
Beberapa saat setelah Davin memutuskan pamit dan pergi dari rumahnya, Galen kini mendatangi kamar sang adik untuk bertanya mengenai kecurigaan yang sedari tadi ia rasakan sebab sikap adiknya yang memang tampak aneh itu. Galen sangat penasaran, ia ingin tahu apa penyebab Ciara sampai terlihat gemetar saat berada di dekat Davin dan bahkan kadang tak berani menatapnya.
Galen memang juga baru kembali sesudah mengantar Tiara pulang ke rumahnya, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tapi, Galen yakin adiknya belum tidur karena kebiasaan Ciara adalah begadang dan tidur larut malam. Ia langsung saja mengetuk pintu kamar adiknya, lalu menunggu sampai ada jawaban dari dalam sana.
Tak lama kemudian, Ciara keluar membuka pintu dengan mengenakan piyama berlengan panjang dan wajah yang mengantuk. Melihat pakaian adiknya yang seperti itu, Galen tahu kalau Ciara baru berniat untuk tidur. Pria itu pun tersenyum singkat ketika Ciara menatap sinis ke arahnya, ia merasa bersalah tetapi juga tidak.
"Hehe, biasa aja kali natapnya. Gausah sinis-sinis kayak gitu dong sayang," bujuk Galen.
Ciara mencebik kesal, "Mau ngapain sih kakak ketuk-ketuk pintu kamar aku jam segini? Aku baru aja rebahan terus mau meremin mata, eh malah udah ada yang ganggu aja," ucapnya.
"Kakak mau bicara sama kamu sayang, boleh ya?" ucap Galen.
"Gak, aku mau tidur!" ucap Ciara dengan ketus.
"Please dek, kakak mau bicara sebentar aja deh!" ucap Galen memohon.
"Ih aku ngantuk kakak!!" kesal Ciara.
"Sebentar doang Ciara, gak nyampe lima menit. Abis itu kamu boleh tidur sepuas kamu, gak bangun lagi juga gak masalah kok!" bujuk Galen.
Sontak Ciara semakin kesal pada abangnya itu, namun melihat ekspresi Ciara saat ini bukannya membuat Galen gentar, justru pria itu semakin gemas dan malah mencubit kedua pipi adiknya. Ciara yang tengah kesal langsung menyingkirkan tangan kakaknya dengan kasar.
"Kamu mau kan Ciara? Kakak janji gak akan lama, percaya deh sama kakak!" mohon Galen.
"Iya iya, kakak mau bicara apa? Cepetan nih mumpung aku mau!" ucap Ciara terpaksa.
Galen tersenyum lebar, "Kita bicara di dalam kamar kamu aja, jadi nanti pas selesai kamu bisa langsung tidur sayang," ucapnya.
Ciara hanya mengangguk setuju dan tidak banyak protes lagi, menurutnya percuma karena Galen akan tetap memaksa walaupun ia protes sampai sekeras apapun itu. Mereka pun masuk ke dalam kamar gadis itu, Galen kini duduk di pinggir ranjang bersama adiknya yang tengah menguap.
"Duh, ngantuk berat ya dek?" goda Galen.
"Iyalah kak, makanya buruan kakak mau ngomong apa!" sentak Ciara.
__ADS_1
"Begini sayang, kakak cuma mau tanya ke kamu soal om Davin. Sebenarnya kakak udah pengen tanya daritadi sih, tapi kakak gak enak aja sama om Davin karena dia masih ada disini," ucap Galen.
"Yaudah, buruan ah gausah bertele-tele kayak gitu!" pinta Ciara.
"Kamu kenapa kelihatan takut gitu sama om Davin tadi sayang? Ada sesuatu yang terjadi di belakang kakak ya?" tanya Galen.
Deg!
Ciara terkejut mendengarnya, seketika ia bingung harus menjawab apa dikala kakaknya menanyakan soal itu. Tidak mungkin jika Ciara jujur dan mengatakan yang sebenarnya bahwa Davin mempunyai video telanjangnya, pasti itu akan membuat Galen berpikir kalau ia adalah wanita yang tidak benar.
"Hey dek, kenapa malah diam? Kamu jujur aja sama kakak, gak perlu takut!" ucap Galen seraya menarik dagu Ciara.
"Umm aku gak ada apa-apa kok kak," bohong Ciara.
"Serius?" tanya Galen seolah tak percaya.
Ciara mengangguk pelan, "Iya kak, aku cuma segan aja sama om Davin, bukan takut." jelasnya.
Sejujurnya Galen tak percaya dengan jawaban adiknya, namun kali ini di depan Ciara, Galen memilih percaya saja tetapi ia akan mencari tahu semuanya sendiri. Galen bukan orang sembarangan, dia memiliki banyak anak buah yang bisa ditugaskan untuk melakukan itu.
•
•
Namun berbeda dengan Davin, pria itu santai saja seolah tidak ada yang sedang mencurigainya. Davin pun menghampiri Ciara yang masih berdiri di teras rumahnya dengan memakai seragam sekolah lengkap, sedangkan gadis itu hanya diam di tempat dan tampak gugup sekali.
"Morning Ciara! Kamu sudah siap buat berangkat ke sekolah? Sesuai janji, om datang buat jemput kamu sayang," ucap Davin.
"Kapan om janjinya? Perasaan aku gak ada dengar om bilang kayak gitu kemarin," heran Ciara.
"Ada kok, semalam kan om chat ke hp kamu. Coba deh kamu cek isi pesan dari om! Emang belum kebaca ya?" ucap Davin.
"Hah? Masa sih?" Ciara tak percaya dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah perkataan Davin benar atau tidak.
__ADS_1
Dan ternyata, Davin memang mengirimnya pesan pada pukul satu tengah malam. Tentu saja Ciara tak sempat membacanya, jam segitu ia sudah tertidur pulas dan larut ke alam mimpi. Ia pun menatap ke arah Davin dengan raut cemberut, sedangkan Davin terkekeh melihatnya.
"Hahaha, kenapa kamu Ciara? Kok sebel gitu sih?" tanya Davin berpura-pura.
"Ish, ya gimana aku gak sebel coba?! Om kirim pesan jam segitu, sedangkan aku ya udah tidur lah om. Mikir dulu kek om kalau mau kirim pesan ke aku, jangan tengah malam juga!" sentak Ciara.
"Apa salahnya? Toh yang penting omongan saya tadi jujur, saya gak bohong kan?" kekeh Davin.
"Bodoamat om!" kesal Ciara.
Davin kembali terkekeh dan berjalan mendekati keponakannya, ia meraih satu tangan Ciara lalu membelai rambut gadis itu. Ciara hanya memandang lurus wajah pria di hadapannya, ya posisinya saat ini memang lebih tinggi karena ia berdiri di atas anak tangga.
"Om minta maaf deh, tapi kamu mau ya berangkat ke sekolah bareng om? Ini om kan udah jauh-jauh datang kesini, masa kamu malah gak mau diantar sama om?" bujuk Davin.
"Gak ada yang bilang aku gak mau kan? Om aja yang panik sendiri," ucap Ciara.
"Iya sih, berarti intinya kamu mau dong? Yaudah yuk masuk ke mobil om!" ajak Davin.
"Ntar dulu om, aku harus tunggu kak Galen dulu. Tadinya kan aku mau diantar sama dia, tapi karena ada om Davin gak jadi deh," ucap Ciara.
"Ohh, mana dia?" tanya Davin.
"Gak tahu, tadi katanya lagi siap-siap," jawab Ciara.
Tak lama, Galen keluar dengan rapih dan terkejut melihat kehadiran pamannya disana. Ia segera menghampiri Ciara serta Davin di depan sana masih dengan pandangan heran, pasalnya ia tak menyangka Davin akan datang lagi ke rumahnya.
"Eh om, ada apa nih pagi-pagi om datang kesini?" tanya Galen menyapa pamannya.
"Iya Galen, om mau antar adik kamu ke sekolah. Boleh kan?" jawab Davin santai.
Galen kaget dan reflek menatap wajah Ciara, kini perasaan Ciara sedang tidak karuan sebab Galen menatapnya seperti itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...