
Entah mengapa setelah bertemu dengan Sekar, kini perasaan Intan menjadi jauh lebih tenang.
Setelah puas bermain di pantai, mereka pun memutuskan untuk segera pulang.
"Aku sama sekali ga nyangka jalan hidupmu sungguh aneh Kaa.. "
Intan mengawali pembicaraan di sela perjalanan pulangnya.
"Firasatku mengatakan, kedepannya jalan hidupmu juga akan aneh, jangan kaget, kamu akan terbiasa..."
Jawab Raka cengengesan. Intan pun hanya manyun sambil memukul punggung Raka.
"Mampir beli oleh oleh bentar ya Kaa...buat simbah sama buat Dita.."
Raka pun hanya tersenyum masam. Dia pun ingin membelikan oleh oleh orang rumah, tapi dompet nya sudah sangat tipis.
Sesampainya di pusat oleh oleh, Intan menyuruh Raka mengambil beberapa kotak bakpia untuk keluarga Raka.
"Jangan lah Ntan, ga enak sama kamu..."
Raka menolaknya karena sungkan.
"Gapapaaa....aku masih ada uang di tabungan, ga usah sok nolak deh..."
Intan memaksa dengan jurus judes nya, dan mengambil begitu saja beberapa kotak lalu dibawa ke kasir, Raka pun hanya bisa garuk garuk kepala.
Setelah 2 jam perjalanan, sampailah mereka di depan rumah Intan.
"Ehh...Kaa...ini apaaa..."
Intan terkejut melihat semacam kubah yang menaungi seluruh rumah Mbah Dharmo. Dia mencoba menyentuh dengan ujung jarinya dengan agak takut takut.
"Hehehe....ya itu pagar gaib yang kemarin kita bahas...."
Jawab Raka cengengesan.
"Haaaahhhh.....!! Kalau aku sekarang bisa melihat pagar gaib ini, berarti......"
Intan terkejut lalu memundurkan tubuhnya. Mulutnya melongo, matanya membulat memandang ke arah Raka seperti minta penjelasan.
"Iyaaa...betul sekali...sekarang kamu pastinya juga bisa melihat makhluk astral, hehehe...."
Jawaban Raka membuat Intan berdiri mematung. Dan Raka justru malah menertawakannya.
"Selamat datang di dunia aneh..."
Ucap Raka jahil.
Intan mencengkeram lalu menarik tangan Raka ke teras rumah sambil mata nya jelalatan kesana kemari memastikan tidak ada makhluk halus disekitar rumahnya.
"Tenang saja...tidak akan ada makhluk halus yang akan mampu menembus pagar gaib ini selain Kakek buyut ku, manusia berkepala Garuda, dan guruku. Ah, satu lagi, Adik kakek buyutku, wanita yang kita temui tadi.."
Raka mencoba menenangkan Intan yang terlihat begitu panik. Bahkan cengkeraman tangan nya pun semakin kuat.
"Aku sudah pernah bertemu dengan banyak jenis makhluk halus, tidak semua mengerikan seperti bayangan mu, atau seperti di film. Dan satu lagi, guruku juga selalu melindungi kita, sudah...jangan takut lagi..."
__ADS_1
Kali ini Raka berhasil meyakinkan Intan dengan kata katanya. Dia pun mengangguk dan mengendurkan cengkeraman tangan nya.
"Sakit tauu...tuuh..merah..."
Raka memperlihatkan pergelangan tangan nya yang masih terdapat bekas kuku jari Intan. Dan Intan hanya nyengir.
Keesokan harinya Intan meminta lagi kepada Raka untuk mengantarnya ke rumah Dita untuk memberikan oleh oleh pesanannya.
"Cieeeee....yang baru aja liburan berduaan di pantaiii....."
Goda Dita saat melihat Raka dan Intan memasuki halaman Rumah nya.
"Apaan siih...nih pesenan kamu..."
Jawab Intan dengan muka kemerahan sambil menyerahkan satu bungkusan kresek.
"Yuuuk masuk dulu.. Mau minum apa kalian..."
Tawar Dita kepada mereka berdua.
"Apa ajaa...yang penting dingin..."
Jawab Raka singkat.
"Biiiii......tolong buatin minuman dingin 3..."
Teriak Dita kepada ART nya. Dita memang termasuk berasal dari keluarga kaya, orang tuanya pegawai negeri bergolongan tinggi.
Tak lama berselang seorang ibu ibu menyuguhkan 3 gelas minuman dengan senyum ramahnya.
Dita memberikan satu kotak bakpia kepada ART nya tersebut.
"Eh iya Ntan, kapan hari kamu bilang mau ziarah ke makam orang tuamu, sekali kali aku ikut dong...bosen di rumah terus.."
Rengek Dita dengan gaya sok imut nya.
"Iyaa Dit, minggu depan paling. Sekarang masih pegel badan habis dari Jogja.."
Jawab Intan lalu menyruput es syrup di depannya.
"Okee, minggu depan aku harus ikut, nanti bawa mobil aja, biar bisa ikut semua, nanti aku suruh Pak Min nganter kita..."
Dita tampak begitu bersemangat. Meskipun Dita anak tunggal dari keluarga kaya, namun tidak serta merta membuatnya bahagia.
Kedua orang tuanya sangat sering tugas keluar kota, bahkan kadang dalam waktu yang cukup lama. Membuat Dita merasa sangat bosan berada di rumah.
"Sebenarnya yaaa....kemarin itu aku pengen banget ikut kalian ke Jogja, tapi gimana yaaa....takut ganggu kemesraan kalian, hihihi..."
Kembali Dita menjahili Intan yang sekarang pipinya tampak seperti tomat. Raka yang lebih banyak diam hanya cengengesan mendengar kejahilan Dita.
"Issshhh....apaan siihh..."
Intan pun dibuat salah tingkah dengan kejahilan Dita.
"Pokoknya minggu depan aku ikut, ga peduli dengan kemesraan kalian lagi..."
__ADS_1
Dita semakin menjadi jadi keusilannya, Intan pun gemas mengacak ngacak rambut Dita.
Singkat cerita, hari yang disepakati pun tiba. Intan dan Raka berdiri di mulut gang menunggu kedatangan Dita.
Tak lama berselang sebuah sedan hitam berlambang bintang mercy menghampiri mereka, kaca pintu pun terbuka.
"Kaaa...kamu duduk di depan sama Pak Min, biar Intan dibelakang sama aku, biar kalian ga bisa mesra mesraan, hihihi...."
Ada saja bahan untuk menjahili Intan.
Kurang lebih 2 jam perjalanan, mobil mewah tersebut sudah sampai di depan pintu makam.
Intan dan Dita turun sambil menenteng satu plastik bunga yang tadi dibeli di jalan. Sedangkan Raka memilih menemani Pak Min di dalam mobil.
Setelah selesai mendoakan kedua orang tuanya, Intan terpaku melihat sosok ayah dan ibunya tersenyum di bawah pohon kamboja yang cukup besar.
"Ayah....Ibu...."
Gumam Intan lirih sambil meneteskan air mata. Ingin sekali dia berlari dan menghampiri kedua sosok tersebut.
Kedua sosok itu pun melambaikan tangan nya kepada Intan, lalu perlahan memudar dan hilang dari pandangan.
"Aku melihat mereka sedang tersenyum padaku disana Dit..."
Ucap Intan yang justru membuat bulu kuduk Dita meremang.
"Orang tuamu pasti bangga padamu Ntan...ayo kita pulang, hari sudah sore.."
Ucap Dita sambil memeluk Intan, mencoba menguatkan hatinya.
Setelah beberapa saat, tampak Intan bersama Dita keluar dari areal makam dengan muka sembab habis menangis.
"Tadi aku melihat ayah dan ibu Kaa...mereka tersenyum padaku..."
Ucap Intan setelah masuk kedalam mobil.
"Mereka pasti sangat senang kamu mengunjunginya Ntan, kita doakan yang terbaik untuk mereka..."
Balas Raka dengan suara sedikit bergetar, dia seakan merasakan kesedihan yang sama dengan Intan.
"Bisakah kita muter ke sana, aku pengen lihat rumah orang tuaku, dan sekalian lihat rumah almarhum kakek ku"
Pinta Intan kepada Dita sambil menyandarkan kepalanya dibahu Dita.
"Pak Min, kita muter kesana dulu yaa..."
Perintah Dita pada sopir pribadinya mengabulkan permintaan Intan.
Setelah beberapa saat, Intan meminta Pak Min menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah. Intan hanya memandanginya dari dalam mobil tanpa membuka kaca, dia khawatir Susanto melihatnya.
Begitu sesak dada Intan mengenang kebahagiaan di rumah itu, Intan pun lalu meminta Pak Min menjalankan mobilnya lagi menuju rumah almarhum kakek nya.
Berbeda dengan saat melihat rumah almarhum orang tuanya, di rumah kakeknya Intan dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat.
Intan yang kini bisa melihat penampakan, memalingkan pandangannya karena dia melihat tepat di depan rumah ada sesosok makhluk besar tubuhnya penuh dengan bulu, dan sepasang mata besar berwarna merah darah seolah sedang menatap ke arah nya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang..."