RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 28


__ADS_3

"Jadi waktu baju kamu sobek kapan hari, kamu bilang kalau habis dikeroyok 4 orang itu bukan bercanda"


Sepanjang perjalanan pulang Intan terus menginterogasi Raka, dia belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang dia lihat.


"Ya engga lah, mereka lebih parah malah, kuhajar sampai tidak bisa bangun"


Jawab Raka cengengesan.


"Kamu itu manusia atau bukan sebenarnya, jangan jangan kamu itu alien, jadi ngeri deket deket sama kamu.."


Dimata Intan, Raka hanyalah seorang anak pendiam yang rendah diri. Logikanya menolak untuk mempercayai penglihatannya. Dan Raka pun justru hanya tertawa mendengar pertanyaan Intan.


"Nanti suatu saat kamu akan tahu, sementara kamu cukup mempercayai aku saja"


Jawab Raka enteng. Intan pun hanya manggut manggut, namun sudah tak terlihat lagi kecemasan di wajahnya.


"Tadi kamu juga bilang, kamu berjanji mau menjaga dan melindungi aku, itu cuma buat gertak mereka saja kan"


Intan benar benar ingin memastikan setiap kata kata Raka. Dan Raka pun menjawab dengan gelengan kepala sambil tersenyum.


"Tentu saja itu bukan gertakan semata, aku dan guruku se.."


Raka keceplosan, dia buru buru menutupi mulutnya. Intan menghentikan langkahnya lalu berdiri menghadang tepat di depan Raka.


"Lanjutkan kalimatmu, sekarang..!!"


Intan tampak sedikit melotot menatap mata Raka dengan tatapan judesnya. Raka pun jadi salah tingkah dan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ntan, udah mendung banget tuh langitnya, yuuk buruan pulang, ntar kehujanan kita.."


Raka berkelit menghindari hadangan Intan, lalu berjalan cepat meninggalkan Intan, namun baru beberapa langkah....


**Rakaaaa....!! Kalau kamu tidak lanjutkan kalimatmu, aku akan tetap disini**...!!


Intan mengeluarkan jurus andalannya, ngambek. Dia duduk begitu saja disitu, tak perduli seragamnya kotor. Dan itu sangat berhasil membuat langkah Raka terhenti.


Raka menghela nafas kemudian dia hembuskannya kasar, Raka merutuki keteledoran nya sambil menepuk nepuk jidat nya dangan tangan kanan nya. Tak urung Raka kembali ke tempat Intan duduk, dia menghampiri Intan yang bibirnya sudah dalam mode lumba lumba, Raka ikut duduk bersila tepat dihadapan Intan.

__ADS_1


"Jadi begini Ntan, sebenarnya dari sejak masih SMP aku berguru bela diri kepada seseorang, beliau berpesan agar ilmu bela diri yang aku kuasai hanya dipergunakan untuk menjaga dan melindungi keluarga maupun orang orang terdekat, termasuk kamu"


Raka menjelaskan dengan sangat hati hati, dia tidak ingin keceplosan lagi.


Lagi lagi perkataan Raka susah di percaya oleh logika Intan.


"Kamu tidak sedang mengarang cerita kan"


Balas Intan sambil menyambut uluran tangan Raka yang membantunya berdiri. Raka menggeleng sambil tersenyum lega.


Andai saja Gagak Rimang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua berada dalam wujud manusia, dia pasti tertawa terbahak bahak.


Sementara itu di tempat lain...


"Kenapa kamu tadi nyerah sih Her, harusnya kita keroyok aja berlima"


Ucap Bambang sambil mengelus elus ulu hatinya yang masih menyisakan perih.


"Aku sengaja Mbang, aku ga mau terlihat seperti pengecut di mata Intan. Kita tunggu waktu yang tepat, kita akan membalasnya lebih kejam..!!"


Balas Heri dengan senyum licik nya, Bambang pun hanya manggut manggut menerima alasan Heri.


"Kamu kenapa tho jeng, kita kesini mau senang senang, malah ngalamun terus"


Wanita dengan pakaian berwarna merah lumayan seksi itu bertanya kepada wanita disampingnya sambil menghisap rokok nya.


"Kamu tahu sendiri kan Jeng, dukun santet yang kapan hari gagal, malah mati bunuh diri, padahal aku sudah keluar uang banyak, mau pakai cara apa lagi untuk melenyapkan gadis itu, menyewa pembunuh bayaran pun pasti sangat mahal dan sangat beresiko"


Jawab wanita itu lalu menenggak lagi satu sloki anggur di hadapan nya. Wanita berbaju merah pun tiba tiba ikut berpikir, dia mengetuk ngetukkan telunjuknya di meja kaca.


"Aku ada ide..!!"


Wanita yang sudah setengah mabuk itu pun kaget lalu membenarkan posisi duduknya. Lalu wanita berbaju merah membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Kamu ingat sama Toni kan, berondong yang pernah kita bawa ke hotel tempo hari, kita suruh dia nabrak lari gadis itu, kamu tidak perlu bayar mahal ke dia, gimana? Kamu setuju dengan ideku?"


Wanita yang dibisiki tersebut tampak tersenyum sumringah, harapan untuk memiliki harta peninggalan orang tua Intan kembali muncul.

__ADS_1


"Aku sangat setuju dengan idemu Jeng, terima kasih banyak lho Jeng. Kamu memang sahabat ku yang paling brilian..!!"


Dan kedua wanita paruh baya itu pun tertawa seiring alunan musik diskotik yang semakin berisik.


Selang beberapa hari kedua wanita tadi memanggil Toni di sebuah kamar hotel yang lumayan mewah. Kedua wanita itu memang sering membayar pria muda untuk bersenang senang.


Setelah berbagai macam adegan 2 wanita dengan Toni selesai, si wanita dengan banyak perhiasan emas menempel di tubuhnya memberi penawaran kepada Toni.


"Ton, aku ada kerjaan buat kamu, kamu mau terima atau tidak itu terserah kamu"


Wanita yang belum mengenakan pakaian sama sekali itu melempar sebuah amplop agak besar berisi beberapa gepok uang.


Toni yang melihat uang sebanyak itu langsung mengiyakan tanpa bertanya pekerjaan apa yang akan diberikan.


"Aku ingin kamu bunuh gadis ini, tabrak lari saja, atau berpura pura kecelakaan, terserah kamu, intinya gadis ini mati..!!"


Wanita itu menyerahkan foto intan kepada Toni, foto itu diambil saat wanita paruh baya itu memata matai Intan di depan sekolahan nya.


Toni tak mengira jika pekerjaan yang diberikan adalah membunuh, sebelumnya dia mengira pekerjaan yang berhubungan dengan perlendiran.


"Baik, saya terima pekerjaan ini, namun saya tidak bisa menjanjikan kapan, saya akan memantau dulu kesana"


Setelah Toni selesai mengenakan seluruh pakaian nya, dia mengambil amplop berisi uang tersebut lalu pamit pulang.


Ada keraguan di hati Toni, tapi uang adalah segalanya bagi Toni. Pun selama ini dia juga melakukan pekerjaan kotor.


Berbekal alamat dan informasi dari wanita yang membayarnya, Toni pun mulai menjalankan tugasnya.


Setelah kurang lebih 2 jam mengemudi, sampailah mobil Toni di depan sekolahan. Dia parkir di depan sebuah rumah makan, tempat ini sangat cocok untuk memantau Intan tanpa dicurigai.


Toni pun memesan menu, kemudian sebagai basa basi dia bertanya tanya hal hal sepele kepada pelayan rumah makan tersebut, hanya untuk memberikan kesan baik agar tidak mencurigakan.


Selama seminggu ini, setiap hari Toni selalu ke rumah makan tersebut untuk memantau kebiasaan Intan berangkat maupun pulang sekolah.


"Kaa, kok perasaanku ga enak yaa"


Ucap Intan saat berangkat ke sekolah bersama Raka.

__ADS_1


"Aku tahu, karena aku juga merasakan nya, akan ada sesuatu..."


Jawaban Raka membuat Intan menatapnya dengan penuh keheranan.


__ADS_2