
Seminggu setelah pernikahan kakaknya, Ciara yang memang kembali tinggal di rumah besar bersama Galen serta Tiara pun keluar dari kamar berniat untuk pergi ke sekolah. Ia sudah tampak rapih dengan pakaian seragamnya, ditambah parfum yang ia kenakan cukup banyak sehingga wangi tubuhnya dapat tercium dari jarak jauh sekalipun.
Namun, baru saja ia berniat menuruni tangga, tanpa diduga telinganya mendengar sebuah suara kenikmatan yang berasal dari kamar sang kakak. Sontak Ciara terkejut, ia penasaran apa yang terjadi dan mencoba mendekati kamar kakaknya itu karena khawatir terjadi sesuatu. Ya maklumlah sebab Ciara masih terbilang polos dan belum pernah mendengar suara kenikmatan seperti itu.
Ciara pun menempelkan telinganya ke dinding pintu, ia sangat penasaran apa yang sedang dilakukan kakaknya itu di dalam sana. Lambat laun suara itu semakin terdengar keras dan membuat Ciara spontan menjauh, gadis itu menutupi mulutnya dan merasa ngeri mendengar jeritan sang ipar.
"Ahhh ouuhhh ughh Gal.."
Seperti itulah suara Tiara yang terdengar di telinga Ciara, seketika Ciara dibuat merinding dan agak ngeri karena baru kali ini ia mendengar suara itu. Ciara pun berniat pergi saja dari sana karena tidak ingin mengganggu sepasang suami-istri yang masih sangat romantis itu.
"Huh pagi-pagi udah olahraga aja, dasar kak Galen otak mesum! Kayaknya aku salah deh pilih balik tinggal disini, mending kemarin aku bobok di rumah mama aja deh," gumam Ciara lirih.
Karena sudah tahu apa yang sedang dilakukan Galen di dalam kamar itu, akhirnya Ciara memutuskan pergi dari sana dan menuruni anak tangga. Ciara juga terus berusaha menghilangkan pikiran kotor dari kepalanya, sebab entah kenapa tubuhnya seperti merasakan sesuatu yang aneh setelah mendengar suara jeritan nikmat Tiara tadi.
Kini Ciara pun berada di meja makan, ia menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh bibik nya disana sembari menenggak segelas susu hangat. Tapi tak lama, kakaknya yang baru selesai berolahraga pagi itu muncul dan langsung duduk di dekatnya. Ciara yang tahu kakaknya itu habis bercinta, tentu saja langsung bergeser menjauh.
"Eh kamu kenapa malah ngejauh gitu? Gak suka duduk dekat sama kakak?" tanya Galen heran.
"Bukan gitu, tapi kakak bau tau. Kenapa kakak gak mandi dulu sih sebelum sarapan? Aku kan bisa ketularan bau badan kakak nanti," jawab Ciara.
"Yah elah, kamu gausah lebay deh! Kakak walau keringetan juga tetap wangi kok, gak kayak kamu yang gampang bau," ucap Galen meledek.
"Dih apaan? Ini aja baunya udah menyengat gini, sana gih mandi dulu!" ujar Ciara.
Galen tersenyum lebar, "Ogah ah males! Kakak mau disini aja temenin adik kakak yang jomblo ini, kan kasihan kalau kamu sendirian terus. Makanya kakak sengaja datang kesini duluan," ucapnya.
"Heleh malah ngeledek, aku mending makan sendiri daripada ditemenin kakak yang bau banget! Apalagi aku tahu kakak habis ngapain tadi," ucap Ciara.
Galen pun tersentak kaget mendengar perkataan adiknya, ia mulai merasa gugup khawatir kalau tadi Ciara mendengar apa yang ia lakukan bersama istrinya di pagi hari. Sontak pria itu kembali mendekati sang adik untuk coba memastikan apa dia tahu atau tidak soal hal tersebut.
"Maksud kamu gimana? Emangnya kamu tahu kakak abis ngapain?" tanya Galen memastikan.
Ciara hanya mengangguk sebagai jawaban dan melanjutkan kembali sarapannya, sedangkan Galen terlihat panik dan bangkit dari duduknya. Ciara langsung terkekeh saat melihat kakaknya pergi ke atas menuju kamar, ia tahu betul kalau sang kakak sedang cemas karena perkataannya tadi.
•
•
Setelah selesai sarapan, Ciara pun beranjak dari meja makan seraya membawa tasnya. Ia melangkah ke luar rumah berniat menghampiri sang supir dan meminta diantar ke sekolah, tapi tanpa diduga mobil pamannya justru muncul dan berhenti di halaman rumahnya. Seketika Ciara dibuat panik, lalu ia pun reflek melotot saat pamannya turun dari mobil.
"Hai Ciara, good morning!" Davin yang muncul sontak menyapa keponakannya sambil tersenyum dan berhenti tepat di depannya.
"Morning juga om, ngapain om Davin kesini pagi-pagi begini? Udah lama loh om gak pernah datang, terus kenapa tiba-tiba sekarang om datang?" tanya Ciara keheranan.
"Kemarin-kemarin itu om lagi sibuk banyak urusan, makanya om gak sempat buat temuin kamu dan ajak kamu main lagi," jawab Davin.
"Ih om mah gitu! Kenapa sih om masih mesum aja? Aku kira om udah lama gak muncul terus om bakal berubah, taunya sama aja!" ketus Ciara.
"Hahaha, om gak mesum sayang. Om cuma tergoda sama keseksian kamu," ucap Davin sensual sembari mengusap lembut wajah gadis itu.
Ciara yang digoda oleh pamannya pun tersipu, ia reflek memalingkan wajahnya yang terlihat sudah memerah itu dan terus menutupi mulutnya. Davin semakin gemas dengan tingkah sang ponakan cantiknya itu, ia mendekat dan berniat melakukan hal yang lebih intim dari sebelumnya pada Ciara.
Akan tetapi, niatnya gagal sebab Galen lebih dulu keluar dan berteriak ke arahnya. Ya Galen melihat jelas saat sang paman berniat mendekati adiknya, tentu saja Galen tak terima karena ia sudah diberi amanat dari papanya untuk menjaga sang adik dari hasrat sang paman yang terus menggebu-gebu.
__ADS_1
"Om, tolong jangan dekati adik saya lagi! Lebih baik sekarang om menjauh, kasihan Ciara terus tertekan om tiap kali om datang dan coba buat deketin dia!" ucap Galen seraya menghampiri mereka.
Davin yang terkejut sontak menoleh ke arah pria itu dengan santainya, "Kamu kenapa bicara begitu Galen? Pasti kamu sudah dipengaruhi omongan papa kamu yang gak bener itu kan? Kamu harus dengarkan dulu penjelasan versi om," ucapnya.
Galen menggeleng dan kemudian menarik lengan Ciara untuk mendekat ke arahnya, "Gak perlu om, saya jelas percaya kalau om memang membawa pengaruh buruk ke adik saya!" ucapnya tegas.
"Kak, udah gausah diperpanjang!" pinta Ciara.
Galen tak mendengarkan ucapan adiknya itu, ia malah menyuruh sang adik untuk diam dan tidak ikut campur ke dalam masalah itu. Sontak Ciara menurut, dirinya memang terbilang lemah dan tidak mempunyai keberanian untuk melawan apalagi membantah perkataan orang-orang yang ia segani.
Galen pun kembali menatap pamannya dengan emosi, "Om, sekarang mending om pergi deh dari sini!" ujarnya.
"Ya okay, om akan pergi sekarang." Davin terpaksa menuruti keinginan keponakan prianya itu.
Lalu, tiba-tiba ia beralih memandang wajah Ciara yang sedang disembunyikan kakaknya itu. "Maaf ya cantik, om gak bisa antar kamu ke sekolah kali ini. Tapi jangan khawatir, nanti om akan datang lagi kok untuk nyenengin kamu!" ucapnya pelan.
Ciara hanya terdiam cemas, senyuman yang diberikan Davin kepadanya itu seolah menunjukkan sesuatu yang membuatnya sedikit khawatir. Ya terlebih saat ini pamannya itu masih menyimpan video panas dirinya, tentu Ciara sangat cemas jika sampai pamannya menyebarkan video tersebut.
Setelah kepergian Davin, kini Galen menggenggam dua tangan adiknya dan menatap wajah gadis itu dengan serius. Galen pun mulai bertanya pada sang adik mengenai hubungannya dengan Davin, ya Galen memang sudah curiga sejak lama sebab Ciara selalu bertingkah aneh saat bersama pamannya.
"Ciara, sekarang kamu kasih tau ke kakak ada apa diantara kamu dan om Davin!" pinta Galen.
"Eee..." Ciara tampak bingung saat hendak menjelaskan pada kakaknya, ia berpikir sejenak haruskah ia menceritakan semuanya sekarang.
•
•
Singkat cerita, Ciara telah sampai di sekolahnya bersama Galen sang kakak. Mereka berhenti tepat di halaman sekolah gadis itu, dan tampak Galen menatap serta mengusap lembut wajah adiknya yang masih terduduk di sebelahnya. Sebelum ini memang Ciara sudah sempat menceritakan semua yang ia alami kepada Galen, sebab Ciara tidak bisa berbohong lagi karena Galen selalu mendesaknya.
"Kamu tenang ya Ciara, kakak janji akan lindungi kamu dari ancaman om Davin! Kakak juga akan bantu kamu untuk selesaikan semuanya, kamu gak perlu cemas lagi sayang!" ucap Galen.
"Kakak yakin mau bantu aku? Emang kakak bisa hapus video itu dari hp om Davin?" tanya Ciara.
"Jangankan itu, kakak juga bisa kok kalau kamu minta kakak buat habisi om Davin! Semua akan kakak lakukan demi kamu Ciara," jawab Galen mantap.
"Makasih ya kak? Sebenarnya aku gak berani cerita soal ini ke kakak, karena aku takut sama ancaman om Davin yang bakal sebarin video itu ke sosial media kalau aku cerita-cerita ke orang lain termasuk kakak," ucap Ciara.
"Tapi, aku juga gak bisa bohong lagi di depan kakak karena kakak terus paksa aku buat cerita jujur," sambungnya.
Galen pun tersenyum dibuatnya, "Ya Ciara, kakak tahu kok kamu selama ini diancam. Om Davin itu memang keterlaluan, dia sudah berani melecehkan kamu dan dia juga mengancam kamu!" ucapnya.
"Iya kak, tapi aku boleh minta sesuatu kan ke kakak?" tanya Ciara.
"Apa itu?" Galen terlihat cukup penasaran.
"Tolong kakak jangan cerita semua ini ke papa ya! Aku gak pengen papa sama om Davin malah jadi ribut nanti, mereka itu kan saudara," ucap Ciara.
"Oh gitu, ya oke deh kakak turutin kemauan kamu. Kakak gak akan cerita ke papa soal ini," ucap Galen.
"Makasih kak, aku beruntung banget punya kakak yang sebaik kakak!" ucap Ciara sambil tersenyum.
"Iya dong, selain itu kan kakak juga ganteng. Jadi, kamu beruntungnya berkali-kali lipat sayang," sarkas Galen.
__ADS_1
"Huh malah kepedean, nyesel deh aku udah muji-muji kakak tadi!" cibir Ciara seraya mengembungkan pipinya yang membuat Galen tertawa keras.
"Hahaha, yaudah sana kamu turun! Sekolah yang benar ya, jangan mikirin soal om Davin karena itu biar jadi urusan kakak!" ucap Galen.
"Oke kak!" Ciara tersenyum lebar.
Setelahnya, Ciara pun turun dari mobil dan bergegas pergi ke sekolahnya. Sedangkan Galen juga langsung menancap gas, lalu mencoba mencari keberadaan Davin untuk meminta pria itu agar menghapus semua video adiknya yang tersimpan di dalam ponselnya.
•
•
Kini Galen telah sampai di tempat Davin bekerja, ia dengan seenaknya masuk begitu saja ke dalam ruangan Davin dan membuat sang pemilik marah. Tentu saja Davin tak terima dengan kelakuan keponakannya itu, ia bangkit dari duduknya dan terlihat menatap tajam ke arah Galen.
"Apa-apaan ini Galen? Kenapa kamu datang kesini dan marah-marah begitu? Apa kamu tidak diajarkan sopan santun sama bapak kamu itu?" geram Davin.
"Diam om! Jangan bawa-bawa papa dalam hal ini, lagipun justru disini om lah yang perlu diajarkan sopan santun! Jadi, lebih baik om berkaca lebih dulu sebelum mengatai orang lain!" ucap Galen.
"Apa maksud kamu Galen? Om gak ngerti apa yang terjadi dengan kamu sekarang," heran Davin.
"Gausah pura-pura bodoh om, saya sudah tahu semua yang om lakuin ke Ciara adik saya. Sekarang saya minta om hapus videonya dari hp om, atau saya akan mengacak-acak tempat ini sampai om tidak punya tempat kerja lagi!" ucap Galen.
Davin dibuat melongok mendengarnya, "Sial! Kenapa Ciara berani menceritakan itu ke Galen? Awas saja kamu Ciara!" lirihnya, tetapi masih dapat didengar oleh Galen.
Sontak Galen yang sudah terpancing emosi, bergerak maju mendekati pamannya dan menarik kerah baju sang paman dengan kasar. Galen benar-benar emosi saat ini, ia sudah tidak perduli lagi dengan status Davin yang merupakan pamannya.
"Om jangan berani menyentuh adik saya lagi! Saya Galen, dan saya akan selalu menjaga Ciara dengan sepenuh hati sesuai amanat papa Albert!" tegas Davin.
"Jika om masih nekat melakukan itu, maka om akan berhadapan langsung dengan saya! Om tahu kan siapa papa saya? Ya om, papa Albert adalah mantan mafia yang kejam dan bringas. Ada darah papa Albert di diri saya om," sambungnya.
Bukannya takut, Davin justru terkekeh dan meludah ke samping seolah meledek Galen.
"Cuih, kamu pikir saya takut dengan anak ingusan seperti kamu? Kamu tidak akan bisa menghalangi saya Galen, saya akan memiliki Ciara seutuhnya dan kamu akan saya bunuh!" ujar Davin.
"Kurang ajar!" Galen yang emosi akhirnya memukul wajah pamannya itu sampai tersungkur ke atas meja hingga mengeluarkan darah.
Bugghhh
Tak berhenti sampai disitu, karena sudah terpancing emosi yang meluap Galen pun menghajar Davin bertubi-tubi tanpa mendapat perlawanan. Setelah dipastikan pamannya tak mampu bangkit lagi, Galen membiarkan Davin tergeletak di lantai dan mengambil paksa ponsel milik lelaki itu serta langsung menghapus semua video adiknya.
"Lihat om, saya sudah hapus semua videonya. Sekarang om gak bisa mengancam Ciara lagi, jadi om lebih baik taubat sebelum ajal menjemput!" ucap Galen sambil tersenyum puas.
Setelahnya, Galen pun melempar begitu saja ponsel Davin ke lantai dan menginjaknya sampai hancur di hadapan Davin. Pria itu sangat puas seolah jiwa iblisnya muncul karena kelakuan jahat sang paman terhadap adiknya, ia pun pergi dari ruangan itu tanpa perduli dengan apa yang dirasakan pamannya.
Namun, Davin bangkit dari posisinya yang terluka parah itu dan mengambil sebuah flashdisk yang ia simpan di dalam laci. Ia menancapkan flashdisk tersebut pada laptop miliknya dan menyetel video panas Ciara yang ia rekam, ia pun tersenyum lebar karena kebodohan Galen tadi yang mengira jika dirinya telah kalah.
"Kamu tidak akan pernah bisa menghalangi niat saya, Galen!" ucap Davin lirih.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...INI SUDAH SELESAI YA, TAPI ADA LANJUTANNYA DI NOVEL BARU NANTI. HARAP BERSABAR BUAT YANG MAU TAU KISAH CIARA SELANJUTNYA YA!...
__ADS_1
...OKE BYE😘...