Ranjang Panas Pamanku

Ranjang Panas Pamanku
Bab 17. Tak terduga


__ADS_3

"Davin?" Gavin benar-benar tak menyangka, lalu ia melirik ke arah mobil di depannya yang memang adalah milik Davin.


Davin pun keluar dari mobilnya, menemui Gavin disana sambil tersenyum lebar. Davin tahu jika Gavin tidak senang dengan kedekatannya dan Ciara, namun Davin tak perduli sebab ia sudah terlanjur jatuh cinta pada keponakannya yang cantik itu.


"Halo bang Gavin! Emang benar bang, gue yang jemput Ciara dan antar dia kesini," ujar Davin.


Gavin menggeram dengan tangan terkepal, menatap tajam ke arah Davin seolah bersiap memukul wajah sang adik yang kurang ajar itu.


"Kenapa kamu mau-mau aja sih dijemput sama paman kamu sayang?" tanya Gavin pada Ciara.


"Eee emangnya kenapa pa? Salah ya kalau aku pulang sama om Davin?" heran Ciara.


"Jelas salah, papa gak suka kamu dekat-dekat sama om Davin ini! Kamu itu harus menjauh dari dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. Papa khawatir dia akan menyakiti kamu sayang," ujar Gavin.


"Bang, lu kenapa kayak gitu sih sama gue? Sejak kapan coba gue nyakitin Ciara? Gue itu sayang sama dia, sebagai paman yang baik gue cuma pengen jemput dia aja kok," ucap Davin membela diri.


"Halah, gue tahu lu punya tujuan lain Davin! Pokoknya mulai sekarang, gue gak akan setuju lu dekat sama anak gue!" tegas Gavin.


"Ciara juga bukan anak lu kali, gausah lebay deh. Dia itu anaknya Nadira sama Albert, lu gak berhak larang gue buat dekat sama dia!" ucap Davin.


"Kurang ajar!" kesal Gavin.


"Aaaaa pa jangan pa!" Ciara berteriak menahan Gavin yang hendak memukul Davin, gadis itu terus memegangi tangan papanya dengan wajah panik.


"Pa, aku mohon jangan pukul om Davin! Aku gak mau papa sama om Davin berantem!" pinta Ciara.


"Tapi Ciara, dia itu udah keterlaluan. Berani banget dia lawan papa loh!" ujar Gavin.


"Iya pa, tapi om Davin tuh baik kok sama aku. Dia juga gak pernah nyakitin aku, udah ya pa gapapa kok aku dijemput terus sama om Davin?" bujuk Ciara.


"Kamu jangan aneh-aneh deh Ciara! Papa lebih tahu tentang Davin dibanding kamu!" sentak Gavin.


"Aku bisa jaga diri pa, lagian gak mungkin om Davin ngelukain aku kok. Papa percaya aja ya sama aku?" ucap Ciara.


"Ciara, kalau mama kamu tahu pasti dia juga akan marah seperti papa. Pokoknya papa gak setuju kamu dekat sama om kamu itu!" ujar Gavin.

__ADS_1


"Aku yang akan bicara sama mama nanti kalau mama marah," ucap Ciara.


"Cukup ya Ciara! Papa gak mau dengar lagi kamu bicara apa-apa, sekarang kamu masuk sana dan biarin papa bicara berdua sama om Davin!" sentak Gavin dengan emosi.


Ciara sampai terkejut saat papanya membentak seperti itu, ia menunduk dengan wajah murung dan tidak berani lagi menatap wajah Gavin. Davin yang melihat itu pun merasa tidak senang, lelaki itu melangkah mendekati Gavin seolah hendak marah pada sang kakak darinya itu.


"Bang, lu kenapa kasar sama Ciara kayak gitu sih? Dia kan anak lu katanya, harusnya lu jangan bentak dia dong!" ujar Davin.


"Lo diem aja deh! Gue kayak gitu juga kan gara-gara lu, kalau aja lu bisa dibilangin buat enggak deketin anak gue lagi, pasti gue gak bakal bentak Ciara!" tegas Gavin.


"Apa salahnya sih bang? Sebagai om yang baik, gue kan cuma mau manjain ponakan gue," ucap Davin.


"Udah lah, gak ada kelarnya kalo begini terus. Ayo Ciara ikut sama papa!" kesal Gavin.


"I-i-iya pa," Ciara pasrah saja saat Gavin menarik paksa tangannya dan membawanya ke dalam rumah.


Davin pun mengusap wajahnya kasar dan berteriak meluapkan emosinya, rasanya ia sangat kesal sebab Gavin melarang dirinya untuk mendekati Ciara, padahal ia sangat menyayangi gadis itu.




Tak lama, pintu terbuka dan Nadira pun muncul dari dalam rumah itu. Galen sontak tersenyum, mencium tangan mamanya, diikuti juga oleh Tiara yang melakukan hal sama. Nadira sangat senang melihat kehadiran putranya bersama calon menantunya itu, ia langsung saja menyuruh mereka masuk ke dalam.


Di dalam, ketiganya duduk pada sofa dan langsung dihidangkan tiga gelas minuman oleh sang pelayan yang bekerja disana. Tiara pun semakin merasa gugup karena sudah berhadapan langsung dengan calon mertuanya, sungguh Tiara tak tahu harus berbicara apa untuk saat ini.


"Ma, aku ajak Tiara kesini karena aku mau kasih tau ke mama kalau kita putusin buat memajukan jadwal pernikahan kita. Rencananya itu acaranya Minggu depan ma, dan besok aku sama Tiara akan melakukan foto prewedding," ucap Galen.


Nadira sedikit kaget mendengarnya, "Kamu serius Galen? Kenapa dimajukan segala?" tanyanya.


Galen tersenyum sembari menatap wajah Tiara, "Iya ma, aku gak sabar buat nikah dan berumah tangga bareng sama Tiara," jawabnya santai.


"Oalah, tapi kamu udah urus semuanya kan? Maaf mama gak bisa bantu, soalnya mama lagi sibuk urus bisnis papa kamu," ucap Nadira.


"Gapapa ma, aku tahu kok mama sibuk. Bisnis papa itu kan banyak banget, lagian aku bisa urus semua sendiri kok," ucap Galen tersenyum.

__ADS_1


"Baguslah, tapi Tiara setuju kan sama rencana kamu buat memajukan pernikahan kalian?" tanya Nadira.


"Pasti setuju dong ma, Tiara itu kan calon istri aku jadi dia harus nurut sama aku," jawab Galen dengan cepat.


"Mama tanya ke Tiara, kenapa kamu yang jawab? Mama mau dengar langsung dari Tiara!" ucap Nadira.


"Hehe, iya ma iya.." Galen tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yaudah, jadi gimana Tiara? Apa kamu memang mau menerima permintaan Galen untuk memajukan hari pernikahan kalian? Atau Galen yang udah maksa-maksa kamu?" tanya Nadira pada Tiara.


"Eee ya tante, aku—"


"Hey, kok tante lagi sih? Lupa ya apa yang mama bilang waktu itu? Kamu panggilnya mama aja, toh kamu bentar lagi bakal jadi istri Galen!" sela Nadira.


"Ah iya, maksud aku mama. Aku emang mau kok pernikahan kita dimajukan, lagian gak ada salahnya juga ma. Ya emang sih awalnya aku nolak, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga ucapan mas Galen," jawab Tiara sambil tersenyum.


"Loh emangnya Galen bilang apa ke kamu sayang? Kok kamu bisa sampai setuju sama usulan Galen buat percepat tanggal pernikahan kalian?" tanya Nadira penasaran.


"Iya ma, mas Galen bilang kalau pernikahan itu lebih baik dipercepat untuk menghindari hal-hal yang gak diinginkan nantinya. Kalau udah sah kan lebih enak gitu ma," jawab Tiara.


"Hahaha, ada-ada aja kamu Galen. Ya tapi benar juga sih emang," kekeh Nadira.


Tiara ikut tertawa dibuatnya, sedangkan Galen hanya senyum-senyum di tempatnya dengan kedua tangan terentang pada sandaran sofa.


"Mama gak tahu aja, sebenarnya aku sama Tiara udah sering wik wik," batin Galen.


Lalu, tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar dari arah luar. Sontak Nadira bangkit untuk mencari tahu siapa yang datang, wanita itu pun berjalan ke luar karena penasaran.


"Siapa ya yang datang?" gumam Nadira.


Ceklek


Nadira membuka pintu, dan sesuatu yang tidak diduga terjadi. Hembusan angin menerpa dengan kencang, saat itu juga Nadira menganga lebar menyaksikan seseorang berdiri di hadapannya.


"Ma-mas Albert...??"

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2