
"Selamat pagi anak anak, minggu depan kita akan ada kegiatan berkemah. Nanti tolong serahkan surat pemberitahuan ini kepada wali murid kalian"
Guru wali kelas memberi pengumuman tentang kegiatan wajib pramuka, lalu guru itu membagikan surat pemberitahuan kepada seluruh siswa kelas 1.
"Kita akan kemah dimana Bu, dan berapa lama"
Tanya Dita yang memang dikenal sebagai siswi yang banyak bicara dan banyak bertanya. Berbanding terbalik dengan teman sebangkunya, Intan.
"Kita akan berkemah di daerah magelang, di kaki gunung Tidar. Rencananya kita akan berkemah 2 hari 2 malam"
Jawab guru wali kelas tersebut dengan antusias.
Sepulang sekolah....
"Aku males banget pakai acara kemah segala, mesti bawa inilah itulah, belum nanti di suruh suruh sama kakak kakak pembina, menyebalkan..."
Ucap Raka dengan ekspresi malasnya.
"Ya kalau disuruh milih, aku juga males Kaa, tapi bagaimana lagi, ini kegiatan wajib"
Jawab Intan yang setuju dengan pendapat Raka.
"Eh iya Ntan, semalam aku sudah minta ijin ke guruku"
Intan yang semula tampak datar ekspresi wajahnya, mendadak berubah mendengar kata kata Raka.
"Terus...Beliau mengijinkanmu bercerita kan, ayo buruan cerita semuanya..!"
Intan benar benar tak sabar ingin mengetahui segala hal di luar nalarnya akhir akhir ini.
"Iyaa, beliau mengijinkan, tapi tidak sekarang, aku hanya manut saja Ntan sama beliau, hehehe..."
Mendengar jawaban Raka, Intan pun otomatis berubah lagi ekspresi wajahnya, kali ini dia pasang muka cemberut.
"Kaapaaaannn..."
Intan tampak kesal, kembali dia memancungkan bibir nya beberapa senti meter. Dan hal tersebut cukup menghibur bagi Raka, dia tertawa cekikikan melihat muka Intan.
...****************...
"Ini kesempatan bagus Her, saat kemah nanti kita kerjain bocah itu"
Kembali Bambang memprovokasi Heri dengan menggebu gebu.
"Iya Mbang, mungkin ini kesempatan terakhir kita, sebentar lagi kita sudah tidak disekolah ini lagi"
Heri yang menaruh dendam kepada Raka, sekaligus menaruh hati pada sahabatnya, mulai menyusun rencana rencana jahat bersama Bambang.
__ADS_1
Heri dan Bambang termasuk Pembina yang akan mendampingi kemah minggu depan.
"Kira kira apa yang akan kita lakukan pada anak itu, langsung kita hajar terus buang ke hutan atau gimana"
Kembali Bambang mengompori Heri dengan gaya sok jago.
"Tidak Mbang, terlalu beresiko buat kita. Aku punya rencana, kita permalukan dia di acara api unggun"
Kemudian Heri membisik kan rencana jahatnya, Bambang pun tampak berbinar mendengar ide Heri.
...****************...
Hari pun beranjak malam, Raka kembali menjalani latihan rutin nya.
"Tuan Suryo memerintahkan ku untuk mengajarimu telepati, sekarang bersiaplah"
Gagak Rimang pun tak tahu mengapa Suryo Buwono tiba tiba memerintahnya mengajarkan telepati kepada Raka. Namun instingnya berkata, bahwa akan ada sesuatu.
Gagak Rimang duduk bersila dihadapan nya, lalu menempelkan 2 jari nya ke dahi Raka. Dua jarinya bergerak gerak seperti menggambar sigil atau sejenisnya.
Gagak Rimang pun menjelaskan bagaimana cara menguasai telepati tersebut dengan sangat detail. Kini tergantung Raka bisa atau tidak menguasai ilmu tersebut dengan cepat.
Latihan pertama Raka belum berhasil menguasainya, Gagak pun menyudahi latihan tersebut.
"Kemarin saat aku menghadap guruku, ada Kakek buyut mu juga disana. Beliau menyampaikan kepadaku bahwa kamu harus menguasai ilmu telepati ini sesegera mungkin"
Hari hari berikutnya Raka berlatih lebih keras dari sebelumnya. Dia harus segera menguasai ilmu itu.
Akhirnya latihan di hari ke empat Raka sudah benar benar menguasai ilmu telepati. Namun saat ini baru terbatas telepati dua arah dengan Gagak Rimang.
...****************...
Hari yang disepakati pun tiba, wanita paruh baya tersebut tampak sudah tidak sabar lagi untuk segera melakukan ritual pesugihan.
Dia melajukan mobil nya menuju rumah Rita. Dibenaknya hanya ada keinginan menumpuk harta, tidak peduli dengan jalan kotor yang dia tempuh.
"Ayo jeng, kita langsung berangkat saja"
Ternyata Rita sudah menunggu di depan gerbang rumahnya, mereka pun langsung berangkat menuju ke sebuah tempat di jawa timur lewat jalur pantura.
"Kamu sudah yakin mau melakukan pesugihan kan Jeng, sudah siap dengan segala resikonya kan"
Rita melihat wajah cemas dari teman nya itu, lalu memastikan lagi niat tersebut.
"Sepertinya ini jalan satu satunya jeng, siap tidak siap, aku harus siap"
Jawab wanita itu datar, dia lebih fokus memperhatikan jalan.
__ADS_1
Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai di sebuah desa di pesisir pantai yang jauh dari pemukiman. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Kita jalan kaki dari sini Jeng, mobilnya parkir disitu saja. Syarat syaratnya jangan lupa dibawa jeng"
Rita menunjuk sebuah lahan yang cukup luas untuk parkir. Disitu sudah ada 2 mobil terparkir, mungkin tujuan mereka sama.
"Silahkan lewat sini Bu, syarat syaratnya sudah lengkap kan Bu.."
Ucap seorang pria 50 tahunan yang menjaga parkiran, dia sudah sangat paham niat orang yang datang ke tempat itu. Kemudian pria itu menunjuk kan sebuah jalan yang hanya terbuat dari batu yang ditata.
Kedua wanita itupun berjalan pelan menanjaki bukit kecil yang dipenuhi pohon jati dikiri dan kanan nya. Dengan lampu senter yang tidak begitu terang, mereka berjalan dengan sangat hati hati.
Selang beberapa lama, sampailah mereka atas bukit kecil itu. Tampak sebuah rumah semi permanen yang tidak terlalu besar, ada beberapa obor yang ditancapkan di depan rumah itu sebagai penerangan. Di sana sudah ada 3 orang yang menunggu giliran untuk melakukan ritual.
Terdengar deburan deburan ombak menghantam batu karang dari kejauhan, menambah suasana mistis di tempat itu.
Sempat terlintas dipikiran wanita itu untuk mengurungkan niatnya, namun bisikan iblis dihatinya kembali meyakinkan. Pun sama halnya dengan Rita, dia terus saja memberi bujukan syetan kepada kawannya untuk yakin dengan keputusannya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya giliran wanita itu dipanggil masuk ke kamar ritual si juru kunci.
"Apakah anda bawa syarat ritualnya"
Juru kunci itu langsung menanyakan tanpa berbasa basi. Kakek kakek bernama Mbah Mitro itu memandangi wanita di depannya dari atas sampai bawah dengan tatapan mesum nya.
"Sudah saya siapkan semuanya mbah"
Jawab wanita itu menahan rasa risih karena di pandangi seperti itu. Meskipun wanita itu sudah berumur hampir 40 tahun, namun masih sedap dipandang mata. Maklum saja, dia selama ini menghabiskan banyak uang untuk perawatan tubuh.
"Pesugihan ini tentu saja ada syaratnya, anda harus menyiapkan tumbal di setiap malam bulan purnama, apakah anda bersedia"
Tanya Mbah Mitro masih dengan pendangan yang seakan akan menelanjangi wanita didepannya. Dan wanita itupun mengiyakan dengan tanpa keraguan.
"Kalau anda sudah siap, ikuti saya"
Mbah Mitro keluar dari pintu belakang lalu berjalan menuruni bukit kecil tersebut berbekal sebuah obor, wanita itu mengekor dibelakang mbah Mitro berusaha mengimbangi langkah kakinya.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di sebuah sendang kecil yang dikelilingi bebatuan yang ditata rapi.
Mbah Mitro meletakkan tungku kecil berisi kemenyan di atas sebuah batu pipih, lalu membakar kemenyan tersebut sambil mulutnya komat kamit membaca mantra.
Kembang setaman yang dibawa si wanita itu, di tebarkan nya di permukaan air.
"Buka semua pakaian mu lalu berendamlah di situ"
Perintah mbah Mitro tak urung membuat wanita itu kaget, namun dia sudah sejauh ini, tak mungkin untuk membatalkan niatnya.
Dengan membelakangi mbah Mitro, dia melepas semua pakaiannya dengan cepat, lalu buru buru masuk ke dalam air dan membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam air, hanya kepalanya saja yang nampak.
__ADS_1
Mbah Mitro kembali komat kamit membaca mantar, tiba tiba angin dingin berhembus seperti berputar putar diatas sendang. Nyala api 2 buah obor pun hampir padam dibuatnya.