RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS

RAKA LINGGAR : KETURUNAN PEMBANTAI IBLIS
BAB 23


__ADS_3

Bulan demi bulan, tahun demi tahun, tak terasa Raka dan Intan sudah hampir lulus SMP, tinggal menunggu pengumuman kelulusan dari sekolah.


"Ka, nanti kita masuk di SMA yang sama yah, biar aku bisa ngawasin kamu biar ga berantem terus"


Ucap intan disepanjang perjalanan pulang.


"Aku juga pengen nya gitu, kamu kan dikit dikit nangis kalau ada yang jahil, siapa yang belain kamu kalau kita ga satu sekolahan"


Balas Raka cengengesan, Intan pun hanya memasang muka sebal dengan kedua bibirnya mengerucut.


Persahabatan mereka kini sudah jauh beda, sudah banyak canda tawa dan gurauan diantara mereka, mungkin karena masing masing tidak punya teman dekat.


Sementara itu disebuah rumah yang lumayan besar namun tidak terlalu terawat dengan baik


"Mas, aku bosan seperti ini terus, mau sampai kapan!"


Ucap Rini kepada suaminya setelah mereka menyelesaikan makan malam.


"Entahlah, kita pikirkan lagi nanti"


Jawab Susanto datar, kemudian lelaki itu keluar ke teras rumah dan menyalakan sebatang rokok.


Pandangan pria itu tampak menerawang, ada tersirat sebuah kesalahan dan penyesalan disana.


"Mas Subagyo, maafkan adikmu ini, aku harus melakukan ini..."


Gumamnya lirih sambil menghembuskan asap rokok nya kasar.


Hari yang sangat dinanti sudah tiba, para siswa termasuk Raka dan Intan tampak antusias sekaligus deg degan menanti pengumuman kelulusan.


Nama siswa dipanggil satu persatu sesuai urutan abjad, lalu diberi amplop oleh guru wali kelas berisi kertas bertuliskan lulus atau tidak lulus.


Tibalah nama Intan dipanggil, gadis cengeng ini pun menangis setelah membuka amplopnya. Raka sempat cemas melihat sahabatnya terlihat menangis, namun sekejap kemudian senyum mengembang di bibirnya, Intan menoleh ke Raka dan mengacungkan ibu jarinya ke atas.


Setelah menunggu beberapa saat, nama Raka akhirnya dipanggil kedepan, sifat minder dan rendah diri nya tampaknya tidak bisa hilang, tangan Raka gemetar saat menerima amplop yang tidak terlalu besar tersebut.


"Hampiir...saja"

__ADS_1


Ucap guru wali kelas sambil menunjuk kan gestur dua jarinya yang hampir menempel. Ya, Raka hampir saja tidak lulus karena nilai nya yang sangat pas pasan.


Raka pun tersenyum lega melihat tulisan LULUS dengan hurup tercetak tebal, Intan pun kembali mengangkat ibu jarinya. Setelah itu para siswa diperbolehkan pulang untuk memberi kabar kepada orang tua masing masing.


"Sudah besar rupanya gadis itu sekarang...aku harus cari cara!"


Gumam seorang wanita paruh baya dengan kaca mata hitam yang memperhatikan Intan saat keluar dari gerbang sekolah.


"Kaa, aku pengen ziarah kemakam orang tuaku, sudah lama aku tidak kesana"


Intan yang semula tampak bahagia akan kelulusannya tiba tiba saja menjadi sedih.


"Aku pengen kasih tau ke orang tuaku kalau aku sudah lulus, mereka pasti senang"


Beberapa bulir air mata lolos dari mata jernih nya. Raka pun tiba tiba merasakan kesedihan yang sama, namun ia tak bisa berkata kata, dia hanya memandangi wajah sedih Intan.


"Kakek nenek sudah sepuh, dan sering sakit, aku ga tega mau ajak mereka"


Lanjut Intan sambil menyeka air matanya.


"Kalau kamu mau aku bisa anterin kamu"


Hari yang disepakati tiba, Intan kerumah Raka untuk memintakan ijin kepada orangtuanya. Meskipun sedikit berat hati, orang tua Raka pun mengijinkan. Maklum saja, Raka hampir tidak pernah bepergian jauh, namun Intan berhasil meyakinkan kalau dirinya sudah sangat hafal jalan, jadi tidak mungkin tersesat.


Akhirnya mereka pun berangkat menaiki sebuah bis antar kota. Bis yang tidak terlalu penuh itu melaju dengan kecepatan sedang.


"Ntan, tapi aku ga punya uang buat ongkosin kamu, paling cuma cukup buat sekali jalan"


Ucap Raka membuka pembicaraan sambil sedikit tersenyum kecut.


"Ga usah kawatir, aku yang ajak kamu, aku dong yang bayar ongkosnya"


Jawab Intan dengan senyum, namun tetap saja tampak kesedihan di matanya.


"Kamu kok banyak duit Ntan"


Tanya Raka heran, sebenarnya dia bukan tipe orang yang suka bertanya tanya masalah pribadi. Orang tuanya mengajarkan jangan pernah menanyakan hal hal pribadi, karena itu sangat tidak sopan.

__ADS_1


"Tiap bulan aku dikirimi uang pamanku sebagai sewa rumah, dia dan istrinya tinggal di rumah orang tuaku"


Tak urung pertanyaan Raka semakin menambah kesedihan Intan. Kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka.


Setelah lebih dari 2 jam, mereka pun berganti naik angkot. Hanya kurang dari setengah jam, merekapun sampai di makam.


Intan tampak kusyuk berdoa sambil meneteskan air matanya, tanpa disadari Raka pun tampak ikut meneteskan beberapa bulir air matanya. Dadanya tiba tiba terasa begitu sesak, bukan karena melihat Intan menangis. Entah perasaan itu datangnya dari mana dan bagaimana.


"Ayah...Ibu...aku sudah lulus, sebentar lagi aku masuk SMA, bahagialah disana, jangan kawatirkan Intan, aku sudah besar sekarang..."


Ucap Intan sambil mengelus batu nisan kedua orang tuanya yang dimakamkan bersebelahan. Tampak bahunya berguncang menahan tangis yang semakin menjadi.


"Mereka pasti sangat bangga padamu Ntan"


Raka mengelus elus punggung Intan untuk menenangkan nya.


Tiba tiba sebuah motor berhenti tepat di depan makam, pria itu memarkir motornya, kemudian menyalakan sebatang rokok. Dia seperti sedang menunggu seseorang.


"Kaa, aku mau lihat rumah orang tuaku sebentar, kamu antar aku ya, tidak jauh kok dari sini"


Ucap Intan dibalas anggukan oleh Raka. Mereka pun keluar dari area makam.


"Kebetulan sekali kamu kesini, jadi aku tidak perlu repot repot ngirim uang sewa rumah"


Ucap pria yang tidak lain adalah Susanto, paman Intan. Susanto pun mengeluarkan amplop dari jaketnya lalu diserahkan kepada Intan.


"Paman..."


Ucap Intan kaku sambil menyalami dan mencoba mencium tangan pamannya, namun buru buru Susanto menarik tangan nya, seakan enggan dicium tangannya oleh keponakan satu satunya tersebut.


"Satu lagi, kamu ga usah mampir kerumah orang tuamu, nanti malah merepotkan kami, langsung pulang saja!"


Susanto lalu pergi begitu saja, kembali Intan menangis sejadi jadinya di depan pintu masuk makam. Kali ini Raka tampak begitu murka kepada Susanto yang tega berbuat sedemikian rupa pada keponakan nya.


Raka hendak berlari mengejar motor tersebut, namun buru buru Intan menarik tangan nya.


"Kita pulang Ka, aku gapapa...."

__ADS_1


Ucap intan sambil setengah menyeret tangan Raka yang terus saja memandangi Susanto yang semakin menjauh.


__ADS_2