
Malam sudah mulai larut, terdengar gemuruh disertai kilatan kilatan petir yang sesekali membuat langit pekat menjadi terang benderang.
"Aku harus mencari dukun paling sakti buat pelet Intan, dan kamu Raka....tunggulah pembalasanku..."
Ucap Heri di depan cermin lemari di kamarnya.
Heri berniat untuk pergi ke tempat saudaranya di sebuah kota di jawa timur. Tekadnya sudah bulat walaupun tanpa dukungan dari Bambang.
Whhuuuuzzz....
Angin berhembus kencang seolah menerbangkan tirai jendela kamar Heri yang memang belum dia tutup.
Tanpa dia sadari, gumpalan asap tipis berwarna hitam masuk ke dalam kamarnya.
Temaram lampu kamar Heri membuatnya tidak melihat asap tipis itu masuk. Heri seakan tidak peduli tirai jendelanya berkibar kibar tertiup angin, dia masih menatap cermin itu dengan kilatan dendam.
Anak ini bisa jadi wadah yang sempurna....
Batin Iblis tanpa wujud yang berada di sudut kamar Heri.
Iblis itu pun lalu berusaha untuk merasuki tubuh Heri, beberapa kali percobaan selalu gagal.
Keparaatttt kau Suryooo....!! Bahkan sekedar merasuki manusia lemah ini aku belum mampu....
Geram iblis itu lagi. Lalu asap hitam tipis itupun keluar lagi dari kamar Heri dan entah pergi kemana.
Keesokan harinya Heri memacu sepeda motor nya ke sekolah, dia menyerahkan surat ijin tidak masuk sekolah dengan alasan melayat saudaranya di jawa timur.
Setelah itu dengan hati dipenuhi dendam, Heri melajukan motornya ke arah Jawa Timur.
Setelah 4 jam lebih, tibalah Heri di rumah saudaranya. Tampak kedatangan Heri disambut dengan sangat hangat, terutama oleh Rendra, dia seumuran dengan Heri. Dulu sewaktu masih kecil, mereka tumbuh dan berkembang bersama. Sampai pada akhirnya orang tua Rendra pindah ke sebuah kota di Jawa Timur.
"Ren, aku mau minta tolong sama kamu, tolong anterin aku ke dukun yang paling sakti..."
Bisik Heri di teras rumah.
"Jangan disini Her ngobrolnya, yuk keluar saja"
Balas Rendra setengah berbisik pula. Lalu mereka berpamitan dengan alasan ingin jalan jalan sore.
"Kamu mau nyari dukun apa maksudnya, dukun santet gitu?"
Tanya Rendra mengawali obrolan.
"Engga Ren, aku pengen pelet seorang cewek, ga tau kenapa, aku suka banget sama itu cewek"
Jawab Heri dengan agak malu malu.
"Owalaaaah...masalah cinta yang bertepuk sebelah tangan ternyataa... Cinta ditolak, dukun bertindak..."
Rendra tertawa mendengar jawaban Heri, dan malah meledeknya. Sedangkan Heri hanya cengengesan sambil garuk garuk kepala.
"Malah ngeledek mulu kamu Ren, kamu ada referensi ga.."
Tanya Heri dan menghentikan langkahnya.
"Disini tempatnya Her... Mau nyari dukun spesialis apa aja adaa, apa kita langsung kesana saja, biar gadis itu segera jatuh cinta kepadamu.."
Kembali jawaban Rendra disertai ledekan jahil.
"Oke, kita pulang ambil motor dulu.."
__ADS_1
Heri dan Rendra berbalik arah kembali ke rumah untuk mengambil motor.
"Jauh ga Ren.."
Tanya Heri sedikit berteriak sambil mengendarai motornya.
"Lumayan sih Her, paling ga sampe 1 jam.."
Pun sama halnya Rendra yang duduk di jok belakang, dia juga menjawab dengan volume dikeraskan.
Sesampainya di pertigaan kecil, Rendra mengambil alih kemudi motor. Tampak nya Rendra sudah hafal jalan menuju ke rumah dukun yang dituju.
Jalanan yang banyak berlubang, di tambah penerangan yang hanya mengandalkan lampu depan motor, tampak begitu mudahnya dilalui oleh Rendra.
"Kamu sudah sering kesini ya Ren, hafal amat ama lubang jalan..."
Tanya Heri sekedar memecah kesunyian, sambil kepalanya menoleh ke kanan ke kiri seperti merasa ada banyak makhluk yang memperhatikan mereka berdua.
"Ya ga sering sering amat sih Her, beberapa kali kesini"
Jawab Rendra masih tetap fokus pada kondisi jalanan yang semakin rusak.
"Kamu juga pelet anak orang Ren.."
Cecar Heri penasaran.
"Ya engga lah Her...aku cuma nganterin temen temen ku yang senasib denganmu, hahaha...."
Kembali Rendra yang humoris itu meledek Heri.
"Lagian banyak cewek yang antri, ga perlu aku main pelet.."
"Aku juga bukan nya ga laku Ren, kalau aku mau juga bisa dapet 3 cewek sekaligus. Tapi cewek yang kuincar ini beda... Disamping memang mempesona, aku juga punya masalah pribadi dengan teman cowok nya..."
Jawab Heri kembali dengan nada serius.
"Oohh...aku paham sekarang....sekali tepuk, 2 lalat mati...hahaha...."
Sahut Rendra tertawa.
Tak berapa lama mereka pun sampai di depan sebuah rumah yang hanya berdiri sendiri disitu, tidak ada rumah rumah lain di sekitarnya.
Di ruang tamu sederhana itu sudah ada 2 orang yang pastinya punya maksud dan tujuan yang sama dengan Heri.
Rendra dan Heri memilih menunggu di teras rumah tersebut. Aroma kemenyan dan suara suara binatang malam menambah suasana mistis disitu.
"Kamu kok bisa tahu tempat ini sih Ren"
Ucap Heri mencoba memecang keheningan.
"Dulu awalnya disuruh nganter temanku yang di selingkuhin pacarnya, trus dia kesini dengan maksud memelet adik nya, hehehe..."
Jawab Renda dengan tertawa kecil.
"Terus berhasil dia?"
Tanya Heri lagi sambil menghisap rokok nya.
"Jangan tanya...ga cuma berhasil, dihamili pula itu adik ceweknya.."
Rendra pun ikut mengambil satu batang rokok lalu dinyalakan nya.
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu giliran, setelah hampir 2 jam lamanya akhirnya hanya tinggal Heri dan Rendra.
"Kamu bawa foto targetmu.."
Tanpa basa basi, dukun pelet itu meminta foto. Heri pun langsung mengambil satu lembar foto dari saku jaket nya.
"Ini mbah fotonya, tolong buat dia tergila gila pada saya mbah..."
Pinta Heri sambil meletak kan foto Intan di depan dukun itu.
Heri secara diam diam mengambil gambar Intan saat berkemah tempo hari.
"Siapa nama gadis ini"
Tanya si dukun sambil melihat foto Intan.
"Intan Camelia Putri mbah"
Jawab Heri, dan dukun itu hanya manggut manggut.
"Tunggu sebentar.."
Dukun itu pun masuk ke kamar ritualnya. Sambil komat kamit dia menaburkan kemenyan di atas tungku kecil yang masih menyala. Seketika asap dari kemenyan mengepul mengeluarkan aroma yang menyengat.
Tangan si dukun mulai bergetar masih dengan memegang foto Intan yang di arahkan pada kepulan asap kemenyan.
Mantra mantra mulai dibaca dengan cepat, getaran di tangan nya pun semakin kuat. Namun hal yang tidak terduga terjadi...
Krraaakkk....
Tungku kecil itu tiba tiba pecah tebelah menjadi dua, dan dukun tersebut seperti sedang menahan tekanan yang sangat hebat, nafas nya ngos ngosan seperti kehabisan energi.
"Rumah gadis ini dilindungi oleh pagar gaib yang sangat kuat, aku tidak berhasil menembusnya. Kalian pulanglah, aku tidak mau ambil resiko.."
Ucap dukun itu masih dengan nafas yang ter engah engah.
"Tolonglah mbah, saya bersedia bayar lebih, uang tidak masalah bagi saya..."
Rengek Heri memohon kepada dukun itu. Memang masalah uang Heri sangatlah berkecukupan, kedua orang tuanya adalah keturunan dari keluarga pengusaha.
Heri sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, dia tidak ingin kepergian nya sia sia tanpa hasil.
Sejenak dukun itu diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau ambil resiko, tapi aku bisa mengajarkan mu caranya asal uang yang kamu beri sepadan dengan ilmu yang akan kau dapat"
Dukun pelet ini tampak memgambil keuntungan dari situasi Heri.
"Hanya ini yang saya punya mbah, semoga mbah berkenan mengajarkan saya"
Heri membuka tas slempang nya dan mengeluarkan semua uang di dalam nya. Heri memang sengaja membawa uang lebih untuk berjaga jaga.
Dukun itu pun akhirnya setuju dengan tawaran Heri, dan malam itu juga si dukun mengajarkan tata cara, beserta mantra yang di tulis di selembar kertas.
"Yang kuajarkan ini adalah pelet jarak dekat, setelah kamu selesai membaca mantra, lemparkan rajah ini ke tubuhnya"
Ucap dukun itu menutup pelajaran ilmu pelet tingkat paling rendah. Dan Heri tampak sangat senang dengan ilmu yang baru saja dia dapat.
Kemudian mereka pun berpamitan pulang.
"Intan akan segera menjadi milik ku..."
__ADS_1