RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 33


__ADS_3

Mbah Mitro kembali komat kamit membaca mantra, tiba tiba angin dingin berhembus seperti berputar putar diatas sendang. Nyala api 2 buah obor pun hampir padam dibuatnya.


"Kamu diterima, segera keluar dari sendang, ini pakaialah"


Ucap Mbah Mitro sambil melemparkan kain hitam di tepi sendang.


Wanita itu lalu melilitkan kain hitam di tubuhnya. Mbah Mitro mengambil 2 obor, lalu diserahkan salah satunya kepada wanita itu.


"Ikuti aku"


Mbah Mitro berjalan menuruni undakan kecil dari batu yang disusun menuju ke bibir pantai, wanita itu mengikuti dari belakang.


Tak butuh waktu lama, sampailah mereka di sebuah batu karang yang di salah satu sisi nya seperti ada lubang lumayan besar seukuran manusia dewasa.


"Masuk lah kesana, kamu sudah ditunggu di dalam, dia sudah mengetahui apa maksud dan tujuan mu.."


Ucap Mbah Mitro lalu meninggalkan wanita tersebut begitu saja.


Ada rasa takut di dalam hati wanita itu, namun niatnya sudah bulat. Setidaknya saat ini dia sudah tidak mendapatkan tatapan mesum dari Mbah Mitro.


Dengan hati berdebar, wanita itu masuk melalui lubang tersebut, dia harus extra hati hati larena bebatuan karang yang sangat tajam serasa menusuk nusuk kakinya yang tanpa alas.


Angin dingin kembali berhembus di dalam goa tersebut, menyibakkan rambut basah si wanita itu.


Dengan langkah gemetar dia terus masuk lebih dalam ke dalam goa. Hingga akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah batu pipih persegi panjang yang lumayan besar.


Ggrrrr..... Berbaringlah disitu....


Terdengar suara serak berganda yang mengerikan membuat jantungnya berdegup sangat kencang, kaki kaki nya yang gemetar pun kini terasa seakan lemas tak bertulang.


Wanita itu menengok ke segala arah namun tak menemui siapapun, hanya terdengar suara nafas seperti orang mendengkur.


Wanita itupun tak ada pilihan lain, ditancapkan obor di dinding lalu dia naik ke atas batu pipih tersebut dan membaringkan tubuhnya.


Sreeettt....


Tiba tiba kain hitam yang melilit tubuhnya seperti ditarik dengan paksa, wanita itu kaget bukan kepalang, kini tubuhnya terbaring tanpa sehelai benang pun. Spontan kedua tangannya segera menutupi bagian bagian tertentu.

__ADS_1


Ggrrrr... Kamu harus melayaniku...!!


Entah dari mana datangnya, tiba tiba muncul gumpalan gumpalan asap berwarna hitam, kemudian perlahan menjelma menjadi sesosok makhluk yang sangat mengerikan.


Makhluk itu memiliki sepasang mata merah yang sangat besar, mulutnya begitu lebar menampak kan deretan gigi gigi hitam runcing yang berbau sangat anyir. Seluruh badannya berbulu berwarna hitam legam.


Wanita itu menjerit jerit ketakutan saat mahkluk mengerikan itu menindihnya lalu mulai menjilati seluruh tubuhnya, namun jeritan jeritan itu hanya membuat makhluk itu semakin beringas.


Iblis itu pun menggagahi si wanita dengan sangat brutal, jeritan kesakitan dari wanita itu tak pernah berhenti keluar dari mulutnya, sampai akhirnya dia sampai pada batas kekuatannya, wanita itu tak sadarkan diri dengan banyak darah di sela pahanya.


Rita yang tak tahan menunggu di rumah mbah Mitro, memutuskan kembali ke parkiran, dia memilih tidur di dalam mobil.


Suara deburan ombak yang tanpa jeda menghantam batu karang, membangunkan wanita itu dari pingsan nya.


Dengan sangat susah payah wanita itu turun dari atas batu pipih, lalu matanya memindai sekitar batu mencari kain hitam yang semalam dia pakai.


Setelah ketemu, dia pun tergopoh gopoh berjalan menuju pintu goa sambil menahan sakit yang tak terkira di bagian vital nya.


Terdengar sayup sayup suara adzan dari kejauhan, namun hari masih cukup gelap. Saat sampai di dekat sendang, ternyata Mbah Mitro sudah menunggunya disana.


Kembali Mbah Mitro membakar kemenyan sambil mulutnya komat kamit. Wanita itupun bergegas masuk ke dalam sendang, dan sekuat tenaga menggosok gosok seluruh tubuhnya. Dia merasa sangat jijik dengan apa yang terjadi padanya semalam.


Setelah ritual selesai, mereka pun kembali ke rumah Mbah Mitro, dan ternyata Rita pun sudah kembali kesitu lagi.


"Sediakan kamar khusus, setiap malam bulan purnama anda harus membawa tumbal di kamar itu"


Kemudian mbah Mitro menjelaskan apa apa saja yang harus disiapkan menjelang malam persembahan tumbal, wanita itu tampak memperhatikan dengan serius perkataan juru kunci tersebut.


Setelah memberikan sebuah amplop yang cukup tebal, mereka pun pulang kembali ke semarang.


"Jeng, kamu yang nyetir yaa, badanku sakit semua..."


Ucap wanita itu kepada Rita.


Dan Rita pun langsung mengiyakan, dia sudah paham dengan apa yang dialami teman nya semalam. Pun dia juga sudah pernah mengantarkan teman nya yang lain ke tempat ini juga.


...****************...

__ADS_1


Hari yang dijadwalkan pun tiba, para siswa kelas 1 dengan seragam pramuka dan segala perbekalannya berkumpul di sekolahan.


Tampak guru dan kakak pembina memberikan arahan arahan, dan setelah doa bersama usai, mereka pun menaiki truk truk yang sudah berjajar rapi di sepan sekolahan sesuai pembagian kelompok masing masing.


"Ntan, kita tidak 1 kendaraan, jangan nangis yaa..."


Goda Raka lalu naik truk berbeda. Intan pun hanya mengakat kepalan tangannya ke atas sambil melotot.


Perjalanan merekapun lancar tanpa hambatan berarti, seluruh siswa bernyanyi nyanyi gembira sepanjang perjalanan mereka.


Tapi tidak dengan Raka, hatinya terasa sangat gelisah, entah akan ada kejadian apa disana.


Setelah beberapa jam perjalanan, sampailah mereka di lokasi, dan langsung menuju tempat yang sudah disiapkan panitia untuk berkemah.


Pihak sekolah sengaja memilih kaki gunung tidar sebagai tempat berkemah karena lokasinya yang tidak begitu jauh dengan perkampungan. Dan gunung tidar pun bisa dibilang tak pernah sepi dari pengunjung dengan berbagai maksud dan tujuan.


"Heii Rakaa.... Kita satu kelompok, kalau kamu butuh apa apa bilang saja, jangan sungkan.."


Raka terkejut mendengar panggilan dari Heri, dan yang lebih mengherankan sikapnya begitu bersahabat dengannya.


"Iya mas, terima kasih. Saya bantu dirikan tenda dulu mas, permisi"


Heri yang biasanya selalu bersikap dingin jika bertemu dengannya, kini tampak berubah 180 derajat. Namun Raka mengabaikan perasaan nya, dia mencoba untuk berprasangka baik kepada Heri.


"Oh iya Kaa, nanti malam tolong bantu aku berjaga yaa, aku tau kami sangat bisa diandalkan"


Kembali Heri mengajak ngobrol dengan keramahannya, Raka pun menyanggupi permintaan Heri.


Sementara Intan yang berada di kelompok lain tampak memperhatikan Heri dan Raka dari kejauhan, tersungging kecil senyuman di bibirnya.


"Akhirnya mereka bisa akur, aku jadi lebih tenang..."


Batin Intan. Lalu dia bergabung lagi dengan Dita dan teman lain nya.


Setelah selesai mendirikan tenda, para siswa pun diberikan waktu istirahat sambil menikmati udara segar dan aroma khas pohon pinus yang tumbuh berderet menjulang tingi.


Di salah satu pohon pinus yang lumayan tinggi, tampak bertengger seekor burung gagak dengan sorot mata tegas nya.

__ADS_1


__ADS_2