejahilannya. Intan dibuat memerah mukanya. Raka pun dibuat salah tingkah dengan keusilan Dita.


"Berarti kekuatanmu hanya keluar saat kamu marah Ntan, duuuh...mulai sekarang aku harus lebih hati hati niih, jangan sampai bikin kamu marah..."


Obrolan mereka pun berubah dari serius menjadi penuh canda tawa.


Namun mereka masih terlalu polos, dengan kekuatan yang begitu besar, maka akan menimbulkan masalah besar pula dikemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2