
Davin seketika tersenyum mendengarnya, "Tenang aja Ciara, meskipun mereka godain om, tapi hati om cuma untuk kamu kok!" ucapnya santai.
"Ih om apaan sih?" ujar Ciara.
"Hahaha, udah yuk kita pulang! Daritadi om nungguin kamu malah gak keluar-keluar, yaudah om susulin aja kesini. Eh malah ditabrak sama kamu," ucap Davin.
"Ya maaf om, abisnya om juga jalan tapi matanya kemana-mana. Berarti gak murni kesalahan aku dong om?" ucap Ciara sambil nyengir.
"Iya iya, kamu mah mana pernah salah sih?" goda Davin seraya mencolek pipi keponakannya.
"Mau juga dong dicolek kayak gitu sama om ganteng," ucap Anin tanpa ragu.
Ciara langsung mencubit lengan Anin dan menatap tajam ke arahnya, seketika Anin pun tersenyum lebar lalu berjanji tidak akan lagi menggoda Davin. Sedangkan Davin sendiri hanya menggeleng sambil terkekeh pelan melihat reaksi Ciara saat ini, ia tahu gadis itu cemburu dengan sahabatnya sendiri.
"Yaudah, mau pulang apa masih mau disini nih kamu?" tanya Davin pada Ciara.
"Pulang dong om, aku udah capek banget nih," jawab Ciara sambil mengeluh.
"Ahaha, namanya sekolah pasti capek lah. Kalo gitu pamit dong sama teman-temannya!" ucap Davin.
"Ya om." Ciara menurut dan berpamitan pada kedua temannya sebelum pergi bersama Davin.
Setelahnya, Ciara kini masuk ke mobil omnya dan melaju pergi dari sekolah itu. Terlihat Davin yang duduk di sebelahnya terus melirik ke arah gadis itu sambil tersenyum tipis, Ciara pun keheranan melihat pamannya berulang kali menatapnya dan tersenyum tanpa alasan yang jelas.
"Om kenapa sih? Ada yang salah sama aku sampai om ngeliatin aku begitu terus sambil senyum?" tanya Ciara penasaran.
"Enggak lah Ciara, om cuma kagum sama kamu. Abisnya kamu tuh cantik banget sih sayang, kamu bikin om jadi terpesona," jawab Davin.
"Hahaha, kapan sih om gak gombalin aku? Kayaknya setiap hari deh om begitu terus," ujar Ciara.
"Masalah buat kamu? Suka-suka om dong, om mau gombalin kamu atau apa kek itu terserah om. Lagian suruh siapa kamu cantik banget kayak gitu?" ucap Davin sambil mencolek pipi gadis itu.
"Om, aku boleh minta sesuatu gak sama om? Kali ini penting banget om," tanya Ciara.
__ADS_1
Davin sontak kaget dan menatap wajah Ciara dengan penasaran, "Minta apa sayang? Apapun yang kamu mau, pasti bakal om turuti," ucapnya.
"Eee..."
"Kamu mau minta om buat hapus video itu? Maaf Ciara, kalau soal itu sih om gak mau. Mending kamu cari permintaan yang lain aja deh," sela Davin.
"Aku gak mau minta begitu kok om, soal video mah aku udah lupain deh dan aku yakin om gak bakal sebarin video itu. Ada hal lain yang mau aku minta dari om," ucap Ciara.
Davin mengernyit bingung, "Apa itu Ciara? Kok kelihatannya kamu serius banget?" tanyanya.
"Iyalah om, aku tuh tadi abis kena bullying di sekolah. Ada satu cewek yang bikin aku kesel banget om!" jawab Ciara.
"Hah? Kamu dibully sayang? Kok bisa sih? Siapa yang berani bully kamu, ha? Bilang sama om!" kaget Davin yang langsung syok.
"Ada salah satu temanku di kelas om, dia iri sama aku karena aku dipilih buat jadi wakil sekolah tapi dia enggak. Makanya dia taruh saus di kursi kantin tempat aku duduk, jadinya rok aku ketempelan saus deh dan aku diketawain orang-orang," jelas Ciara.
"Apa? Keterlaluan banget itu orang, awas aja om bakal balas perbuatan dia!" kesal Davin.
•
•
Singkat cerita, Davin dan Ciara telah sampai di rumah Galen. Sebenarnya Davin tidak ingin mengantar Ciara kesana, namun apa daya Ciara sendiri yang terus memaksa untuk dibawa pulang karena ia sedang tak mau pergi kemana-mana, termasuk ke apartemen pamannya itu.
Davin pun pasrah saja, ia membawa Ciara pulang meski di dalam hatinya ia sangat kecewa dan ingin sekali menyusu kembali pada gadis itu. Sudah lumayan lama memang Davin tak merasakan kembali susu milik Ciara, itulah sebabnya ia sudah sangat merindukan aset gadis itu.
"Om, makasih ya udah anterin aku sampai ke rumah? Sekarang aku mau turun dulu, om pulangnya hati-hati ya!" ucap Ciara.
"Ya Ciara, sampai ketemu besok lagi ya? Om akan selalu antar dan jemput kamu ke sekolah, karena jujur aja om gak bisa kalau enggak ketemu sama kamu walau satu hari," ucap Davin.
"Om lebay deh, kita kan bukan sepasang kekasih tau. Buat apa coba om jemput aku setiap hari? Mending juga om cari jodoh sana," ucap Ciara.
"Cari jodoh? Kenapa om harus cari jodoh lagi? Sedangkan jodoh om aja udah ada di depan om sekarang ini," ucap Davin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hah??" Ciara tersentak kaget mendengarnya.
"Iya sayang, kamu kan jodohnya om. Kamu itu cuma boleh nikah sama om dan jadi milik om, gak ada laki-laki lain yang boleh sentuh kamu atau milikin kamu!" jelas Davin.
"Gimana bisa om? Kita itu saudara, om gak bisa nikahin aku dong," ujar Ciara dengan cemberut.
"Kata siapa gak bisa? Semua bisa om lakukan kok, dan kamu harus mau nikah sama om! Kalau enggak, kamu tahu sendiri kan apa yang bakal om lakuin nanti?" ucap Davin sedikit mengancam.
"I-i-iya om, yaudah ya aku turun dulu? Aku capek nih pengen istirahat, sekali lagi makasih ya om udah anterin aku sampe ke rumah!" ucap Ciara gugup.
"Okay, kamu istirahat yang cukup ya sayang! Om telpon kamu nanti sore," ucap Davin tersenyum.
Ciara hanya mengangguk, lalu mencium tangan Davin sebagai tandai pamit. Tanpa diduga, Davin justru menarik wajah Ciara dan menahan tengkuk gadis itu, ia kemudian melu-mat bibir Ciara dengan ganas tanpa memberi aba-aba terlebih dulu. Ciara cukup kesulitan mengimbanginya, tapi pada akhirnya Ciara mampu membalas ciuman itu.
Setelah puas, Davin melepas ciumannya dan membiarkan Ciara turun dari mobil. Namun, tiba-tiba sebuah mobil hitam muncul dan berhenti di dekat mereka. Ciara sontak terkejut, ia menunggu disana sampai pemilik mobil itu keluar. Betapa kagetnya Ciara, sebab rupanya yang datang adalah Gavin alias ayah tirinya yang menikah dengan mamanya.
"Papa Gavin? Tumben banget papa datang kesini, ada apa ya pa?" tanya Ciara sembari berjalan mendekati papanya dan mencium tangannya.
"Iya sayang, papa cuma mau ngecek kondisi kamu aja. Kamu baru pulang sekolah? Kok gak sama Galen sih?" ucap Gavin.
"Enggak pa, aku soalnya dijemput sama om Davin. Udah dari lama juga kok om Davin jemput aku terus pas aku pulang sekolah," ucap Ciara.
"Davin?" Gavin benar-benar tak menyangka, lalu ia melirik ke arah mobil di depannya yang memang adalah milik Davin.
Davin pun keluar dari mobilnya, menemui Gavin disana sambil tersenyum lebar. Davin tahu jika Gavin tidak senang dengan kedekatannya dan Ciara, namun Davin tak perduli sebab ia sudah terlanjur jatuh cinta pada keponakannya yang cantik itu.
"Halo bang Gavin! Emang benar bang, gue yang jemput Ciara dan antar dia kesini," ujar Davin.
Gavin menggeram dengan tangan terkepal, menatap tajam ke arah Davin seolah bersiap memukul wajah sang adik yang kurang ajar itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1