RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 47


__ADS_3

Indra semakin sering pergi ke sekolahan pada saat jam berangkat ataupun jam pulang sekolah sekedar ingin melihat Intan dari kejauhan.


Dia masih ragu untuk menemui Intan secara langsung karena gadis yang sudah mencuri hatinya itu selalu bersama Raka.


Indra lalu menemui salah satu siswa, dia meminta informasi soal kedekatan Raka dan Intan dengan sejumlah uang sebagai imbalannya.


"Dek, anak cewek itu sama cowok disampingnya itu pacarnya bukan dek..."


Tanya Indra sambil menunjuk arah Intan dan Raka. Tentu saja karena Indra belum tahu nama mereka.


"Setahu saya mereka tidak pacaran mas, mereka sahabatan sejak masih SMP sampai sekarang, jadi mereka memang sangat dekat mas..."


Ujar seorang siswa bertubuh agak gempal itu kepada Indra.


"Baik, terima kasih atas informasinya. Ini imbalanmu..."


Balas Indra lalu memberikan 2 lembar uang pecahan 50 ribuan dengan raut wajah bahagia dengan informasi yang dia dapatnya.


Tentu saja anak itu sangat girang mendapat uang yang baginya sangatlah banyak.


"Selamat siang, maaf mengganggu kalian. Bolehkan aku kenalan denganmu, namaku Indra..."


Tiba tiba Indra menghampiri Raka dan Intan yang sedang mengantri membeli jus jambu di depan sekolahan.


"Bukankah kamu orang yang menyerang kami tempo hari..."


Ingatan Intan sungguh tajam.


Mendengar ucapan Intan, Raka langsung waspada, dia menarik Intan ke belakang tubuhnya khawatir Indra berniat jahat.


"Iya, itu aku. Maafkan kami. Tapi saya datang kali ini tidak membawa embel embel keluarga Kartawiharja, dan sama sekali tidak ada niat ngajak ribut kalian lagi..."


Ucap Indra yang sudah menarik tangan nya karena permintaan jabat tangan perkenalan barusan tidak tersambut oleh Intan.


"Bagaimana kami bisa mempercayaimu, bahkan tempo hari kalian terlihat sangat bernafsu untuk membunuh kami..."


Sahut Raka masih dengan tatapan waspada.


"Saya tertarik dengan nona ini, dan saya sangat ingin mengenalnya lebih dekat lagi.."


Indra tak punya pilihan lain selain langsung mengutarakan niatnya, agar mereka berdua bisa mempercayai kata katanya.


Mendengar alasan Indra yang terdengar tak masuk akal, Raka melirik kepada Intan. Dan Intan pun menggeleng sama tidak percayanya dengan Raka.


"Kami hampir mati oleh kalian, dan sekarang tiba tiba kamu datang hanya sekedar ingin berkenalan dengan ku... Nalarku ga nyampe. Maaf, kami harus segera pulang..."


Sahut Intan lalu menarik tangan Raka menaiki sebuah angkot yang sedang berhenti menaik kan penumpang.

__ADS_1


Indra hanya menatap keduanya pergi dengan senyuman masamnya. Dia mengenakan kembali helm nya lalu mengikuti angkot itu pergi.


...****************...


Sementara itu Surya Kartawiharja, pemimpin tertinggi Klan Kartawiharja mulai mencurigai anak bungsunya yang sering pergi tanpa pamit dan tanpa pengawalan.


Tentu saja sangat mudah bagi dirinya untuk menemukan anak nya itu, beberapa anak buahnya di kirim untuk memata matai anak nya sekaligus memberi pengawalan jarak jauh kepada Indra.


Keesokan harinya surya berencana menemui anak nya yang sudah tidak pulang 2 hari.


"Antar aku kesana sekarang, aku ingin tahu apa yang dilakukan anak ku disana..."


Perintah Suryo kepada pengawal ring 1 nya. Tanpa berlama lama 3 buah mobil mewah berwarna Hitam melesat ke arah Indra terakhir terlihat.


Rombongan pimpinan klan Kartawiharja datang terlambat, Indra sudah pergi entah kemana saat Intan sudah masuk ke sekolahan.


"Apakah kita akan menunggu atau kita pulang Tuan..."


Tanya sopir yang merupakan pengawal ring 1 Surya.


"Sebentar....aku merasakan aura yang sangat mirip dengan yang kita temui di kebun kopi tempo hari..."


Surya Kartawiharja mempunyai kelebihan bisa merasakan aura meskipun sudah disembunyikan oleh empunya. Dia berusaha mengintip siapakah pemilik aura aneh itu dengan kesaktian nya.


Uhhhuuukkkk......hoooeeekkk.....


"Kita pulang...cepaaattt...."


Surya memerintahkan anak buahnya untuk membawanya pulang secepatnya.


Dan dengan panik sopir itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju villa mewah keluarga Kartawiharja di lereng gunung ungaran.


Itu hukuman bagi orang yang coba coba mengukur kesaktianku....


Gumam Gagak Rimang dengan senyum sinisnya.


Selama perjalanan Surya hanya diam sambil melakukan meditasi darurat di dalam mobil untuk sekedar meredakan sakit dari luka dalam nya.


Sesampainya di halaman villa, Chandra yang sudah mendapat kabar sebelumnya segera menyongsong ayahnya yang masih sesekali terbatuk batuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya.


Setelah dibawa ke ruang meditasi, Chandra segera menyalurkan tenaga dalam kepada ayahnya sekedar untuk menghentikan pendarahan akibat luka dalam nya.


"Siapa yang menyerang ayah, saya akan menuntut balas sekarang juga..."


Ucap Chandra setelah ayahnya selesai melakukan meditasi penyembuhan.


"Dia orang yang sama dengan yang kulihat saat kalian mengejar keris pusaka tempo hari..."

__ADS_1


Jawab surya lirih sambil memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.


"Aku hanya mencoba menerawang kekuatan nya dari dalam mobil, dan ini yang kudapat, aku terluka parah....kamu masih berniat menuntut balas....?"


Surya balik bertanya kepada Chandra.


Seketika amarah Chandra seperti padam begitu saja mendengar perkataan ayahnya. Surya Kartawiharja bahkan diakui kesaktiannya baik oleh kawan maupun lawan, namun kali ini hanya sekedar mengintip aura Gagak Rimang saja dia langsung terluka parah.


"Besok kita adakan rapat disini, kabarkan kepada semua pimpinan daerah..."


Ucap Surya kepada ajudan nya, lalu pergi menuju kamarnya dengan keadaan masih lemas sambil terus memegangi dadanya.


Hari terasa berlalu begitu cepat. Villa mewah di lereng gunung ungaran itu sudah ramai oleh orang orang dari klan Kartawiharja.


Mobil mewah berderet memenuhi tempat parkir dan sebagian lagi di bahu jalan, hampir semua orang disitu mengenakan pakaian dengan warna dominan hitam.


Anggota keluarga inti klan Kartawiharja dan para pimpinan daerah berkumpul mengelilingi sebuah meja besar di aula yang lumayan luas itu.


2 orang wanita tampak membagikan masing masing 1 map besar berisi foto dan informasi pendukung lainnya.


"Keris pusaka yang kita cari berada dalam tubuh anak ini, seperti yang kalian ketahui, kedua anak ku tidak berhasil mengambilnya tempo hari.."


Ucap Surya mengawali rapat sambil memperlihatkan foto Raka dan Intan yang diambil diam diam oleh Joko.


Semua tampak membuka map besar tersebut lalu memperhatikan foto 2 anak berseragam SMA.


"Saat itu aku menangkap 2 aura yang sangat mengerikan, dan kemarin saat aku mencari Indra, aku kembali menangkap aura yang sangat mirip. Aku mencoba menerawangnya, namun aku langsung dibuat luka parah olehnya. Aku tidak bisa memastikan apakah orang itu di pihak anak ini atau bukan..."


Tidak ada satupun orang disana yang berani menyela pembicaraan, semua menyimak dengan seksama semua kata kata Surya.


Sedangkan Indra tampak hanya menunduk sambil memperhatikan foto Intan, tak lama lagi pasti dia akan mendapat murka dari ayahnya.


"Mulai hari ini prioritas utama kita adalah melindungi kedua anak ini dari musuh musuh kita. Jangan sampai mereka jatuh ke tangan musuh kita, nanti akan aku pikirkan lagi bagaimana cara mengambil keris dari bocah itu.."


Perintah Surya adalah mutlak, tidak ada satupun bantahan keluar dari mulut mereka.


"Dan satu lagi, jangan coba coba ganggu gadis di foto itu, aku sudah melihat betapa mengerikan nya dia..."


Ucap Chandra sambil melirik kearah adiknya.


Disaat yang hampir bersamaan, pesaing utama Klan Kartawiharja juga mengadakan rapat di sebuah rumah mewah di daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.


"Salah satu telik sandi kita hilang secara misterius entah kemana, kemungkinan ini adalah ulah dari klan Kartawiharja yang menguasai daerah itu..."


Ucap Purnomo, pemimpin tertinggi Klan SastroWardoyo.


"Kita harus bergerak cepat, kirim beberapa orang terbaik, culik anak itu segera..."

__ADS_1


__ADS_2