
Davin mengajak Ciara ke salah satu restoran besar di kota, mereka pun melakukan makan siang disana bersama-sama. Namun, Ciara masih heran lantaran pamannya tidak mengatakan jika ingin membawanya kesana. Davin hanya tersenyum sembari memandangi Ciara di sebelahnya.
"Om, kok kita malah makan disini sih? Kenapa gak ke restoran mama aja biar gratis?" tanya Ciara.
"Gak bisa sayang, kasihan mama kamu kalau kita makan gratis terus disana. Nanti lama-lama bisa bangkrut tuh restoran, jadi mending kita makan di tempat lain deh," jawab Davin.
"Benar juga sih kata om, tapi kan makanan di restoran mama itu enak-enak. Aku juga udah terbiasa makan disana," ucap Ciara.
"Nah itu dia, kamu harus biasakan makan di tempat lain biar mama kamu gak rugi. Udah ya dimakan tuh makanannya?" ucap Davin.
"Iya om," lirih Ciara sambil menunduk.
Cup!
Tiba-tiba saja, Davin mengecup pipi Ciara saat gadis itu sedang menikmati makan siangnya. Ciara pun terkejut, wajahnya memerah akibat ciuman yang diberikan Davin padanya. Ia melirik wajah Davin dengan tatapan bingung, sedangkan Davin sendiri hanya tersenyum lebar.
"Om ngapain cium-cium aku? Aku lagi makan tau, tadi katanya disuruh makan. Giliran udah makan eh malah digangguin," protes Ciara.
"Kamu gak bisa protes gitu Ciara, kamu ingat kan om punya apa?" ucap Davin sambil tersenyum.
"Maksud om apa? Video semalam yang om kirim ke hp aku tadi?" tanya Ciara.
"Ya betul, kamu gak mau kan video itu om sebar sayang?" ucap Davin.
"Ish, om kenapa sih suka banget ancam aku? Om jangan gitu dong, nanti aku laporin ke mama atau papa Gavin loh!" ujar Ciara.
"Laporin aja, paling video kamu udah tersebar lebih dulu di sosmed. Kamu tahu kan om ini punya keahlian untuk bikin siapapun viral?" ucap Davin.
"Om, aku mohon hapus videonya! Aku gak akan ngelawan om lagi deh," ucap Ciara.
"Bagus, awas ya kalau kamu bandel dan gak mau nurut lagi! Om bakal langsung sebar videonya tanpa kasih tau kamu dulu," ucap Davin.
"Iya iya om, udah dong dihapus videonya!" ucap Ciara.
__ADS_1
"Kalau om gak mau gimana? Om akan tetap simpan video itu, supaya kamu gak bisa lagi ngelawan kemauan om," ucap Davin.
"Om jahat!" kesal Ciara.
Davin tersenyum lebar sembari mengusap rambut gadisnya, "Rambut kamu halus banget ya? Terus wangi lagi, kamu sering shampoan ya?" ucapnya.
"Om jangan alihin pembicaraan deh! Hapus dong video aku atau aku ngambek sama om!" ucap Ciara.
"Kamu emang bisa ngambek sama om? Paling juga cuma beberapa detik, abis itu kamu manja-manja lagi deh kayak biasanya," goda Davin.
"Ih om gak lucu ah! Aku tuh gak mau jadi viral gara-gara video gak bener itu, aku masih pengen sekolah dengan tenang om!" ucap Ciara.
Davin kembali terkekeh dibuatnya, sedangkan Ciara yang sangat kesal tampak mencebikkan bibirnya dan membuang muka. Namun, Davin tak henti-hentinya menggoda dirinya dan membuat ia juga sulit untuk marah pada pamannya itu. Apalagi Davin memiliki rupa yang tampan dan kadang berhasil memikat lawan jenisnya.
"Udah ya jangan ngambek lagi? Abis ini om antar kamu pulang ke rumah Galen deh, om janji sama kamu Ciara!" ucap Davin coba membujuk gadisnya.
"Om serius? Tapi, aku bukan cuma mau diantar pulang om. Aku juga pengen om hapus video itu dari hp om, please om!" ucap Ciara.
Ciara pun pasrah saja dan memilih menurut dengan pamannya, ia yakin jika Davin tidak akan menyebarkan video itu sebab Davin juga sayang padanya. Kini Ciara mencoba lebih tenang dalam menghadapi pamannya, nantinya ia akan memikirkan rencana agar bisa menghapus video itu dari galeri ponsel Davin.
•
•
Disisi lain, Galen mendatangi meja Tiara alias calon istrinya di sore hari saat jam pulang kerja tiba. Galen tersenyum menatap Tiara yang tengah asyik merapihkan barang-barangnya, gadis itu sampai tak tahu bahwa kekasihnya sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman tipis.
"Ehem ehem.." barulah Tiara menoleh begitu mendengar suara deheman di dekatnya.
"Pak Galen? Ya ampun, maaf maaf saya gak lihat bapak ada disini!" ujar Tiara.
"Kamu kenapa sih Tiara? Panggil aja saya Galen, kayak biasa! Kamu itu calon istri saya loh, masa panggil saya pak?" protes Galen.
"Maaf pak, ini kan di kantor. Jadi, saya harus bersikap profesional dong?" ucap Tiara.
__ADS_1
"Kamu itu masih aja gak berubah, padahal udah berulang kali saya bilang, mau di kantor atau manapun kamu tetap panggil saya pake nama saya atau minimal sayang lah!" ucap Galen.
Tiara menunduk malu, Galen bergerak mendekat dan membelai rambut halus Tiara dengan jari-jarinya.
"Kamu kok bisa secantik ini sih sayang? Saya jadi gak sabar buat bersanding sama kamu di pelaminan, pasti hari itu kamu akan tampak cantik sekali. Kita percepat aja yuk pernikahan kita?" ucap Galen dengan tangan yang terus membelai rambut Tiara dan sesekali masuk ke lehernya.
"Umm, kamu jangan ngada-ngada deh! Kita udah sepakat kalau pernikahan kita itu dilaksanakan dua minggu dari sekarang, lagian buat apa sih buru-buru? Nanti yang ada jadi berantakan loh," ujar Tiara.
"Gak akan, kamu kayak gak kenal saya aja. Saya ini bisa melakukan apapun yang saya mau, itu mudah sekali loh buat saya lakukan," ucap Galen.
"Hih sombong!" cibir Tiara.
"Saya bicara fakta Tiara, bukan sombong. Kalau kamu gak percaya, saya akan buktikan ke kamu secara langsung," ucap Galen.
"Ish, enggak ya aku gak mau! Kalau kamu maksa buat percepat tanggal pernikahan kita, aku bakal ngambek nantinya!" ancam Tiara.
"Oh kamu ngancem saya? Emangnya kamu bisa ngambek sama saya?" goda Galen.
"Kenapa harus gak bisa? Kalau mau ngambek ya aku tinggal ngambek, paling kamu yang bakal gelisah karena aku gak mau bicara sama kamu," ujar Tiara.
Galen tersenyum, lalu tanpa diduga oleh wanita itu, Galen merangkulnya dan memberikan kecupan manis bertubi-tubi pada wajahnya. Tiara sedikit risih, tapi di dalam hatinya ia juga merasa senang saat Galen memperlakukannya seperti ini. Ya walau harus di depan Mimin serta Edwin, yang tentunya membuat Tiara agak malu.
"Galen, udah ih cukup! Malu tau dilihat Mimin sama kak Edwin, kamu tuh kalo mau cium-cium aku tau tempat dong!" sentak Tiara.
"Buat apa? Saya mau cium kamu dimana pun itu suka-suka saya, kamu atau siapapun gak bisa larang saya Tiara!" ucap Galen.
"Ih dasar egois!" kesal Tiara.
Bukannya melepaskan rangkulannya, Galen justru semakin mendekap erat tubuh Tiara sehingga gadis itu tidak bisa bergerak dan hanya pasrah.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1