RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 36


__ADS_3

Wanita itu mengambil bergepok gepok uang di dalam bejana, dan di cium cium nya berkali kali. Kegembiraannya belum berakhir, di dasar bejana tampak beberapa perhiasan emas berkilauan yang kelihatan sangat mahal.


Beberapa lama dia terbawa euforia, wanita itu baru sadar kalau ada Weni yang sudah menjadi mayat disampingnya.


"Duuh...mau aku apain ini mayat..."


Wanita itu tampak kebingungan, dia mondar mandir di dalam kamar masih dengan gepokan uang di tangannya.


Akhirnya wanita itu memutuskan untuk membuang mayat Weni ke dalam sumur di belakang rumah. Mayat weni diseret ke samping sumur, lalu mengikat tubuhnya dengan sebuah batu yang lumayan besar.


Dengan susah payah wanita itu mengangkat tubuh weni, lalu diceburkan begitu saja. Sedangkan pakaian dan sprei hitam yang dipakai tadi, dibakar sampai habis untuk menghilangkan jejak.


Tanpa perasaan dia pun meninggalkan begitu saja, dan kembali ke kamar mengambil semua uang dan perhiasan.


Keesokan harinya dia langsung menuju kerumah Rita, teman iblisnya.


"Jeng, ini sedikit ucapan terima kasih, tolong diterima ya jeng..."


Ucap wanita itu sambil menyerahkan amplop berisi satu gepok uang berwarna biru.


"Duuuh...kok repot repot lho jeng, terima kasih yaa..."


Balas Rita berbasa basi sambil membuka isi amplop berwarna coklat tersebut. Kedua mata Rita tampak berbinar melihat isi amplop tersebut.


"Oohhh iyaa jeng....ini ada beberapa perhiasan juga, kamu pilih satu deh jeng..."


Dia mengeluarkan beberapa perhiasan dari dalam tas jinjingnya kemudian meletakkan diatas meja. Dan Rita pun tanpa sungkan mengambil sebuah kalung emas dan langsung memakainya.


"Waaah jeng....bagus sekali kalungnya, terimakasih banyak looh jeng..."


Ucap Rita sambil memandangi kalung emas dari kaca riasnya.


"Jangan sungkan jeng...kan ini juga berkat bantuan mu juga, aku yang seharusnya berterima kasih..."


Balas wanita itu. Lalu keduanya ngobrol membicarakan awal ketemu dengan Weni sampai akhir hidup Weni yang sangat tragis.


...****************...


Hari ini adalah jadwal ekskul taekwondo. Raka, intan, dan siswa lain nya tampak sedang melakukan pemanasan di lapangan. Tampak pelatih menoleh kesana kemari seperti mencari seseorang, namun sampai sesi pemanasan selesai, orang yang ditunggu tidak juga datang.


"Ada yang tahu dimana Heri dan Bambang.."


Tanya pelatih itu kepada para muridnya.


"Mungkin masih diare Pak..."

__ADS_1


Jawab seorang siswa yang spontan membuat para siswa lain nya tertawa. Namun tidak dengan 3 orang anggota geng Heri, mereka hanya diam seolah ikut merasakan malu.


Tanpa kehadiran Heri dan Bambang, mau tidak mau, dia harus melatih sendiri semua siswa.


Sementara itu Heri dan Bambang justru pergi ke suatu tempat dengan motornya.


"Aku masih bingung Mbang dengan kejadian tempo hari, Raka yang minum obat itu, tapi kenapa kita yang mules, dan dia tidak kenapa kenapa..."


Ucap Heri sambil menghisap rokok di sela jarinya.


"Aku juga ga tau Her, aku curiga aja sih sama itu anak, dia pernah mengalahkan kita, terus kemarin dia bisa lolos dari jebakan kita. Aku yakin dia pasti punya khodam atau semacamnya.."


Balas Bambang dengan berbagai analisanya.


"Gagal aku pacarin Intan, sialan emang..."


Sahut Heri kesal lalu membanting puntung rokok nya ke tanah.


"Kenapa ga kamu pelet saja si Intan..."


Celetuk Bambang terkekeh dengan maksud bercanda.


Namun justru candaan Bambang dianggap solusi jitu oleh Heri. Senyuman pun terbit di bibirnya.


"Kira kira dimana Mbang dukun pelet..."


"Haaah....serius kamu Her, aku tadi cuma bercandaa..."


Bambang memastikan lagi omongan Heri.


"Ya serius lah Mbang, pokoknya Intan harus jadi milik ku..."


Balas Heri lalu menyalakan sebatang rokok lagi.


"Terserah deh Her, tapi kalau urusan yang satu ini aku ga mau ikut ikutan, yang kemarin saja masih belum habis malu nya"


Bambang tampak maraup mukanya kasar karena teringat kejadian yang sangat memalukan, dan yang pasti akan di ingat dalam waktu yang sangat lama.


...****************...


"Boleh ga sih.., aku ikut latihan sama gurumu saja, males aku lama lama latihan taekwondo, ga mas Heri, ga pelatihnya, matanya jelalatan mulu kalau lihat aku, risih aku..."


Ucap Intan membuka obrolan di perjalanan pulang mereka.


"Ya ga bisalah, kita sudah terlanjur ikut ekskul ini, nanti kalau kita sudah naik kelas 2 baru boleh ganti ekskul..."

__ADS_1


Balas Raka yang sebenarnya setuju dengan Intan.


"Yakaan dulu aku ga tau kalau ternyata banyak yang naksir..."


Sahut Intan cengengesan dengan gestur sombong.


"Sombong amaatt lumba lumbaaa...."


Balas Raka cekikikan.


"Pengen liburan ke pantai aku Kaa...yuuk kapan kapan kita ke jogja apa gunung kidul gitu.."


Ajak Intan yang tiba tiba bicara dengan nada serius. Raka hanya memandangi mata Intan yang tampak mulai berkaca kaca tanpa menjawab ajakannya.


"Dulu sebelum orang tuaku meninggal, kami berencana berlibur ke pantai...hiikk...hiikk..."


Intan tak dapat melanjutkan kata katanya, dia malah menangis sambil mendongakan wajahnya ke atas.


"Iyaa...nanti kapan kapan aku anterin kamu ke pantai, janji... Sudah jangan bersedih, yuk pulang, keburu magrib..."


Raka mengelus punggung Intan mencoba menenangkan, Intan pun hanya mengangguk pelan sambil menghapus beberapa bulir air mata di pipinya.


Sesampainya di rumah, Intan termenung di dalam kamarnya sambil memandangi foto ayah ibunya, tatapan nya kosong menerawang jauh ke masa lalu.


Terkadang hatinya protes kepada Sang Pemilik Hidup, namun seiring bertumbuhnya usia Intan, dia perlahan lahan bisa menerima takdir pahit yang menimpa kedua orang tuanya.


Meskipun begitu, di hati kecilnya dia sangat yakin kalau kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya bukanlah kebetulan semata.


Lain halnya dengan Intan yang masih larut dalam kesedihannya, Raka kembali menjalani latihan rutin nya.


Namun latihan kali ini sangat spesial, Kakek buyut nya, Suryo Buwono hadir disitu.


"Cucuku, aku akan buka sepenuhnya mata batinmu, nanti setelahnya kamu bisa melihat makhluk makhluk halus disekitarmu, apakah kamu siap nak..."


Ucap Suryo Buwono kepada Raka. Dan Raka pun mengangguk mantap pertanda dia siap dibuka penglihatan batin nya.


Ditempelkan ujung jari di antara kedua mata Raka, sepersekian detik melesat cahaya putih menyilaukan dari jari Suryo masuk menembus ke dahi Raka.


"Sudah, ingat...tetap kendalikan hati dan emosimu saat nanti kamu melihat makhluk makhluk aneh, kamu sejak kecil sudah sering melihatnya bukan...,dan 1 hal, tidak semua makhluk halus itu jahat, terkadang mereka hanya ingin menunjukan keberadaan mereka"


Suryo memberi wejangan panjang lebar kepada cucu buyutnya.


"Mulai sekarang ajarkan olah tenaga dalam pada dia, aku harus pergi sekarang, sampai jumpa lagi..."


Perintah Suryo kepada Gagak Rimang. Lalu Suryo menghilang begitu saja entah kemana.

__ADS_1


"Kamu sudah dengar perintah Kakek buyutmu, mari kita mulai..."


__ADS_2